interview//ballads of the cliche

January 19, 2008

 

bystanders-0403.jpg

Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan hingga akhirnya bisa mewawancara ‘keluarga besar’ Ballads of The Cliché. Sempat gagal enam kali, akhirnya pada percobaan ke tujuh Bystanders berhasil mewawancara mereka, walaupun tidak semua. Hanya ada Dimas (bass), Bobby (vokal), Erick (gitar), Fino (keyboard), Feri (drums) dan Zennis (saxophone). Bystanders juga sempat mewawancara manager mereka, Felix Dass dalam kesempatan terpisah.

 Dasar lagu-lagu yang dipilih untuk masuk ke album tuh apa sih? Apa ada kriteria tertentu?

Erick     : Menurut kami tuh ya, dasar yang paling kokoh adalah iman

Bobby    : Ga ada dasar khusus sih sebenernya

Erick     : Cuma insting aja, misalnya, “ah ini kayaknya kurang oke nih”

Bobby    : Ya, pilihan juga sih. Mungkin itu dasarnya juga insting kali ya

 

Kenapa Feel Free to Feel Lost yang dipilih jadi single pertama?

Bobby    : Karena itu yang dianggap paling merepresentasikan musik kita.

              Dan itu juga hasil diskusi internal dua hari dua malam

Dimas     : Jadi ballads ini kan sekarang ada delapan orang, dan kedelapan orang tersebut sama-sama membuat komposisi masuk. Salah satu hasil yang paling dijagoin ya Feel Free itu.

 

Trus rencananya dari album ini akan dirilis berapa single?

Fino      : Belum ada rencana sih, baru dua

Erick     : Setelah si Feel Free ada lagi,

              Kemungkinan besar, setidaknya ada dua lagi ke depan

 

Dan semuanya masing-masing akan dibikin EP juga?

Erick     : Iya, sampe kedua ke depan. Setelah itu nggak. Bangkrut, hahahaha…

 

Trus kan jarak antara rilisan EP pertama yang Hey, Smiley! sama album yang sekarang kan lama banget, itu kenapa?

Erick     :  Itu karena.. memang kita dikasih Tuhan begini

               Karena kita abis Hey Smiley itu rencana kita bikin full album, tapi mungkin karena belum waktunya kali ya, jadi akhirnya kita ngeluarin EP yang kedua. Rencananya abis EP kedua kita   pengen ngeluarin full album… Serius tuh! Tapi itu lagi, wong belum dikasih, ada aja masalahnya…

Fino      :   Kalo yang ketiga itu batalnya di proses waktunya.  Jadi rencananya abis Love Parade tuh bikin album, dirilis akhir 2006. Tapi karena teknis dan lain hal, sebagai pengisi  kekosongan bikin EP dulu

Dimas     :   Kalo dipikir-pikir ke belakang, itu sebenernya malah jadi keunggulan kita. Kalo ga kayak gitu mungkin kita ga bakal bisa kayak sekarang.

Bobby    :  Jadi intinya kita selalu mengambil sisi positif dari segala yang kita lalui

Erick     :   Sebenernya sih kita pengen banget, tapi kita nyadar juga. Ga kebayang klo kita ngeluarin albumnya dulu, pasti berantakan. Yang sekarang lebih mateng lah, mudah-mudahan..

 

Ribet ga sih, kan personil-personilnya ga dalam satu kota dan masing-masing pada sibuk kerja?

Erick     :  Wah klo yang itu nanya felix ama yungke deh

Bobby    : Apalagi Zennis akhir ini bakal sering ke Sanga-Sanga

Erick     :  Lo cari di peta deh tu, kasi petunjuk donk di pulau mana bro..

Zennis   :  Di Pulau Kalimantan, alias Borneo

Erick     : Nah zennis sering memainkan saxophonenya di sana

Zennis   :  Gua emang sengaja, nyari inspirasi

Erick     :  Jadi dia ngerasa masih kurang banget. Dan dia denger di sana ada Suhu Saxophone handal, kebetulan banget dia ditugasin kesana dari kantor. Jadi ya udah..

Fino      :  Dan dia juga alirannya pop, pop-folk gitu hahahahaha…

[jawaban serius dari Felix]

Felix      :  Ribet sih, tapi kita semua untungnya tersambung dengan kuantitas yang cukup lah.

               Oya, sama pake hati, itu yang paling dalem. Kalo ga pake hati udahan band-nya..

 

Oiya, French Riviera yang di EP Love Parade kan di-remix sama Tosi, trus apakah di EP-EP atau album-album berikutnya BOTC ada rencana untuk meremix lagu sendiri kayak kayak gitu?

Dimas     : Tidak menutup kemungkinan sih

Fino      :  Mungkin aja, tapi belum ada kepastian

Dimas     : Jadi kan memang yang ngeremix lagu-lagu kita itu memang temen-temen sendiri. Jadi pernah ada temen yang bikin remix salah satu lagu kita, iseng-iseng gitu, trus      nyerahin ke gua.    
Trus lagunya kita pake..

 

Buat Dimas ama Bobby nih. Kebanyakan musik dan liriknya kan yang nulis kalian berdua, itu idenya dari mana?

Dimas        : Jadi kalo lagu biasanya gua ga bisa maksain. Bisa aja misalnya gua pengen buat lagu yang kayak gini, misalnya, tapi mungkin ga maksimal. Jadi gua percaya, kalo itu kayak anugerah aja, dari Tuhan. Bisa datang sewaktu-waktu. Kalo misalnya gua lagi di bus gitu trus tiba-tiba kepikiran, ya bisa aja gitu, jadi. 

               Kalo lirik sih inspirasinya bisa banyak banget ya Bob, dari personal life masing-masing personil,

Bobby       : Kebanyakan dari kejadian sekitar yang kita alami sih

                Trus mungkin juga Dimas kan banyak berperan dalam bikin musik, tapi kadang-kadang ga tau liriknya harus seperti apa, jadi kita trus diskusi. Dari mood lagunya itu juga sih. Kira-kira mood lagunya seperti apa ya? Kalo nada-nada riang kan alangkah lebih baik kalo liriknya menceritakan hal-hal yang positif. Kadang juga lirik itu menyesuaikan mood lagunya itu sendiri.

 

Biggest achievement yang pernah dicapai Ballads, menurut kalian sendiri tuh apa?

Bobby    : Mengeluarkan album

Erick     : Setiap rilisan merupakan achievement buat kita

Fino      : Yang gol-nya mungkin album perdana dan mungkin yang kemaren tuh ya

Dimas     : Tur ke luar negeri (Singapore, red)

Erick     : Trus juga album kita didistribusiin sampe ke Jepang

Felix      : Kalo dari gua sih, pada dasarnya bisa survive. Soalnya emang .. tiap-tiap personil Ballads itu kayak ngebawa keajaibannya masing-masing

 

Kalau Ballads punya kesempatan untuk ke luar negeri lagi, itu pengennya ke mana?

(semua, kompak) Jepang kayaknya!

Dimas     : Karena kita baru aja diedarin di situ

Bobby    : Kan album kita didistribusiin sampe sana, yah sedikit bermimpi lah

Erick     : Intinya kita seneng karena ternyata musik kita diapresiasi di Jepang

 

Harapan Ballads sendiri buat album ini apa?

Erick     : Balik modal sih pertamanya, hahaha…

              Harapan seriusnya, selain bisa abadi (Erick sok serius, red) kayak judul albumnya, bisa diterima di khazanah musik Indonesia, huhuehhehehe

Dimas     : Jadi sebenernya, paling nggak albumnya Ballads ada di kehidupan teman-teman, walaupun sedikit. Tapi misalnya kalo orang putus cinta, atau lagi pengen jalan-jalan atau pengen seneng-seneng, album itu bisa menemani masa-masa itu.

 

Pertanyaan terakhir… favourite Evergreen song?

Zennis         : “Coffee Shop”

Dimas           : Gua “Distant Star” deh

Feri             : “Feel Free”

Fino            : Gua sama kayak “Dimas”, Distant Star

Bobby          : Gua.. “Heidi” deh, biar beda

Erick           : Gua bingung nih.. ni ya.. “Friend’s Guide” gua suka, “Distant Star” gua suka

Dimas           : Ya udah Erick “Friends Guide” berarti, biar beda

Fino            : Apa gua ganti ya? Biar ga sama kayak Dimas

Dimas           : Lo “Coffee Shop” lah

Fino            : “Coffee Shop” kan udah

Bobby          : Ya udah ga pa pa … Biar kesannya ga dibuat-buat, ada dobelnya satu… hahahaha..

