review//moby//go-the best of moby

December 24, 2007

go_very_best_of_moby.jpg

 

 

 

 

 

 

MOBY

GO – THE BEST OF MOBY

2006//mute/V2


Moby sedang galau. Mungkin itu yang ingin disampaikan oleh pria jenius berumur 41 tahun ini.

Memang, 23 tahun adalah waktu yang tidak sebentar untuk menjadi musisi yang matang seperti Moby. Pria vegan ini sudah memulai karir musiknya di umur 17 tahun, dan mulai menjadi DJ di New York pada awal umur 20-an. Namun album ini sepertinya kurang mampu untuk menceritakan perjalanan musiknya, terutama album-album awal miliknya. Dan bagi Anda yang menyukai Moby karena lagu-lagu upbeatnya seperti ”Bodyrock” (lagu ini hanya muncul dalam album versi Amerika Latin), ”Extreme Ways”, dan lagu klasik yang sangat keren ”(That’s When I Reach For My) Revolver”, siap-siaplah kecewa.

Tapi bagi yang menyukai sisi kesendirian Moby dan perlu pengiring untuk mengisi hari-hari solitude, album ini bisa dijadikan soundtrack yang sangat baik. Lagu-lagu yang terkumpul di sini memang memberikan nuansa galau (tapi tidak kelam, hehe), seperti kita memandang langit sore yang mulai mendung.

Dan walaupun sebagian besar lagu yang ada di album ini bertempo cepat, namun suasana mendung itu masih dapat terasa. Mungkin karena kunci minor dan sound-sound strings yang terasa menyanyat hati. Bahkan di lagu ”Slipping Away (Crier La Vie)”, walaupun Moby telah mengganti aransemennya menjadi sedikit ’ceria’, tetap saja lagu yang vocalnya dibawakan oleh Moby dan Mylene Farmer (dalam album ’Hotel’ Moby bekerja sama dengan Alison Moyet) itu terasa seperti seseorang yang menerawang masa lalunya dan merasa ia hanyalah makhluk tidak berdaya melawan waktu yang terus berjalan.

Perasaan serupa juga dapat didengar dari ”Go”. Lagu bertempo cepat dan pas untuk dijadikan pengiring tubuh untuk bergerak liar itu tetap saja ada nuansa ’dingin’. Karena pada lagu itu Moby mengambil sample strings dari lagu ”Laura Palmer’s Theme”, yang dijadikan tema lagu untuk mini seri misteri di tahun 90-an ”Twin Peaks”. Bagi mereks yang tumbuh di tahun 90-an dan mengikuti mini seri tersebut di TVRI programa 2, pastilah akan merasakan nuansa yang dapat membuat bulu kuduknya berdiri.

Secara musikal, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Moby memang jenius. Ia bukanlah musisi ataupun DJ pada umumnya. Sound-sound yang dipakai sederhana, musiknya pun tidak ’njelimet’ seperti lagu-lagu dung-ces yang banyak dimainkan di klub-klub dugem terdekat. Gaya hidupnya yang sederhana dan ketulusan cintanya pada musik membuat Moby total dalam menciptakan musik-musiknya. Dan itulah yang membuat musiknya istimewa. Masih bisa membuat orang berdansa, bahkan dalam kesuraman pikirannya.

Sementara itu kumpulan kesinisan penganut faham liberal tersirat dengan jelas dalam lirik-liriknya. Berbagai kekhawatirannya akan dunia yang makin terpuruk ditumpahkan ke dalam lagu-lagunya. Dengarkan saja ”Why Does My Heart Feel So Bad”. Suatu kekecewaannya sebagai warga negara Amerika Serikat (yang menurutnya image buruk sistem politik negaranya diperburuk dengan terpilihnya George W Bush sebagai presiden) juga dituangkannya dalam lagu ”Lift Me Up”.

Selain itu Moby juga mencoba mengangkat kembali vokal orang-orang kulit hitam di tahun 1920-an, menggunakan sejumlah sample dari musik dasawarsa itu pada lagu seperti ”Find My Baby” dan ”Honey”. Moby memang menggemari musik kulit hitam. Bahkan di saat ia telah bosan dengan segala musik new wave dan pop kulit putih di akhir 80-an, ia mulai mengeksplorasi musik hip hop dan memainkan sejumlah records dari musisi-musisi hip hop saat ia DJ’ing di klub lokal.

Satu lagu baru yang dimasukkan ke dalam album ini adalah ”New York, New York”, yang vocalnya dibawakan oleh vokalis legendaris dari band Blondie, Debbie Harry. Sebuah lagu yang tepat sekali, seperti sebuah persembahan khusus dari Moby untuk kota yang ’membesarkannya’ menjadi seorang musisi seperti sekarang. Lagu yang cukup sinis sebetulnya, menggambarkan sebuah realita di kota tersebut, seperti yang dikutip dari websitenya, ”It’s a song about degeneracy and debauchery in New York City,”.

So, for all of you loneliest people, go listen to this record. And found out that you are not alone. //review by 410//


album review//travis//the boy with no name

December 24, 2007

600px-tbwnn.jpgTRAVIS

[THE BOY WITH NO NAME]

2007 // independiente

Akhirnya, Travis kembali menelurkan album baru mereka. Kali ini dengan atmosfer yang sangat ’Travis’, tidak seperti album anomali mereka ”12 Memories”. Memang, tidak terasa tiga tahun telah berlalu setelah album ”Singles” dan empat tahun setelah ”12 Memories”, jadi album ini memang layak untuk ditunggu. Sayangnya, album ini tidaklah sehebat album kedua mereka “The Man Who”, apalagi kalau baru didengarkan sekali saja. Tapi janganlah membuat suatu penilaian mengenai album ini sebelum mendengarkannya beberapa kali. Karena setelah CD (atau kaset, bagi para pengusung teknologi konvensional) nya telah dimainkan beberapa kali di player Anda, maka album ini akan terdengar sangat menyenangkan terutama untuk menjadi pendamping saat bepergian, hehe.

Sebetulnya tidaklah terlalu mengherankan Travis kembali dengan album yang bisa dibilang sangat baik, karena sekali lagi Nigel Godrich ikut membantu band asal Glasgow, Skotlandia ini dalam merampungkan album mereka, walaupun memang Godrich tidak sepenuhnya menjadi produser untuk album ini seperti dalam “The Man Who” ataupun “The Invisible Band”. Album “The Boy With No Name” ini diproduseri oleh Travis sendiri dan Steve Orchard (seperti dalam “12 Memories”), namun Godrich ikut membantu dalam beberapa track di album ini. Dan coba saja dengarkan lagu-lagu yang diproduseri oleh Godrich, Anda tidak akan hanya mendengarkan, namun juga ikut merasakan keseluruhan nuansa yang dibangun oleh Godrich, sehingga Anda akan merasa terbawa ke dunia mereka

Album ini juga terkesan lebih ceria dibanding tiga album terakhir mereka. Walaupun secara keseluruhan lirik dalam album ini lebih gelap dan sinis, serta penuh rasa kecewa dan kehilangan, namun dari segi musik album ini lebih terasa bersemangat. Tidak ada lagi lagu sedih terisak-isak seperti ”Luv”, ”The Cage”, ataupun “Paperclips”.

Bahkan ada satu lagu yang sangat upbeat, yaitu ”Selfish Jean”. Travis jarang sekali membuat lagu yang bisa membuat orang melompat-lompat karena euforia, jadi lagu yang satu ini memang jadi kejutan yang menyenangkan di albumnya. Sepertinya Travis tidak pernah lagi membuat lagu dengan beat seperti ini sejak lagu ”Happy” dari album pertama mereka ”Good Feeling”. Namun tidak seperti ”Happy” yang liriknya segembira dengan musiknya, lirik dalam ”Selfish Jean” penuh dengan kekecewaan dan kekesalan (baca: gondok).

