CATCH THE NEW WAVE

June 14, 2007

A little nice surprise in mid-year, Indonesia kedatangan sebuah band yang dengan suksesnya mencampur adukkan new wave dan bossanova.

dsc_3863.jpg

Soundshine bekerja sama dengan Dunhill, serta CCF Jakarta dan Hotel Grand Kemang kali ini mendatangkan Nouvelle Vague. Acara ini juga merupakan rangkaian dari “Printemps des Francais” yang digelar CCF, sehingga tidak heran bila tiba-tiba saja band yang cukup baru ini datang ke Jakarta menjelang pertengahan tahun.

Konsep venue yang dibangun kali itu tidak jauh berbeda dengan Soundshine Maret lalu, tapi terlihat lebih eksklusif. Bar dan lounge menawarkan suasana santai bagi layaknya kaum kelas atas, dan memang yang datang pada malam itu kebanyakan berasal dari kalangan itu. Namun sebagian besar crowd yang biasanya datang ke acara indie malah tidak terlihat. Mungkin karena harga tiketnya yang cukup mahal untuk ukuran band baru, ataupun karena pemberitaan mengenai kedatangan Nouvelle Vague yang cukup mendadak. Jadi bila dilihat crowd secara keseluruhan, memang mereka mendapatkan target market untuk sejumlah produk sponsor, namun target untuk musiknya sendiri malah tidak tercapai. Hal tersebut dapat jelas terlihat saat konser berlangsung, dimana sebagian besar crowd malah asik ngobrol sendiri dan menikmati suasana poolside, bukan menikmati musiknya.

Setelah dibuka dengan DJ set selama sekitar satu jam, Nouvelle Vague mulai memasuki panggung pada pukul 21.15. Mereka datang dengan formasi dua mastermind Marc Collin dan Olivier Libaux, dua vokalis mereka Melanie Pain dan Phoebe Killdeer (yang mengisi vocal pada album kedua mereka), serta sejumlah additional musicians di bagian drums dan bass.

Penampilan mereka diawali dengan lagu “Killing Moon” milik Echo and The Bunnymen, yang juga membuka album kedua mereka “Bande A Part”. Vokal Melanie Pain, diiringi nuansa akustik waltz, sepertinya sesuai sekali dengan suasana malam itu yang cenderung santai dan sedikit mendung. Namun suasana langsung memanas saat lagu kedua, “Dancing With Myself” dibawakan. Dengan gaya yang atraktif, Melanie dan Phoebe langsung menarik perhatian penonton. Sejumlah lagu yang sudah tidak asing di tahun 1980-an dibawakan kembali dengan ciri khas mereka, seperti “Blue Monday” milik New Order, “Heart of Glass” dari Blondie, dan “Teenage Kicks” nya The Undertones.

Bagi yang belum pernah atau sedikit asing dengan musik punk/new wave di awal tahun 1980-an, mereka sangat menikmati penampilan Nouvelle Vague yang terasa seperti berada di sebuah klub jazz/bossanova, dengan permainan musik yang sangat ekspresif dan nyaris tanpa cela. Sedangkan bagi para penggemar new wave/punk/synth pop era akhir 70-an hingga awal 80-an, Nouvelle Vague adalah music project yang sangat inovatif dan brilyan, karena mereka diajak untuk mendengarkan kembali lagu-lagu nostalgia itu dengan sentuhan baru.

Yang paling seru mungkin saat mereka membawakan “Too Drunk To Fuck”. Dengan semangatnya Melanie dan Phoebe membawakan lagu milik Dead Kennedys itu, dan mengajak penonton untuk ikut berteriak di bagian chorus. Phoebe juga sempat berguling-guling di atas panggung saking menjiwai lagu tersebut.

“Love Will Tear Us Apart” milik Joy Division dibawakan sebagai lagu terakhir sebelum encore. Crowd pun kembali ikut bernyanyi bersama pada akhir lagu tersebut, dan Melanie Pain sepertinya dapat membangkitkan kembali kharisma Ian Curtis saat membawakan lagu tahun 1981 itu. Setelah encore, mereka membawakan dua lagu lagi. Satu lagu yang cukup santai, “In A Manner of Speaking” milik Tuxedomoon, dan “Just Can’t Get Enough” dari Depeche Mode. Untuk lagu “Just Can’t Get Enough” aransemennya dibikin berbeda dengan yang ada di album self-titled mereka, dengan lebih banyak sentuhan jazz dan dengan tempo yang jauh lebih pelan. Sepertinya sengaja diaransemen ulang untuk dijadikan penutup konser mereka malam itu.

Personil Nouvelle Vague menutup konser mereka dengan menceburkan diri ke kolam renang menjadi pemisah antara stage dan penonton, dan acara malam itu kembali dilanjutkan dengan DJ set dan after party. Sebagian besar penonton terlihat sedikit kecewa karena durasi konser yang cukup singkat. Membawakan total 18 lagu, konser hanya berlangsung sekitar satu jam setengah. Namun yang jelas, mereka tidak kecewa akan penampilan band asal Perancis itu. Nouvelle Vague berhasil mencuri perhatian masyarakat musik Indonesia – they’re the new wave!//review and photo by 410


as simple as ABC

June 14, 2007

Setelah ditunggu-tunggu akhirnya Annemarie mengadakan launching album mereka ”ABC On TV” di Prefere Dago. Acara yang lebih merupakan syukuran bersama teman-teman dan para penggemar mereka itu berlangsung hangat dan meriah dengan diiringi beberapa kolaborasi Annemarie dengan teman-teman dari band pop lainnya.

Sebenarnya album ”ABC On TV” sudah dirilis akhir tahun lalu di luar negeri oleh label swedia Music Is My Girlfriend (yang juga telah merilis EP mereka yang berjudul The Living Model EP) bekerjasama dengan Plastilina Records. Karena itu iqbal sang gitaris yang juga merupakan vokalis pria mereka berkata bahwa launching malam itu lebih tepat dikatakan sebagai kumpul-kumpul dan syukuran bersama teman-teman, label, maupun fans.

Acara dibuka dengan pertunjukan band noise dari Surabaya, Lull, dilanjutkan dengan band Shoegaze/Dreampop yang dikapteni oleh Yayan sang vokalis yang juga gitaris. Kurang lebih lima buah lagu dibawakan oleh band itu termasuk materi baru mereka yang sangat “berbahaya“ seperti “Cataclysmic” dan “Methian Dreams”. Sound mereka khas shoegaze dengan gitar wall of sound dan drowning disana-sini, serta vokal yang samar-samar tertutup tumpukan distorsi gitar.

Perfect Angel tampil selanjutnya kemudian dilanjutkan dengan Astrolab, band indiepop yang sama-sama berada dibawah naungan Maritime Records, yang juga merilis album Annemarie di Indonesia.

Lagu pertama yang dibawakan Astrolab adalah “My Guitar Sting The Nerves”. Terlihat jelas mereka sangat terpengaruh oleh band-band rilisan Sarah Records dan juga Ocean Blue karena Rangga, sang lead guitar, sangat menyukai hal-hal yang berbau kelautan. Mereka membawakan lima buah lagu, termasuk “Lara Jiwa” dan “We Are The Burlesque“. Lagu tersebut cocok banget untuk menjadi penutup dan klimas dari performance mereka dengan kord-kord gitar major7 khas indiepop dan vokal cewek yang cute.