//interview by 410//photo by satria ramadhan//

 

SHORT BIO : ballads of the cliché

 Ballads of the Cliché terbentuk di tahun 2004, dengan nama-nama yang sebenarnya tidak asing lagi. Tiga orang teman baik yang sama-sama bermukim di daerah Jakarta Barat — Dimas (bass), Erick (gitar), dan Bobby (vokal)  – dulu dikenal tampil bersama band mereka sebelumnya, Engsel. Lalu mereka mengajak beberapa teman mereka – ada Ferry di drums dan Wawan di gitar. Dan ada tiga personil additional yang akhirnya menjadi personil tetap karena memang sudah lama bersama mereka, yaitu Nina di piano, Zennis di saxophone, dan Fino di keyboard.


Sayang karena kesibukan masing-masing personil dan domisili mereka yang tidak dalam satu kota, membuat band ini jarang tampil secara lengkap. Untungnya personil lainnya saling melengkapi, sehingga permainan mereka tetap berjalan harmonis.

Terinspirasi oleh Belle and Sebastian, Nick Drake, Burt Bacharach and Donovan, Ballads of the Cliché menampilkan sebuah musik folk-pop manis yang sederhana, dan tentu saja dengan sentuhan khas mereka sendiri.

Setelah merilis empat EP, yaitu Hey Smiley, Snapshot of Serenity, Love Parade, dan Feel Free to Feel Lost, Ballads of the Cliché merilis debut album penuh mereka bertajuk “Evergreen” Agustus lalu.

 

www.myspace.com/balladsofthecliches


album review//discography of ballads of the cliche’s EPs

January 19, 2008

bystanders-040501.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Hey, Smiley! EP]
2004 // ballads of the cliché

Berapa banyakkah dari para pecinta musik pop yang sangat merasakan dampak karya-karya dari musisi-musisi seperti Blueboy, Edson, Belle and Sebastian bahkan dari roots seperti free design, The Beatles dan Simon & Garfunkel? Ballads of the cliché adalah contoh dari membekasnya dampak tersebut. Ya, sekelompok pemuda dan seorang pemudi pecinta musik-musik akustik, gitar pop dan folk ini merilis sebuah debut ep sebagai tribute untuk musisi favorit mereka!

Hey Smiley! EP yang berisikan 5 buah lagu ini adalah bentuk kontribusi mereka di dunia indiepop Indonesia. Dengan berbekal gitar kopong, back vocal yang harmonis, vocal yang khas folk, dentingan piano disana-sini sebagai pemanis, nada-nada dari harmonica, mereka telah berhasil menghadirkan ‘minuman’ yang sangat menyegarkan bagi para penggemar pop yang sudah lama haus akan musik pop yang jujur, simple, easy listening dan penuh cerita. Simak saja kelima lagu dalam ep ini and see what’s it all about.

Untuk penggemar : belle and Sebastian, edson, beatles, Bacharach, simon & garfunkel and all other folksy guitar pop musicians. //arvidson//

bystanders-040502.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Snapshot of Serenity EP]
2005 // ballads of the cliché

Kalau Hey Smiley adalah EP perkenalan dan merefresh kenangan pada pahlawan musik folk mereka, Snapshot of Serenity EP adalah perjalanan BOTC menuju kedewasaan. Dalam rekaman ini jelas terlihat banyak kemajuan baik dari segi teknis rekaman maupun dari segi materi yang semakin matang, sebagai lagu pembuka “To The Left, To The Same Sun That Guide Us Through That Day” BOTC tampak ingin mencoba mengawinkan petikan gitar folk dengan unsur musik klasik dengan string sections yang kental juga piano yang dominan. Tentunya terdapat anthem-anthem folk seperti pada lagu “My Sense” dan “Season of Joy” layaknya mendengarkan field mice ataupun tetua musik folk, Simon & Garfunkel. Pada “Where Are You, monet? I Miss Your Beautiful Sky”? tampaknya mereka merasa kehilangan the beauty of monet sky dari salah satu lagu dari EP mereka yang terdahulu. Dan pada lagu penutup “Chance of A Lifetime” jika kita menyimak sampai akhir, mereka menyelipkan versi remix dari lagu “Under the Beautiful Monet Sky” untuk mengobati kerinduan mereka .//arvidson//

bystanders-040503.jpg
BALLADS OF THE CLICHÉ
[Love Parade EP]
2006 // ballads of the cliché

Di antara EP botc sebelumnya, bisa dibilang EP ini adalah yang paling berwarna. Boleh dibilang lagu “Love Parade” adalah sebuah pembuktian bahwa band ini memang serius menggarap musiknya dan makin mematangkan permainan mereka. Suara saxophone dari Zennis yang mulai dominan juga menunjukkan musik mereka yang makin penuh, sebuah terobosan baru yang berhasil menambah kedewasaan botc.

Sayangnya di lain sisi, EP ini bagaikan EP recycle. Karena selain “Love Parade”, tidak ada lagu baru yang ditawarkan oleh band ini. Memang, hanya di EP ini mereka membawakan “Pop Kinetik”, lagu dari band indie legendaris Jakarta Rumah Sakit, namun tentu saja lagu ini bukanlah sesuatu hal yang baru bagi mereka yang telah mengikuti pergerakan indie sejak dasawarsa 90-an. Untungnya, botc berhasil membawakan lagu ini dengan sangat baik, dengan versi folk-pop mereka tentunya.

Dua lagu berikutnya, merupakan remake dari lagu-lagu mereka sebelumnya. “Simple”, tentu saja sebuah gubahan baru dari “Make It Simple” yang ada di EP Hey Smiley! repackaged, yang sebetulnya versi aslinya terdengar lebih manis. Kemudian ada “French Riviera” yang diremix oleh Tosynth (Arcade Playmate, Earth Colony), yang memang mendalami lagu-lagu 80-an/chiptunes. Jadi tidak heran kalau lagu ini menjadi terdengar seperti suara permainan Nintendo. //410//

bystanders-040504.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Feel Free to Feel Lost EP]
2007 // ballads of the cliché

Banyak misinterpretasi yang timbul saat Ballads of the Cliché merilis EP dan full album mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan walaupun EP ini dijual dengan harga yang cukup ekonomis, namun sebagian besar penggemar musik mereka lebih memilih menunggu sedikit lebih lama untuk membeli albumnya.

Padahal di album ini ada lagu akustik yang sangat manis dan menarik untuk disimak. Judulnya “Miss You at the First Sight”. Lagu yang sederhana, singkat, dan sesuai untuk digunakan sebagai pendamping bersantai.

Namun selain itu, ya sudah. Karena EP ini hanya berisi tiga lagu, dan dua lagu lainnya sebetulnya lagu yang sama, “Feel Free to Feel Lost”. Yang satu dibawakan secara full band, lalu ada versi akustiknya. Dan walaupun lagu ini dipilih menjadi single pertama mereka dan memang lagu ini unik dan cukup berbeda dengan lagu-lagu botc lainnya tapi sepertinya tidak ada yang terlalu istimewa dari lagu ini.

Mungkin bila Anda bukan seorang kolektor rilisan indie lokal ataupun penggemar berat ballads of the cliché, Anda akan berpikir dua kali sebelum membeli EP ini. //410//


album review//ballads of the cliche//evergreen

January 19, 2008

bystanders-0406.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Evergreen]
2007 // ballads of the cliché

Could’ve been better. Mungkin itu yang bisa diungkapkan untuk menjelaskan full album perdana dari Ballads of the Cliché. Dengan jam terbang yang bisa dibilang cukup berpengalaman, sayang sekali “Evergreen” kurang dikemas dengan baik.

Kurang dikemas di sini, lebih dimaksudkan ke musik yang mereka bawakan. Karena berbeda dengan packaging album mereka yang apik, dilengkapi dengan foto-foto yang profesional, ternyata malah terkesan dibuat dengan terburu-buru.