Dan bagi Anda yang kadang merasa jengah dengan lengkingan vokal Fran Healy (terutama di album ”Good Feeling”), jangan khawatir! Kemampuan olah vokal Fran telah jauh lebih baik dalam album ini. Mulai dari tone yang lembut dan tenang, datar dan rendah, sampai yang berteriak-teriak, semuanya dinyanyikan dengan apik oleh Fran Healy. Selain itu dalam album ini mereka mendapat bantuan vokal dari KT Tunstall dan Julia Stone.

Secara keseluruhan, album ini memang tidak sespektakuler album “The Man Who”, tapi album ini akan mencoba membawa Anda ke jalur nostalgia dan kembali ke masa-masa kejayaan Travis di akhir dasawarsa 90-an. Kalau Anda seorang penggemar berat Travis, Anda bisa mengalami beberapa déjà vu saat mendengarkan album ini. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di bagian review track by track.

.track by track.

01. Three Times and You Lose
Lagu ini sepertinya sama membosankannya dengan lagu “Dear Diary”. Seharusnya lagu ini janganlah dijadikan lagu pembuka di album, lebih baik dijadikan lagu kedua atau diletakkan di posisi tengah. Yang pasti lagu ini terasa sangat timpang apabila dibandingkan dengan lagu selanjutnya.

02. Selfish Jean
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, lagu ini sepertinya menjadi bintang dalam album Travis ini. Selain karena beatnya yang tidak seperti yang biasa dibawakan oleh Travis, tapi cara Fran membawakan lagu ini sepertinya bisa menarik emosi mereka yang mendengarkannya. Lagu yang cukup menghentak ini memang dijadikan single kedua mereka, dan seperti biasa, Travis memiliki cara yang unik dalam berpromosi. Coba saja buka
www.selfishjean.com, dan di sana dapat ditemukan web tempat pengakuan dosa-dosa Anda yang merasa egois (selfish), ataupun melaporkan kejadian di sekitar Anda yang dianggap selfish.

03. Closer
Entah apakah ini disengaja atau tidak, tapi memang sepertinya perbedaan beat antara lagu satu ke berikutnya terlalu besar. Setelah lagu “Selfish Jean” yang bisa membuat orang berdansa ria dengan keadaan setengah galau, maka Anda akan mendengar lagu ini diputar berikutnya. Tentu sangatlah berbeda, baik dari segi musik maupun lirik. Padahal lagu ini juga merupakan salah satu lagu terbaik dalam album ini. Hanya saja terlalu lembut apabila disandingkan dengan lagu sebelumnya. Namun bagi orang-orang sensitif dan sentimentil, lagu ini sepertinya akan segera mendirikan bulu kuduk anda dan memberi anda “the butterfly in your stomach kind of thing”. Oya, Travis juga sempat membuat kuis khusus dalam rangka peluncuran single ini.

04. Big Chair
Lagu ini dibuka dengan suara bass yang cukup catchy, lalu disusul dengan permainan drum yang tidak kalah menariknya. Suara piano dan keyboard cukup kuat dalam lagu ini, sehingga membuat lagu yang liriknya ditulis oleh Fran dan Dougie (bass) ini.

05. Battleships
Salah satu lagu lembut yang menyenangkan. Instrumen banjo yang digunakan mengingatkan akan beberapa lagu dari “The Invisible Band” seperti “Sing” dan “Flowers in the Window”.
Dalam lagu ini Fran dibantu oleh Julia Stone, yang juga berada dalam satu label dengan Travis (Independiente).

06. Eyes Wide Open
Lagu ini sedikit mengingatkan pada lagu “Writing To Reach You”. Aba-aba 1-2-3-4 oleh Fran, serta cara bermain gitar yang mirip pada awal kedua lagu. Bagian pertama dari lagu ini juga sepertinya mirip dengan “Flowers in the Window”, terutama dengan versi akustiknya yang pernah dibawakan di MTV Asia Session tahun 2001.

07. My Eyes
Kabarnya, album ini dinamakan ‘The Boy With No Name’ karena saat itu pasangan Fran, Nora, baru saja melahirkan.
Fran yang belum memberi nama bayinya mengirim foto anak laki-lakinya itu ke teman-temannya via email, bertuliskan “The Boy With No Name”. Dan seperti pria-pria lain yang baru saja menjadi ayah, pengalaman tersebut memberi pengaruh yang cukup kuat bagi Fran. Lagu ini sepertinya menjadi salah satu lagu yang terinspirasi oleh kelahiran bayi tanpa nama itu.

08. One Night
Didengar dari riff gitar dan birama waltzy ¾ yang dipakai, lagu ini menjadi terdengar seperti “Love Will Come Through”, sebuah tipikal dari lagu-lagu yang termasuk dalam “12 Memories”, dengan nuansa sedikit gelap dan terdengar seperti lagu-lagu “perjuangan” yang dikumandangkan sejumlah aktivis/musisi pop.

09. Under The Moonlight
Lagu ini memiliki nuansa yang mirip dengan “Follow The Light” di album “The Invisible Band”. Sangat cucok sebagai pengantar berdansa ice-skating di atas air danau yang membeku di bawah siraman sinar bulan purnama dan bintang-bintang yang tersebar di langit malam yang cerah.

10. Out in Space
Simple and sweet.
Mungkin kedua kata itu sudah cukup untuk menjelaskan lagu ini. Bukan suara-suara warp atau synth-synth elektronik yang membuat Anda merasa dikirim ke luar angkasa. Cukup warm pad lembut dan dentingan-dentingan xylophone ringan.

11. Colder
Lagu ini juga menjadi lagu yang cukup unik di dalam album. Lagu yang apik ini juga diselingi suara-suara dari vocoder, membuat kesan dingin secara elektronik namun sedikit kurang pas dengan nuansa folk-pop Travis. Permainan drum Neil Primrose juga sekali lagi sangat catchy di lagu yang satu ini.

12. New Amsterdam
Dalam lagu ini Travis menyebutkan sejumlah tokoh seni, seperti Jean Paul Basquiat dan Robert De Niro. Selain itu mereka juga menyebutkan judul film “Paris, Texas”, dimana mereka mendapatkan nama Travis untuk band mereka dari film tersebut.
Lagu “New Amsterdam” ini juga terdengar seperti “Humpty Dumpty Love Song”, terutama di bagian drum intro-nya. Namun dengan lirik yang tidak ‘hancur-lebur’ seperti Humpty Dumpty si manusia telur.

hidden track: 13. Sailing Away
Apalah Travis tanpa hidden track.
Ya, mereka selalu memberikan hidden track pada album keluaran genap mereka. Jadi pada album kedua (The Man Who), keempat (12 Memories), dan akhirnya album ini. Sayang, lagu “Sailing Away” ini hanya dijadikan hidden track. Padahal lagu ini termasuk lagu yang sangat enak didengar. Apalagi untuk menemani lamunan Anda di pinggir sungai kecil di saat minum teh. Jadi, lagu ini memang patut untuk disimak. Bersabarlah sedikit setelah lagu terakhir, dan pada menit ke 5:51, Anda akan menemukan lagu tersembunyi ini.

//review by 410//


interview//friday

December 24, 2007

Dua hari berturut-turut Bystanders ikut menjadi saksi penampilan band asal Surabaya ini. Setelah mereka selesai tampil dalam acara Happy Friday, Bystanders menghampiri mereka untuk sebuah wawancara singkat.

