autumn’s grey solace

January 19, 2008

 

bystanders-0407.jpg

Autumn’s Grey Solace adalah instrumentalist/composer Scott Ferrell dan vocalist/lyricist Erin Welton. Merupakan band yang gak cuma layak dinikmati, tapi juga layak dipuja. Musik mereka berbicara untuk diri mereka sendiri, benar-benar curahan suara hati mereka. Bakat musik Scott Ferrell dan suara jernih Erin Welton berkombinasi dan menciptakan melodi-melodi shoegazing yang diliputi  suara yang ethereal.

 Dibentuk pada tahun 2000, Autumn’s Grey Solace hingga saat ini telah mengeluarkan 4 album, Within the Depths of  a Darkened Forest (2002), Over the Ocean (2004), Riverine (2005) dan terakhir Shades of Grey (2006). Band asal Florida ini dapat dikategorikan segenre dengan Siddal, Love Spiral Downwards, and Cocteau Twins with breathy airy female voices and minor chord guitars. Musik mereka atmospheric dan hypnotic, serta lembut dan relaxing, dengan menggabungkan unsur elektrik dan akustik. Agak sulit memasukkan band ini ke dalam satu genre khusus.

 Bicara tentang anggota band, Scott sempat tergabung dalam beberapa band, namun begitu bertemu dengan Erin dia yakin bahwa tujuan musik mereka sama, dan ia menemukan kebebasan dalam bereksperimen. Dalam Autumn’s Grey Solace Scott memainkan semua alat musik, dari gitar, bass, drums, mandolin dan alat-alat musik lainnya. Scott yang semasa kecilnya tertutup mulai belajar memainkan gitar di usia 14 tahun, dan berlanjut ke alat-alat musik lainnya hanya dalam beberapa tahun.

 Sekarang giliran Erin. Erin memiliki suara yang lembut, feminin, kuat dan berkarakter. Padahal ia tidak pernah mengambil sekolah khusus untuk melatih suaranya tersebut. Selain menulis semua lirik dan merangkainya menjadi melodi-melodi yang sesuai dengan musik, ia juga mengisi semua vokal dan backing-vokal serta memainkan keyboard. Gaya bernyanyinya mengingatkan kita pada beberapa musisi New Age.

 Beberapa lagu mereka memiliki arti metafor, beberapa lainnya tidak namun tetap beautifully poetic. Salah lagu rekomendasi Bystanders adalah Sorrow of Ashes dari album pertama. Mendengarkannya serasa melayang dengan gerak lambat, gak mengada-ada, ini bener, karena temponya yang pelan dan vokal yang membius. Nuansa dark, sad, empty dan pasrah ada di lagu ini. Dengar juga The Unshakeable Demon. Dalam lagu yang agak keras ini (compared to other songs) tersiratkan kemarahan. Vokal Erin dapat menciptakan nuansa yang berbeda-beda pada tiap lagu. Seperti pada Cloudburst, her voice is just so naïve and soft, different from the one in the previous song I mentioned.

 Band yang dikontrak oleh Projekt Records sejak album kedua ini mampu membawa pendengarnya ke dunia lain. Terdengar agak berlebihan? gak kok.

 Untuk penikmat: Cocteau Twins, Dead can Dance, Love Spiral Downwards, Siddal, The Sundays, Innocence Mission.

 Bystanders mengontak band ini beberapa bulan sebelum edisi ini terbit dan mengajukan beberapa pertanyaan, yang kemudian kami kemas dalam format interview. Enjoy! //review by foe//photo by autumn’s grey solace//


WHEN THE HEADLINES HIT THE STORES

January 19, 2008

 

bystanders-041502-s.jpg

Setelah sempat hanya bisa dibeli dengan cara delivery order seperti memesan pizza, kini album Zeke and The Popo hadir di toko-toko musik kesayangan Anda.

