Gloomy Sunday

January 19, 2008

Sepertinya awan mendung menyelimuti suasana We Are Pop! #2 yang digelar di pelataran Hey Folks! awal September lalu. Untungnya, seperti kiasan jadul “mendung tak berarti hujan”, masih berlaku. Karena panitia acara itu ternyata tidak menggunakan jasa esensial untuk acara outdoor – pawang hujan. Ya, meskipun angin sesekali berhembus, acara tersebut masih selamat dari hujan.


Acara dimulai sekitar pukul 16.00, dan dibuka oleh band Jakarta yang sedang naik daun, Whisper Desire. Beberapa penonton kabarnya sengaja datang lebih awal untuk bisa menyaksikan band yang satu ini. Kemudian ada Carnaby, band yang cukup baru namun wajah-wajah familiar terlihat di sana, seperti Hans C’mon Lennon dan Aan D’zeek.

 

bystanders-041601.jpg

Band ketiga yang tampil pada sore itu adalah Sweaters, yang kali itu tampil tanpa diperkuat drummer mereka Jodhie, dan digantikan oleh Aan dari D’zeek. Dibuka dengan intro, Sweaters kemudian membawakan sejumlah lagu baru mereka seperti “25 Dazzling Stars” dan “Shine”. Kedua lagu tersebut dapat didengarkan di promo colongan mereka apabila Anda membeli kaos Sweaters yang baru. Sweaters juga membawakan lagu ‘klasik’ mereka dari EP Ordinary Girl, “Lovelies”, dan lagu Pure Saturday “Desire” yang diremake dengan sentuhan khas Sweaters. Cukup membuat bulu kuduk merinding dan memberi kesan ‘butterflies-in-your-stomach kind of thing’.

Usai penampilan dari Sweaters, acara dihentikan sejenak untuk break Maghrib, dan penonton bisa beristirahat dan mengobrol ria entah apakah sekedar untuk eksis atau memang sekedar melepas rindu karena bertemu sejumlah teman-teman lama. Beberapa wajah familiar di scene Bandung juga terlihat di sana, untuk menyaksikan teman-teman mereka, rombongan Maritime records, yang akan tampil malam itu. Tapi ternyata, rombongan Maritime itu malah sempat terhambat di jalan, karena tuas gas mobil Joz (manager Astrolab) patah dan mereka baru bisa sampai di Jakarta pada sekitar pukul delapan.

 

bystanders-041602.jpg

Kembali ke acara, Marche La Void menjadi penampil berikutnya pasca break Maghrib. Band ini membawakan sejumlah lagu post-rock mereka yang menyayat hati. Saat mendengarkannya, lebih baik Anda menyingkirkan segala bentuk benda tajam di dekat Anda, atau hidup Anda mungkin akan segera berakhir, terhipnotis oleh musik mereka untuk segera memotong urat nadi Anda.

 

bystanders-041603.jpg

Setelah itu ada band asal Menteng Dalam, D’zeek. Mereka membawakan lima lagu, termasuk tiga lagu dari EP terbaru mereka “The Oslo Report”, yaitu “Willow”, “You”, dan “Bellamaid”. Ya, setelah berendam dalam suasana depresi saat mendengarkan Marche La Void, D’zeek sepertinya mencoba mengembalikan Anda ke dunia nyata yang sebenarnya not-oh-so-bad. Vokal Joe Danu yang soft dipadu dengan musik ‘semi’ akustik, rasanya pas sekali untuk menemani malam yang menyenangkan. D’zeek memang telah keluar dari stereotype Radiohead yang sempat disandang mereka, dan untunglah – karena mereka terdengar lebih baik sekarang!