Pertama gimana sih kesan-kesannya secara general mengenai scene di Jakarta, Bekasi, Surabaya?
Kalo dilihat dari genrenya mungkin karena di sini biasanya lebih dulu, lebih dekat dengan sumber informasi. Jadi jakarta-bekasi secara genre tuh mungkin influencenya selangkah lebih dulu lah, dan secara komunitas juga, dibanding Surabaya.  Tapi menurut kami sekarang Surabaya sudah mulai bagus. Genrenya juga mulai bervariasi, band-band nya juga mulai banyak yang bagus, banyak rilisan-rilisan baru juga.

Klo setau saya kan surabaya terkenalnya dengan band-band cadas, trus sampai seberapa jauh sih hal tersebut mempengaruhi musiknya Friday?
Basically Friday tuh rock lah Klo di dalamnya ada unsur sedikit galau ya karena kita senang aja untuk membuat musik seperti itu. Emang lingkungannya di surabaya tuh rock banget. Surabaya dulu tuh rock semua, baru taun 2000-an lah indie pop masuk. Setelah baru mulai rame, banyak genre-genre baru yang masuk dan mempengaruhi pelaku musik di Surabaya. Klo dulu tuh rock terus… sampe dulu pernah ada julukan barometernya musik rock kan Surabaya… Jadi kalau Friday pengen nyoba musik galau tapi masih dibalut rock. Galau metal gitu lah, hahahaha…

Friday sendiri tuh mencirikan musiknya gimana?
Kalo dari kita sendiri, selalu menyebutnya secara general aja, rock. Tapi kita juga mendapat pengaruh ambient, shoegaze, dan yang semacam itu lah. Bahkan ada yang ngomong jazz-punk-psychadelic rock opo iku..  Gado-gado lah, hahahhaa…

Bedanya apa antara manggung di Jakarta-Bekasi-Surabaya?
Klo di Jakarta mungkin karena album kita ini dirilis juga di jkt, jadi ada beberapa orang yang tau juga lagu kita, dan kita lumayan diapresiasi. Sedangkan klo di kota-kota lain masih banyak yang diem gitu, ga tau musik kita. Kalo di Surabaya sendiri responnya udah mulai bagus lah

Dalam waktu dekat ada rencana untuk tur?
Klo di Surabaya mungkin masih banyak lah tawaran manggung. Tapi klo di luar Surabaya mau sekalian nunggu dirilisnya repackaged, tapi repackagednya belum selesai sih.

Rencananya kapan?
masih belum pasti juga, karena kita masih brainstorming aja, apakah mau repackaged/remix/album baru. Mudah-mudahan sih bisa cepet rilis, paling ga tahun ini lah.

//interview by 410//


interview//ruangmaya

December 24, 2007

 

dsc_3114-ruangmaya.jpg

Awalnya Bystanders mengenal dari ruangmaya dari media yang sama dengan nama mereka, ruang maya. Namun saat meliput New Pollution #2 di Jogja, Bystanders akhirnya bertemu dengan mereka di dunia sebenarnya. Berikut hasil wawancara singkatnya.

 
Kalo dari kalian sendiri, kalian menyebut musik ruangmaya tuh gimana?
Nyebut musik kita apa ya? susah je kalo diterangin. Menjelaskannya juga ga sesederhana itu. Lagipula masing-masing personil punya influence yang berbeda-beda. Kita sering denger berbagai jenis musik, jadi kita ga mau ngotak-ngotakkan lah. Banyak juga orang yang menyimpulkan kita seperti dream pop atau electronic-eksperimental, tapi kita sendiri ga pernah menyimpulkan musik kita kayak gitu sih. Kalo dari kita musik itu mengalir aja. Dan memang musik kita dibilang seperti itu kan menurut interpretasi orang-orang aja, sedangkan kita sendiri ga pernah mengotakkan musik kita ini atau itu.

Pertama kali tercetus untuk membuat musik seperti itu gimana ceritanya?
Kebetulan waktu itu Angga sama Opik bikin band. Tapi instrumentnya banyak yang tidak terjangkau. Lalu masuklah Lintang untuk ngisi bagian loop-nya

Di jokja sendiri, banyak ga sih band-band yang muncul dengan musik yang mungkin mirip dengan ruangmaya?
Kalo dilihat secara umum sih di sini pop-nya banyak, soalnya kan jogja kulturnya pop banget. Mungkin kalo dari elektronik-nya kita suka dimiripkan dengan oh nina. Tapi nanti coba lihat sendiri aja. (kebetulan waktu itu Bystanders mewawancara ruangmaya sesaat sebelum penampilan oh, nina!-red)

Tadi kan sempet bawain The Cure yang “Trust”, apakah The Cure menjadi salah satu influence kuat untuk ruangmaya?
Influence sih banyak, kadang-kadang kita juga bawain The Beatles, bawain The Police, trus ada juga yang suka GnR. Kadang2 sepultura, hahaha. Intinya kita bawain apaan aja koq. ga usah serius2 lah, dibawa fun aja. kita mungkin musiknya galau tapi sebetulnya kita nyantei koq. sebetulnya kita ceria2 gitu, hahahahaha….

Namanya kenapa ruangmaya?
Tadinya mau rivermaya tapi udah ada yang make, hahahahaha… 
Kalo definisi dari kita tentang ruangmaya tuh ruangan yang kita ciptakan tak terbatas…selayak nya ruang khayal yang membawa kita ke sebuah mimpi dengan alunan yang indah dan mendayu….

Katanya ruangmaya sedanga mempersiapkan EP ya? Trus sudah sampai mana materi untuk EP kalian?
Untuk masalah EP kita udah ada materi..rencana juli lalu udah selesai mixing.. Tapi karna kuliah yang sangat padat dan kesibukan yang sangat padat kita tunda dulu.. ya mudah mudahan lah cepat selesai dan bisa merespon band jogja dan luar kota.. doakan ya? hehehehe….


interview//summer in berlin

December 24, 2007

dsc_2884-sib.jpg

Akhir Juli lalu Bystanders menghadiri pembukaan sebuah video eksibisi, OK MILITIA di Galeri Nasional, Jakarta. Pada hari pertama eksibisi tersebut dihadirkan 3 grup musik untuk perform. Summer in Berlin salah satunya. Interested with the words “Summer in Berlin”, Bystanders kemudian mengajak ngobrol salah seorang personilnya yang bernama lengkap Lily Adi Permana. Here it is.

Bisa diceritain ga awal terbentuknya Summer in Berlin (SIB)?
Awal terbentuknya Summer in Berlin (SIB) itu iseng hehehehe… Awalnya cuma sebuah side project dari gue dan Ian. Berhubung Ian ini lagi vakum dari the Grasmeresnya! Kebetulan gue juga lagi ga ada kesibukan dalam bermusik, ya udah akhirnya terbentuklah SIB. Mungkin kami membuat SIB karena pengen mencoba bereksplorasi lebih dalam bermusik, dan juga emang lagi sedikit jenuh, yaah hiburan di kala lagi libur dari kegiatan pekerjaan, atau apalah gue juga bingung hehe (sama, kita juga bingung heuheu, red). Mungkin sebuah side project yg berbuntut panjang kali ya! Tapi kami membuat SIB bukan karena musik electronic sedang naik, tapi karena kami memang ga ada fasilitas lain dlm bermusik, maen gitar ga jago, apalagi alat musik yg lain, lagipula musik electronic dah lama ada kok di sini.

