ok video

December 11, 2007

Perhelatan akbar video internasional kembali digelar. Untuk ketiga kalinya, festival dua tahunan OK Video kembali memanjakan kaum muda dan Indonesian new media art enthusiasts dengan menayangkan ratusan video dari seluruh penjuru dunia.


Kali ini ruang rupa sebagai penyelenggara OK Video mengangkat tema “militia” atau yang dalam bahasa Indonesianya milisi. Mengutip dari website resmi mereka, inilah penjelasan tema tersebut. Kata militia (milisi –dalam bahasa Indonesia) berarti mempersenjatai sekelompok orang untuk melakukan gerakan bersenjata demi mengubah dan merebut kekuasaan. Namun milisi juga berarti memberdayakan masyarakat sipil secara terorganisir, terencana, juga termobilisasi demi perubahan yang terinisiasi dari dalam diri.


Tim dari Ruang Rupa pun menjelajah ke dua belas kota besar Indonesia dan bekerja sama dengan komunitas seni setempat untuk mempersenjatai mereka dengan workshop. Semua gagasan yang tercipta oleh peserta dituangkan melalui video. Melalui video itulah peserta dari seluruh Indonesia mencoba untuk “menggali” kota mereka dan mempresentasikannya kepada khalayak.


Hasilnya adalah puluhan karya video yang bisa dibilang cukup segar, walaupun dengan alat ataupun skill yang terbatas. Mereka dapat menunjukkan kepada masyarakat Indonesia (atau bahkan dunia!) mengenai kota mereka dari sudut pandang masing-masing pembuat video, bukan dari media-media cetak ataupun media elektronik nasional, tempat masyarakat awam mencari informasi.


Untuk venue OK Video kali ini tersebar di beberapa tempat.
Venue utama atau disebut ‘video in’ adalah galeri ‘langganan’ tempat para seniman Ruang Rupa berpameran, Galeri Nasional. Didukung dengan tempat yang cukup luas dan sangat mendukung untuk pameran new media arts, OK Video merajai sejumlah ruang pamer galeri tersebut.

Venue lainnya, atau disebut ‘video out’, ada di sejumlah tempat yang mendukung kegiatan seni, antara lain aksara bookstore (Kemang dan Plaza Indonesia), Japan Foundation, CCF Salemba, Café au Lait, toimoi, Kineforum, dan MP Bookpoint. Selain itu ada pula ‘video box’ di sejumlah tempat umum seperti GoetheHaus, stasiun Gambir, dan Bengkel Deklamasi TIM.


Pembukaan festivalnya sendiri dibuka 10 Juli lalu, dengan sejumlah penayangan video (screening) dan DJ set. Ale yang menjadi MC malam itu memperkenalkan sejumlah video yang dijadikan highlights festival itu, seperti Patriotic (Kanada), We Are Winning Don’t Forget (Perancis), O Fim Do Homem Cordial (Brazil), dan Advertisement Tour (Semarang, Indonesia).


Yang paling menarik dari video-video yang ditayangkan di layar besar upacara pembukaan kali itu adalah Patriotic.
Dalam video itu sejumlah tentara bergaya homo-erotic bergantian menyanyi (atau lip sync) sebuah lagu dengan lirik nuansa semangat perjuangan dan musik dari “My Heart Will Go On” milik Celine Dion.


Setelah acara secara resmi dibuka, ratusan pengunjung yang umumnya pelaku seni dari berbagai daerah dan negara berjejalan untuk melihat video pada TV atau tembok (film diproyeksikan) di berbagai sudut galeri. Karya video yang ditampilkan umumnya dari sejumlah nama yang sudah cukup dikenal, seperti Anggun Priambodo, Henry Foundation (Jakarta), Andry Mochammad (Bandung), ataupun Eko Nugroho (Yogyakarta).

Karya video luar negeri juga tidak kalah. Antara lain ada Jean Gabriel Périot (Perancis), Azzoro Group (Polandia), Benny Nemerofsky-Ramsay dan Pascal Lievre (Kanada-Perancis), dan Marco Villani (Italia).


Ada pula sejumlah video project, seperti Flag Metamorphoses (Myriam Theses – Jerman/Swiss), Video Battle (Indonesia), dan 5,9 SR (Indonesia).

Selain karya-karya individual, ada pula gabungan karya video dari beberapa organisasi seni/pembuat video dari Video Lab (Bandung), Forum Lenteng, Urban Poor Consortium (Jakarta), Etnoreflika, Video Report (Yogyakarta), dan Engagemedia (Australia).


Dan apalah arti pembukaan pameran seni gelaran ruru (Ruang Rupa) tanpa musik. Malam itu sejumlah DJ siap menghentak malam, walaupun DJ set-nya digelar di ruangan tertutup tanpa AC dan tanpa jendela sehingga seperti sauna, hehe. Namun setidaknya sejumlah pengamat dan pecinta musik, jurnalis, dan beberapa orang teman sendiri rela berpanas-panasan untuk mendengarkan musik yang dimainkan para DJ malam itu. Summer in Berlin, Vivo Los Amigos, H.F.M.F. Records, Bondi Ned Hensel, dan Dubyouth bergantian memainkan koleksi kepingan cakram mereka.