Memang, CD “Space in the Headlines” yang ada di toko hanya CD saja, bukan premium pack yang penuh dengan merchandise zatpp lainnya. Premium pack tersebut memang hanya diproduksi sebanyak 500 keping, jadi beruntunglah Anda yang memiliki edisi eksklusif album tersebut.

Acara ‘store launch’ zatpp bertempat di QB Bookstore, pada 19 November lalu. Sejumlah wartawan mulai berdatangan sesaat sebelum acara dimulai. Lampu café mulai digelapkan dan tampak pada layar sebuah sesi wawancara dengan para personil zatpp, termasuk Amir (drums) yang kini tidak lagi di band tersebut.

Kemudian acara dimulai dengan sesi tanya jawab. Ringgo manager mereka menjadi moderator dadakan. Dan sejumlah pengunjung yang datang pun bergantian bertanya. Mulai dari artwork, kesan terhadap band Indonesia dan trend musik yang menye-menye, lagu “Mighty Love”, ataupun meminta saran mengenai substansi apa yang harus dipakai saat mendengarkan album mereka.

Zeke dan Leo bergantian menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, sedangkan Iman pendiam sekali malam itu, dan Yudi tidak dapat datang.

Acara ditutup dengan, tentu saja, penampilan mereka secara akustik. Lagu pertama “Menu”. Lalu dilanjutkan dengan “Mighty Love” dengan Leo mengisi vokal di awal lagu tersebut. Ditutup dengan single pertama mereka “Profesor Komodo”.

Walaupun setelah itu acara usai, namun bagi yang ingin melakukan wawancara eksklusif (atau wawancara colongan?) dengan ketiga personil zatpp masih tetap dilayani. Begitu pula yang ingin meminta tanda tangan.

Best of luck for zeke and the popo!

//review and photo by 410//


MAGICAL (BUT NOT MYSTERY TOUR)

January 18, 2008

Sebuah band melakukan tour mungkin bagi band- band besar itu sudah biasa, namun bagi band kelas dua seperti kami adalah impian semata. Tapi itu lah yang terjadi Dear Nancy melakukan tur panjang pertama kali bersama beberapa band hebat lainnya seperti The Kucruts, Efek Rumah Kaca, Douets Maoets (Bogor), Liebe (Bogor), Reid Voltus (Bogor), Love as Arson (Malaysia), Green Paver (Malaysia). Digagas oleh “orang-orang gila” di dunia indie Endy dan Yurie Evonica, menembus 5 Kota sekaligus Jakarta, Semarang, Solo , Jombang, dan Bali.

15 Agustus 2007
Time Out Café, Jakarta

Opening show dimulai di Time Out Café di bilangan Kuningan. Meski penonton tidak begitu ramai, respon mereka terhadap band yang tampil tetap meriah, Douets Maoets tampil awal, paduan antara disco dengan rock ‘n roll semacam The Rapture namun hanya dengan 2 orang personil, drum dan gitar.
Dear Nancy tampil sesudahnya, kali ini lagi-lagi tampil dengan additional. Tosmik dari Portia Romina didaulat menggantikan Ellise di posisi keyboard, dan Arief “Mr. George” dari DeBecause pada Gitar.

Setelah itu ada sejumlah band lain seperti Liebe, The Kucruts, Reid Voltus dan Efek Rumah Kaca. Love  Love as Arson tampil terakhir, tak dinyana ternyata mereka adalah band metal!

Show pun selesai namun ditengah gelapnya pelataran parkir gelora sumantri brojonegoro, dinginnya malam, kami masih harus menunggu green paver dan bis yang akan membawa kami nanti, akhirnya kami sepakat mencari makan sambil berkenalan dengan band lain.

Pukul 12 dinihari bus pun tiba, kemudian disusul Green Paver 1 jam kemudian. Pandangan saya mengarah langusung ke badan bis ketika ternyata berbeda dengan yang membawa kami ke Jogja beberapa waktu lalu.