 

bystanders-041604.jpg

Kemudian ada Ballads of the Cliché yang menyamar sebagai band cover version Belle and Sebastian, dengan nama alter-ego the so-called Ballads and Sebastian. Kali ini kembali mereka tampil bertujuh, minus pemain saxophone mereka Zennis. Sebelum mulai, Bobby membagi-bagikan kertas berisi lirik lagu Belle and Sebastian yang akan mereka bawakan ke audiens yang datang malam itu. “Biar bisa pada ikutan nyanyi,” katanya. Atau bisa juga untuk membantu vokalis BOTC itu kalau-kalau ia lupa liriknya? hehe. Tapi cara itu bisa dibilang sangat efektif. Karena pada pecinta indie-pop yang datang malam itu jadi bisa berkaraoke ria. Yang paling antusias mungkin Merdi dan Acum yang kebetulan ada di barisan depan. Dengan penuh semangat vokalis dan basis Sweaters itu ikut menyanyikan lagu-lagu seperti “If You’re Feeling Sinister” dan “If She Wants Me”. BOTC juga sempat membawakan “Is It Wicked Not To Care” dengan Nina pada vokal.

 

bystanders-041701.jpg

Setelah itu, band asal Bandung jellybelly tampil. Ya, akhirnya mereka sampai juga dengan selamat di Jakarta. Tidak lagi diperkuat oleh inai di vokal, Devita cukup baik dalam menggantikan inai membawakan lagu-lagu suram jellybelly. Jadi teringat dulu Devita sempat berduet dengan Aji saat The Milo tampil di TRL, untuk membawakan “Romantic Purple”. Tanpa Inai, kini hanya Budi seoranglah yang tersisa dari personil awal mereka. Jellybelly membawakan sejumlah lagu baru mereka yang sudah cukup sering mereka bawakan dalam penampilan mereka sejak tahun lalu. Dibuka dengan “Remidial Memory”, lalu “Weak”, “The Universe is U”, dan ditutup dengan “Quite Isola”. Membawa sound engineer yang handal, menjadikan sound-sound yang dibawakan memukau telinga audiens yang datang.

 

bystanders-041702.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan Astrolab. Sejumlah teman setuju bahwa Astrolab adalah the next big thing. Sayang EP mereka belum dirilis juga. Padahal sudah banyak yang menunggu. Enam lagu mereka bawakan dengan apik, termasuk single pertama mereka “Lara Jiwa”, dimana mereka dibantu oleh Reza, vokalis Abadkatrowave.

 

bystanders-041703.jpg

Dan acara gloomy Sunday itu ditutup dengan penampilan dari Everybody Loves Irene. Aulia menyendiri di sudut kiri panggung dengan mejanya, lengkap dengan laptop Mac-nya, synth, pesawat telefon vintage, dan lampu berkap merah itu. Tapi yang jadi perhatian malam itu malah Yudi, gitaris yang kacamatanya senantiasa melorot itu. Entah kenapa, Yudi jadi bahan cela teman-temannya malam itu, hehe. ELI membawakan lima lagu, tiga dari album mereka The Very First Thing You Must Learn About Flying is Gravity yaitu “Uncertainty, Anxiety”, “You’re My Tragedy”, dan “Hybrid Moments”. Mereka juga membawakan cover dari lagu band lawas planetbumi berjudul “Rindu”. Lagu ini pertama kali mereka bawakan saat peluncuran album planetbumi Working Class Zero di Pasar Festival akhir Maret lalu. Kali itu ELI juga memperkenalkan lagu baru mereka yang berjudul “Blood in A Rush”.

Akhirnya usai sudah acara malam itu, dan audiens yang datang pun pulang, membawa awan mendung mereka masing-masing ke rumah. //review and photo by 410//


I PREFER TO GO SWINGING

January 19, 2008

 

bystanders-041704.jpg

Sebuah kejutan yang menyenangkan saat Mocca tampil di Hey, Folks! pertengahan bulan lalu. Sebuah konser kecil selepas hujan, menciptakan reuni kecil tak terduga, saat semua penikmat indie berbondong-bondong datang.

Pada kesempatan itu Mocca juga meluncurkan fans clubnya yang dinamai “Swinging Friends”, yang sebelumnya sudah diluncurkan di Bandung, saat mereka menggelar Secret Show di Studio Aru pada akhir bulan Agustus.

Semuanya ikut menyanyikan lagu-lagu yang mereka bawakan kali itu. Bagai sebuah nostalgia ke tiga atau empat tahun ke belakang.