Dan akhirnya! yang punya acara tampil juga sebagai penutup launching malam itu. Satu-persatu personil naik keatas panggung sambil memegang instrument mereka. Oh ya! Malam itu Annemarie mengajak Vian (gitaris Jelly Belly dan AbadKatroWave) sebagai additional lead gitar karena Inu sudah tidak bersama mereka lagi. Tanti sang kibordis sekaligus vokalis cewek mereka, tampil laksana dewi malam itu dengan backless dress nan anggun, sementara Iqbal dan Jojon tampil dengan sweater mereka. Hanya Vian yang malam itu tampak masih seperti rootsnya yaitu shoegaze dengan tshirt MBVnya dan memainkan gitarnya malam itu dengan menatap sepatu. Alhasil jadilah bahan sorakan teman-teman yang pada waktu itu meneriakkan kata-kata seperti “Oii gitarisnya koq ga twee sih?” atau “Woyy itu gitarisnya galau amat!”.

Pada lagu tersingkat “Lazy Sunny Day” mereka mengajak penonton untuk ikut clap their hands along with them. Mereka juga berkolaborasi dengan beberapa rekan dari band pop Bandung untuk ikut bernyanyi bersama mereka seperti pada lagu Love In The Morning (feat. Hilman 1900 Yesterday), Bubblegum I See (feat. Kiki Chan dari Olive Tree yang tampil sangat centil), dan Strawberry Fields Forever (feat. El Vincent Vega). Ternyata lagu Strawberry Fields Forever bukanlah remake atau cover dari lagu The Beatles, hanya kebetulan berjudul sama.

Mereka juga mengajak vokalis lama mereka yaitu Eko untuk menyanyi pada lagu Won’t Be Nice. Dan launching malam itu ditutup dengan lagu andalan mereka, Apple (Suicide On Your Stereo Set). //review by arvidson//photo dok annemarie



interview // annemarie

June 14, 2007

Mungkin akan lebih pas seandainya Bystanders bisa mewawancara Annemarie di saat piknik, sesuai dengan suasana cover album dan musik mereka. Namun karena tidak memungkinkan, Bystanders hanya sempat mengobrol-ngobrol sejenak dengan mereka di sela-sela gig mereka di Jakarta dan dilanjutkan melalui e-mail beberapa hari kemudian.

Seberapa jauh sih musik Annemarie berubah sejak awal berdirinya sampai sekarang, termasuk sejak adanya perubahan personil?

Kalo dulu, kita memang sangat terpengaruh dengan musik twee pop, memang waktu itu lagi gencar dengerin itu. Kita dibilang twee pop ya ga menolak, tapi kita juga ga pengen mematok untuk di twee pop aja. Mengenai perubahan personil sebenarnya nggak ada masalah sama sekali, karena masing-masing dari kami (personil lama dan baru) semuanya suka dengan musik pop yang kami bawakan sendiri. Jadi musik yang kami bawakan masih konsisten berada di jalur pop-lah, hehe.

Untuk ke depannya Annemarie bakal terus di jalur twee pop atau ada kemungkinan untuk mengeksplore musik lainnya (yg masih di jalur pop mungkin)?

Kami juga ingin bereksperimental, masih dengan basic musik pop, tapi lebih melakukan eksplorasi sound mungkin.

Di album ABC On TV itu ada satu track juga, Strawberry Fields Forever, yang agak berbeda sih, sound yang ada disitu berasal dari groovebox. Mungkin untuk lagu-lagu berikutnya, kami bakal menambahkan sound dari groovebox juga, tapi yang sudah kepikiran sih pengennya menambahkan brass section. Terompet, juga biola mungkin?

Jarak antara rilis album sama acara launchingnya sendiri kan cukup lama, hambatannya apa sih?

Hambatan yang paling utama itu adalah kesibukan akademis, karena kami semua masih kuliah. Untungnya teman-teman dari Maritime (label) mau membantu mengadakan launching. Walaupun tadinya sempat pesimis, tapi akhirnya acaranya jadi diadakan bulan April, sekitar 2 bulan setelah rilis album. Untuk acara launching juga kita nggak mau yang gede-gedean, yang penting ngumpul-ngumpul aja lah.

Proses bikin albumnya sendiri berapa lama?

6 bulan. Kami butuh tiga bulan untuk persiapan bikin lagu, dan tiga bulan untuk rekaman. Waktunya agak lama karena, lagi-lagi, kesibukan akademis yang cukup membutuhkan perhatian, jadi pengerjaannya cuma bisa waktu weekend aja.

Ada hambatan tertentu ga waktu proses bikin albumnya, dengan personil yang belum tetap misalnya?

Ada. Waktu itu kami belum punya drummer tetap, dan bingung juga nyari drummer untuk recording. Untungnya, produser album kami, Vanco, bisa main drum dan juga bersedia untuk mengisi track drum yang belum direkam. Kalau yang lainnya nggak ada masalah, bahkan personil yang lama juga ikutan ngebantuin recordingnya kok.

Sedangkan proses bikin lagu-lagunya sendiri gimana?

Yang biasanya bikin lagu itu Iqbal. Dia ngerekam materi kasarnya dulu, terus dikasih ke personil yang lain. Kami masing-masing pikirin sendiri mau diisi seperti apa, terus dicoba untuk digabung waktu latihan. Dari situ masing-masing ngasih feedback, dan terus seperti itu sampai lagunya fix jadi.

Seberapa jauh sih kontribusi personil baru terhadap musik Annemarie?

Jauh juga. Feel pop-nya jadi lebih kerasa sekarang karena basic pop personil baru lebih kuat. Jojon, bassis, juga banyak berperan dalam proses pembuatan lagu-lagu baru.

Untuk lagu “Strawberry Fields Forever” itu kan beda banget dengan lagu yang lain, itu kenapa?

Basically, kami pengen terus bereksperimental dalam hal sound. Dan waktu itu Strawberry Fields Forever itu adalah hasil eksperimen kami. Memang berbeda sih, tapi kami suka dengan track itu. Dan menurut kami juga tidak ada salahnya untuk memasukkan lagu itu ke dalam album.

Adakah rencana untuk tur ke luar negeri (negeri jiran) seperti yang banyak dilakukan band2 indie beberapa waktu belakangan?

Ada! Bukan ke negeri jiran tapi, hehe. Kami masih berencana untuk manggung di Swedia.

Pertengahan tahun lalu sebenarnya Music Is My Girlfriend (MIMG, label indie Swedia yang merilis mini album Annemarie, The Living Model EP tahun 2004, juga album ABC On TV sekarang ini) nawarin kami melakukan tur, 20 gigs dalam waktu 1 bulan di Swedia. Tapi sayangnya nggak jadi karena masalah dana.

Kami sangat excited untuk manggung di Swedia karena musik kami dapat banyak review bagus dari sana. Mungkin karena genre musik kami swedish pop yang sama dengan musik pop disana ya…

Kalo ngliat covernya kan itu temanya piknik gitu, menurut kalian sendiri lagu apa sih yang paling cocok untuk dijadikan teman piknik?

Apple dan The Living Model sepertinya bakal cocok untuk piknik. Kalau kami dengerin lagu itu pasti bawaan moodnya jadi senang, hehe.