16 Agustus 2007
Rooftop Retro Creative Studio, Semarang

Tiba di Semarang pukul 1 siang, menurut jadwal rombongan akan bermain di SMA 6 di pensi mereka, yang menarik adalah nama acaranya yang sekilas seperti acara hardcore lokal “Semarang Diserang”  sadis!

Namun apa daya ternyata pensi hanya dibatasi sampai pukul 12 siang.
Dengan wajah lesu rombongan kembali ke bis, yang kali ini langsung membawa ke pelataran parkir UNDIP untuk makan siang.

Ternyata anak retro creative (scene indie semarang) berniat untuk membuatkan acara. Dan 3 jam kemudian kami pun sudah tiba di venue yang sangat mempesona, di atap sebuah gedung sekilas mengingatkan saya pada penampilan terakhir The Beatles di atap Abbey Road Studio, dengan hiasan lampu tidur menambah kesan romantis.

Ada dua kejadian yang tidak bisa saya lupakan di semarang, yakni pertama kalinya saya melihat penonton moshing ketika Dear Nancy tampil, kali itu memang kami membawakan “Boys” dari album pertama The Beatles, tapi moshing? Merupakan kejadian langka! Dan yang kedua penampilan terbaik Efek Rumah Kaca karena memang didukung oleh venue, mereka bermain lepas tengah malam setelah Indonesia Raya dikumandangkan, kemudian ditambah penonton yang hanya terduduk lelah, diatap sebuah gedung dengan lampu remang-remang, kemudian memainkan “Sebelah mata ”sungguh perpaduan yang sangat tepat. Yang tidak terlupakan adalah keramahan penonton Semarang dengan guyonan khas Jawa yang benar-benar kocak, mungkin itu mengapa banyak pelawak berasal dari daerah ini, karena saya pun serasa mendengarkan srimulat.

17 Agustus 2007
Lor In Hotel, Solo

Setelah pagi menjelang kami pun tiba di Solo, langsung menuju hotel dan seluruh rombongan semuanya tidak menyia-nyiakan waktu tidur mereka.

Pukul 12 siang kami semua berkemas untuk menuju venue, di Lor In Hotel, salah satu hotel mewah di solo nama acaranya “God Save The Pop” venue kali ini lebih eksentrik, teringat pada café marimba salah satu venue Britpop di tahun 2000. Band Semarang bernama Carmen menarik perhatian saya, perpaduan musik antara Artic Monkeys bercampur Buzzcocks mungkin.

The Kucruts dan Love as Arson mendapat sambutan paling meriah, Omo Kucrut alias Heri Purnomo membawakan lawakan segar khas Jakarta, ditambah dengan aksi panggung yang selalu menggunakan confetti membuat jadi lebih meriah. Love as Arson dengan distrosi maksimum membuat suasana sedikit terbakar, gebukan Bakrie, yang juga drummer band ska Malaysia Gerhana Ska CInta  sekilas mirip dengan Mike Portnoy metahbiskan dirinya menjadi salah satu drummer terbaik, di Malaysia.

Kelar acara personil band masih berkumpul di depan venue, sekedar ngobrol, atau menggoda wanita lewat, semua sudah membaur, tidak ada lagi jarak antar personal, maklum sudah 3 hari ini kami hidup nomaden, bis dan jalan raya merupakan pandangan sehari-hari, beruntung supir bis mengeluarkan vcd koleksi pribadinya, aksi vcd penyanyi dangdut pantura semacam Hesti Geboy dan Yanti Bohay senantiasa menjadi hiburan yang cukup “menyegarkan”

18 Agustus 2007
Alun Alun, Jombang

After party dihabiskan dengan makan nasi liwet, dan pagi hari pun tiba!

Matahari mulai meninggi semua peserta study tour indie berkemas barang-barang.
Jombang here we come!