Belasan lagu mereka bawakan secara apik, dibuka dengan “You and Me Against The World”, lalu ada “I Think I’m in Love” dan “My Only One” dari album Friends. Ada juga sejumlah lagu lawas seperti “…And Rain Will Fall” (pas sekali dengan suasana selepas hujan!), “Secret Admirer” dari album My Diary, juga ada lagu-lagu baru dari album terbaru mereka, Colours, termasuk lagu “Hyperballad” yang mereka gubah menjadi lagu yang sendu. //review by 410//


asian connection [acoustic with channel v]

January 19, 2008

Everybody Loves Irene memang handal dalam mempromosikan band-nya melalui dunia maya. Jadi tidaklah mengherankan ketika terdengar kabar ada stasiun televisi musik Asia Channel V datang ke Jakarta untuk meliput band trip-hop itu.

Menurut wawancara colongan dengan Aulia, ELI merupakan band Indonesia pertama yang mempunyai account amp-nya channel V. Mereka juga sempat diwawancara beberapa kali oleh Channel V, yang terakhir saat mereka tampil di Singapura beberapa bulan lalu. Hingga akhirnya Channel V menghubungi ELI untuk meliput mereka di Jakarta.

Sayangnya di musim tak tentu hujan tak tentu panas ini mereka tidak menyediakan pawang hujan, hehe. Dan penampilan mereka di Hey Folks! yang tadinya direncanakan untuk diadakan di pelataran toko di daerah Mayestik itu menemui masalah. Untungnya Hey Folks! baru saja selesai direnovasi, dan memiliki ruangan yang cukup untuk menampung para penampil sore itu.

 

bystanders-041801.jpg

Acara yang harusnya dimulai sekitar pukul empat itu akhirnya baru bisa mulai pukul setengah enam. Dibuka dengan penampilan thedyingsirens yang dibantu dengan personil tambahan Acha dari otakandchair. Jadi namanya thedyingandchair? hehe. Karena memang sekilas seperti otakandchair ditambah Nourie di gitar. Empat lagu mereka bawakan, dua lagu baru yang kabarnya akan dimasukkan ke album mereka berikutnya “The Rain Song” dan “The Falls of The Idiot”, kemudian ada juga “Be With You”, dan ditutup dengan lagu (atau puisi) Otak and Chair “Teman Baikku Mati Bunuh Diri”. Puisi tersebut sebenarnya sudah pernah dibawakan dengan formasi tiga orang di Viky Sianipar bulan April lalu.

 

bystanders-041802.jpg

Lalu ada band tuan rumah, Ballads of the Cliché. Hanya diperkuat lima orang, minus Nina di piano dan Zennis di saxophone. BOTC tampil manis malam itu, karena mereka memang memiliki lagu-lagu yang cocok sekali untuk dibawakan secara akustik. Seperti “Old Friend” misalnya, dengan additional vokal oleh Dimas, sesuai sekali dengan suasana santai sore hari itu. Lalu ada pula “Coffeeshop”, yang suara clarinet Arina (Mocca) digantikan dengan suara pianika, dimainkan oleh Finno. Dan ada pula “Hot Chocolate”, yang memang sebuah lagu akustik, dibawakan oleh Wawan. Serta “Feel Free to Feel Lost” dalam versi akustik seperti yang ada di dalam EP berjudul sama.

 

bystanders-041803.jpg

Sebagai penutup, tentu saja ada Everybody Loves Irene. Dan karena konsepnya akustik mereka dibantu oleh teman baik mereka yang juga bergabung dalam manajemen ELI, Adit Thinkthing di gitar akustik. Tapi karena djembe properti otakandchair ternyata sudah dibawa pergi oleh sang pemiliknya (Uga), akhirnya Mul hanya duduk di sudut saat rekan satu bandnya tampil. Mul sempat mengiringi satu lagu terakhir saat Aan membawakan maracas kecilnya yang mirip telur itu.