Kenapa dipilih “ABC on TV” sebagai judul albumnya?

Dulu itu setiap personel punya usulan judul album, tapi kami semua masih ngerasa itu nggak cocok. Akhirnya kami memutuskan untuk memakai salah satu judul lagu untuk dijadikan album. ABC on TV itu terpilih jadi judul album karena menurut kami itu sangat mewakili image pop yang ingin ditampilkan oleh Annemarie.

Kata-kata ABC on TV mengingatkan saya pada acara TV waktu saya kecil. Kalau Annemarie adalah sebuah acara TV, akan seperti apa ya?

Apa ya.. mungkin seperti acara anak-anak yang colourful dan menyenangkan. Seperti Sesame Street atau Pocoyo-nya Disney mungkin? Haha..



//interview and photo by 410



LOVELY SUNDAY AFTERNOON

June 14, 2007

It was a sunny Sunday afternoon, and right outside the shop where Ballads of the Cliché and friends love to hang out, you can enjoy one of the finest afternoon listening to several indie-pop bands. “We are Pop!” delivered seven ‘laid-back and relax’ bands to satisfy your sunny day mood :)

Acara yang dijadwalkan mulai pada sekitar pukul 15.00, akhirnya baru dimulai sekitar pukul 16.30. Tapi ngaretnya juga tidak seberapa, karena memang penonton yang datang baru sedikit. Mr. and Mrs Muffin tampil untuk membuka We Are Pop! Tampil dengan konsep yang unik, sedikit mengingatkan akan Otak and Chair. Kalau Otak and Chair mengusung musikalisasi puisi maka Mr. And Mrs. Muffin tampil dengan musikalisasi cerpen.

Band folk-pop Dear Nancy tampil berikutnya, dan lagu-lagu mereka memang sangat cocok untuk didengarkan di sore hari seperti saat itu. Sayangnya mereka tidak membawakan lagu “Beautiful Sunday”, yang bisa jadi ‘soundtrack’ acara sore itu. Karena memang hari itu “Beautiful Sunday”, hari Minggu yang indah, dengan angin sepoi-sepoi dan suasana yang bersahabat. Pada kesempatan itu Dear Nancy membawakan enam lagu mereka, termasuk tiga lagu andalan mereka yang judulnya kebetulan sama-sama menggunakan kata penghubung “and”, yaitu”Me and You”, “Brother and Sister”, dan “Bonnie and Clyde”. Acara dilanjutkan dengan penampilan Clover, yang kali itu tidak tampil dengan formasi aslinya. Aan (D’zeek, thedyingsirens) menjadi personil additional paling ’cantik’ menggantikan Zara pada drums, dan Olive menggantikan Tia di vokal yang semalam sebelumnya membawakan musikalisasi puisi di ulang tahun Bunga Matahari. Penampilan mereka dibuka dengan “Sundae Rhapsody”, lalu dilanjutkan dengan lagu-lagu ceria nan santai seperti “Lovelife”, “Beautiful Wonderful You”, dan “Orenji”. Sekitar pukul enam, acara diistirahatkan sejenak. Untuk sekedar makan-makan kecil atau beribadah sholat maghrib bagi yang menjalankan. Penonton yang datang juga bisa melihat-lihat Hey Folks!, toko kecil yang berhasil menggelar acara senang-senang hari itu. Sayang, ternyata Annemarie kembali gagal main di Hey Folks!, karena basisnya, Teguh, terkena demam berdarah. Padahal akan sangat asoy bila mendengarkan lagu ”Lazy Sunny Day” di hari Minggu yang memang cocok untuk bermalas-malasan itu. Tapi rasa kecewa sejumlah orang yang datang untuk melihat annemarie hari itu sedikit terobati dengan mendengarkan lagu-lagu band asal Bandung itu diputar tiap kali jeda antar band. Dan setelah matahari sudah benar-benar tenggelam, acara dilanjutkan kembali dengan penampilan bangkutaman. Bangkutaman membuka penampilan mereka dengan “Solomon Song” yang dimainkan secara akustik oleh Acum. Sore itu Bangkutaman memang memainkan beberapa lagunya secara akustik, yaitu “Finding Rainbows” (yang kabarnya direquest khusus oleh Felix, manajer BOTC) dan “Amazingrave”, yang setelah dikonfirmasi katanya lagu ini akan dijadikan salah satu lagu untuk proyek solo Acum. Bangkutaman juga membawakan beberapa lagu andalan mereka, seperti “Sleeping Sand” (yang bisa didownload gretong di myspace – hehe), “She Burns The Disco”, dan “Catch Me When I Fall”. Yang lucu mungkin pada waktu mereka akan membawakan “Way Back Home”, dan Angga (gitar) sempat bertanya, “Yang kayak gimana lagunya?” Jadilah selama lagu itu Angga mengintip bass Acum untuk melihat kunci apa yang dipakai untuk lagu tersebut. Tapi memang dasarnya gitaris jago, jadi tetap saja lagu itu terdengar bagus.

dsc_2813-bangkutaman.jpg

Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan ‘tuan rumah’ Ballads of the Cliché. Tampil di kandang sendiri, mereka terlihat tanpa beban. Mereka tampil bertujuh malam itu, tanpa kehadiran pemain saxophone mereka Zennis Arrochman. Namun tujuh orang ternyata sudah cukup memenuhi panggung (dalam arti sebenarnya!), bahkan keyboardis Arafino Zaini harus rela bermain di sisi panggung, karena sudah tidak muat lagi. Sebagian besar lagu yang dibawakan Ballads of the Cliché malam itu adalah lagu baru, seperti “Heidy”, “Feel Free to Feel Lost”, dan “Distant Stars”. Konon kabarnya lagu-lagu tersebut akan dimasukkan ke dalam full-album mereka yang akan dirilis dalam waktu dekat. Pada lagu “Distant Stars” Nina mengambil alih posisi Bobby di posisi lead vocal, dan lagu ini dibawakan hanya dengan iringan piano oleh Nina dan gitar akustik oleh Dimas. It seemed that this song give some shivers to some people!

dsc_2921.jpg

Lagu berikutnya, “See You Soon” (hmmm… jadi inget lagunya Goodnight Electric’s song, hehe) menampilkan Wawan dan teman baikknya Ferry. Uniknya, pada lagu tersebut Wawan yang biasanya pada posisi gitar memainkan biola (sekaligus menyanyikan lagu tersebut) dan Ferry yang biasanya pada drums memainkan gitar akustik.

dsc_2950-wawan-ferry.jpg

Pergantian alat tidak berhenti sampai di situ saja, karena pada lagu berikutnya, semua personil Ballads saling bertukar posisi. Ferry (drums) masih di gitar akustik, dan Wawan di vocal, sedangkan posisi drums yang ‘ditinggalkan’ oleh Ferry diisi oleh keyboardis Fino. Kemudian posisi Fino digantikan oleh Dimas (bass), lalu posisi Dimas digantikan oleh Bobby (vocal). Sementara itu Nina dan Erick bertukar tempat, Nina yang biasanya mengisi suara piano/keyboard memainkan gitar dan Erick yang gantian di keyboard. Sekilas hal ini mengingatkan pada Green Day, atau sejumlah band punk lainnya, yang pada penampilan mereka sering bertukar-tukar posisi. Dengan ‘formasi baru’nya, Ballads membawakan lagu nostalgia, “Elephant Stone”. Sepertinya semua personil Ballads menikmati sekali penampilan mereka kali itu, teruyama Bobby yang terlihat cukup gembira yang diberi kepercayaan memainkan bass. Sebagai lagu terakhir mereka kembali membawakan lagu orang lain, namun kali itu mereka kembali ke posisi masing-masing. Penampilan mereka ditutup dengan lagu “Just Like Heaven” dari The Cure, yang disambut tepuk tangan riuh dari penonton. Penampilan Ballads kali itu memang menjadi puncak acara We Are Pop!