Entah sudah lupa berapa lama kami ada di bis, segala posisi tidur sudah dicoba, bahkan Tosmik additional keyboardis kami sempat terlontar dari kursinya ketika rem mendadak.
Lupakan semua itu dan akhirnya kami tiba juga di sebuah tempat yang saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki disana, Jombang.
Setelah makan siang kami melakukan cek sound, venue cukup besar, seperti pensi-pensi di Jakarta, Terlihat gambar rokok yang mensponsori acara itu terpampang jelas. Dan dugaan Omo benar, tidak jauh dari sana ada rombongan ibu-ibu menyusui anaknya yang berlarian di alun-alun lapangan kota itu, tidak lupa juga.. tukang komedi putar! Hahaha.

Penonton, menjadi pembahasan hangat di backstage, seperti apa kelakuan mereka, bahkan lepas maghrib bendera slank mulai berkibar di tengah kerumunan penonton. Venue kali ini benar-benar outdoordalam artian sebenarnya, sebuah panggung besar di tengah alun-alun kota jombang lengkap dengan pedagang kaki lima dan semacam pasar malam di sekitarnya, dan pengisi acaranya hanya rombongan kami dan 2 band dari Jombang.

Douets Maoets menjadi penampil pertama, duet gitar Poppy dan drum Erry mulai mengundang kerumunan massa untuk hadir, band yang kali ini menggunakan kaus kuning bertuliskan “maju perut”, “pantat mundur” beat-beat dance punk yang mundkin terasa asing di kuping anak muda Jombang, apalagi kabarnya permainan gitar Poppy selalu berbeda di setiap penampilan, dengan kata lain gitaris vegetarian ini selalu improve dalam setiap aksinya, hal ini yang membuat Erry (drum) kelabakan, untung nampaknya mereka sudah sehati, jadi “perkawinan” drum dan gitar mampu menghasilkan beat-beat yang ajaib.

Kelar Douets Maoets ada Reid Voltus, band yang sama-sama berasal dari kota hujan ini menampilkan noise rock sonic youth dengan imajinasi lagu yang banyak terinspirasi dari game-game jepang, macam Fatal Frame, meskipun kurang komunikatif, raungan gitar Idam dkk mampu membangkitkan antusiasme penonton untuk datang ke venue.
Green Paver juga tampil maksimal, band yang sangat mengidolakan Dewa terdiri dari Chinos (gitar), Bob, (gitar), Naim (bass), dan Ai (drum), mereka mampu memperlihatkan raungan alternatif ala Malaysia, Chinos yang juga mantan gitaris “Couple” menganggap bandnya “gila” karena para personilnya yang selalu tampil gila-gilaan di panggung.

Jombang memang luar biasa, Love As Arson lagi – lagi membuat penonton yang tadinya duduk, mampu memperlihatkan aksi-aksi liar.
Teriakan penonton meminta air semakin tak terkendali, bahkan tak jarang perkelahian terjadi karena rebutan air minum, bahkan tak jarang mereka melontarkan kata-kata ejekan ke panggung.
Efek Rumah Kaca terkena imbasnya, mungkin ini merupakan pengalaman tak terlupakan dalam sejarah pentas mereka, ketika Cholil memperkenalkan salah satu lagu mereka berjudul “Tubuhmu Membiru, Tragisnys penonton yang sudah semakin liar tiba-tiba berteriak “Judul opo itu, cuuuuk!” kata-kata khas Jawa Timur ini sempat membuat Cholil terhenyak, namun malah menambah aksi ERK semakin menggila. Hampir semua lagu up beat ERK dinyanyikan, termasuk lagu yang berjudul seperti judul skripsi “dampak negatif teknologi terhadap anak muda masa kini” (bgitu judulnya klo gak salah)

Di backstage Cholil tertawa lepas, respon ajaib dari penonton benar-benar tak disangkanya, Wemmie vokalis Dear Nancy tampak tegang, penonton semakin liar, dan Dear Nancy belum tampil, argh! Tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya, karena kami merupakan satu-satunya band indie pop di rombongan tersebut, musik yang bisa dikatakan tidak terlalu up beat untuk ukuran alun-alun kota.