Ya, seniman-seniman muda Indonesia sekali lagi berhasil membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka mampu mengadakan pameran new media arts yang sukses. Dan bagi yang belum berkesempatan menyaksikan OK Video 10-27 Juli lalu, harap bersabar untuk kembali menantikannya dua tahun lagi. ;) //review and photo by 410//


events//ultah buma

June 14, 2007

Pada tanggal 21 April lalu, Komunitas puisi Bunga Matahari genap berusia tujuh tahun. Bukan waktu yang singkat, kalau diumpamakan manusia, maka usia tersebut berarti sudah saatnya masuk SD hehe. Komunitas yang awalnya hanya sebagai wadah bagi sejumlah teman yang ingin mengapresiasikan puisi mereka, kini sudah memiliki ribuan anggota di milisnya. Dan pada tanggal 29 April 2007, BuMa merayakan ulang tahun mereka, merayakan kesuksesan komunitas yang kini tak lagi balita itu.

dsc_2493-nivel.jpg

 

Perayaan ultah yang digelar di café West Pacific di bilangan Thamrin itu dimeriahkan dengan beberapa penampilan dari anggota milisnya. Otak and Chair tampil tentunya, membawakan  sejumlah komposisi andalan mereka, seperti “Sendiri”, “Yongkru Yo’a Yombre”, dan tentu saja, ”Teman Baikku Mati Bunuh Diri”. Kuartet Uga-Acha-Aan-Ichsan itu juga membawakan komposisi terbaru mereka yang berjudul ”Dengerin, Yo!”. Komposisi yang terakhir itu dibawakan oleh Acha, dan terdengar mirip seperti lagu rap dengan iringan perkusi tradisional, hehe.

dsc_2637.jpg

Lalu ada pula sebuah kelompok musik eksperimental yang bisa dibilang pendatang baru dalam acara BuMa. Menamakan dirinya Perusak Suara, trio Iman Fattah (gitaris Lain, Zeke and The Popo, dan entah apa lagi yang bisa dikerjakan manusia multi-talenta ini), Aulia Naratama (keyboardist Everybody Loves Irene), dan Wahyu (Marche La Void) membawakan komposisi yang tidak biasa. Mereka juga dibantu oleh Jorgy dalam membacakan sejumlah puisi.

dsc_2533.jpg

Selain itu ada pula pembacaan puisi dari beberapa anggota milis yang sudah tidak asing lagi seperti Nivel, Jorgy, Henry C Widjaja, dan Esti. Ada pula Hello Rain yang terdiri dari Nanda, Tania (Clover), Aan (D’zeek, thedyingsirens), dan Olive yang membawakan musikalisasi puisi.

dsc_2556.jpg

Acara ditutup dengan pemotongan kue ulang tahun oleh sejumlah pendiri BuMa seperti Festi, Ulil, Anya, Uga, serta beberapa teman-teman yang sudah lama berada di komunitas tersebut seperti Nira, Ney, dan Acha. //410


art events//poem of blood

June 14, 2007
dsc_1627.jpg

Ironis. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan tema yang diusung Ugo Untoro pada pamerannya, “Poem of Blood” awal April lalu.

Melalui berbagai media, mulai dari lukisan, seni instalasi, hingga video, seniman kelahiran Purbalingga itu memaparkan bagaimana kuda, yang sangat berjasa dalam mengantarkan manusia ke peradaban, serta berperan besar dalam meluaskan pengetahuan dan wawasan yang berkembang di seluruh dunia, kini ditinggalkan begitu saja. Bahkan yang lebih kejamnya, banyak dari kuda-kuda yang ada kini berakhir di penjagalan, menjadi sekedar ‘makanan eksotis’.

Yang paling menarik dari pameran ini adalah lorong panjang nan gelap, dimana bila kita memasuki lorong tersebut kita dapat mendengarkan suara derapan kuda beserta ringkikannya. Mengerikan, sekaligus menyayat hati. Manusia telah berkhianat, dan kuda menjadi korbannya.//410


art events//libre journal

June 14, 2007

 

Gerard Rondeau, salah satu fotografer terkemuka asal Perancis, memamerkan sejumlah karyanya di Galeri Nasional, 11-25 Mei lalu. Sejumlah hasil jepretan Rondeau termasuk beberapa tokoh seni Indonesia yang sudah tidak asing lagi, seperti Anggun, Ayu Utami, Sujiwo Tejo, Ade Darmawan, Firman Ichsan, Oscar Motuloh, dan sejumlah figur seni lainnya.