Konsep spesifik musik yang dianut apa si?
SIB itu ga berkonsep, kami membuat musik tanpa konsep apapun. Bagi kami musik itu bebas, konsep malah menjadi sebuah tembok yang menghalangi kami. Sama halnya dalam genre kami ga mau dikotak-kotakkan.. ga punya kostum, ga harus berpenampilan seperti …………… ya tau lah! (*berpikir*, red)

Posisi masing-masing personil di band? Tanggung jawabnya apa aja?
Ian vokal bertanggung jawab nyanyi, gue sequencer bertanggung jawab dalam hal membuat musik dan kadang gue dibantu sama Adel pada sampler, looping over voice pas lagi perfom.

Apa si yang SIB harapkan dari audiens setelah denger musik SIB?
Ga berharap apa-apa, ya kalo audiensnya suka sama musik kami syukur, kalo ga suka ya gapapa (pasrah amat sih, red). Soalnya kami bermusik itu akhirnya ya mempresentasikannya ke public, untuk didengar orang banyak! Mudah-mudahan sih audiensnya ngerti bahwa musik kami berbicara tentang sesuatu, bukan noise asal bikin. Intinya sih mencoba membuat orang untuk melihat sesuatu ga hanya dari satu sudut pandang mata aja. Hehe ga jelas ya? (*mengernyitkan dahi*, red)

Emang ga berniat pake vokalis ya? Waktu main di Galeri Nasional kan ga pake tuh.
Ian itu vokalis di Summer in Berlin. Kalo kemarin yg main di Galeri Nasional itu live P.A aja dari gue, ngewakilin SIB, dibantu sama Adel.

Apakah SIB merupakan titik akhir perjalanan karir musik masing-masing personil? Dalam artian, kalian akan solid di sini.
Kalo titik akhir ga lah, karena SIB ini sebuah side project yang pastinya bisa aja salah satu dari orang yang ada di SIB ini bisa mundur kapan pun, tapi ya mungkin akan diteruskan walau hanya tinggal satu orang aja.

Kenapa summer bukan spring? Trus kenapa milih Jerman bukan negara eropa lainnya?
Karena lebih enak summer daripada spring. Kalo kenapa Jerman ya karena Berlin itu tempat yang sangat gue ingin kunjungi hehe.
Summer in Berlin itu sebenarnya judul lagunya Alphaville kok hehe.

Kalian itu lebih fokus ke bikin ep or album gitu apa main main dan main live??
Ya kalo ada rejeki pengen bikin ep ato album sendiri sih, tapi kalo sekarang kami coba buat musik dulu dan bermain dari satu tempat ke tempat lain.

Kalo ada tawaran dari major label untuk bikin album perdana, tapi mereka pengennya SIB ngikutin apa yg mereka mau, pokoknya mulai dari musik ampe cover album mereka yang nentuin. Gimana tuh? Diambil ga?
Ga mau, mendingan gue bikin album sendiri pake duit gue sendiri hehehe.

Menurut lo, 3 tahun ke depan SIB dah seterkenal Rock n Roll Mafia ato GE ga? Heuheuehue.
Ga lah masa cuma setenar Rock n Roll Mafia ma GE doang, yang lebih dong. Kalo secara pribadi sih gue ga peduli bisa tenar atau ga seperti mereka! Lagipula gue bukan sosok pribadi manusia yang GILPOP (gila popularitas) lebih enak jadi orang biasa aja.

Anyway by the way, kan Agustus ini kita ngerayain ultah begara kita tercinta nih. Dampak positif musik SIB terhadap keadaan sosial ekonomi negara kita apa? Hueheuheuheu.
Oh tujuh belasan. Ya dampak positifnya mungkin gue bisa liat lagi panjat pinang di kalimalang hehehe becanda! Tapi yang pasti semoga keadaan ekonominya membaik. Ya kalo dampaknya gue ga tau tapi mudah-mudahan sih berdampak positif.

//interview by foe


interview//ELEMENTAL GAZE

December 24, 2007

 

dsc_5136.jpg

Sudah lama Bystanders berniat untuk mewawancara band yang satu ini. Saat siang itu Bystanders bertandang ke markas mereka di sebuah rumah kos di Cisitu, Bandung, ternyata personil mereka belum lengkap dan mereka juga masih terlalu letih karena harus bersiap diri untuk tampil malam harinya. Akhirnya di sela-sela sebuah festival distro, bystanders mewawancara Fuad (F), Bilan (B) dan Luthfi (L) dari Elemental Gaze, dengan iringan musik reggae yang terdengar dengan jelas dari backstage.

 

Bisa diceritain secara singkat ga, awal dibentuknya Elemental Gaze?

[F] Jadi sekitar tahun 2004, saya sama teman sebangku saya, Myrdal mau bikin full band yang influencenya shoegaze. Tapi setelah beberapa kali manggung, sekitar pertengahan tahun 2005, kita memutuskan untuk vakum dulu. Karena Myrdal juga sibuk dengan band sebelumnya, The Retro, dan saya juga mulai kehilangan mood. Tapi trus ada Fitrah yang menawarkan diri untuk jadi manager Elemental Gaze, dan akhirnya saya juga pengen ngeband lagi. Tapi waktu itu kan saya sendirian, jadi trus saya ngajakin Luthfi, trus ngajak Bilan juga. Dan pertama kali kita tampil bertiga ya waktu kita tampil di Jakarta akhir tahun lalu. Jadi waktu di Jakarta kemaren itu adalah penampilan perdana kita bertiga. Bisa dibilang itu Elemental Gaze lahir kembali. Setelah itu ya berlanjut sampai sekarang.

 

Pertama kali ketemu Luthfi tuh gimana?

[F]  Jadi waktu itu mp3 lagu-lagu Elemental Gaze nyebar, dan nyampe ke Gembi. Trus Gembi ngenalin ke Yudi dan Luthfi (Yudi = kakaknya Luthfi, red). Ternyata Luthfi juga suka Elemental Gaze, dan saya juga suka sama proyekannya Luthfi waktu itu, Beautify. Jadilah akhirnya Luthfi gabung bareng EG.

 

Kalo pertama kali kenal Bilan?

[L]  mereka kan emang temen sekelas, hehehehe…

[F]  Jadi waktu Elemental Gaze masih saya sama Myrdal, Bilan emang udah ngebantu EG di bagian visual (video art). Trus pas EG ngajakin luthfi, bilan juga udah ngeremix beberapa lagu EG, dan akhirnya bilan gabung juga ke EG.

 

Influence musiknya EG dari mana?

[F] My Bloody Valentine,

[L]  Robin Guthrie

[B]  Iya, Cocteau Twins ama Robin Guthrie, Ulrich Schnauss,

[B]  Kraftwek,

[L]  Stun rus! (maksudnya stone roses, red)

[B]  Blur

 

Kalo dari EG sendiri, kalian nyebut musik kalian tuh apa?

[L]  kita sih nyebutnya nu gaze

 

Nu gaze tuh kayak gmn?

[L]  shoegaze era baru lah, klo bisa dibilang begitu

[B]  kita sebenernya ga pengen ngotak-ngotakkin sih, cuma kita pengen mengeksplore sound-sound yang berdasarkan shoegaze, gitu

 

kenapa namanya elemental gaze?

[L]  Dari lagunya Robin Guthrie

[F]  Nama Elemental Gaze awalnya dari lagunya Robin Guthrie yang judulnya ”Elemental”, trus kalo dari kita sendiri memaknai nama Elemental Gaze tuh seperti menerawangi sesuatu tapi lebih dalem lagi.

[L]  melihat hal-hal yang kebanyakan orang nglupain hal itu, nah itu yang pengen kita angkat.

[F]  Pengen ngeliat sesuatu lebih dalem aja

 

Rencana kalian dalam waktu dekat apa?