Dear Nancy pun tampil sesudah band top40 Jombang, band kedua sebelum terakhir huff, tegang, panic dan campur aduk , setelah berdoa kami semua naik panggung, langsung menggeber dengan “Boys”, kemudian “Ordinary Friends” ekspektasi saya berubah keceriaan karena hampir penonton ikut bergoyang sesuai irama lagu. Baru pertama kalinya dalam sejarah band ini bermain di depan lambaian bendera Slank. Meskipun sempat terjadi keributan di tengah penonton namun semua berhasil diatasi oleh pihak keamanan, mungkin akibat panik atau mungkin teralu nervous, pada akhir penampilan Wemmie berteriak “Terimakasih Semarang!”. Oh God!! Semarang? Kita berada di Jombang bukan?, untungnya penonton yang sedang asyik sendiri kurang begitu menghiraukan pernyataan tersebut.

Liebe merupakan penampil paling baik menurut saya, mungkin karena lagu-lagu mereka yang mudah dicerna oleh penonton-penonton Jombang, dan Gitaris mereka Rizky kali ini benar-benar membuat kami takjub, nampaknya mereka sudah biasa menghadapi penonton liar seperti ini, perkelahian di bawah panggung terjadi, namun Liebe terus menggempur dengan salah satu lagu legenda Indonesia, Iwan Fals “Bento”.

Perjalanan selanjutnya adalah, Bali. Wah tidak terasa sudah hampir 4 hari lamanya kami berada di bis, hidup berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya, tidak jarang harus bermalam di perjalanan.

Perjalanan ke Bali seharusnya membawa sukacita malah menjadi melankolia, ketika Green Paver ternyata tidak bisa melanjutkan perjalanan, karena tiket pesawat yang tidak bisa diubah. Tanpa disangka ternyata kepergian mereka membawa dampak yang cukup dalam bagi teman-teman band lain, linangan air mata membasahi mereka ketika perpisahan tiba, Ai drummer Green Paver tidak menyangka bahwa perpisahan kali ini terasa berat, pertemanan yang awalnya sama sekali tidak saling mengenal sampai sangat akrab, pertemanan yang tidak dibatasi oleh ras, agama atau apapun, hanya musik.

Perjalanan ke Bali memakan waktu cukup lama, kami harus menaiki kapal Ferry yang cukup sepi, moment tersebut tidak disia-siakan oleh kami, alhasil beberapa jepretan foto berhasil diabadikan., pukul 9 pagi kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Setelah mengurus registrasi dengan petugas kepolisian, bis pun kembali melaju meyusuri jalan menuju Kuta. Tak disangka perjalanan ke Kuta hampir 4-5 Jam.

19 Agustus 2007
The Wave, Bali

Saat panas terik, matahari mulai meninggi kami tiba di kawasan kuta square Bali, sembari menunggu mobil panitia yang akan menjemput, pemandangan yang tidak jauh berbeda ketika dengan Jakarta, tiada pantai, tiada ombak, hanya pertokoan yang nyaris tutup.

Freaky Sunday begitu nama acaranya, digelar di The Wave, club yang terletak di pinggiran pantai Kuta. Setelah lelah berjalan-jalan kami kembali ke parkiran, dimana panitia sudah menunggu terlihat Ipung video kills, yang juga gitaris Sarin (Sarin dan Belladona tidak bisa ikut karena alasan teknis). Para vokalis segera diungsikan untuk sesi wawancara di radio, yang lainnya dibagi dua rombongan, pertama menuju ke hotel di kawasan poppies, Dear Nancy berada di rombongan pertama, bersama Liebe, dan Love as Arson. Rombongan berikutnya yakni The Kucruts, Douets Maoets, dan Efek Rumah Kaca menuju ke hotel yang berbeda, Reid Voltus menginap di kost-an salah satu panitia.