dsc_2970.jpg

Tapi acara belum selesai di situ, karena berikutnya ada penampilan dari band Malaysia, Couple. Sayangnya hanya Aidil seorang yang dapat mewakili Couple. Sisanya adalah additional player, dengan muka-muka yang cukup familiar, seperti Aryo (The Adams) di gitar, David Tarigan di bass, dan Uga di drums. Couple “versi Indonesia” itu membawakan empat lagu dari album mereka “Top of The Pop”, termasuk “Rock N Roll”, “Tentang Kita”, “Are You Ready”, dan “Now That I Can See”. Acara kemudian ditutup dengan penampilan Blossom Diary, hingga sekitar setengah sepuluh malam.

dsc_3019.jpg

Konser kecil yang benar-benar menyenangkan, dan semua orang yang datang bisa dengan leluasa menikmati musik yang disajikan band-band yang tampil hari itu. Mungkin kalau ada Mr. Keating dari film Dead Poets Society, dia akan bilang, ” Not a bad way to spend an evening, eh?” //photo by 410, except photo of Mr. and Mrs. Muffin by Satria Ramadhan//review by 410 and yearry//

dsc_3078.jpg


CURE ON SUNDAY

June 14, 2007


Tribute to The Cure, Brains Kafe, Kemang, Jakarta, 20 Mei 2007. Dengan semangat sebagai antisipasi kekecewaan kalau-kalau pada Agustus nanti The Cure yang asli tidak sempat menggelar konser di Singapura (dan tidak juga mampir ke Jakarta) maka tidak ada salahnya menghadiri acara tribute untuk band legendaris tersebut.

Di flyer tertera jumlah band yang mengisi acara ini, tidak tanggung-tanggung, 16 Band. Ternyata banyak juga band yang antusias membawakan lagu-lagu the Cure. Namun ternyata ada beberapa band yang akhirnya tidak bisa mengisi acara malam itu. thedyingsirens yang kabarnya akan membawakan lagu-lagu yang cukup ”langka” tidak jadi bermain karena Uga sakit liver sehingga harus bedrest sekitar sebulan lamanya. Sedangkan Clafty Elegy juga batal tampil karena salah satu personilnya berhalangan.

Hujan yang cukup lebat sore itu ternyata membuat acara terasa sangat sepi karena menghambat para penonton untuk hadir di awal waktu. Bahkan beberapa band pengisi di awal seperti Jude dan Cratty Fatty terpaksa bermain dengan penonton yang minim. Saat Guntingkuku membawakan ”Friday I’m in Love”, hanya seorang penikmat indie yang cukup eksis yang bisa berdansa mengikuti lagu ceria itu. Namun lagu-lagu lainnya terasa datar-datar saja seperti dalam ”Cut Here” ataupun dua lagu mereka sendiri yaitu ”Leisure Time” dan ”Say It Love” (di mana pada kedua lagu terakhir itu Denny pada vokal pindah ke posisi drum, dan drummernya menjadi salah satu pemain gitar bersama gitaris satunya lagi yang menggantikan Denny di vocal. Tapi entah karena tempat yang masih agak kosong atau memang karena permainan mereka yang cenderung biasa saja, Gunting Kuku tidak menampilkan sesuatu yang istimewa petang itu.

dsc_3919.jpg

Selanjutnya adalah Autoband yang hadir minus vokalis wanitanya. “Friday I’m in Love” dan “High” dibawakan dengan sedikit nuansa new-romantics ciri khas Autoband, serta lagu mereka sendiri Lantai Dansa. Rasanya band ini agak kurang pas me-remake lagu-lagu The Cure, jauh lebih berhasil ketika band ini mendaur ulang Human League atau Duran-Duran.

dsc_3982-autoband.jpg

Dear Nancy tampil berikutnya, dengan “berseragam” kaos garis-garis. Gitaris mereka, Alam Wijaya tidak dapat tampil pada hari itu, dan digantikan oleh gitaris C’mon Lennon, Hans. Dear Nancy juga membawa satu orang lagi additional player di bagian piano. “Close to Me”, “Treasure”, dan “Ordinary Friend” mereka bawakan dalam melodi folks-pop gaya Dear Nancy. Lagu “Ordinary Friend” sendiri rencananya akan dirilis dalam debut album Dear Nancy.

dsc_3992.jpg

Ballads of The Cliché tampil berikutnya, meneruskan atmosfer folk-pop yang sebelumnya dibangkitkan oleh Dear Nancy. Lagu yang pertama dibawakan malam itu, ”Heidy”, lebih merupakan promosi salah satu single dari album BOTC yang akan segera dirilis. Masih sebagai promosi album mereka, lagu lainnya “Feel Free to Feel Lost” menyusul dimainkan. Baru pada lagu ketiga, lagu The Cure dibawakan, “Just Like Heaven”, dan kalau anda sempat hadir di acara We Are Pop pastinya pernah melihat BOTC memainkannya. Kali ini dengan permainan yang lebih rapi tentunya. Trust dipermak oleh BOTC menjadi lebih mirip lagu yang ceria. Agak lucu juga ketika lagu yang aslinya galau berubah jadi lagu ceria. Kira-kira apa ya reaksi Robert Smith jika mendengarkan lagu versi BOTC ini? Seorang teman sempat berucap bahwa menurutnya Trust versi BOTC jauh lebih bagus daripada versi Homogenic. Sebagai penutup, BOTC membawakan lagu “Mint Car” yang beat-nya sangat ceria, namun sayang Bobby masih kurang menguasai lagu tersebut sehingga lagu yang menyenangkan itu terasa kurang greget-nya. Tapi secara keseluruhan, penonton cukup terhibur dengan penampilan atraktif mereka malam itu.

dsc_4104.jpg

Suasana mulai sedikit mendingin saat The Fellow naik ke atas panggung. Penampilan mereka bisa dibilang cukup biasa malam itu, tidak seperti saat Manchester Get Mad dua minggu sebelumnya. Untungnya vokalis mereka, Aryo, dapat menghangatkan atmosfer di sekitar panggung dengan mengajak sejumlah orang yang hadir untuk bernyanyi bersama. Membawakan lagu The Cure seperti “Play For Today” dan “Boys Don’t Cry”, mereka sepertinya sangat menikmati penampilan mereka.