[B]  Bikin EP

 

EP kedua atau gimana? Kan tahun lalu ngeluarin juga.

[F]  Bukan sih, yang ini EP. Kalo yang dulu tuh sebetulnya untuk promo CD.

 

EP yang baru udah ada judulnya ga?

[F]  Belum ada

 

Trus di EP itu bakal ada berapa lagu?

[F]  sekitar 4 lah

 

Bakal rilis kapan?

[B]  September lah, tadinya mau Agustus tapi ternyata ga kekejar

[F]  Karena ga ada waktu juga sih

 

Lho September bukannya malah pas puasa?

[L]  Oh ga koq, kita pengennya awal september udah kelar

[B]  Jadi mulai ngegarapnya Agustus, dan mudah-mudahan bisa selesai bulan September

 

Klo harapan jangka panjangnya apa?

[F]  Terus bikin lagu, makin ngematengin band itu sendiri,

      dan terus mengeksplore apa yang kita senengin aja.

[L]  Pengennya sih maen di luar yah…

Luar mana nih?

[L]  Luar negeri lah…

Timor Leste?

[L]  Latvia… hahahahaha….

[B]   Terus mengeksplore sound-sound baru

[F]  Lah sama donk?

[B]  Sama yah? hehehe

 

Performance yang paling berkesan?

[F]  Pertama yang di Jakarta. Soalnya itu pertama kali bertiga, dan bawain lagu-lagu baru

[L]  sama yg ini (Kick Fest), soundnya paling enak

      Tadi soundnya enak ga?

[B]  better lah. 80 persen bagus

[L]  klo dibandingin yang lain?

[B]  gw lebih seneng yg di blitz sih, lebih enak di sana

[L]  soalnya di blitz kan set listnya banyak, jadi bisa menikmati panggung juga gitu

      tujuh lagu gitu, cape juga, hehehehe…

      jadi tiga itu lah

 

Trus proses bikin lagunya sendiri gmn?

[F]  Jadi biasanya materi awal saya yang buat, habis itu diserahin ke yang lain. Trus biasanya diedit sama bilan, trus luthfi nambahin suara gitar… Abis itu diramu lagi bareng-bareng..

 

Klo maen musik dengan media elektronik begini, lebih gampang ga sih?

Kan ga usah ke studio buat latian gitu, misalnya..

[F]  Ya jadi lebih gampang, karena kita juga menggunakan instrumen elektronik cukup banyak, jadi latiannya lebih gampang lah

      jadi kita bisa latian gitu di rumah, daripada harus ke studio

      Paling kalo mau manggung aja kita latian di studio

 

Trus ntar untuk recording EP gmn?

recording di studio atau lebih ke home recording?

[F]  home recording aja.

[B}  klo sekarang home recording dulu,

      Lagi nyoba home recording dulu lah.

 

OK, makasih banget yah atas interviewnya. Sukses buat calon EP-nya ya!


invading jogja!

December 23, 2007

Pada 14 Juli lalu, Yogyakarta mendapat serbuan dari Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, delapan band dari Jakarta datang dengan menggunakan bus pariwisata untuk manggung secara cuma-cuma di sana.

Uniknya, sebagian besar band dari Jakarta itu personilnya adalah orang-orang yang sama. Yang paling banyak tampil adalah “duo tak terpisahkan” Aan dan Ichsan dari D’Zeek. Mereka berdua main dalam tiga band, yaitu D’Zeek, thedyingsirens, dan Sugarspin. Bahkan mereka nyaris bermain empat kali, yang satunya untuk bangkutaman, apabila pada malam itu Aan minum obat kuat penambah stamina. Memang setelah perjalanan yang melelahkan (dan mendebarkan dalam arti sebenarnya), dua insan D’zeek itu bisa collaps apabila memaksakan untuk naik panggung empat kali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan ke Jogja sendiri bisa menjadi cerita yang menarik untuk diceritakan ke anak-cucu mereka nanti. Terutama karena ketidaklihaian supirnya yang membuat semua penumpangnya berpikir akan menyebabkan kepunahan bagi komunitas indie Jakarta. Waktu juga menjadi musuh mereka, karena Jokja yang harusnya dapat dicapai dalam waktu paling lama sepuluh jam, kali itu memerlukan waktu hingga 12 jam. Alhasil antimo menjadi obat mujarab yang wajib diminum bagi orang-orang yang memerlukan energi di keesokan harinya. Terbukti bahwa orang-orang yang tertidur lelap karena minum antimo terlihat lebih segar dan bertenaga pada hari kedua.

Acaranya sendiri yang harusnya dimulai sekitar pukul enam terpaksa ngaret dua jam karena keterlambatan kedatangan para musisi Jakarta dan membuat sound check menjadi molor hingga pukul setengah tujuh. Sebagian besar band kloter kedua akhirnya lebih memilih untuk menonton Indonesia vs Arab Saudi terlebih dahulu di penginapan.

 

sweaters.jpg

Dua band Yogyakarta yang membuka acara yaitu The Quay dan Dolphins sayangnya terlewatkan dari pantauan Bystanders. Sweaters yang baru saja sampai di venue akhirnya menjadi band Jakarta pertama yang merasakan panggung Java Café. Mereka membawakan tiga lagu baru mereka, “25 Dazzling Stars”, “Shine”, dan versi baru dari “Ordinary Girl”, yang terdengar lebih ‘ceria’ dibanding versi sebelumnya. Mereka juga membawakan lagu Pure Saturday, “Desire”, dengan aransemen khas Sweaters tentunya.

dsc_3036-dzeek.jpg

D’Zeek tampil selanjutnya, dan pasangan Aan-Ichsan bermain pertama kalinya malam itu bersama band mereka. D’zeek membawakan lima lagu malam itu, termasuk tiga lagu dari EP terbaru mereka “The Oslo Report”, seperti “Willow”, “You”, dan “Bellamaid”.

 

dsc_3112-ruangmaya.jpg

Kemudian ada band tuan rumah, Ruangmaya. Band yang musiknya terdengar seperti dream pop-shoe gaze-electronic itu membawakan dua lagu mereka yang cukup ‘suram’, “Revenge Orchestra” dan “Friends of the Night”. Mereka juga membawakan lagu The Cure “Trust”, yang dibawakan dengan aransemen mereka. Bahkan menurut bystanders versi ruangmaya sedikit lebih baik dibanding versinya Homogenic.

Setelah itu ada Sugarspin, band proyekan kolaborasi personil Clover (Tania, Zara, Nanda), D’zeek (Aan, Ichsan), ditambah Acum dari bangkutaman. Masih mengusung nuansa indie-pop, mereka membawakan lagu-lagu mereka seperti “The Girl with The Tears in Her Eyes”, “Sarinah”, dan “1993”.

 

dsc_3193-oh-nina.jpg

Lalu ada Oh Nina!, band Jogja dengan elektronik sebagai basis musik mereka. Hanya dengan tiga orang serta alat-alat analog sederhana (plus laptop), mereka dengan suksesnya membawakan lagu-lagu mereka. Kalau sempat ada selentingan bahwa band ini seperti Goodnight Electric, sepertinya hal tersebut salah! Karena materi yang dibawakan band ini lebih baik, dan mereka sepertinya menjadi bukti bahwa musik elektronik di Jogja mulai menggeliat seperti halnya di Jakarta dan Bandung.

 

dsc_3228-dear-nancy.jpg

Band folk-pop asal Jakarta/Bekasi Dear Nancy tampil berikutnya, dengan seragam kemeja garis-garis andalan mereka. Kali ini mereka masih dibantu oleh additional guitarist, Hans. Ya, Hans, benar-benar menjadi additional sejati malam itu! hehe.. Dear Nancy tentu saja membawakan lagu-lagu ceria khas mereka, seperti “Me and You”, “Beautiful Sunday”, dan “Brother and Sister”. Mereka juga sempat membawakan salah satu lagu dari pahlawan musik mereka, The Beatles, “If I Fell”.