Pukul 8 malam acara pun dimulai, tidak begitu banyak penonton yang datang, hanya ada beberapa bule yang duduk sambil memesan beer, saya berada di luar venue ngobrol dengan Syekh gitaris Love as Arson, terdengar sayup sayup “Every You and Every Me” Placebo, dibawakan oleh Gregory the Strangers, band asal Bali, setelah itu giliran Microbot yang tampil, mencover “Disco2000″ nya Pulp, semacam elektronik shoegaze menurut saya, bahkan lagu mereka sendiri (saya lupa judulnya) seperti Pure Saturday dengan balutan elektronik tentunya, kelar Microbot ada De”Buntu, band perpaduan rock ‘n roll rockabilly (Bali memang surganya rockabilly) dengan beat-beat semacam Sex Pistols dan The Stooges.

De”Buntu berhasil memanaskan suasana, kali ini giliran Reid Voltus, dan Douets Maoets yang menghentak panggung, Dear Nancy sendiri tampil cukup baik, meskipun ada beberapa masalah teknis, “Me and You” merupakan lagu yang cukup dikenal ternyata di Bali, hampir setiap sore hari lagu ini berkumandang di Circle k sepanjang Kuta, tapi yang menjadi headliners kali ini ialah Efek Rumah Kaca dan The Kucruts, ketika ERK main, hampir semua rombongan tour bernyanyi bersama, hal ini terjadi beberapa bulan sebelum album mereka dirilis, hebat! Suara falsest mas Cholil yang luar biasa, karena selama beberapa hari kami di jalan, bahkan kadang tidak cukup istirahat, namun dia mampu menjaga kualitas vokal nya tetap prima, salut!.

Kami serasa dicuci otak oleh lagu lagu macam “Di Udara” dan “Sebelah Mata”. Kemudian The Kucruts on stage. Omo dkk benar benar hiburan, hampir segala tingkah polahnya mengundang tawa, padahal begitu paniknya dia saat keyboard casio nya tidak mau menyala, namun penonton seakan tak perduli, mreka tetap tertawa seolah itu merupakan skenario band. Meskipun akhirnya beberapa orang naik dan membantu memperbaiki, The Kucruts rencananya akan merilis album bertajuk “kindergarten” sesuai dengan wajah personilnya yang masih “belia”, beberapa lagu baru dibawakan, bahkan penonton terus merekuest lagu, “Dengkulku masa depanku”, “Batman”, “Bukan Mereka”, dan “Cinta Waria” menjadi anthem saat itu, di lagu terakhir seluruh penonton naik ke panggung, ikut memecahkan confetti kecil yang dibawa Omo.

Aksi foto-foto yang aduhai terelakkan, kemudian kami semua berkumpul di depan Mcd Kuta untuk makan malam ditambah satu krat bir sudah ada di depan mata. Edan!

20 Agustus 2007
Kuta, Bali

Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, tapi kegaduhan sudah dimulai, kedatangan Yurie dan Endy ke hotel kami cukup mengagetkan, kami diharuskan berkemas, karena akan berpindah hotel.

Siang hari sampai sore hari dihabiskan untuk berbelanja, setelah kemudian kembali lagi ke penginapan kami yang baru, sebuah cottage berukuran cukup besar terdiri dari 3 kamar, kami menyewa 2 cottage, ditempat itu kami menghabiskan waktu sampai menjelang selepas maghrib, mulai dari ngobrol-ngobrol santay, curhat, sampai adegan simulasi wawancara yang menggelikan dengan the kucruts, Malam tiba seluruh rombongan kembali menyusuri pantai kuta yang gelap, yang terlihat kurang lebih sama dengan pantai ancol. Ngobrol-ngobrol santai pun dilanjutkan. Tapi kali ini lebih serius, karena ada Mas Cholil dan Moses, manager Liebe, maklum faktor usia membuat candaan Omo dkk kurang mengena.. hehe (*peace).