Padahal, sejumlah lagu yang ada di album ini sudah mereka mainkan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Dan proses rekamannya sendiri cukup lama, dibuat dalam kurun waktu April 2006 sampai Juni 2007. Jadi seharusnya mereka punya banyak waktu untuk merapikan semuanya. Memang tidaklah mudah untuk mengorganisir delapan orang dalam satu band, apalagi yang tinggal dalam dua kota yang berbeda. Jadi target memang harus ditetapkan untuk album yang kabarnya sudah lama direncanakan ini.

Kesan terburu-buru itu bisa didengar di sejumlah lagu. Dalam “French Riviera” misalnya. Pada lagu yang sudah pernah masuk dalam EP mereka “Hey Smiley!” itu Bobby terdengar ragu-ragu dan terkesan gugup dalam membacakan potongan percakapan yang ia bawakan bersama Nina. Dalam “Season of Joy”, lagu ini menjadi terkesan buru-buru dan terlalu cepat, tidak sesuai dengan suasana obrolan santai yang tersirat dalam liriknya.

Sejumlah lagu lawas memang sengaja mereka aransemen ulang, dan masing-masing hanya satu lagu saja dari tiap EP yang dimasukkan ke dalam Evergreen. Jadi bagi yang ingin bernostalgia dengan lagu “Hey Smiley”, “Jennifer Loves Hewitt”, ataupun “Make It Simple”, lebih baik membeli EP terdahulu saja. Karena lagu-lagu tersebut tidak ada dalam album ini.

Tapi untungnya mereka digantikan dengan lagu-lagu baru mereka yang bisa menghilangkan rasa kecewa Anda. Ada “Heidi” dan “Friend’s Guide” yang bersemangat dan sudah dapat sering didengarkan di sejumlah performance mereka. Ada juga “Old Friend” dan “Hot Chocolate” yang dibawakan secara akustik, untuk menemani masa-masa bersantai ataupun merencanakan sebuah kejutan manis bagi orang yang Anda kasihi. //review by 410//

.track by track.

01. Snapshot of Serenity // Lagu yang berjudul sama seperti EP kedua mereka, “Snapshot of Serenity”, ini ternyata malah tidak ada di dalam EP tersebut. Lagu ini pas sekali untuk membuka album mereka – santai, damai, sederhana, dan singkat. Pas untuk dinikmati di sore hari, di sebuah taman kafe daerah Dipati Ukur sambil minum teh dan fruitcake.

02. Friend’s Guide // Menyenangkan sekali mendengarkan lagu ini. Rasanya bersemangat. Seperti saat bersantai di sebuah warung rokok bersama teman-teman terdekat lalu gitaran ria. Yang unik dari lagu ini mungkin dengan adanya suara banjo, yang memberikan nuansa country.

03. Feel Free to Feel Lost // Lagu ini memang beragam, tapi sayang finishing-nya kurang baik. Komposisi suara saat bernyanyi bersama tidak harmonis, bahkan terdengar sumbang. Vokal Bobby pun terdengar dipaksakan lebih rendah di bawah jangkauan vokalnya. Dan harusnya lagu ini tidak perlu dibuat versi akustik seperti dalam EPnya.

04. French Riviera // Lagu ini boleh dibilang sangat berbeda dengan lagu lainnya di album ini. Dengan suara akordion untuk memberi suasana yang lebih Perancis, versi lagu yang sempat muncul di EP Hey Smiley dan versi remix-nya di Love Parade, ini terdengar paling manis di album ini. Sayangnya rasa terburu-buru seperti dikejar shift masih terasa di lagu ini. Mungkin dengan tempo sama tapi cara permainan yang lebih santai akan membuat pendengar BOTC bisa lebih menghayati keromantisan lagu ini. Pronounciation Bobby dalam bahasa Perancis juga masih kurang sempurna, malah lebih baik saat di EP Hey Smiley. 05. Back in The Old Days // Lagu nostalgia. Mengingatkan pada masa kecil saat semuanya terlihat sangat sederhana dan menyenangkan.

06. Hot Chocolate // Ini adalah lagu satu-satunya yang vokalnya dibawakan oleh Wawan, gitaris BOTC. Lagu yang sangat manis, pas sekali dibawakan secara akustik. Vokal Wawan juga terdengar baik sekali di lagu ini, sangat lembut. Hanya saja sesekali masih terdengar cadelnya, hehe. Dan ternyata lagu inilah yang dibawakan Wawan dan Ferry sewaktu We Are Pop pertama April lalu, yang kali itu diberi judul “See You Soon”.

07. Love Parade // Kedengarannya tidak ada yang berbeda dari lagu ini dibanding dengan versi sebelumnya pada EP Love Parade. Salah satu lagu BOTC yang paling sempurna, rasanya. Semua mendapatkan porsi main yang adil, menjadikan lagu ini sangat harmonis.

08. Old Friend // Ya, ini dia lagu terbaik BOTC untuk dimainkan secara akustik. Sayangnya lagu ini malah tidak pernah dimasukkan ke dalam EP-EP mereka sebelumnya. Di sini mereka menceritakan rasa kesepian yang senantiasa datang sebagai sahabat lama. Bagi yang mencintai kesepian dan suka berjalan-jalan sendiri di tengah kota, dengarkanlah lagu ini. Sebuah soundtrack yang baik untuk perjalanan menyendiri itu.

09. Lights of Hope // Di lagu ini BOTC mendapat bantuan dari Rissa, vokalis Homogenic. Nuansa lagu ini sepertinya memiliki kekuatan magis untuk membuat bulu kuduk pendengarnya berdiri. Apalagi ditambah vokal Rissa yang memang sesuai dengan lagu-lagu semacam ini. Sayangnya take vocalnya sepertinya (sekali lagi) terburu-buru, jadi nuansa dingin dan sepi yang ingin dibangkitkan lagu ini sedikit terusik.

10. Season of Joy // Sayang, lagu ini harus diaransemen ulang menjadi lagu full band. Padahal lebih menyenangkan untuk mendengarkan versi akustiknya di EP Snapshot of Serenity. Rasanya pas untuk menemani sore dengan teman lama, untuk sekedar nostalgia dan tersenyum bersama.

11. Heidi // Lagu ini menjadi lagu BOTC yang paling bersemangat, dan rasanya senang sekali mendengarkan lagu ini. Dengan tempo yang cepat, permainan drum yang apik, dan harmonisasi vokal yang pas.

12. Coffeeshop // Masih teringat saat mendownload lagu ini di myspace, sebuah versi live mereka saat bermain di Singapore awal tahun ini. Saat itu suara Bobby terdengar sedikit gemetar. Di album ini, vokal Bobby tentu saja terdengar lebih tenang. Lagu ini juga mendapat bantuan dari Arina Epiphania (Mocca) pada flute, namun ya sayang, sekali lagi, terasa buru-buru.

13. Distant Star // Tepat sekali lagu ini dijadikan penutup. Seperti menutup hari yang cerah, dan bersiap untuk menyambut mimpi di malam hari. Sebuah kilas balik mengenai kisah cinta yang emosional. Jadi bagi Anda yang punya kisah cinta yang tidak berakhir bahagia, disarankan untuk tidak mendengarkan lagu ini di malam hari saat sendirian. Atau Anda bisa menguras air mata semalam suntuk.


autumn’s grey solace

January 19, 2008

 

bystanders-0407.jpg

Autumn’s Grey Solace adalah instrumentalist/composer Scott Ferrell dan vocalist/lyricist Erin Welton. Merupakan band yang gak cuma layak dinikmati, tapi juga layak dipuja. Musik mereka berbicara untuk diri mereka sendiri, benar-benar curahan suara hati mereka. Bakat musik Scott Ferrell dan suara jernih Erin Welton berkombinasi dan menciptakan melodi-melodi shoegazing yang diliputi  suara yang ethereal.

 Dibentuk pada tahun 2000, Autumn’s Grey Solace hingga saat ini telah mengeluarkan 4 album, Within the Depths of  a Darkened Forest (2002), Over the Ocean (2004), Riverine (2005) dan terakhir Shades of Grey (2006). Band asal Florida ini dapat dikategorikan segenre dengan Siddal, Love Spiral Downwards, and Cocteau Twins with breathy airy female voices and minor chord guitars. Musik mereka atmospheric dan hypnotic, serta lembut dan relaxing, dengan menggabungkan unsur elektrik dan akustik. Agak sulit memasukkan band ini ke dalam satu genre khusus.