Rondeau juga menggunakan metode klasik, menggunakan film hitam putih yang kini makin terhimpit dengan teknologi digital.

dsc_3531.jpg

Pembukaan acara yang sempat tertunda oleh hujan ini turut dimeriahkan oleh penampilan Sore.//410

dsc_0129.jpg


art events//[r]evolusi 300cc

June 14, 2007

Ya, fenomena street art sepertinya sedang naik daun di dunia seni rupa Indonesia. Mulai dari grafitti, mural, hingga stencil art. Pameran yang menampilkan street art juga sudah banyak dijumpai beberapa tahun terakhir, sehingga seni ini tidak lagi terpinggirkan dan hanya bisa dilihat di jalan-jalan, tapi juga di sejumlah ruang pamer.

dsc_1685.jpg

Untuk [R]evolusi 300cc sendiri, “ruang pamer”nya dibagi dua. Yang utama bertempat di lantai empat Museum Bank Mandiri, Jakarta, dan digelar 21-28 April lalu. Namun para pelaku seninya tidak melupakan ‘roots’ mereka, sehingga mereka juga membuat sejumlah karya mereka di ruang publik, seperti di bawah flyover Kuningan.

dsc_1957_edit.jpg

Acara workshop dan diskusi juga menjadi salah satu rangkaian acara besar ini. Diskusi seni di ruang publik menampilkan Marco Kusumawijaya (Ketua Dewan Kesenian Jakarta) dan Ardi Yunanto dari Jurnal Karbon sebagai pembicara.

Sementara nama partisipan dari pameran masih terbilang orang lama. Mulai dari Sakit Kuning Collectivo, The Popo, Propagraphic, Artcoholic, serta Sari dan Rio yang mewakili Ruang Rupa.//410


art events//stencil art vs performing art

June 14, 2007

Pada awalnya mungkin tidak ada yang mengira stencil dapat dijadikan sebagai suatu seni. Karena memang awalnya stencil hanya digunakan di kalangan industri, seperti untuk sablon, pembuatan tanda instansi, ataupun pemberian tanda jenis angkot. Tapi kini seni stensil telah berkembang lebih jauh dari itu. Sebagai salah satu bagian dari street art, kontribusi stensil di ruang public pun sering dijadikan sebagai alat propaganda.

 dsc_0108.jpg

Mulai bermunculannya street art di berbagai tempat di kota-kota besar membuat sejumlah seniman stencil ingin untuk mendokumentasikan karya mereka, antara lain melalui pameran. Dan bertampat di Ruang Rupa, pameran Stencil Art pun digelar 29 Maret lalu. Sejumlah karya dari kelompok stencil art yang tidak asing seperti Bujangan Urban, Sijago Merah, dan Sekte Online dapat dilihat langsung di sana. Dan tanpa menggunakan media lain, mereka langsung membuat karya mereka di segala penjuru ruang pamer RuRu, mulai dari dinding, cermin, lantai, hingga langit-langit.

 dsc_0022.jpg

Dan acara pameran juga diiringi oleh penampilan sejumlah DJ (oleh karena itu nama acaranya Stencil Art vs Performing Art). DJ yang tampil antara lain ada Indra 7, Asunk, dan Ale. //410


art events//banjir puisi di stasiun

April 17, 2007

dsc_2702_edit.jpg

Banjir kembali melanda Jakarta. Kali ini Stasiun Gambir yang kena banjir. Namun bukan banjir yang membahayakan, malah banjir yang sangat positif, karena mengajak masyarakat umum untuk mencintai puisi. Pada Sabtu pagi, 17 Maret yang lalu, Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Jakarta bekerja sama dengan komunitas puisi online Bunga Matahari menggelar acara “Banjir Puisi di Stasiun!”.

Secara bergantian anggota dari komunitas puisi yang berawal dari mailing list itu membacakan karya puisi mereka. Masyarakat umum yang datang juga tidak mau kalah untuk ikut membacakan puisi mereka, mulai dari seniman, pengamen, hingga portir. Acara dimeriahkan dengan tampilnya Otak and Chair, kuartet yang memadukan puisi dengan iringan perkusi. //410


art events//eksposisi komik DI:Y

April 17, 2007

dsc_0560_komik-eko-nugroho.jpg

Orang Jokja memang suka bahasa plesetan. Kalau di salah satu acara televisi SBY diubah singkatannya jadi Si Butet (dari) Yogya, kali ini falsafah hidup yang dikenal dengan DIY atau Do-It-Yourself diganti menjadi Daerah Istimewa Yourself, pada pameran Eksposisi Komik DIY di Taman Ismail Marzuki, 3-17 Maret lalu.

Pameran yang hanya berlangsung selama dua minggu itu menampilkan puluhan komik karya sebelas komikus asal Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Komikus yang diikut sertakan umumnya adalah yang telah lama aktif berkreasi di bidang komik dan mengenalkan karya mereka (baik kepada publik ataupun komunitas tertentu) secara do-it-yourself. //410