 

dsc_3317-monophones.jpg

The Monophones yang tampil selanjutnya menjadi bintang malam itu. Boleh dibilang, penampilan Monophones adalah yang terbaik. Semua orang terbius oleh alunan musik mereka dan vocal yang luar biasa dari Alexandria. Tidak lupa mereka membawakan lagu Naif yang ada di album Mesin Waktu, “Nanar”.

 

dsc_3377-tds.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan thedyingsirens. Uga sempat memberi compliments kepada band sebelumnya, Monophones. Kali itu thedyingsirens tampil dengan formasi panggung terbarunya, “thedyingsirens and the couples company”, hehe.. Uga sebagai frontman ditemani oleh Nourie di gitar lalu dibantu oleh pasangan Aan (drums) dan Ichsan (bass) serta Hans (gitar) dan Tania (keyboards). Mereka membawakan lima lagu, dan hanya satu lagu saja yang diambil dari album mereka ‘Sketches of A Humming”, yaitu “Want To Say” yang dijadikan pembuka penampilan mereka. Lalu ada lagu “The Falls of The Idiot” dan “The Rain Song” yang sudah sering dibawakan pada penampilan mereka sepanjang tahun 2007 ini, serta ada dua lagu lagi yang baru kedua kalinya mereka bawakan di depan umum, yaitu “Our Times Our Feeling” dan “Lovely Eyes”.

 

dsc_3436-dojihatori.jpg

Kemudian ada band Yogyakarta, Dojihatori. Kali itu mereka membawa tamu asing, yaitu Domy, seorang gitaris band post-rock Octowallace asal Jerman. Mereka membawakan tiga lagu malam itu, termasuk “Mr. Edward Robinson”, yang dijadikan single untuk album baru mereka, yang akan diluncurkan bulan September mendatang.

 

dsc_3497_edit-eli.jpg

Everybody Loves Irene tampil dengan nuansa gelap, untuk menyesuaikan lagu-lagu kelam mereka. Tata lampu panggung dimatikan semua, dan mereka hanya ditemani satu lampu meja kecil berkap merah untuk menambah temaram suasana (yah, walaupun membuat dongkol sejumlah fotografer di depan panggung, karena fotonya jadi ga cihuy hehe –red). Band trip-hop asal Jakarta itu membuka penampilan mereka dengan membawakan lagu yang dijadikan single kedua mereka, “You’re My Tragedy”. Lalu dilanjutkan dengan single pertama mereka, “Memento Mori”. Sebelum mereka membawakan lagu ini, Dimas (bass) menyempatkan diri untuk berbicara. “Saya mau ngasih salam buat Saad, pemain nomor 11 dari Arab Saudi. Semoga dia ketabrak bis,” katanya. Hahaha… Sepertinya Dimas masih dendam sama Saad, yang mencetak gol ke gawang Indonesia pada perpanjangan waktu. Setelah membawakan “Hybrid Moments”-nya Misfits, penampilan ELI ditutup dengan lagu “Hate Sunday”. “Kalau Dear Nancy tadi punya lagu Beautiful Sunday, kita memiliki pandangan sebaliknya. Ya, we hate Sunday”, kata Aul (synth).

 

dsc_3574_edit-ballads.jpg

Ballads of the Cliché menjadi band Jakarta terakhir yang tampil malam itu, sekaligus menjadi penutup acara, karena bangkutaman tidak jadi tampil. Walaupun waktu sudah menunjukkan pukul dua malam, personil BOTC masih bersemangat untuk tampil malam itu, terutama Wawan. Ya, gitaris BOTC itu sepertinya menghayati lagu-lagu ceria BOTC yang dibawakan malam itu, seperti “Friend’s Guide”, “Feel Free to Feel Lost”, dan “Heidi”. Ballads juga membawakan lagu “Distant Star”, sebuah lagu akustik dengan Nina di vocal utama, diiringi gitar akustik oleh Dimas.

Dan akhirnya, berakhir juga malam panjang itu. Enam belas band telah mengisi malam itu, ditambah adanya beberapa DJ yang juga ikut mengisi acara di DJ booth. Sayangnya bangkutaman ‘perjuangan’ (karena personil aslinya tinggal Acum seorang) tidak jadi tampil, padahal scenster Jogja sudah menanti-nanti band Jakarta yang dilahirkan di Jogja itu.

Dapatkah band-band yang tampil New Pollution #2 sama suksesnya dengan mereka yang tampil di New Pollution #1? Apakah acara New Pollution sendiri mendapatkan eksistensinya kembali? Kita tunggu saja. //review and photo by 410//


happy friday

December 23, 2007

Bystanders mendapat kesempatan untuk memuat review sebuah gigs bertitel Happy Friday. Uta salah satu personil Dear Nancy menuangkan pandangan pribadinya dari dekat untuk kita semua. Simak reviewnya berikut ini.

 

dsc_1765-happy-friday.jpg

Happy Friday, Happy Friday, Friday I’m happy…” Suara duo MC ‘Cilik’ Azis dan Gilang ‘Waria Sok Aksi’ membahana di Bali Garden Café, sebuah kafe outdoor bersuasana Bali di Bekasi. Ya, Tanggal 29 Juni lalu memang pertama kalinya sekumpulan anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas Bekasi Indiepop Scene (BIS) yang dimotori Remon, bassist Dear Nancy, mengadakan sebuah acara di kota Bekasi. Kota yang seringkali membuat orang “bergidik” ketika mendengar namanya. Acara ini sendiri diharapkan bisa menjadi ajang kumpul-kumpul antar band tanpa membedakan jarak, dan semoga bisa menjadi acara rutin di kota itu.

Waktu menunjukkan hampir pukul delapan malam, molor 1 jam dari jadwal acara, saya baru tiba di venue, setelah menempuh perjalanan yang menantang maut di mobil yang dikendarai oleh Madava, bassist band psychedelic Pestol Aer, yang sebenarnya ukuran tingginya kurang memenuhi syarat untuk menjadi supir, memang jadwal cekson tadi sore yang sempat molor membuat kami harus pulang, berganti pakaian dan langsung kembali ke venue, ditambah supir yang ugal-ugalan, dan jalanan macet, akhirnya kami harus memburu waktu, sungguh melelahkan.

Dear Nancy didaulat untuk tampil pertama, wow! belum hilang peluh tapi sudah harus tampil. Setelah menyapa beberapa personil D’zeek yang sudah datang kami pun naik pentas, 5 lagu akhirnya dibawakan termasuk lagu baru berjudul “Ordinary Friends”. Lagi-lagi Dear Nancy menggunakan additional gitar, kali ini yang bertugas ialah Arif dari band De’Because, dengan gitar Rickenbacker miliknya menambah nuansa Beatles dalam musik kami.

Band pertama biasanya dijadikan tumbal dalam setiap acara, mulai dari sound yang belum padu, penonton yang masih sedikit, tapi untungnya Boni, soundman handal dari Bekasi mampu mengatasi semuanya dengan baik.

Kemudian Duo Mc absurd, kembali naik pentas, setelah mengeluarkan lawakan-lawakan tradisional, The Experience naik panggung, dimotori kakak beradik Daud (Drum) dan Abram (Gitar) band ini sebenarnya sudah berdiri sejak lama, namun karena kesibukan personilnya mereka belum merilis album, salah satu peserta Indiefest tahun ini, dengan musik rock’n roll semacam Jimi Hendrix berpadu dengan gebukan drum ala John Bonham dari LedZeppelin, bisa dibilang The Experience tampil all out malam itu, mereka benar-benar menghentak venue, saya sempat terkesima pada lagu “Rock ’n Roll style”, Daud berhasil ‘memperkosa’ drumnya dengan sadis.