 Bicara tentang anggota band, Scott sempat tergabung dalam beberapa band, namun begitu bertemu dengan Erin dia yakin bahwa tujuan musik mereka sama, dan ia menemukan kebebasan dalam bereksperimen. Dalam Autumn’s Grey Solace Scott memainkan semua alat musik, dari gitar, bass, drums, mandolin dan alat-alat musik lainnya. Scott yang semasa kecilnya tertutup mulai belajar memainkan gitar di usia 14 tahun, dan berlanjut ke alat-alat musik lainnya hanya dalam beberapa tahun.

 Sekarang giliran Erin. Erin memiliki suara yang lembut, feminin, kuat dan berkarakter. Padahal ia tidak pernah mengambil sekolah khusus untuk melatih suaranya tersebut. Selain menulis semua lirik dan merangkainya menjadi melodi-melodi yang sesuai dengan musik, ia juga mengisi semua vokal dan backing-vokal serta memainkan keyboard. Gaya bernyanyinya mengingatkan kita pada beberapa musisi New Age.

 Beberapa lagu mereka memiliki arti metafor, beberapa lainnya tidak namun tetap beautifully poetic. Salah lagu rekomendasi Bystanders adalah Sorrow of Ashes dari album pertama. Mendengarkannya serasa melayang dengan gerak lambat, gak mengada-ada, ini bener, karena temponya yang pelan dan vokal yang membius. Nuansa dark, sad, empty dan pasrah ada di lagu ini. Dengar juga The Unshakeable Demon. Dalam lagu yang agak keras ini (compared to other songs) tersiratkan kemarahan. Vokal Erin dapat menciptakan nuansa yang berbeda-beda pada tiap lagu. Seperti pada Cloudburst, her voice is just so naïve and soft, different from the one in the previous song I mentioned.

 Band yang dikontrak oleh Projekt Records sejak album kedua ini mampu membawa pendengarnya ke dunia lain. Terdengar agak berlebihan? gak kok.

 Untuk penikmat: Cocteau Twins, Dead can Dance, Love Spiral Downwards, Siddal, The Sundays, Innocence Mission.

 Bystanders mengontak band ini beberapa bulan sebelum edisi ini terbit dan mengajukan beberapa pertanyaan, yang kemudian kami kemas dalam format interview. Enjoy! //review by foe//photo by autumn’s grey solace//


INTERVIEW // AUTUMN’S GREY SOLACE

January 19, 2008

 

Hi Erin and Scott, how are you? First is maybe a common question, but I really really wanna know why you named your band Autumn’s Grey Solace?

Scott                    : To me, autumn is a season of solace. Summer is over and winter is coming. The name, Autumn’s Grey Solace, reflects this feeling.

How did you guys meet?

Scott                    : We met through a couple of chance encounters and then we were inseparable. It seems like we were meant to be together, as if by fate.

What do you expect from people when they are listening to your music? Like feeling to fly or what? :-)

Scott                    : Yes, and like feeling to escape, to listen to the music and see images. I try to mix our music so that it “takes you away” especially on headphones.

How do you find Erin/Scott is a great partner?

Scott                    : We have good chemistry because we both have total freedom with our parts in this band. Erin does all the vocals and I make almost all of the music.

How do you interpret your music?

Scott                    : Our music is an expression of beauty and emotions.

Have you ever thought of moving to major label?

Scott                    : I would consider working with a major label because of their resources and their drive for success, as long as they didn’t try to get in the way of my artistic freedom.

I personally like Sorrow of Ashes. Can you tell me what the song is about?

Scott                    : Basically it’s about overcoming sorrow when something traumatic happens.

Does any of you have a side project?

Scott                    : No. We focus all of our time and energy on Autumn’s Grey Solace.

What label did you use before having a contract with Projekt Records?

Scott                    : We didn’t have a label. We saved up the money to manufacture and self-released “Within the Depths of a Darkened Forest”, our first album. We just had to get our music out there, and this helped us get the deal with Projekt.

Have you released a live DVD?

Scott                    : No, we haven’t been performing live. We have recorded one music video so far (see it on our myspace) and plan to make more. We may release a DVD of our music videos in the future.

Whom do you listen to lately? What other genre do you listen to?

Scott                    : Lately, I haven’t really been listening to other music. I’ve been so immersed in the making of the new Autumn’s Grey Solace album (coming in 2008) that it completely fulfills my desire to listen to music.

If you were not in Autumn’s Grey Solace, what would you be?

Scott                    : I would be a musician in another band. I could not see myself not being a musician.

It’s difficult to find your albums here

Scott                    : Our albums are distributed by RYKO distribution, and record stores can order from them. It may be easiest to order our albums on line.

Have you taken a listen to Indonesian indie music? The ones put in myspace probably?

Scott                    : Yes, I’ve seen some of the ones on myspace. I can’t exactly remember the band names, but they sounded good (kira-kira siapa ya yang mereka dengerin?, red)

Ever thought of having a gig in Indonesia? FYI, indie scene here is awesome :-)

Scott                    : If we ever have the opportunity to do a world tour, we will try to have a tour date in Indonesia. We would love to see what the indie scene there is like.

Well, I’m thanking you for your time. Success for you guys.

//interview by foe//bystanders-0408.gif


interview//sungsang lebam telak

January 19, 2008

 

bystanders-0409-s.jpg

Satu kata yang bisa diucap mengenai band ini. Wow. Sebuah band penuh spontanitas yang awalnya hanya sebuah iseng-iseng direview oleh seorang pewarta senior di koran nasional. Bystanders kembali berkelana ke Bandung, untuk berbincang akrab dengan Gembi (G), Dani (D), dan Ageng (A) di tengah derasnya hujan. Sebuah wawancara terdahsyat yang pernah dilakukan bystanders .

 Video klip kalian kabarnya gimana?

[D]  Sebenernya video klip tuh udah kita bikin sih,

[A]  Tapi saya ga merestui! hahahahaha…

[D] Video klip udah gua bikin dua, yang pertama emang konsepnya sentimentil banget. Gua mengambil dari footage film Happiness, pokoknya galau banget dan itu gua serius. Yang kedua itu gua ngambil dari footage film-film porno, khusus adegan klimaks dimana cowo-cowo sedang mengocok-ngocok anu-nya, soalnya itu gue rasa representasi dari lagu “Terbenam di Lautan Kegagahan Dubur”. Klimaksnya dapet banget ama lagu itu. Tapi, berhubung kita tuh demokratis, dua iya satu nggak, jadi ya kita nggak aja, gitu

[G]  Tapi sebenernya Paul Agusta juga sudah menawarkan ke SL*T untuk membuatkan video klip dalam konsep yang simpel

{D]  Sebenernya video yang gua bikin juga modus doang, untuk mendekatkan diri gua kepada seseorang video artist gitu

{G] Jadi kami harap kami bisa sebesar Sore, karena sama-sama diangkat oleh Paul Agusta

[D]  Bedanya Sore berskill, sementara kita tanpa skill, tanpa modal, tanpa tampang, dan kita penuh kesentimentilan

 Kalau influence kalian dari mana aja?

[G] Kalau SL*T secara keseluruhan, bagi gue ada Sandra Archestra, trus Storm & Stress.

[D] Sarah McLachlan

[G] Kalo dari sisi sentimentilnya sih Tori Amos bisa masuk, trus soal piano Ageng akan menjawab John Coltrane

[D] Dia keyboard atau piano lebih ke Anya ex-nya base jam (hahahaha)

[D]  Kalo gue karena referensi jazz gue yang terlalu rendah, gue ngambil influence bukan dari sisi musikal, tapi lebih dari sisi emosi. Kayak lagu Chintami Atmanegara yang video klipnya di kolam-kolam, yang kayak gitu.

      Ya, kalo SL*T mau disama-samain, mungkin mirip kayak Storm & Stress.

      Tapi pembelaan kami adalah, kami tercipta sebelum kami mendengar itu semua, jadi menurut kami sih sah-sah aja. Beda dengan band-band lain yang karena mendengarkan suatu band lalu tercipta musik mereka. Tapi kami tercipta dulu baru mendengarkan band-band tersebut.

