
MOBY
GO – THE BEST OF MOBY
2006//mute/V2
Moby sedang galau. Mungkin itu yang ingin disampaikan oleh pria jenius berumur 41 tahun ini.
Memang, 23 tahun adalah waktu yang tidak sebentar untuk menjadi musisi yang matang seperti Moby. Pria vegan ini sudah memulai karir musiknya di umur 17 tahun, dan mulai menjadi DJ di New York pada awal umur 20-an. Namun album ini sepertinya kurang mampu untuk menceritakan perjalanan musiknya, terutama album-album awal miliknya. Dan bagi Anda yang menyukai Moby karena lagu-lagu upbeatnya seperti ”Bodyrock” (lagu ini hanya muncul dalam album versi Amerika Latin), ”Extreme Ways”, dan lagu klasik yang sangat keren ”(That’s When I Reach For My) Revolver”, siap-siaplah kecewa.
Tapi bagi yang menyukai sisi kesendirian Moby dan perlu pengiring untuk mengisi hari-hari solitude, album ini bisa dijadikan soundtrack yang sangat baik. Lagu-lagu yang terkumpul di sini memang memberikan nuansa galau (tapi tidak kelam, hehe), seperti kita memandang langit sore yang mulai mendung.
Dan walaupun sebagian besar lagu yang ada di album ini bertempo cepat, namun suasana mendung itu masih dapat terasa. Mungkin karena kunci minor dan sound-sound strings yang terasa menyanyat hati. Bahkan di lagu ”Slipping Away (Crier La Vie)”, walaupun Moby telah mengganti aransemennya menjadi sedikit ’ceria’, tetap saja lagu yang vocalnya dibawakan oleh Moby dan Mylene Farmer (dalam album ’Hotel’ Moby bekerja sama dengan Alison Moyet) itu terasa seperti seseorang yang menerawang masa lalunya dan merasa ia hanyalah makhluk tidak berdaya melawan waktu yang terus berjalan.
Perasaan serupa juga dapat didengar dari ”Go”. Lagu bertempo cepat dan pas untuk dijadikan pengiring tubuh untuk bergerak liar itu tetap saja ada nuansa ’dingin’. Karena pada lagu itu Moby mengambil sample strings dari lagu ”Laura Palmer’s Theme”, yang dijadikan tema lagu untuk mini seri misteri di tahun 90-an ”Twin Peaks”. Bagi mereks yang tumbuh di tahun 90-an dan mengikuti mini seri tersebut di TVRI programa 2, pastilah akan merasakan nuansa yang dapat membuat bulu kuduknya berdiri.
Secara musikal, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Moby memang jenius. Ia bukanlah musisi ataupun DJ pada umumnya. Sound-sound yang dipakai sederhana, musiknya pun tidak ’njelimet’ seperti lagu-lagu dung-ces yang banyak dimainkan di klub-klub dugem terdekat. Gaya hidupnya yang sederhana dan ketulusan cintanya pada musik membuat Moby total dalam menciptakan musik-musiknya. Dan itulah yang membuat musiknya istimewa. Masih bisa membuat orang berdansa, bahkan dalam kesuraman pikirannya.
Sementara itu kumpulan kesinisan penganut faham liberal tersirat dengan jelas dalam lirik-liriknya. Berbagai kekhawatirannya akan dunia yang makin terpuruk ditumpahkan ke dalam lagu-lagunya. Dengarkan saja ”Why Does My Heart Feel So Bad”. Suatu kekecewaannya sebagai warga negara Amerika Serikat (yang menurutnya image buruk sistem politik negaranya diperburuk dengan terpilihnya George W Bush sebagai presiden) juga dituangkannya dalam lagu ”Lift Me Up”.
Selain itu Moby juga mencoba mengangkat kembali vokal orang-orang kulit hitam di tahun 1920-an, menggunakan sejumlah sample dari musik dasawarsa itu pada lagu seperti ”Find My Baby” dan ”Honey”. Moby memang menggemari musik kulit hitam. Bahkan di saat ia telah bosan dengan segala musik new wave dan pop kulit putih di akhir 80-an, ia mulai mengeksplorasi musik hip hop dan memainkan sejumlah records dari musisi-musisi hip hop saat ia DJ’ing di klub lokal.
Satu lagu baru yang dimasukkan ke dalam album ini adalah ”New York, New York”, yang vocalnya dibawakan oleh vokalis legendaris dari band Blondie, Debbie Harry. Sebuah lagu yang tepat sekali, seperti sebuah persembahan khusus dari Moby untuk kota yang ’membesarkannya’ menjadi seorang musisi seperti sekarang. Lagu yang cukup sinis sebetulnya, menggambarkan sebuah realita di kota tersebut, seperti yang dikutip dari websitenya, ”It’s a song about degeneracy and debauchery in New York City,”.
So, for all of you loneliest people, go listen to this record. And found out that you are not alone. //review by 410//
Posted by bystanders 
Posted by bystanders
Posted by bystanders 