Setelah sempat keluar untuk mngumpulkan energi kembali ke venue, kali ini giliran band legenda Planet Bumi yang tampil. Mereka tampil handal malam itu, mengingat usia personilnya yang sudah matang. Membawakan beberapa lagu dari album terbaru seperti “Jumpa Lagi” dan “Jimmy Pemenang” dan satu lagu The Smiths (one of my favourite!) There’s a light that never goes out!, tanpa disuruh, penonton ikutan bernyanyi…terutama Mumu manager auto band yang berdandan sangat ‘indies’ malam itu..

D’zeek tampil sesudahnya, dengan personil lengkap mereka mencoba mendinginkan venue, kekaguman saya dengan band ini dimulai sejak awal acara, terlihat mereka sudah ada di venue, bahkan sebelum saya datang, padahal venue kali ini merupakan salah satu tempat yang susah dicari, bahkan peta pun tidak banyak membantu, tapi Aan dan Iksan duet maut dari band ini sudah terlihat sejak awal acara, hebat! Band yang sudah lama malang melintang di dunia musik per-indie an ini membawakan lagu dari album terbaru yang dirilis oleh Paviliun Records, suara Joe Danu sang vokalis terlihat lebih matang. Perpaduan drum dan bass antara Aan dan Pie juga cukup enak dinikmati, mungkin karena alat yang begitu minim, membuat sound gitar Ichsan kurang terdengar. But, overall they’re good!

Ditengah hingar bingar musik D’zeek saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Endy dan personil Planet Bumi lainnya di belakang panggung, mereka terlihat puas dan memberikan tanggapan positif terhadap acara ini, para personilnya terlihat letih, “Maklum baru pada pulang kerja..” kata Nyoman frontman sekaligus salah satu ikon “indies” Indonesia di era 99-2000’..

Selesai berbincang dan mengantar mereka ke tempat parkir saya kembali mengintip panggung, ternyata gelap! Lampu panggung dimatikan, namun musik tetap meraung keras, “Friday yang tampil..” ujar Tosmik alias pop_flux dari band Portia Romina. Wow! jauh-jauh datang dari Surabaya hanya untuk main di Bekasi, salut untuk Friday, terlihat Yanu dan Rengga dari The Porno menonton di barisan depan. Ditengah kegelapan, para personil menjadi semakin menggila di panggung, distorsi tiada henti mengingatkan kita pada band noise rock Sonic Youth dengan alunan vokal yang mirip-mirip Thom Yorke (Radiohead), tapi lagi-lagi minimnya alat membuat sound mereka kurang begitu dashyat, tidak sedashyat performance mereka di Blitz malam sebelumnya.

Ketika Friday tampil, telpon saya terus berdering, Erik dari Ballads of the Cliché menanyakan alamat lengkap venue, karena mereka sudah hampir satu jam terjebak di Bekasi, wah! Akhirnya satu persatu personil band balada ini muncul, dengan sedikit keluh kesah karena pertama kalinya band ini main di Bekasi. hehe maaf fren. Dimas bassist band ini yang datang langsung dari Bandung malah lebih dulu tiba.

Setelah acara agak sedikit ternoda dengan adanya keributan (aneh, berkelahi di acara indiepop?) acara dilanjutkan, Band balada yang sedang naik daun Ballads of the Cliché tampil. Meski tanpa didukung personil lengkap (Fino, keyboardis band ini kebetulan berhalangan) Ballads tampil memukau, mama saya terlihat antusias ketika “Love Parade” di bawakan. Dengan sound yang apa adanya itu tidak mengurangi energi pop ballads, hanya ada satu lagu dimana Wawan (Rhtyhm) menyanyikan lagu sambil bermain gitar, suara vokalnya sangat kecil, sehingga kurang terdengar…

Setelah Ballads duo MC autis masih cuap-cuap menandakan acara berakhir, tapi masih ada satu performance lagi dari band Bekasi yang sudah lebih dulu eksis di dunia Indiepop Gunting Kuku, dengan influence musik semacam James, Lightning Seed, band ini tampil dengan personil lengkap, membawakan beberapa lagu, termasuk dua lagu dari The Charlatans yang mereka bawakan ketika acara Manchester get mad.

Mendengar musik Gunting Kuku sekilas seperti terbawa suasana ketika musik Britpop berjaya di tahun 98-99 era-era GM 2000 atau Gueni,

Acara pun berakhir, setelah berbincang-bincang dengan teman-teman, dan Andri dari Paviliun Records, saya, Remon, Arif dan Ivan pop mengantarkan manager Dear Nancy, Minda pulang ke rumah yang sampai saat ini menjadi misteri.

Sebelum tertidur, ingatan saya menerawang kembali pada acara tadi, sebuah acara yang penuh dengan nuansa keakraban, persahabatan, tanpa di halangi jarak yang cukup jauh.. //review by mynameisuta//photo by 410//


ok video

December 11, 2007

Perhelatan akbar video internasional kembali digelar. Untuk ketiga kalinya, festival dua tahunan OK Video kembali memanjakan kaum muda dan Indonesian new media art enthusiasts dengan menayangkan ratusan video dari seluruh penjuru dunia.


Kali ini ruang rupa sebagai penyelenggara OK Video mengangkat tema “militia” atau yang dalam bahasa Indonesianya milisi. Mengutip dari website resmi mereka, inilah penjelasan tema tersebut. Kata militia (milisi –dalam bahasa Indonesia) berarti mempersenjatai sekelompok orang untuk melakukan gerakan bersenjata demi mengubah dan merebut kekuasaan. Namun milisi juga berarti memberdayakan masyarakat sipil secara terorganisir, terencana, juga termobilisasi demi perubahan yang terinisiasi dari dalam diri.


Tim dari Ruang Rupa pun menjelajah ke dua belas kota besar Indonesia dan bekerja sama dengan komunitas seni setempat untuk mempersenjatai mereka dengan workshop. Semua gagasan yang tercipta oleh peserta dituangkan melalui video. Melalui video itulah peserta dari seluruh Indonesia mencoba untuk “menggali” kota mereka dan mempresentasikannya kepada khalayak.


Hasilnya adalah puluhan karya video yang bisa dibilang cukup segar, walaupun dengan alat ataupun skill yang terbatas. Mereka dapat menunjukkan kepada masyarakat Indonesia (atau bahkan dunia!) mengenai kota mereka dari sudut pandang masing-masing pembuat video, bukan dari media-media cetak ataupun media elektronik nasional, tempat masyarakat awam mencari informasi.


Untuk venue OK Video kali ini tersebar di beberapa tempat.
Venue utama atau disebut ‘video in’ adalah galeri ‘langganan’ tempat para seniman Ruang Rupa berpameran, Galeri Nasional. Didukung dengan tempat yang cukup luas dan sangat mendukung untuk pameran new media arts, OK Video merajai sejumlah ruang pamer galeri tersebut.

Venue lainnya, atau disebut ‘video out’, ada di sejumlah tempat yang mendukung kegiatan seni, antara lain aksara bookstore (Kemang dan Plaza Indonesia), Japan Foundation, CCF Salemba, Café au Lait, toimoi, Kineforum, dan MP Bookpoint. Selain itu ada pula ‘video box’ di sejumlah tempat umum seperti GoetheHaus, stasiun Gambir, dan Bengkel Deklamasi TIM.