[G]  Atau mungkin kami memang kurang referensi

[D]  Ya, kami memang kurang referensi berhubung mendengarkan winamp-nya di mesin tik

[A]  Kalau saya sebetulnya tidak ada influence yang signifikan. Pokonya influence tidak ada yang dominan lah, tapi banyak. Tapi karena terlalu banyak jadi ga ada yang paling dominan. Soalnya klo dalam praktek mah entah. Yang didenger apa, yang keluar apa. Tapi ada beberapa nama. Chick Corea sama Fred Jarrett.

[G] Ageng adalah sisi paling jazz di SL*T.

[D] Sementara Gembi dan Dani adalah sisi yang paling nakal dengan seksualitas dan seks bebasnya

Menurut SL*T, inspirasi paling kuat untuk membuat aransemen lagu tuh apa?

[G] Inspirasi di luar musikal kali ya, lebih tepatnya

[D]  Kesunyian, kesentimentilan

[D] Yang gue liat tuh, Ageng selalu berhasil dalam berbagai aspek kehidupan. Sementara gue dan Gembi tuh selalu gagal, entah itu cinta, kerja, atau kuliah

[G] Jadi di SL*T itu hidup yang paling beres adalah Ageng! Cuma kalo diliat dari sisi sentimentil, itu tidak berlaku pada Ageng. Sisi sentimentil cuma dari gue dan Dani doang

[D] Inspirasinya paling kesendirian, khayalan, trus cewe-cewe yang tersisihkan oleh keputusan mereka sendiri.

      Yang paling penting sih, menjaga eksistensi kami di dunia musik, daripada cuma jadi sekedar ‘gig-goers’ gitu, mending jadi ‘gig-players’

[G]  Kalo gue mungkin bener juga apa yang dikatakan Dani, tapi ada dua tambahan. Yang pertama adalah Afrizal Malna. Yang kedua adalah dua nama yang tidak akan dilupakan. Garnis Hangialevi. Itu yang menginspirasi hingga akhirnya tercipta lagu “Kecuali Mengenang Betismu, oh Sembadra”.

[A] Kalo saya ga ada, semua inspirasi berasal dari musik.

[D] Seni untuk seni, musik untuk musik

[A] Kalo di luar musikal, karena kegalauan gitu misalnya, oh sih itu udah lewat.

      Sebetulnya band ini buat Gembi dan Dani, bukan buat saya, karena apa yang dititipkan dalam konteks musik itu Gembi & Dani banget! Kalo saya hanya sekedar menyimpan estetika musikal saja

[D] Kalau untuk kami sendiri SL*T adalah berarti sukses, lelah, dan telah. Jadi intinya untuk kesuksesan dia, lelahnya karena pekerjaan yang dia lakukan, dan telahnya karena dia telah melalui hal-hal yang berhasil

[A] Dan ada satu kata untuk itu semua, kata-kata Dani itu, “Pernah pulang tanpa lelah?” hahahaha… saya puitis ya!

[G] Ini pengaruh latar belakang SL*T yang sastrawi

Kenapa sih SL*T jarang sekali  manggung?

[D] Kita udah ngerilis dua EP tapi baru manggung di tiga gigs. Di sastra, FISIP Unpar, dan Food Not Bombs. Kalo dari gue sendiri kita lebih memilih apresiator yang tepat gitu. Karena dengan apresiator yang tepat maka konsep dan perasaan yang kita sampaikan mungkin akan tepat nyampenya gitu. Karena kalo apresiator-apresiatornya yang love-minded atau yang sexy-minded maka kita kurang kuat karena ya yang mereka butuhkan adalah tampang dan harmonisasi. Sedangkan kita tidak punya itu.

[A] Bukan.. penjelasannya bukan gitu… Masalahnya adalah penghargaan terhadap estetika yang kayak gini aja sih. Jadi sebetulnya klo ada audiens yang ga suka itu kita malah tersiksa. Itu feedback.

[D] Karena kita pengen manggung dan melakukan segalanya dengan konsep kita yang pengen senang-senang gitu. Kita mau menyajikan kesenangan kita buat orang-orang bukan penderitaan kita yang buat orang senang-senang. Jadi kita semua sama gitu.

Untuk berikutnya, ada kemungkinan ada EP lagi atau full album gitu ga?

[A]  Jangan berharap pada rencana-rencini. Rencana pun sudah 1001 rencana, tapi apa boleh dikata.

[D]  Kalo gue sendiri sih, nyikapin SL*T itu kayak gue nyikapin  maaf kasar — seperti kita melakukan rutinitas onani gitu. Kayak klo kita pengen, ya kita lakukan. Kita pengen melakukan segalanya, karena basic-nya kita senang. Menurut gue sendiri klo gue ngelakuin semuanya tanpa senang atau dengan paksaan atau kita sedikit menderita kayak bawa-bawa keyboard lah, latihan lagi lah, itu menurut gue bukan SL*T. Karena menurut gue SL*T itu senang untuk kami, senang untuk kamu. Jadi bukan penderitaan dari kami, senang buat kamu. Jadi konsep kami memang have fun banget lah.

Trus kan ini katanya yang penting penontonnya senang, SL*T juga senang. Nah itu untuk menggabungkan tiga orang untuk mood yang sama atau keinginan yang sama tuh gimana?

[D]  Kalo menurut gue, kayak kemaren tuh yang kita harus latihan dua kali itu bukan berarti kita untuk memaksimalkan performansi kita kepada apresiator gitu, tapi lebih ke memaksimalkan mood kita bareng-bareng. Kalo menurut kami mood kami udah bareng, tapi menurut apresiator masih ancur, ya bodo amat. Kalo gue sih lebih ngedasarin, kalo menurut kami senang, menurut kalian jelek, ya sama dengan senang. Tapi menurut kami senang, menurut kalian senang, ya sama dengan senang. Menurut kami jelek, menurut kalian jelek, ya ga mungkin SL*T ada. Karena didasarinya pada senang-senang lah. Senang untuk kami, terserah buat kalian.

Bisa diceritain dikit nggak, soal kesuksesan SL*T menembus netlabel Perancis eDogm?

[D] Waktu kita nembus e-label perancis itu sebenernya kalau secara personal malah menimbulkan kebingungan. Ibaratnya orang-orang Perancis kan budayanya lebih maju dari kita. Tapi kenapa mereka bisa kalah dengan wacana dan konsep yang kita tawarin? Dan sebenernya kalo diliat secara musik atau musikalitas, ya kita di dunia nasional sama dengan nol. Tapi mungkin karena kami diperkuat dan diperjelas oleh konsep dan wacana. Jadi sebenernya musik kami itu adalah output dari konsep dan fenomena yang kita serap.

[D] Awalnya mereka (eDogm) itu menggunakan fasilitas myspace dan mereka tertarik. Dan kebetulan kami adalah band satu-satunya di Asia yang mereka rilis. Dan mereka mungkin mengiyakan kami karena wacana dan konsep kami. Jadi kita cuma punya konsep dan wacana yang diporsikan kepada saudara Gembi.

[G] “Kecuali Mengenang Betismu” itu dirilisnya tepat waktu ulang tahun www.edogm.net, tanggal 14 Agustus lalu. Dan dirilis bareng dua rilisan lainnya, D’Incise dan Shamani. Jadi si eDogm itu memang netlabel spesialis free jazz, free improve, sama laptop improve, noise, sama yang gitu-gitu deh. Yang model-model acha-irwansyah gitu ga ada.

Kalo Gembi digantikan oleh Irwansyah tap bisa dapetin Acha, mending mana? Apakah milih keluar dari SL*T tapi
dapet Acha atau tetap bertahan?

[G] Gue pilih tetap di SL*T. I got a girlfriend and really love her so much. (cieehh yang baru jadian! -red)

[D] Saya mendukung Irwansyah untuk masuk SL*T karena sebetulnya ia adalah musisi super jazz.

[A] Kalo saya jawabannya ga tega.

[G] Kalo Ageng memang jawabannya cenderung simpel tapi mengandung banyak wacana di dalam kesimpelan tersebut.

[A]  Ga tega sama Irwansyahnya sebetulnya. Bukannya ga tega Gembi keluar

[D]  Irwansyah memang dispesialkan untuk menggantikan Gembi

[G]  Karena gosipnya gue mau jadi penari

[D] Memang gosipnya Gembi tuh sebelum ada Seleb Dance, dia lebih cenderung ke.. siapa tuh penari latar Madonna tuh, yang kayak banci2 itu?