Everybody Loves Irene membawakan lima lagu, tiga di antaranya dari album mereka, “Memento Mori”, “You’re My Tragedy”, dan “Hybrid Moments”. Kemudian mereka membawakan dua lagu baru mereka berjudul “Love is So Strange” dan “Blood in A Rush”. Sayangnya karena ini adalah akustik, nuansa ELI yang sebenarnya malah tidak terasa. Apalagi atmospheric sounds yang biasanya keluar dari Mac-nya Aul jadi tidak terdengar. Yang ada hanya dentingan2 piano dan sounds strings yang cukup standar. Dan Aul juga sempat beberapa kali terpeleset ketukan keyboardnya.

Acara selesai pukul delapan, namun penonton mulai berkurang satu demi satu sejak thedyingsirens usai tampil. Beberapa ada yang menonton Tiger Baby di Senayan. Ada juga yang ke Colours Café untuk menyaksikan launching album dari Molenvliet. Yah, maklum, lagi musim gigs. Mungkin karena sudah menjelang akhir tahun juga.

Oiya, entah kenapa, Float batal tampil sore itu. Padahal ada beberapa orang yang sudah rela berhujan-hujan ria untuk menonton Float. Tapi secara keseluruhan, apart from the heavy rains of course, acara tersebut berjalan dengan cukup lancar. Channel V pun tampaknya mendapatkan atmosfer musik indie Indonesia yang mereka inginkan. //review and photo by 410//


to us you are a work of art

January 19, 2008

Another tribute. Dan kali ini, the great MOZ yang jadi obyeknya.

Ya, Steven Patrick Morrissey. Si “Irish Blood, English Heart” yang telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia, baik dari musik, lirik, ataupun pandangan hidupnya. Jadi tidaklah heran kalau di Indonesia Morrissey dipuja-puja, hingga dibuatkan acara tribute khusus. Sayangnya acara ini sempat tertunda beberapa kali, karena sepertinya dulu acara ini dijadwalkan pada bulan Agustus, tapi akhirnya baru bisa terlaksana pada 4 November lalu.

Venue acaranya juga termasuk baru, di lantai dua Everlasting Resto di daerah Bulungan, Jakarta Selatan. Venue yang setengah outdoor itu tentu saja, jadi tidak kondusif saat hujan.

Untungnya sore itu hanya hujan rintik-rintik dan hanya berlangsung sebentar. Jadi band yang tampil juga tidak perlu cemas dengan alat mereka, hehe.

 

bystanders-041901.jpg
bystanders-041902.jpg

Acara mulai pada pukul lima, dibuka dengan penampilan Mobil Minie, kemudian Tribute to Delight, yang membawakan sejumlah lagu yang sudah cukup familiar seperti “The More You Ignore Me, The Closer I Get”, “The Last of The Famous International Playboys”, “Everyday is Like Sunday”, dan “Hold On To Your Friends”.

 

bystanders-041903.jpg

Hujan pun turun saat Waria Sok Aksi tampil selepas break Maghrib. Tapi band tersebut tetap tampil dengan semangatnya. Gilang sang vokalis yang merangkap sebagai MC malam itu bergoyang-goyang ria membawakan “I Don’t Mind if You Forget Me” dengan beat yang cukup infectious dan “The Last of The Famous International Playboys”.

 

bystanders-041904.jpg

Band luar kota pertama yang tampil adalah Klab Karaoke dari Bandung. Dan mereka menjadi band ketiga malam itu yang membawakan “The Last of The Famous International Playboys”. Entah kenapa lagu itu menjadi sangat populer malam itu, apakah band yang tampil merasa dirinya adalah playboy terkenal yang terakhir? Ya mungkin saja, haha. Selain itu Klab Karaoke juga membawakan “We Hate it When Our Friends Become Successful” dan lagu mereka sendiri yang berjudul “Jakarta”.