dsc_4127-the-fellow.jpg

Fill n Feel tampil dengan vokalis yang bertata-rias paling mirip Robert Smith malam itu. Lengkap dengan sweater hitam kebesaran dan heavy dark mascara, vokalis mereka berhasil mencuri perhatian penonton yang datang. Fascination Streets yang dibawakan sebagai pembuka, bisa dibilang cukup menakjubkan. Tapi jutru sangat drop ketika membawakan Just Like Heaven dan Trust. Terlalu mengikuti versi lagu aslinya. Apalagi saat membawakan lagu ”Trust”, saat gitarisnya yang gitarnya mirip punya Noel (Gallagher) itu mendapat kehormatan untuk memainkan pianonya, terlihat sekali ia berusaha keras untuk mengingat not-not selanjutnya. Tapi attitude vokalisnya memang sepertinya menghayati sekali, karena ia sempat stage dive di satu kesempatan, dan duduk-duduk saja sambil merokok pada kesempatan lainnya.

dsc_4141.jpg

Planetbumi naik panggung berikutnya. Sedikit kejutan ketika Bagus (Room V) tampil mengisi vokal Planet Bumi, menggantikan Nyoman. ”A Night Like This” dihadirkan sebagai lagu pembuka. Lagu selanjutnya adalah lagu lawas planetbumi sendiri, Awan, dan Suci pun menyusul kemudian. Single The Cure lain yang dimainkan adalah A Forest. Permainan yang cukup rapi. Pada kesempatan tersebut planetbumi juga memperkenalkan drummer baru mereka, yang namanya sama dengan gitarisnya, Helmi. Sempat juga ada ‘solo session’ dari Helmi, yang menggantikan drummer sebelumnya, Yudi.

dsc_4238.jpg

Selanjutnya penonton disuguhkan dengan penampilan yang sangat menghibur dari The Kuctruts. Sebelum mulai Heri Purnomo aka Omokucrut tampil ke depan panggung sambil meledakkan kantung balon ulang tahun, disambut gelak tawa para penonton. Lumayan kocak dan tentunya menghibur, mengingat penampilan band-band sebelumnya cenderung tampil serius. Seluruh personel The Kucruts sendiri tampil dengan visor plus lampu. Lebih keren dari visor Goodnight Electric.

”Walaupun ini acara Tribute to The Cure, The Kucruts tidak akan membawakan lagu-lagu The Cure kayak yang The Cure maenin. Karena The Kucruts bukan The Cure, karena kami bukan mereka”, ujar omo kucrut sebelum memainkan lagu Bukan Mereka. ”Kami bukan Robert Smith, lalala…” ”A Forest” dibawakan oleh The Kucrut dengan beat disko ala The Upstairs. “Cinta Waria”, lagu andalah The Kucruts menyusul kemudian. Yang agak mengejutkan ketika “Killing An Arab” dimainkan sebagai lagu penutup apalagi ditambah dengan atraksi omokucrut menari-nari seperti tari ular di depan panggung. Penonton pun tertawa-tawa. Yang pasti penonton sangat terhibur oleh The Kucruts, entah oleh lagu-lagu yang mereka mainkan atau lebih karena atraksi panggung yang jenaka. Omo kembali meletuskan satu balon sebelum pamit turun panggung.

dsc_3436-kucruts.jpg

Penampilan band Dikeroyok Wanita yang tampil berikutnya sempat terhambat karena pedal drumnya bermasalah. Akhirnya penonton dibiarkan menunggu sekitar setengah jam hingga akhirnya datang pedal drum pengganti. Untunglah vokalis mereka Inyo, sudah biasa menjadi MC. Sehingga jeda waktu yang ada tidak terlalu kosong, walaupun jokes yang dilontarkan cukup garing hehe. Tapi memang penampilan drummer DW malam itu sangat mengesankan. Energinya seperti orang yang habis minum obat kuat, dalam konotasi yang positif, tentunya. Lagu hits mereka “Yes We Are Boyo” (buaya darat mungkin, maksudnya? –red) dibawakan sebagai lagu pembuka. Kemudian ada juga lagu “Primary” dan “The Hanging Garden” milik The Cure yang dibawakan dengan versi sedikit post-punk. Bahkan pada lagu terakhir terjadi yang Bystanders anggap sebagai ‘penganiayaan terhadap drum’, karena drummer DW membawakan lagu tersebut dengan sangat bersemangat, dengan permainan drum yang tidak biasa. Empat lagu usai mereka bawakan, dan keempat personil DW sepertinya puas dengan penampilan mereka malam itu. Memang, dengan baju hitam-merah, sepertinya memang mereka lebih pas untuk membawakan lagu-lagu Devo. Tinggal tambahkan saja topi piramida itu. Namun penampilan mereka kali itu setidaknya cukup atraktif dan memuaskan.

dsc_3558.jpg

Ekspektasi berlebihan Bystanders ternyata berujung kekecewaan ketika Lipgloss bermain malam itu. Permainan yang tidak sesuai harapan. Nama Lipgloss yang sudah saya dengar lebih lama sebelumya ternyata tidak berimbas kepada kematangan kualitas musik mereka malam itu. “A Letter to Elise” yang mereka bawakan sebagai lagu pembuka, lebih terbantu karena banyak penonton yang suka lagu tersebut dan bukannya karena dimainkan secara apik oleh Lipgloss. Begitu pula ketika mereka memainkan “Why Cant I Be You”, atau lagu sendiri “Atas Namamu”. Sekedar penampilan yang biasa saja sebagai salah satu band yang terbilang cukup lama malang-melintang di scene indie. Namun penampilan mereka cukup kreatif saat vokalis mereka membawakan beberapa lagu dengan menggunakan toa, didukung dengan vocal yang cukup baik dan penampilan yang cukup atraktif tentunya.

dsc_3659.jpg

Salah satu band yang paling ditunggu-tunggu malam itu, Room V, hadir kemudian. Band lawas ini memang dulu terkenal jagonya dalam membawakan lagu-lagu The Cure. Sayangnya Bin tidak menyanyi malam itu dan hanya bermain bass sementara posisi vokalis diisi oleh Bagus yang pada penampilan sebelumnya juga menyanyi untuk Planet Bumi. Kali ini Bagus tampil dengan make-up ala Robert Smith. dengan cardigan hitam, serta mascara dan lipstick berwarna hitam. Lalu ada pula gitaris planetbumi Helmi yang ikut membantu mereka di drum. Room V sukses membawakan empat lagu The Cure yang cukup awam di telinga penonton sore itu seperti Love Song (yang dibawakan secara akustik), Boys Dont Cry, In Between Days, A Letter to Elise, Pleasure, dan Just Like Heaven. Lumayan untuk sekedar nostalgia.

dsc_3703.jpg

Goodnight Electric tampil sebagai penutup. Mayoritas penonton mungkin hadir untuk melihat trio yang satu ini. Sejumlah atribut Good.Friends terlihat di antara penonton, mungkin juga lebih banyak good.friends nya daripada yang benar-benar mau lihat tribute to the cure.

Tanpa banyak berbasa-basi GE memainkan Hello yang kini dijadikan intro resmi untuk promosi album mereka yang terbaru. Sayangnya sound synthetizer Bondi bermasalah dan suaranya agak tidak keluar. Kemudian tigal lagu mereka dibawakan, mulai dari “Solid Gold”, “This is For You”, dan “Versus”. Sejumlah penonton yang hadir untuk acara tribute pun langsung kecewa, karena GE lebih banyak membawakan lagu mereka sendiri daripada lagu The Cure. Baru pada lagu keempat, “The Walk”, GE membawakan lagu The Cure yang sudah diaransemen ulang oleh GE dalam beat disco-techno delapan puluhan. Kemudian Batman memanggil omokucrut ke atas panggung untuk berduet dalam lagu “A Forest”

Tidak tahu kenapa, malam itu banyak sekali band yang membawakan “A Forest”. Mungkin mereka kira lagu ini cukup jarang dibawakan, sehingga mereka memainkan lagu itu. Sayang, ternyata sebagian besar dari mereka berpikiran hal yang sama. Atau mungkin juga karena adanya pohon imitasi berukuran cukup besar di pojok kiri café, tempat para reporter Bystanders dan sejumlah teman lainnya berkumpul, haha.