[G] Max Don! lho… hahahahaha

[D]  Cuma kita rekrut karena kita kasian banyak gerak dia jadi butuh banyak koyo

Kenapa sih SL*T selalu membacakan manifesto Sungsang Lebam Telak setiap kali mau tampil? Maksudnya apa?

[D] Manifesto menurut gue, kita lempar ke apresiator karena, menurut kami itu sebagai penghancuran wacana jazz yang konvensional dan ortodok yang ada di Indonesia. Bagaimana caranya kita menghancurkan sesuatu tanpa berbekal elemen-elemen sesuatu itu. Kayak lo misalnya pengen menghancurkan dunia sepakbola tapi lo ga bisa maen bola, sebenernya itu sah-sah aja. Kalo menurut gue personal sih segala sesuatu entah itu seni entah itu musik asalkan lo punya wacana atau konsep itu keluarin aja dan Tuhan sahkan koq. Insya Allah ada ayat baru gitu

[G] Jadi manifesto itu juga seperti serangan juga buat orang-orang yang ngomong, “ah lo ngomong aja lo, lo punya karya ga?”

      Klo buat gue sih, mau punya karya atau ngga, ya kalo lo mau counter mah, lo counter aja asal lo punya konsep yang menurut lo penting buat dibahas. Dan manifesto SL*T secara keseluruhan kan, awalnya gue buat kan buat mengejek semua musik yang sudah terciptakan di dunia.

[D]  Yang terciptakan dan semua seragam gitu. Kayak kemaren kita masuk ke acaraacara jazz yang di Unpad gitu, lima jam lebih tuh jazz-nya sama aja gitu. Baru pas Gilang Ramadhan muncul dan Indra Lesmana, mereka berskill dan mereka memberikan sesuatu yang baru. Dan kita sangat menghormati terhadap segala sesuatu yang ditawarkan dengan cara yang baru.

[G] Istilahnya mungkin kami haus akan hal-hal yang baru. Selain baru tapi juga ngasih inovasi. Mungkin ga baru, tapi ada sesuatu lah

Pertama kali tergerak untuk membuat SL*T tuh gimana?

[D] Tergerak karena mentok dengan band gue yang bawain Stone Roses Primal Scream dan kebritpopan Manchester lain lain. Gue menemukan media baru selain gue bersolo project, jadi ya oke lah. Pertamanya sih atas dasar, biasalah, sok-eksis. Yang keduanya emang untuk seni dan seni. Seni untuk seni, dan musik untuk musik. Dan untuk Rebecca Theodora, hahaha..

[G]  SL*T nih buat gue sendiri, gue tiap buat sesuatu itu berawal dari iseng2, begitu juga SL*T. Gue nyambung ama Ageng, dan Dani partner-in-crime gue, ya udah, semuanya klop, dan jadilah SL*T. Dan menurut gue rasanya bakal berdosa klo kita nambahin personil yang entah siapa gitu. Misalnya manajernya Elemental Gaze mungkin. Itu pasti bakal mengubah konsep SL*T secara keseluruhan. (kebetulan Fitrah, manager Elemental Gaze, menjadi saksi wawancara ini -red)

Bagaimana pendapat SL*T mengenai maraknya Sungsang Darlings yang marak datang ke gigs kalian?

[D] Sungsang Darlings menurut gue hanyalah korban dari konsep dan segala wacana yang kita angkat. Dan kenapa namanya Sungsang Darlings karena kita ingin memparodikan segala keposeran yang terjadi di Indonesia ini. Walaupun ya kita nganggepnya kita menghargai “bla bla bla band tersebut” darlings tapi ya kenapa kita memakai nama tersebut karena kita terlalu muak dengan fenomena seragam

[D]  Kenapa ga make nama Sungsang Friends, atau Sungsang People gitu?

[D] Kita ga make Sungsang People karena menurut kami apapun yang berkaitan dengan Pure Saturday itu adalah berhakekat tinggi, dan tidak bisa diejek. Esensial banget. PS adalah saingan berat SL*T.

[G] Jadi itu, satu-satunya saingan kami adalah PS. Tapi di lain pihak yang telah dihaturkan oleh Dani barusan, sebetulnya kami sedih karena kenapa SD yang datang hanyalah yang itu-itu saja. Apakah tidak bertambah apresiator yang lainnya untuk musik SL*T. Ini fenomena aneh.

[D]  Padahal belum ada Perda yang mengeluarkan larangan SD untuk tercipta. Jadi nyantai aja lah dengan Denny Setiawan (Gubernur Jawa Barat, red) dll. Itu masih sah-sah aja

Kalo harapannya SL*T buat para Sungsang Darlings yang habis nontonnya gigs kalian apa?

[G] Klo gue yang penting bajak sebanyak-banyaknya SL*T album manapun yang kalian dapat dan bagikan ke orang-orang yang kalian kasihi ataupun kalian benci. Karena menurut kami makin banyak yang mendengar maka makin indah dunia ini.

[D] Kalo gue buat para SD, bajaklah pada porsinya gitu. Kalo lo ngebajak band-band yang pengen lo bajak ya lo bajak aja gitu. Tapi kalo ada yang pengen dihargai dengan membeli CD original ya terserah lo. Kalo ada duit ya beli CD original, kalo nggak ada ya nggak usah.

      Itu prinsip PPKn gue gitu, adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. hahahahahaha…

 //interview by 410 & pemudagalau//photo by 410//


album review//Sungsang Lebam Telak//Sungsang Lebam Telak EP

January 19, 2008

bystanders-041201.jpg

SUNGSANG LEBAM TELAK
[Sungsang Lebam Telak EP]
2006 // lost disco

Ada satu hal yang perlu diperhatikan saat memutuskan untuk mendengarkan EP pertama Sungsang Lebam Telak ini – Jangan mendengarkannya di saat tidur!

Karena bila lagu-lagu dalam EP ini tercampur dalam playlist winamp Anda yang mendamaikan hati dan lagu pengantar tidur lainnya, jangan salahkan mereka apabila salah satu lagu mereka membangunkan Anda dari mimpi indah. Raungan-raungan filosofis, ditambah permainan penuh spontanitas dari Ageng, Gembi, dan Dani, memang benar-benar sebuah seruan yang membangunkan penikmat musik Indonesia yang terbiasa dibuai dengan musik-musik terpola, pamer skill, dan penampilan seragam.

Tidak ada lirik di dalam EP ini. Jadi bagi Anda yang suka karaoke, lupakan saja semua ide itu. Atau Anda ingin berkaraoke mengikuti bunyi-bunyian yang keluar dari mulut Ageng? Nah kalau yang itu silahkan saja.

Sayang, Bystanders tidak mendengarkan band-band yang sama dengan para personil Sungsang Lebam Telak, jadi kami sedikit mengawang-awang saat harus mendeskripsikan musik yang diusung mereka. Namun lagipula, para personil SL*T mengaku komposisi mereka tidaklah mengikuti salah satu pakem tertentu, semuanya hanya dari hati dan demi kesenangan mereka.

Yang pasti, ini adalah musik yang berani. Sama halnya seperti inspirasi yang datang dari Tuhan, secara spontan mereka memainkan jari-jari dan kaki-kaki mereka untuk memainkan lagu demi lagu. Semuanya tidak dirancang, hanya mengikuti keinginan gerakan badan yang jiwanya siap meronta-ronta, memberontak karena terlalu lama diatur oleh si otak.

Dentuman-dentuman drum yang dimainkan Dani di satu bagian seperti orang yang dirasuki oleh hal-hal di luar kesadaran, dan di bagian lain begitu terstruktur.

Yang paling dahsyat dari EP ini adalah “Ratapan Komodo Basah Terlunta-lunta”. Dilihat dari judul lagunya saja sudah cukup menggelitik telinga. Apalagi saat mendengarkan lagunya. Seperti ritual memanggil hujan atau ritual untuk menyelamatkan si komodo. Konon kabarnya lagu ini punya makna yang sangat filosofis dan mendalam bagi penciptanya. //review by 410//


album review//Sungsang Lebam Telak//Kecuali Mengenang Betismu EP

January 19, 2008

bystanders-041202.jpg

SUNGSANG LEBAM TELAK
[Kecuali Mengenang Betismu EP]
2007 // lost disco

Dibanding dengan EP sebelumnya yang dinamai “Sungsang Lebam Telak”, EP ini boleh dibilang lebih matang. Sepertinya Sungsang Lebam Telak telah menemukan zona nyaman mereka, dan malah cenderung ‘teratur’.

