Perhelatan akbar video internasional kembali digelar. Untuk ketiga kalinya, festival dua tahunan OK Video kembali memanjakan kaum muda dan Indonesian new media art enthusiasts dengan menayangkan ratusan video dari seluruh penjuru dunia.
Kali ini ruang rupa sebagai penyelenggara OK Video mengangkat tema “militia” atau yang dalam bahasa Indonesianya milisi. Mengutip dari website resmi mereka, inilah penjelasan tema tersebut. Kata militia (milisi –dalam bahasa Indonesia) berarti mempersenjatai sekelompok orang untuk melakukan gerakan bersenjata demi mengubah dan merebut kekuasaan. Namun milisi juga berarti memberdayakan masyarakat sipil secara terorganisir, terencana, juga termobilisasi demi perubahan yang terinisiasi dari dalam diri.
Tim dari Ruang Rupa pun menjelajah ke dua belas kota besar Indonesia dan bekerja sama dengan komunitas seni setempat untuk mempersenjatai mereka dengan workshop. Semua gagasan yang tercipta oleh peserta dituangkan melalui video. Melalui video itulah peserta dari seluruh Indonesia mencoba untuk “menggali” kota mereka dan mempresentasikannya kepada khalayak.
Hasilnya adalah puluhan karya video yang bisa dibilang cukup segar, walaupun dengan alat ataupun skill yang terbatas. Mereka dapat menunjukkan kepada masyarakat Indonesia (atau bahkan dunia!) mengenai kota mereka dari sudut pandang masing-masing pembuat video, bukan dari media-media cetak ataupun media elektronik nasional, tempat masyarakat awam mencari informasi.
Untuk venue OK Video kali ini tersebar di beberapa tempat. Venue utama atau disebut ‘video in’ adalah galeri ‘langganan’ tempat para seniman Ruang Rupa berpameran, Galeri Nasional. Didukung dengan tempat yang cukup luas dan sangat mendukung untuk pameran new media arts, OK Video merajai sejumlah ruang pamer galeri tersebut.
Venue lainnya, atau disebut ‘video out’, ada di sejumlah tempat yang mendukung kegiatan seni, antara lain aksara bookstore (Kemang dan Plaza Indonesia), Japan Foundation, CCF Salemba, Café au Lait, toimoi, Kineforum, dan MP Bookpoint. Selain itu ada pula ‘video box’ di sejumlah tempat umum seperti GoetheHaus, stasiun Gambir, dan Bengkel Deklamasi TIM.
Pembukaan festivalnya sendiri dibuka 10 Juli lalu, dengan sejumlah penayangan video (screening) dan DJ set. Ale yang menjadi MC malam itu memperkenalkan sejumlah video yang dijadikan highlights festival itu, seperti Patriotic (Kanada), We Are Winning Don’t Forget (Perancis), O Fim Do Homem Cordial (Brazil), dan Advertisement Tour (Semarang, Indonesia).
Yang paling menarik dari video-video yang ditayangkan di layar besar upacara pembukaan kali itu adalah Patriotic. Dalam video itu sejumlah tentara bergaya homo-erotic bergantian menyanyi (atau lip sync) sebuah lagu dengan lirik nuansa semangat perjuangan dan musik dari “My Heart Will Go On” milik Celine Dion.
Setelah acara secara resmi dibuka, ratusan pengunjung yang umumnya pelaku seni dari berbagai daerah dan negara berjejalan untuk melihat video pada TV atau tembok (film diproyeksikan) di berbagai sudut galeri. Karya video yang ditampilkan umumnya dari sejumlah nama yang sudah cukup dikenal, seperti Anggun Priambodo, Henry Foundation (Jakarta), Andry Mochammad (Bandung), ataupun Eko Nugroho (Yogyakarta).
Karya video luar negeri juga tidak kalah. Antara lain ada Jean Gabriel Périot (Perancis), Azzoro Group (Polandia), Benny Nemerofsky-Ramsay dan Pascal Lievre (Kanada-Perancis), dan Marco Villani (Italia).
Ada pula sejumlah video project, seperti Flag Metamorphoses (Myriam Theses – Jerman/Swiss), Video Battle (Indonesia), dan 5,9 SR (Indonesia).
Selain karya-karya individual, ada pula gabungan karya video dari beberapa organisasi seni/pembuat video dari Video Lab (Bandung), Forum Lenteng, Urban Poor Consortium (Jakarta), Etnoreflika, Video Report (Yogyakarta), dan Engagemedia (Australia).
Dan apalah arti pembukaan pameran seni gelaran ruru (Ruang Rupa) tanpa musik. Malam itu sejumlah DJ siap menghentak malam, walaupun DJ set-nya digelar di ruangan tertutup tanpa AC dan tanpa jendela sehingga seperti sauna, hehe. Namun setidaknya sejumlah pengamat dan pecinta musik, jurnalis, dan beberapa orang teman sendiri rela berpanas-panasan untuk mendengarkan musik yang dimainkan para DJ malam itu. Summer in Berlin, Vivo Los Amigos, H.F.M.F. Records, Bondi Ned Hensel, dan Dubyouth bergantian memainkan koleksi kepingan cakram mereka.
Ya, seniman-seniman muda Indonesia sekali lagi berhasil membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka mampu mengadakan pameran new media arts yang sukses. Dan bagi yang belum berkesempatan menyaksikan OK Video 10-27 Juli lalu, harap bersabar untuk kembali menantikannya dua tahun lagi.
//review and photo by 410//
Posted by bystanders 



Posted by bystanders 
Posted by bystanders 