Sayangnya GE tidak membawakan “Lovesong” yang dulu pernah mereka mainkan di Thusrday Riot. Tapi apa mau dikata, pertunjukkan malam itu tetap harus berakhir. Sayangnya dengan antiklimaks. //review by yearry , 410//photo by 410


interview // DJ DANES

June 14, 2007

kenapa drum and bass?? kapan milestone itu bermula?

waktu gue kuliah di jerman, gue suka collect records (12″ inch vinyl), semuanya gue kumpulin yang gue suka sampe satu saat gue dapet satu mixtape Grooverider keluaran prototype taun 1998. The rest is history…

Koleksi vinyl pertama loe apa?

tough question…can’t recall it ..tapi gue rasa itu Abstract Truth – Get Another Plan keluaran Talkin Loud

Waw.. talkin loud itu labelnya si sir giles peterson khan?? dan kayaknya lebih banyak acid jazz??

wah, lo pasti punya taste music yang ok hehehe. Yap. gilles bikin talkin loud tapi disitu banyak juga artis2 non acid jazz. basicly talkin loud always delivers quality. roni size juga ada di talkin loud. abstract truth itu ke arah jazzy jungle kinda stuff…gue amazed dengan lagu2 kayak gitu di taun segitu..langka menurut gue di taun 98.

And then the drum n bass taste loe mulai pas lo kenal vinylnya siapa??

it has to be roni size and all the full cycle family, roni size – brown paper bag, krust – warhead, classic stuff.

bisa ceritain dikit tentang sejarah drum and bass??

singkatnya, musik ini berawal dari illegal parties dan radio show di UK di awal tahun 90an. Lalu mulai keluar nama2 seperti Grooverider & Fabio, LTJ Bukem, Goldie dengan Timeless nya. They helped to shape the future of drum n bass. Drum n bass sendiri udah melewati 3 golden years di taun 94, 97, dan 2001.

Jadi acid jazz itu rootnya drum and bass, secara kebanyakan artisnya jebolan talkin loud record?

talkin loud mungkin sempet kedatengan artis2 seperti roni size dll, tapi sebenernya label itu tidak membuat dirinya identik dengan dnb. tapi kalau gue mau bilang singkatnya, acid jazz dan dnb berbeda satu sama lain. acid jazz berangkat dari jazz dengan enrichment genre2 lain, dnb berangkat dari four to the floor, evolved dari oldskool, jungle, breaks, etc

kapan nyoba mulai nge-dj?

small gig di Aachen, taun 98.. I wasn’t playing dnb though. Gue main breaks disitu. It was monumental for me though

emang gimana ceritanya dari ngumpulin vinyl bisa langsung get involve in dance floor party gigs?

terjadi sejalan dengan waktu aja.Selama kuliah, gue banyak ngabisin waktu di record store, kenal dengan dj lokal, belajar ngedj sendiri trus dapet gig sampe gue sempet kerja jd resident dj dan main di butik.

gig pertama loe dengan vibe drum and bass??

Nope. breaks..atau dulu gue sebutnya breakbeat..it was my first passion actually

trus dari ngegig, sempet bikin project apa aja?? i mean in the form of discography or somethin??

Oh… hmm… discography atau gig apa aja? discography nih maksudnya release kan?

Yes

Oh… hmm… taun 2001 gue release universal drumz 1 – vorsprung durch drum n bass…itu mix cd yang keluar pertama kali commercialy di jakarta, bandung dan jogjakarta. 2003 gue release universal drumz 2, di release commercially juga. 2007 ini gue buat universal drumz 3, available as downloadable podcast. kalau discography tunes media distorsi – in between (danes remix radio edit), the sastro – plaza maya (danes remix), danes feat. allied force – dancing in the sun, rock n roll mafia – what’s its all about (danes remix), danes – murder selecta (released in singapore only), apa lagi ya gue lupa euy.. hehehe…

kalo universal drumz seri 1,2,3 itu sebenernya kompilasi dari dj2x drum and bass yang loe kompilasi ya??

Iya

releasenya pake label apa??

Indie. alias no label. gue release sendiri. helped by some of my friends to distribute it. you’d find universal drumz most likely di distro2 dan aksara waktu itu. dan limited edition…only 100-200 copies

emangnya kompilasi tiap2x dj di situ ga terikat satu label??

Gak terikat satu label

in other word emang kebanyakan dj yang loe ajak di project universal drumz itu dj2x indie ya??

di universal drumz itu adalah mostly big names di drum n bass scene di UK

ada dj lokal ga yang terlibat di project itu selaen loe??

gak ada sih. pada waktu itu drum n bass masih terhitung musik baru di Indonesia. jadi dj yang ada ya itu2 aja.

gw liat loe sering pake screen name danes stereowerk, emang stereowerk itu apa??

stereowerk adalah drum n bass collective di Indonesia yang gue buat di taun 2001. Sepulangnya gue dari Jerman, gue mau nerusin apa yang gue jalanin disana dan stereowerk ini yang akan menjadi platform untuk drum n bass di Indonesia. anggota terakhir ada total 7 orang. dan distributed di jakarta, bandung dan jogjakarta. so basiclly we covered all places in Indonesia. tapi status stereowerk sekarang harus di freezed dulu karena semua anggotanya sudah mulai berumur dan mulai sibuk dengan kerjaan masing2.

emang siapa aja membernya??

mereka semua udah jadi legend di drum n bass scene di Indonesia sejak taun 2001, ada Tara, Weza, Icham, gue, dll

bisa di list lengkap ga (nama lengkap)??

waktu stereowerk dibuat,..anggota awal termasuk founder nya adalah cuma gue sendiri. lalu member awal ada 3 orang, yaitu Dodi lalu ada Adhe yang akhirnya menang di Heineken Thirst. sisanya banyak pergantian member.

Kalo drum sonic science itu project loe bareng dj laen ato emang single dj performance??

project sendiri gue

masih jalan?? udah ngeluarin single or album??

drum sonic science masih berbentuk open project….jadi statusnya masih jalan (dan pending dulu)…sebenernya gue kasih nama itu untuk home studio gue…rencana mau keluarin album tapi mesti banyak pr yang harus dikerjain termasuk milih lagu etc.

kalo komunitas drum and bass di indonesia sendiri gimana??

kalau gue boleh bilang, stereowerk punya pengaruh kuat di komunitas drum n bass di indonesia pada waktu itu. Sekarang ini gue udah nggak involve lagi di stereowerk dan komunitas itu sendiri. Jadi agak taking back myself a bit. Mungkin udah saatnya berhenti main drum n bass.

hahaha… kok gitu??

alesannya simple sih…dari taun 1998 sampe sekarang, gue udah hampir 10 taun dealing dengan drum n bass dan pernak pernik nya. let just say, I had my time, udah ngerasain semua nya.

selama loe ngedj, ada ga dj laen yang bisa dibilang mate loe dalam ngedj??

semua yang di stereowerk adalah mate gue.

menurut loe scene musik indonesia saat ini gimana?? baik industrial maupun indie

label2 indie udah mulai going strong kalo gue liat. so major labels..you’d better watch out. Hahaha.. it’s all good lah

ada ga yang jadi favourite loe?? ato setidaknya yang sering loe denger saat ini

wah banyak…hmm..producer fav gue kayak 4 hero, dave taylor, pendulum, etc

kalo yang lokal??