Coba saja dengar “Kecuali Mengenang Betismu, Oh Sembadra”, lagu kedua yang dijadikan judul EP ini. Nada-nada piano yang dibawakan rasanya sentimentil sekali. Romantis bak musik jazz yang ada di lounge-lounge eksekutif. Penuh dengan kunci-kunci minor 9 atau 14.

Tapi memang gaya musik mereka semakin berkembang. EP “Kecuali Mengenang Betismu” ini juga terdengar lebih ear-friendly bagi orang awam ataupun yang baru saja mendengarkan musik Sungsang Lebam Telak. Walaupun tetap dalam semangat spontanisme, EP ini terdengar lebih harmonis.

 Mixing-nya juga terdengar lebih baik. Raungan-raungan Ageng pada lagu “Teruntuk Siapapun Yang Membuat Alismu Menari” sepertinya benar-benar bisa membuat alis Anda menari. Dan mungkin karena direkam secara live, maka lagu ini terasa hidup sekali. Kalau ada yang pernah datang ke acara jazz kelas atas dan menyaksikan para musisinya asyik berimprovisasi di atas panggung, lagu itu ya kurang lebih seperti itu. Ditambah dengan finishing yang bagus sekali.

 Ada juga gema dari raungan Ageng dan suara seperti speaker rusak di lagu “Leher-Leher Penyabar”. Satu sentuhan kecil yang cukup menarik.

 Buat Anda yang menganggap jazz itu easy-listening, coba dengarkan dulu SL*T! Dahi rasanya selalu ingin berkerut mencoba untuk mencari tahu apa yang ingin disampaikan trio asal Bandung ini melalui musiknya.

 Tambahan suara piano yang cukup dominan di EP ini juga memberi nuansa tersendiri dibanding EP sebelumnya. Improvisasi yang sangat baik, padahal mereka mengaku sebagai musisi tanpa skill! hahaha..

 Satu saran yang sebaiknya disimak, bagi Anda yang diperbolehkan memperdengarkan koleksi lagu-lagu Anda di kantor, sebaiknya jangan memutar lagu ini di tengah jam sibuk ataupun di tengah deadline ketat. Dapat cukup membuat senewen. //review by 410//


interview // zeke and the popo

January 19, 2008

 

bystanders-0413.jpg

Sepertinya menjadi suatu kehormatan bagi Bystanders saat mewawancarai band yang satu ini. Suatu malam setelah jam kantor, Bystanders pun menyempatkan diri untuk bertamu ke tempat latihan mereka, sekaligus kediaman vokalis mereka, Zeke, untuk sebuah sesi wawancara dengan Zeke [z], Iman [I], Leo [L], dan Yudi [Y]

Zatpp itu kan udah lama dibentuknya, kenapa baru sekarang merilis full album?

[Z]        Sebetulnya dari dulu kan udah pengen bikin full album, cuma kita ngerilis EP dulu. Dan EP kan juga harus ada promosinya, dll gitu. Efeknya tuh waktu di Bandung, waktu kita maen di Les Voila gitu dan ternyata sosialisasinya bagus. Pas kita manggung, orang-orang pada tau lagunya gitu,d an itu suatu experience yang kita belum pernah dapet sebelumnya. Dari situ kita mulai ada temen-temen di Bandung yang suka musik kita, dan kita juga kenal dengan pergerakan musik di Bandung. Dan setelah itu lah kita berencana untuk bikin full album.

Kenapa Profesor Komodo yang dijadiin single pertama?

[Z]        Soalnya kita sepakat lagu itu yang paling catchy

[L]         Pake bahasa Indonesia juga..

[Z]        Maksudnya kita berusaha untuk menyesuaikan lah, kalo radio tuh kayak apa peraturan-peraturannya. Ya kita kalo ikutan sesuatu kan juga harus fleksibel.

[Y]        dan kayanya itu lagu juga paling mewakili albumnya. Warna warni banget lah.

 Sebetulnya apa sih arti dari Profesor Komodo?

[Y]         No one knows!

[Z]        Profkom ini, sebenernya itu lagu lama, lagu terlama kita mungkin sebenernya. Dulu gua buat four-track demonya di Seattle, dan gua bener-bener heavily influenced, to be totally honest, by “No One Never Knows”-nya Beatles. Kayak kalo jaman dulu di tahun 60-an kan musik dengan bantuan LSD atau sejenisnya bisa membuat kita dibawa lebih tinggi ke suatu tempat, kayak wonderland gitu lah. Itu secara aura dan musik ya, kalo liriknya sih itu kita membebaskan orang untuk berinterpretasi lah.

 Kenapa koq komodo?

[Z]        Karena ecstasynya dapet dengan musiknya, pas masuk kuping dan meresap ke otak kita. Di sini kita bisa tiba-tiba ngeliat semua orang kayak komodo, trus ada profesornya di ujung yang lagi nge-DJ atau apa lagi maen musik apa gitu, hahaha..

 Oiya bisa diceritain dikit soal albumnya ga?

[Y]        Dikerjakan dalam 2 tahun, dan bersihnya tuh baru 1,5 tahun. Karena setengah tahun pertama kita sudah merekam gitar, bas, vocal, drum – saat itu masih sama Amir – dan kita udah merekam 4-5 lagu, tiba-tiba hard disknya crash. Semua data yang ada ga terselamatkan.

[Z]        Itu pas yang crash rekamannya di studio yang konvensional lah. Gara-gara crash, kita rekamannya di rumah ini (rumahnya Zeke, red)

[Y]        Jadi setelah segala malapetaka itu, daripada keluar cost terlalu banyak, kita pindahin alat-alatnya ke sini. Ternyata soundnya malah lebih enak di sini. Jadi kita memutuskan untuk melanjutkan di sini

 Kalo pemilihan track listingnya tuh gimana?

[Z]        Dulu sempet bikin voting, tapi hasilnya pada beda-beda semua jadi malah ribet sendiri. Gue inget kalo band luar tuh bisa nunda 6 bulan gara-gara masalah track listing. Dan gue pikir kita jangan sampe seribet itu lah. Trus yang lain bilang ya udah lah serahin aja ke gue. Dan gue ngerasa track listing yang sekarang itu sih cukup. Sebagai contoh, misalnya kayak lagu “Get A Star and Kill Her” itu kan emang lagu ending-nya kita kalo manggung, penutupan gitu lah. Nah itu ketebak banget kan kalo ditaro di lagu ke-13. Nah itu malah kita taro jadi nomer 8. Jadi kayak setelah penghabisan tapi belum klimaks juga. Jadi malah klimaks itu malah di lagu “I-Novel”. Itu zatpp yang sendirian, dan lucunya di lagu itu kita dibantu oleh choir. Kita eksperimen juga dengan choir, dan keliatannya kalo ada lagu-lagu yang cocok bakal kita terusin make choir.

 Rencananya di album ini bakal ada berapa single?

[Z]        Standar sih, ada tiga

 Tiap single bakal dibikin cdnya juga ga?

[Z]        Maunya sih tiap single. Kayak profkom itu kita ngerilis 200 kopi dan ga akan diduplikasi lagi.

          Dulu sebelum album ini zatpp kan banyak berkonstribusi ke film, trus gimana sih pandangan zatpp tentang film Indonesia?

[Z]    Kalo menurut gw pribadi sih, itu karena kebetulan orang-orang yang bekerja di film kebanyakan temen-temen kita semua. Jadi kalo mereka punya proyek, biasanya kita juga tau. Dan biasanya kita duluan yang dihubungi untuk konsul, dll. Kayak yang paling baru, “Kala”, kebetulan pas banget untuk musiknya zatpp, dan sutradaranya juga sama ama Janji Joni. Jadi akhirnya bener-bener total kita bantuin. Di album ost-nya zatpp ada dua lagu.

 Sebenernya klo dibandingin, perkembangan musik Indonesia dengan film Indonesia tuh gimana sih?

[Z]        Musik lebih maju lah, iya ga sih?

{Y}        Setuju!