Sayang penjual “jamur bahagia” udah tutup, jadi suasana malam itu menjadi kurang psychedelic, waktu menunjukkan pukul 2 dinihari, dan lagi-lagi kami harus kembali ke cottage untuk beristirahat dan mempersiapkan kepulangan besok.

Ini merupakan sebuah perjalanan panjang yang menembus batasan musikalitas, batasan usia, batasan pertemanan, dan batasan negara sekalipun.

sama-sama susah,
sama-sama tertawa
satu lagi kami menjalin sebuah ikatan persahabatan sangat indah
yang mungkin tak ternilai harganya.

 bystanders-0424.jpg

//review by mynameisuta//
10 – 11 November 2007
tapi aku tak pernah mati, tak akan berhenti..”Di udara” – Efek Rumah Kaca


article//thedyingsirens//living the dave grohl dream

April 17, 2007

dsc_2923_edit.jpg

Tidak semua orang dapat menjalani mimpi untuk hidup seperti musisi inspirasional mereka. Uga mungkin adalah salah satu orang yang beruntung. Frontman dari band thedyingsirens ini kini kurang lebih mulai menjalani mimpinya menjadi musisi favoritnya, Dave Grohl. Drummer bernama lengkap Pugar Restu Julian ini memang sudah lama malang melintang di beberapa band indie lokal seperti Vessel, Pop Up, Planet Bumi, dan C’mon Lennon. Ia juga sering mendapat tawaran untuk menjadi additional drummer di sejumlah band lainnya. Hingga akhirnya tibalah saat dimana Uga pernah menyatakan sebagai ”the lowest point of his life” di tahun 2002 yang akhirnya menginspirasinya untuk membuat sebuah proyek rekaman bernama thedyingsirens.

Bila Dave Grohl ditinggal mati Kurt Cobain malah sukses bersama band barunya Foo Fighters, Uga juga kini mencoba sukses [jadi kayakjudul albumnya the Changcutters hehe...] dengan thedyingsirens. Dan mungkin sedikit mirip dengan Foo Fighters, band ini juga telah beberapa kali mengalami pergantian personil.  Awalnya the dying sirens adalah proyek tiga orang, yaitu Uga, Bin, dan Ebbe. Namun kemudian Bin lebih berkonsentrasi di The Upstairs dan Ebbe juga sibuk dengan Lull, sehingga tinggallah Uga seorang diri yang tetap bersemangat membuat lagu-lagu the dying sirens, dengan PC dan beberapa alat musik pinjaman.

Bantuan datang ketika beberapa teman menawarkan diri untuk membantu proyek tersebut. Dan yang paling setia menemani Uga dalam proyek ini adalah Hersubkhan Erdien atau Aan dari band D’zeek yang mengisi posisi drum. Kemudian ada Novan yang mengisi posisi keyboards dan backing vocal, Hana pada bass, dan Zulner Muhammad Nourradine (Nourie) di gitar elektrik. Formasi ini kemudian berubah dengan digantikannya Novan dengan Arafino Zaini (Fino, Ballads of The Cliche) di keyboards dan backing vocal serta masuknya Tania Ranidhianti yang menggantikan Hana pada bass. Setelah dua kali tampil dalam formasi ini, Tania memutuskan untuk mengundurkan diri dari the dying sirens dan digantikan oleh Fransiska Nadya (Siska) dari Silent Sun. Namun setelah itu Tania sempat menjadi additional keyboardist apabila Fino berhalangan.