Hmm… dj fav gue itu ada namanya nishkra di bandung, yang bikin poptastic kalo ga salah. producer fav mungkin blom ada yang sreg, tapi banyak producer2 yang udah makin keren sekarang kayak hendra rnrm

katanya lagi nyoba ngerelease label ya?? symmetrix records??

symmetrix records itu sebenernya direncanakan untuk ngeluarin lagu2 gue yang numpuk di studio dan blom sempet dikeluarin. Tapi akhir2 malah aktif di post production untuk bikin jingle iklan, album mixing, dan mastering.

udah ngeproduce apa aja??

ada beberapa album yang pernah di mixing disini. iklan juga sempet beberapa. dan pastinya hasil karya gue sendiri..salah satunya in between nya media distorsi yang buat di release di jepang.

oya tentang in betweenya media distorsi yang loe remix, itu gimana ceritanya sampe di releas di beberapa kompilasi, such as jadi supplemen kompilasinya di majalah rolling stone yang bulan mei ini??

ceritanya pretty simple, untuk project drum sonic science, gue banyak kolaborasi dengan artis2 lokal kayak media distorsi, rock n roll mafia, the sastro, junko, etc etc…indra7 (media distorsi) nawarin gue bikin remix in between untuk album repackaged mereka di jepang.

kalo ada kesempatan kolaborasi or ngeremix or somethin bareng artist lokal, who would you prefer to??

Hmm… almarhum chrisye? Hahaha…

ada lagi??

blom ada. Soalnya belum ada waktu

bisa share ga, 10 playlist current loe??

boleh…playlist gue ga semua drum n bass…isinya lagu2 yang lagi gue suka at the moment;

1. Carol Williams – Can’t Get Away from Loving you

2. Subfocus – Airplane

3. Mylo – Mars Needs Women

4. 4 Hero – Play with Changes

5. Groove Armada – Get Down (extended remix)

6. Refunk – It’s Groovey

7. Coldcut – True Skool remix

8. Prodigy – Charly

9. Masters at Work – To be in love (MJ Cole remix)

10. Bebel Gilberto – lupa judulnya, (Telefon Tel Aviv remix)

dari list gue diatas cuma ada 1 lagu drum n bass

the last question: dj mana aja yang nginfluence loe banget dalam karier loe ber dj ria??

the last & the toughest question,…hehe…gue akan coba sebut sedikit aja…tapi 3 nama ini cukup banyak berpengaruh buat gue…dj zinc, jeff mills sama sir gilles peterson. satu lagi mungkin this new young upcoming dj namanya james zabiela.

oya satu lagi?? hehehe… ada plan ngeluarin album ga dalam waktu dekat??

plan gue dalam waktu dekat,..mungkin gue akan vakuum dari scene drum n bass di Indonesia dan maybe going back to slower stuff

Biodata dj Danes:

nama lengkap: anindio daneswara

myspace : www.myspace.com/drumsonicscience

friendster: http://www.friendster.com/danes

//interview by wongacid


interview // ELANG EBY

June 14, 2007

dsc_0178.jpg

Sosok Elang Eby di atas panggung identik dengan kesan kalem dan cool. Tapi siapa yang tahu sih karakter aslinya? That’s why Bystanders sedikit mengoreknya dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang “tidak biasa”.

Kalo PE dikasih kesempatan main di luar negeri, lo pribadi pengennya di negara mana?

Hmmm…di Iceland di kota Rekjavik kayaknya enak santai…tapi Newyork juga seru…Polandia juga boleh…tapi berhubung cover album pertama kami mengambil foto gedung tua di Helsinski jadi kita milih Finlandia aja deh, di Helsinski kayaknya bisa lebih simbolik…:) (yahhhh kalo gitu semuanya aja deh lang, red)

Lebih suka mana, vokalis kalem yang diem di tempat ato aktif pindah2 ke segala sudut panggung?

Tergantung musiknya…kalo musiknya mungkin sedikit gloomy, galau atau malah kristis…diem aja deh dan sebaliknya…

Menurut lo, idealnya jarak antara album ke album berapa tahun?

Ideal menurut saya ga lebih dari 5 taun aja sih…kelamaan…ntar keburu lupa album seblumnya… (bener juga ya, red)

Sebutin kolaborasi 2 musisi tergokil yang pernah lo liat/tonton.

Yang gue liat/tonton….hmmmm belum ada…pass…!!!

Kalo lo berada dalam satu band yang beranggotakan cewe semua, lo milih jadi vokalis ato pure player?

Pure vokalis dan semua cewenya jadi pure player and dancer (maunya tuh, red)

Nyanyi sambil main gitar ato main piano? Kenapa?

Main piano dulu trus nyanyi trus nyanyi sambil main piano trus main gitar trus nyanyi lagi sambil main gitar trus nyanyi doang trus main piano lagi sambil nyanyi trus closing deh main piano doang…ribeut yah…mmhhh…liat entar aja deh…gimana mood…heu.

Wanita terlihat seksi kalo lagi main alat musik apa?

Maen synthesizer dan alat2 modular yang gede2 kaya rick wakeman ato john lord…cewe yang maen gitar, bass, piano, drum biasa aja kecuali emang cantik dan badannya bagus (harfiah)…

Kalo PE dibikinin lagu sama musisi luar, lo prefer berbahasa Portugis ato China? Harus dijawab!

Portugis aja deh…china ga ada huruf R nya…ntar disangka cader lagi gua…hehe…

Perform di RSJ di swiss ato di panti jompo di india?

RSJ swiss…pasti…karena mudah-mudahan musik kita bisa menyembuhkan mereka si orang orang swiss gila itu…

Vocalist with cool hairstyle, cowo dan cewe.

Hmmm siapa yah itu namanya…pokonya vokalisnya Sneaker pimps yang cowo…pokonya potongan rambut dia ada di cover albumnya Sneaker pimps -Splinter…kalo mau tau namanya beli cd itu aja…albumnya juga bagus kok…lho…

Konsep cover album yang keren tu gimana?

Yang sangat merepresentasikan isi album yang pasti…di luar itu mungkin gaya grafis atau visual yang fresh…

Pekerjaan/hal/apapun itu yang pengen lo lakuin tapi belum kesampean.

Kawin (biar nyambung sama pertanyaan di bawah), bikin album solo, bikin album solo lagi, dan album solo berikutnya juga trus bikin the bestnya juga dari album solo gua…tinggal ngebangun rumah aja pinggir pantai tinggal bareung sama future wife and future kids…amieeen…!!! (amiiiin juga, red)

Main di dalam negeri dengan bayaran 500 juta rupiah (cukup buat kawin tu lang) ato di eropa tapi unpaid?