{Z]        Film tuh masih kayak 50 tahun belakang.. Sorry to say, tapi film sekarang malah jadi bisnis. Bener-bener produser yang megang kendalinya. Liat aja sekarang, film horror merajai pasar film nasional. Dan itu masih akan berlangsung selama dua tahun ke depan. Soalnya orang-orang juga masih ada yang bakal antre di 21 tahun depan buat nonton film horror. Jadi siap-siap aja, pocong 11 atau 13!

            Dan mereka bikin film semurah-murahnya karena mereka mentingin kuantitas bukan kualitas

 

Kalo misalnya zatpp adalah sebuah film, akan menjadi film apa?

[L]      Klo gue mungkin film-film PI gitu, kayak era-era Chicago tahun 30-an. Istri mafia menyewa private investigator untuk nyelidikin sesuatu, item putih, trus detektifnya lagi duduk di ruangannya, ngisep pipa. Trus cewenya masuk dari balik kaca ada siluetnya. Film-film detektif kali ya. Tapi yang jaman-jaman dulu, tahun 30-an.

[Y]        Ada juga satu lagu yang judulnya “First Act Gun”, dan itu lagu sirkus. Jadi bayangannya tuh kayak film itu ga cuma satu tema. Itu kayak kita baru dateng dari dunia mana gitu trus yang ‘ho-ho-ho, welcome!’, kayak masuk wonderland gitu. Jadi satu tema yang detektif, satu tema lagi ada perangnya, jadi bener-bener menunjukkan variety dari album itu sendiri, ga cuma satu tema.

Gimana rasanya disebut Beatles yang sakit?

[Y]        Ehem, ga enak badan (sambil batuk-batuk, red)

            Kalo beatles-nya lagi sakit, lagi flu semua, ya gitu deh

[L]         Beatles yang ga mood, lagi BT, yang pincang, jadi buntung..

Kenapa sih terinspirasi banget sama Beatles?

[L]         Kita semua suka Beatles, tapi kalo buat gue Beatles nomer dua. Nomer satunya David Bowie.

            Mungkin kalo kita survey di famili 100, cari orang yang ga suka Beatles mungkin bakal susah banget.

[Y]        Karena tiap orang kan punya kesan sendiri dengan beatles

[L]         Gue kan sukanya Beatles era 66 ke depan, dan kalo gue bandingin dengan band-band tahun ‘96 ke atas, gue udah denger dari Beatles. Jadi mereka tuh kayak 30 tahun lebih maju otaknya. Dan anehnya lagi mereka berempat kompak banget. Bukan cuma satu orang aja yang jenius, tapi empat-empatnya, dan bisa kumpul jadi satu. Tapi above all, simplicity. Jadi mereka jenius bukan kayak jenius yang kayak jaman sekarang. Simple, kayak misalnya kita denger lagu “Obladi Oblada”, yang simpel banget. Buat kita nih musisi, kalo kita bawain kayak tadi tuh, berantakan

[Y]        Jadi lagu nih kita dengerin kayaknya gampang , tapi pas dibawain, susah banget. Ada detil-detil yang ga ketauan

[L]         Ga play-friendly hahahaha..

            Dan buat gue ga banyak band yang kayak gitu.

[Y]      Dan juga kalo misalnya kita suka satu band gitu ya, yang baru-baru. Pas mereka diwawancara, “lo inspirasinya siapa?” Akhirnya semua ke Beatles juga. Jadi buat apa kita terinspirasi ke mereka, karena merekapun terinspirasi dari beatles.

[L]         Kayak the source of evil hahahaha…

Kalo soal influence gimana? Ada yang lain di luar Beatles mungkin?

[L]         Beatles pasti. Tapi dari kecil kan Yudi, Iman, gue dengerinnya macem-macem. Waktu SMP ada yang dengerin metal, punk, dll, dan semuanya itu jadi ngebangun kita. Nambah wawasan musik kita juga. Kalo recently, gue sendiri banyak dengerin Classic Rock  Pinkfloyd gitu

[L]         Kalo Iman?

[I]         Sama..

[Y]        Kalo yang lagi didengerin sekarang Ben Folds Five sama Led Zeppelin

 Trus bisa diceritain soal labelnya?

[Z]        Labelnya berdiri karena ada zatpp. Namanya black morse, black dari musik delta blues. Morse dari kode morse. Jadi rilisan kita tuh orang-orang yang dengerin tuh ga langsung nelen langsung musiknya. Tapi kayak musti diulik lagi lah.

 Rencana jangka pendek dan jangka panjangnya zatpp apa?

[Y]        Jangka pendek sejuta kopi hahahaha…

[Z]        Kita mau bikin materi untuk video klip kedua. Tapi jangka pendek kita mau nentuin single kedua dulu lah. Jadi kalo udah tau bisa bikin video klip, bisa mulai produksi yang lain-lain juga.

[Z]        Kalo jangka panjangnya..

[Y]        Mendoktrin anak-anak

            Jadi ntar nama anak kita popo semua

[Z]        Dan akan banyak popo-popo kecil. hahahaha..

 //interview by 410 and pemudagalau//photo by 410//


album review//zeke and the popo//space in the headlines

January 19, 2008

bystanders-041501.jpg

ZEKE AND THE POPO
[Space in the Headlines]
2007 // black morse

Sebuah perjalanan panjang dalam labirin berliku-liku tanpa diketahui ujungnya. Sebuah harapan akan wonderland, sebuah tempat yang indah di ujung pelangi. Tapi tentu saja, dalam sebuah perjalanan, terkadang yang penting bukanlah tujuan akhir, namun perjalanan itu sendiri. Menikmati berbagai macam hal yang ditemui di tengah perjalanan, memberi pengalaman baru.

Ya, mungkin itu yang ingin disampaikan oleh Zeke and The Popo dalam album ini. Berbagai pengalaman dari perjalanan itu. Seperti menyaksikan puluhan film hitam-putih yang dipancarkan melalui proyektor berdebu. Atau membayangkan sendiri dalam pikiran Anda imaji-imaji yang distimulasi dari lagu-lagu mereka.

Mungkin apabila Anda mendengarkan lagu-lagu ini di saat tidur, Anda akan memasuki dunia gelap nan misterius. Penuh dengan asap rokok dan aroma eklektik, membuat Anda berpikir, mereka-reka, dan mencoba mengetahui sesosok bayangan yang ada di ujung lorong.

Dalam album ini para penggemar Zeke and The Popo masih bisa bernostalgia dengan lagu-lagu mereka terdahulu, baik dari mini album Unrescued World ataupun yang tersebar di beberapa soundtrack film lokal.

Dibuka dengan lagu “Profesor Komodo” yang sekaligus dijadikan single pertama mereka. Saat Bystanders pertama kali mendengarkan lagu ini, yaitu saat zatpp membuka peluncuran album salah satu band indie Jakarta, sepertinya tidak ada kata-kata lain yang bisa terucap selain “Wow”. Lagu ini memang menakjubkan.

Ada juga sebuah pertunjukan sirkus tersembunyi di balik layar yang tersingkap saat mendengarkan “First Act Gun”. Sebuah pemandangan berwarna-warni dipenuhi manusia dengan berbagai bentuk menunjukkan talentanya. Atraksi-atraksi spektakuler muncul di tengah arena.

Satu lagu yang mungkin terdengar sangat berbeda adalah “Mighty Love”. Bagaikan alter ego zatpp, di tengah-tengah kepesimisan dan keremangan dunia abu-abu mereka, terselip satu lagu ceria penuh semangat.

Bagi yang ingin menikmati remangnya malam di tengah kesendirian, mencoba pulang ke rumah setelah satu hari yang buruk, mencoba melarikan diri dari semua beban pikiran, atau di saat putus asa karena tidak ada yang bisa lagi dilakukan untuk menyelamatkan nasib yang apes, ada baiknya mencoba mendengarkan “Unrescued World”, “Subtext”, atau “I-Novel”. Sediakan juga substansi pelarian Anda (kalau ada), dan biarkan dia membawa jiwa Anda.

Oh ya, bagi yang suka mengulik, lagu ini benar-benar kaya dengan berbagai jenis instrumen musik. Semuanya bertumpuk secara sinergis dengan sejumlah cuplikan-cuplikan film ataupun sample-sample musik. //review by 410//