 

bystanders-041905.jpg

Setelah itu ada Telegraph. Boleh dibilang band ini seperti sudah memiliki karakter mereka sendiri, membawakan sejumlah lagu seperti “Maladjusted”, “Boxer”, dan “Hairdresser’s on Fire”.

bystanders-042001.jpg

Performance mengesankan pertama datang dari band Jogja yang bernama Oh, Nina! Saat menyaksikan performance mereka di acara New Pollution #2 bulan Juli lalu, Bystanders memang sudah terkesan dengan band elektronik yang satu ini. Dengan Krishna di synth, Uma (additional) di mixer dkk-nya, serta ada Auf di vokal, mereka benar-benar impressive! Dan seperti sewaktu penampilan mereka di Jogja, Auf memainkan senjata rahasia Oh, Nina! yaitu sebuah alat pembuat suara-suara aneh so-called kaoss pad. Dibuka dengan intro, mereka langsung ‘menghajar’ massa dengan sejumlah lagu populer Morrissey seperti Alma Matters, First of The Gang to Die, dan You’re The One For Me Fatty. Moz-lovers yang datang malam itu tampak beberapa wajah-wajah familiar langsung berdansa riang menyanyikan lagu-lagu Morrissey. Rusuh, walaupun sedikit. Lantai venue yang mulai bergetar-getar karena sepertinya konstruksinya kurang mantap untungnya masih bisa menyokong hentakan Mozers yang bermoshing-ria. Dan seperti biasa, sejumlah penonton di depan berebutan mic untuk ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan band Jogja itu.

 

 

bystanders-042002.jpg

Setelah itu ada Black Star, yang membawakan lagu-lagu legenda dataran utara Inggris itu dengan nuansa yang kelam. Sejumlah lagu yang tidak terlalu familiar dibawakan oleh mereka, termasuk dua lagu dari album terakhir Moz Ringleader of the Tormentors, seperti “I Just Want To See The Boy Happy” dan “Life is A Pig Sty”. Gig-goers yang datang pun bersantai sejenak karena sebagian besar dari mereka memang belum familiar dengan lagu-lagu tersebut. Yah, memang serba salah juga kalau ada acara tribute-tribute-an seperti ini. Membawakan lagu hits-nya, ada kemungkinan sudah dibawakan oleh band lain. Sedangkan saat membawakan lagu yang kurang populer, malah sepi penonton.

 

bystanders-042003.jpg

The Porno yang tampil berikutnya akhirnya menaikkan kembali semangat Mozers malam itu. Band yang biasa membawakan lagu-lagu post punk khas Joy Division itu dengan cerdasnya memilih lagu-lagu Morrissey yang sesuai dengan karakter musik mereka. “You’re Gonna Need Someone on Your Side”, “Pregnant for The Last Time” dan “The Loop” dibawakan dengan sangat baik oleh The Porno.

 

bystanders-042004.jpg

Lalu performance mengesankan kedua datang dari band Lipgloss. Band ini memang sudah lama malang melintang di kancah musik indie Indonesia (mungkin Jakarta lebih tepatnya) sehingga tidaklah mengherankan kalau penampilan mereka sangat rapi dan boleh dibilang baik sekali. Vokal Agus yang sekilas mirip dengan vokalnya Alex Band dari The Calling dengan sangat baik membawakan range vocal Morrissey malam itu. Baru saja membuka penampilan mereka dengan ”You’re The One For Me, Fatty”, massa sudah langsung rusuh. Tampak beberapa wajah-wajah familiar melemparkan diri mereka ke tengah massa yang mulai berkeringat dan terbakar semangat.

Memasuki lagu kedua, “We Hate It When Our Friends Become Successful”, massapun mulai menggila. Untunglah panitia dari MUFC (Morrissey United Fans Club) dengan sigap dan inisiatif tinggi membentuk pagar betis. Sehingga Lipgloss pun aman dan tidak tertimpa orang-orang yang moshing dengan asiknya. Total enam lagu dari Moz dibawakan oleh Lipgloss, termasuk ”Ouija Board, Ouija Board” dari Vauxhall and I dan ”Suedehead”.

 

bystanders-042005.jpg

Berikutnya ada.. The Grasmeres! Dari nama bandnya saja, sudah tersirat bahwa band ini memang fans berat Morrissey dan The Smiths. Potongan rambut Ian, vokalisnya, juga sangat distinguish, menyerupai jambul Morrissey. Dan jangan lupa jogedannya! Mereka memang menghayati sekali menjadi Morrissey, dan mereka berhasil membangkitkan kejayaan Morrissey di awal dekade 90an. Sejumlah lagu bersejarah pun mereka bawakan seperti ”Jack The Ripper”, ”Spring-heeled Jim”, dan ”Alma Matter”. Dan tentu saja, massa kembali bersemangat, tanpa rasa lelah mereka ikut menyanyikan lagu-lagu Moz, berdiri hanya beberapa sentimeter saja dari sang vokalis.