Yang unik dari band ini adalah, semua personilnya juga aktif di band mereka masing-masing. Nourie di The Sweaters, Aan di D’Zeek, dan Siska di Silent Sun. Sedangkan Uga juga masih aktif menjadi additional drummer bagi band-band yang membutuhkan [hehehe...]. Namun saat diwawancara beberapa waktu lalu, para personil thedyingsirens merasa tidak merasa terbebani dengan bergabungnya mereka di band tersebut. Bahkan menurut Aan, ia dapat menjadi lebih mengembangkan keahliannya sebagai drummer, karena perbedaan genre musik antara yang dibawakan thedyingsirens dengan D’zeek. Aan juga menambahkan, dengan masuknya ia ke thedyingsirens bahkan memberi keuntungan juga bagi bandnya, karena dapat membuka jaringan yang lebih luas di dunia musik indie lokal.

Bulan Februari lalu, Fino mengundurkan diri dari thedyingsirens. Dan sejak itulah thedyingsirens mencoba untuk lebih bermain akustik dan mengurangi porsi noise-elektronik seperti yang ada di album perdana mereka, ”Sketches of a Humming”. Memang berbeda sekali bila mendengar live performance mereka dibandingkan dengan mendengar rekaman albumnya, namun mereka berempat masih bisa saling mengisi kekosongan noise keyboard walaupun memang jadi terdengar lebih galau.

Kini thedyingsirens bertahan dengan formasi berempat, yang kalau diperhatikan, memang tidak seperti formasi Foo Fighters, tapi lebih mirip seperti Smashing Pumpkins. Jadi sebetulnya Uga telah menjalani mimpinya menjadi dua orang musisi inspirasionalnya, yaitu Dave Grohl dan Billy Corgan. Lucky you!//410


INTRODUCING… OTAK AND CHAIR

April 16, 2007

1558265990_m.jpg

Perpaduan musik elektronik seorang DJ dengan rock yang penuh sabetan gitar? Itu sih biasa… Atau perpaduan metal sama orkestra? Haha… itu sih Metallica di album S&M atau band prog-rock lagi bereksplorasi dengan lagu berdurasi puluhan menit. Tapi kalau yang ini, baru perpaduan yang kreatif dan menarik, bahkan cenderung menggelitik.

Adalah Uga (thedyingsirens) dan Acha yang keduanya bergabung di komunitas puisi bunga matahari yang mendapatkan ide untuk membacakan puisi-puisi mereka dengan cara yang tidak biasa. Dengan mengajak Aan (drummer D’Zeek dan thedyingsirens) serta Ichsan (bassist D’Zeek), mereka membentuk kuartet yang memadukan pembacaan puisi dan permainan perkusi bernama Otak and Chair.

Keempat orang ini pertama kali tampil pada sebuah acara bernama Kebun Kata, acara pembacaan puisi yang digagas oleh Bunga Matahari di West Pacific. Setelah sempat lama tidak tampil di depan umum, Otak and Chair kembali tampil membuka peluncuran album Planet Bumi di Plaza Semanggi awal Maret lalu. Mereka membawakan empat komposisi mereka, termasuk salah satu yang dijagokan yaitu “Teman Baikku Mati Bunuh Diri”.

Otak and Chair kembali mengisi acara Bunga Matahari, yaitu saat “Banjir Puisi di Stasiun!”, kerja sama antara komunitas puisi online tersebut dengan Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Jakarta. Mereka membawakan dua komposisi untuk pembukaan dan dua lagi untuk penutupan acara. Selain membacakan puisi, mereka juga sempat berkolaborasi dengan salah satu pendiri Komunitas Bunga Matahari, Anya. Pada kesempatan itu Anya membacakan puisi karya Subagio Sastrowardoyo berjudul “Manusia Pertama di Luar Angkasa”, diiringi oleh perkusi oleh Acha, Aan, dan Ichsan. Sedangkan Uga, bergantian dengan Anya yang membaca puisi, menyanyikan lagu David Bowie yang berjudul “Space Oddity”.

 

//410