Nah nyambung kan…ga munafik gw mah 500 juta aja deh siniin gua mau maen 3 hour set juga…duitnya pake kawin beli rumah…kalo nyisa yah berlibur aja ke eropa sekalian honey moon…aheuheu…

Band/musisi sapa yang lo akan bayar berapa pun untuk nntn performancenya?

AIR…best band on earth…!!!

Disuntik ato dicabut gigi? hehe

Suntik aja deh…apalagi disuntik dana…mau bangeut…:)

The Simpsons ato Tom & Jerry?

The simpson cukup mempengaruhi hidup saya…MG is genius…!!!

Who controls PE’s myspace?

Me and my manager amon.

Last, kapan main di Jakarta???????????????????????????!!!!!!!!!!!! (pertanyaan mewakili diri sendiri, red)

Kalo jadi mudah-mudahan acaranya traxustic bareung pure saturday…so prepare yourself to feel the blow…yah habis yah pertanyaannya yah…ya sudah…makasih yah…jangan lupa saya minta zinenya kalo udah jadi…hehe

Ok deh lang, makasih ya atas waktunya. Sukses buat PE.

//interview by foe


cd review//air//pocket symphony

June 14, 2007

airpocketsymphony.jpg

AIR
POCKET SYMPHONY
2007 // Virgin Music/EMI Music France

French Duo, Jean-Benoit Dunckel dan Nicolas Godin atau yang dikenal dengan AIR, kembali hadir dengan album Pocket Symphony. Album ini adalah album studio keempat mereka setelah Moon Safari, 10,000Hz Legend, dan terakhir Talkie Walkie di tahun 2004 yang lalu.

Sesuai dengan judul albumnya, mendengarkan Pocket Symphony ini seakan mendengarkan simfoni dalam sebuah kaset atau CD. Sebuah simfoni yang sederhana sehingga seakan-akan dapat dimasukkan ke dalam saku. That’s why they named the album (as a) ‘pocket symphony’.

Nicolas Godin berkomentar tentang album baru mereka,“We wanted to have this idea of the album literally as a pocket symphony so you imagine you’re going into the opera and the lights go down and then this starts”

AIR menawarkan sesuatu yang berbeda dari album-album sebelumnya yaitu eksplorasi musik yang bernuansa oriental dengan memainkan instrumen musik klasik Jepang, Samisen dan Koto. Tidak percuma Nicolas Godin berguru selama satu tahun kepada Shoko, guru instrumen klasik Jepang di Okinawa. Meskipun demikian suara dari instrumen musik konvensional masih terasa mendominasi dalam musik AIR.

Dalam album ini AIR masih bekerjasama dengan produser Nigel Godrich. AIR juga berkolaborasi dengan mantan vokalis Pulp, Jarvis Cocker yang menulis dan menyanyikan satu lagu berjudul One Hell Of A Party, serta Neil Hannon dari Divine Comedy yang mengisi vokal pada lagu Somewhere Between Waking And Sleeping.

AIR kali ini juga banyak memainkan musik instrumental, semisal pada lagu Space Maker, Mayfair Song, Lost Message dan Night Sight. Pada lagu terakhir ini JB Dunckel memainkan rodhes dan synthesizer secara solo.

Once Upon a Time ditawarkan sebagai single pertama dalam album ini. Mendengarkan lagu ini sekilas mengingatkan akan lagu Cherry Blossom Girl atau Playground Love.

Sementara lagu lainnya, Napalm Love, Photograph, Mer Du Japon, Redhead Girl, masih didominasi oleh vokal JB Dunckel, sementara Nicolas Godin hanya mengisi vokal pada lagu Left Bank.

Satu lagu,  Mer Du Japon dinyanyikan dengan lirik berbahasa Perancis hanya dalam satu kalimat “Je perds la raison dans la mer du Japon”. I lost my mind in the sea of Japan. Just one simple line.

Mayoritas lagu dalam Pocket Symphony dibawakan dalam down-tempo, hanya dua tiga lagu yang masuk kategori medium beat . Sekilas sedikit mengingatkan akan album Moon Safari. Nicolas Godin sendiri sempat berujar  “We decided to go back to the soundtrack music-style, with more instrumentals and less songs.”

Walaupun begitu secara keseluruhan musikalitas dalam album ini terasa variatif dan tidak monoton, meskipun ciri khas AIR masih cukup terasa di dalam eksplorasi musik mereka. Sedikit kritikan adalah album ini terasa tidak serumit album-album mereka sebelumnya. Jadi, jika Anda mengharapkan musik yang sophisticated dari AIR maka Anda akan kecewa.

Bagi yang tidak cukup akrab dengan musik AIR mungkin akan agak kesulitan untuk mencerna album Pocket Symphony karena memang musik yang ditawarkan bisa dibilang tidak “ear catchy”. Tapi bagi yang telah mengenal AIR, album ini masuk dalam kategori wajib untuk dikoleksi.

Sebagai info tambahan, album AIR ini hadir dalam format CD dengan teknologi Opendisc. CD Pocket Symphony ini dapat dijadikan akses khusus melalui www.pocket-symphony.com. Dalam situs tersebut terdapat beberapa fitur istimewa dari AIR serta beberapa bonus tracks.//yearry


gig review//wonderbra album launch

June 14, 2007

dsc_3454.jpg

Bystanders merasa terhormat sekali mendapatkan undangan langsung untuk datang ke launching band ini. Pada tanggal 3 Mei lalu, Wonderbra menggelar launching party atas album mereka, “Crossing The Railroad”. Dengan sejumlah band pembuka yang cukup menarik, seperti Stupid Robotic Killing Machine, Stereomantic, Afamous, serta Zeke and The Popo. Bertempat di Colours Café, Wonderbra berhasil menggebrak penonton yang datang dengan sejumlah lagu  rock n roll-funk-psychadelic mereka.

Dibuka dengan “Die, Die, Baby Die” yang sangat menghentak, mereka membawakan lagi sekitar delapan lagu lainnya seperti “Dig It Deep”, “Dance With The Blues”, dan “Crossing The Railroad” yang mengajak crowd yang datang untuk moshing – atau setidaknya menghentakkan kepala mereka. Sebagian besar crowd sepertinya memang teman-teman dekat mereka, dan mereka memenuhi daerah sekitar panggung untuk menyanyi bersama. Bahkan lagu “Loveless Blues” yang tidak ada di album dan awalnya tidak masuk dalam set list, ikut dimainkan karena ada request dari teman-teman yang datang. //photo and review by 410//


gig review//think thursday

June 14, 2007

pict0073-planb-bw.jpg

Sejumlah gigs biasanya digelar menjelang weekend. Tapi gig yang satu ini malah digelar di tengah minggu, tepatnya hari Kamis. Dan tempatnya juga lumayan berbeda dengan gigs gratisan lainnya. Di Caven’s Dine & Club, Hotel Nikko lt.28. Pemandangan dari tempat ini sangat bagus, namun sekaligus memberi kengerian bagi orang yang phobia ketinggian.

Bystanders menyempatkan datang ke acara perdana Think Thursday, 19 April lalu. Dibuka dengan thedyingsirens, lalu langsung dilanjutkan dengan penampilan pestolaer. Setelah itu ada band pop-rock-top40 Frezia. Dan ditutup dengan penampilan planetbumi. //review by 410//photo by Bram Prasetya [dok planetbumi]