Pembukaan festivalnya sendiri dibuka 10 Juli lalu, dengan sejumlah penayangan video (screening) dan DJ set. Ale yang menjadi MC malam itu memperkenalkan sejumlah video yang dijadikan highlights festival itu, seperti Patriotic (Kanada), We Are Winning Don’t Forget (Perancis), O Fim Do Homem Cordial (Brazil), dan Advertisement Tour (Semarang, Indonesia).


Yang paling menarik dari video-video yang ditayangkan di layar besar upacara pembukaan kali itu adalah Patriotic.
Dalam video itu sejumlah tentara bergaya homo-erotic bergantian menyanyi (atau lip sync) sebuah lagu dengan lirik nuansa semangat perjuangan dan musik dari “My Heart Will Go On” milik Celine Dion.


Setelah acara secara resmi dibuka, ratusan pengunjung yang umumnya pelaku seni dari berbagai daerah dan negara berjejalan untuk melihat video pada TV atau tembok (film diproyeksikan) di berbagai sudut galeri. Karya video yang ditampilkan umumnya dari sejumlah nama yang sudah cukup dikenal, seperti Anggun Priambodo, Henry Foundation (Jakarta), Andry Mochammad (Bandung), ataupun Eko Nugroho (Yogyakarta).

Karya video luar negeri juga tidak kalah. Antara lain ada Jean Gabriel Périot (Perancis), Azzoro Group (Polandia), Benny Nemerofsky-Ramsay dan Pascal Lievre (Kanada-Perancis), dan Marco Villani (Italia).


Ada pula sejumlah video project, seperti Flag Metamorphoses (Myriam Theses – Jerman/Swiss), Video Battle (Indonesia), dan 5,9 SR (Indonesia).

Selain karya-karya individual, ada pula gabungan karya video dari beberapa organisasi seni/pembuat video dari Video Lab (Bandung), Forum Lenteng, Urban Poor Consortium (Jakarta), Etnoreflika, Video Report (Yogyakarta), dan Engagemedia (Australia).


Dan apalah arti pembukaan pameran seni gelaran ruru (Ruang Rupa) tanpa musik. Malam itu sejumlah DJ siap menghentak malam, walaupun DJ set-nya digelar di ruangan tertutup tanpa AC dan tanpa jendela sehingga seperti sauna, hehe. Namun setidaknya sejumlah pengamat dan pecinta musik, jurnalis, dan beberapa orang teman sendiri rela berpanas-panasan untuk mendengarkan musik yang dimainkan para DJ malam itu. Summer in Berlin, Vivo Los Amigos, H.F.M.F. Records, Bondi Ned Hensel, dan Dubyouth bergantian memainkan koleksi kepingan cakram mereka.


Ya, seniman-seniman muda Indonesia sekali lagi berhasil membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka mampu mengadakan pameran new media arts yang sukses. Dan bagi yang belum berkesempatan menyaksikan OK Video 10-27 Juli lalu, harap bersabar untuk kembali menantikannya dua tahun lagi. ;) //review and photo by 410//


THE FUTURE BELONGS TO US!

December 11, 2007

Blitz Megaplex Jumat malam pada 13 Juli 2007 terlihat lebih ramai, tidak seperti weekend biasanya. Keramaian tersebut terbagi menjadi dua kerumunan, antara mereka yang memang datang untuk menikmati hiburan film, dan mereka yang datang untuk ikut serta dalam kemeriahan sebuah party yang bertajuk Iycey Awards Party.


Diadakan oleh British Council, Iycey (International Young Creative Enterpreneurs of the Year) Awards merupakan bentuk penghargaan terhadap insan kreatif di scene desain, film, musik dan fesyen. Acara yang mengusung tema The Future Belongs to Creative Enterpreneurs! ini dimulai sekitar jam 7.30 dan diawali dengan beberapa speech.
Hadir malam itu orang-orang yang terlibat dalam acara serta rekan-rekan dari para nominees, dan kaum penikmat musik indie dimana Bystanders diantaranya. Sineas-sineas kondang pun hadir, Mira Lesmana salah satunya.


Malam itu diundang tiga band indie local asal Bandung; Mocca, Polyester Embassy dan Rock n Roll Mafia untuk memeriahkan acara. Kelihatannya memang ketiga band tersebut yang sengaja dipilih oleh panitia penyelenggara karena ketiganya berasal dari Fast Forward Record, pemenang IYCEY Award kategori musik edisi sebelumnya.

Bystanders tiba di lokasi sekitar jam 8. Selama beberapa menit memperhatikan orang-orang yang sedang lalu lalang dan mengantri di loket tiket, serta melihat-lihat display film di layar. Sampai kemudian seperti melihat sosok Elang Polyester Embassy, beserta Tomo sang bassist. Berbincang-bincang sejenak, kemudian kami masuk ke venue yang terletak di pojok ruangan. Bystanders sedikit kecewa begitu mendapat info dari sang frontman Polyester Embassy bahwa masing-masing band akan membawakan hanya tiba buah lagu.

 

mocca08.jpg

Mocca hadir pertama. Penikmat musik indie tanpa basa-basi menuju ke depan stage. Mocca membawakan 3 buah lagu dari album Colors. Secara berurut Object of My Affection, Hyper-Ballad dan terakhir The Best Thing in The World . Membawa serta seorang additional trumpet player, band ini tampil sederhana namun tetap memukau. Dengan kostum kebangsaan, which is dress, Arina terlihat paling semangat dibanding personil yang lain.

 

polem11.jpg

 
Hadir kedua, setelah kira-kira setengah jam pembacaan nominees dan pemberian award kepada para pemenang, adalah Polyester Embassy. Dijadwalkan main jam 8, kenyataannya band ini baru naik stage sekitar jam 9. Lagu pertama yaitu Ruins, track ke-tujuh dari albu
m perdana mereka. Disusul kemudian dengan Good Feeling yang disambut oleh tepuk tangan kecil dari sudut kanan dan kiri penonton. Terlihatlah wajah-wajah penghuni milis Polyester Embassy yang membentuk kelompok-kelompok kecil sing along bersama sang band pujaan. Terakhir dimainkanlah Polypanic Room, yang kalau Bystanders perhatikan pasti selalu dibawakan saat mereka tampil di depan crowd Jakarta.


Sekilas info, di tengah break Farhan dan Okki Prambors selaku MC sempat memperbincangkan dan mengomentari kaum indie yang hadir dengan atribut indie mereka. Menurut MC Farhan, style fesyen kaum indie (mungkin maksudnya cutting-edge, red) identik dengan segala sesuatu yang berbau kotak-kotak.


Rock n Roll Mafia mendapat kesempatan main di penghujung acara, selepas semua awards dibacakan dan dianugrahkan.
Performance mereka dibuka dengan lagu Questions.

Nyanya, the lady vocalist baru naik stage pada lagu kedua, Translove. Mengenakan dress longgar berwarna goldish light brown dan rambut dikuncir ke belakang she looked so chic. Kehadiran Nyanya menambah fokus audiens terhadap performance mereka. Zsa zsa zsu dijadikan lagu pamungkas. Namun sayang, pada saat Zsa zsa zsu dimainkan sebagian besar tamu sudah meninggalkan venue.


Pemenang pada Iycey Awards 2007 diantaranya yaitu Gustaff Iskandar untuk kategori desain dan Wahyu Aditya untuk kategori film.
Selamat kepada para pemenang semoga menjadi dorongan kita semua untuk terus berkarya. Pojokan Blitz Megaplex malam itu terasa dipenuhi atmosfer jiwa muda. Jiwa muda yang kreatif. //review by foe//photo by foe and yearry//