 

bystanders-042006.jpg

Band selanjutnya ada The Deans, yang tampaknya juga sudah cukup senior dalam membawakan lagu-lagu Smiths/Moz. Suara bass yang kental dan dibawakan secara apik mengalahkan sound system venue yang cukup jelek dan sempat naik turun.

Lagu yang dibawakan antara lain ”Mute Witness” dan ”You’re Gonna Need Someone On Your Side”.

 

bystanders-042007.jpg

And, last but of course not the least, ada planetbumi. Nyomi dkk dengan baiknya membawakan lagu-lagu seperti ”The Boy Racer”, ”First of The Gang to Die”, dan ”The Operation”. Serta satu selipan lagu dari The Smiths ”Shoplifters of The World Unite”. Planetbumi berhasil menutup malam Morrissey kali itu dengan baik sekali, memuaskan dahaga nostalgia para pecinta Morrissey.

Akhirnya selesai juga malam panjang itu. Walaupun soundnya jelek, acaranya di tempat terbuka dan sempat hujan, serta MC yang garing kriuk kriuk, acara tersebut memang sungguh sayang bila sampai terlewatkan. Dan bagi orang-orang yang banyak mendapat influence dari Moz, rasanya akan sangat berdosa bila tidak datang ke acara tributenya. //review by 410, with a thanks to ian grasmeres// photo by 410, except mobil minie by mahdesi//


make noise not bombs

January 18, 2008

Untuk membuat satu gig yang menyenangkan, sebetulnya tidak memerlukan tata suara spektakuler puluhan ribu watt ataupun tata lampu warna-warni yang menyilaukan mata. Yang diperlukan hanya niat, band yang mau berpartisipasi, dan komunitas yang mendukung acara Anda. Ya, setidaknya itulah yang dibuat oleh Food Not Bombs Bandung saat menggelar acara kecil-kecilan nan asik akhir Oktober lalu.


Hanya bertempat di sebuah studio kecil di bilangan Lengkong, Bandung, boleh dibilang gig mereka cukup berhasil. Penontonpun hanya dimintai sumbangan sukarela sebesar tiga ribu rupiah. Acara yang kecil memang terasa lebih akrab, karena biasanya yang datang adalah teman-teman para pengisi acara.

Bystanders tiba di venue di tengah hujan rintik-rintik yang mulai membasahi kota Bandung. Sejumlah penonton dan pengisi acara pun masih sempat mengisi perut dengan nasi goreng di rumah makan yang lokasinya tepat di bawah Jawara studio, tempat acara tersebut berlangsung.

 

bystanders-042101.jpg

Saat sampai di sana, A Stone A sedang bersiap-siap untuk tampil. Band yang personilnya para seniman visual itu mengisi sekitar hampir satu jam berikutnya dengan lagu-lagu mereka, campuran noise dan experimental sounds, dentuman-dentuman rock, lirik yang sarat kritik sosial, dan juga raungan Akbar sang vokalis. Pada beberapa lagu mereka Akbar dan Amenk sempat “tukar guling”, Amenk memainkan gitar dan mengisi vokal. Lalu ada pula satu lagu mereka dimana Andry Moch menggunakan semacam HT atau megaphone dan menggesekkannya dengan senar-senar gitarnya.

 

bystanders-042102.jpg

Berikutnya ada Aneka Digital Safari. Awalnya Bystanders mengira mereka baru check sound atau apa, saat mereka menjejerkan sejumlah efek gitar di lantai studio. Lalu mereka mengeluarkan suara-suara aneh dan ternyata, mereka sebetulnya sudah mulai membawakan komposisi mereka! Suatu bentuk karya yang sangat kreatif, karena di balik sounds yang rasanya tak beraturan dan bising, ada sebuah komposisi yang sangat harmonis.

 

bystanders-042103.jpg

Kemudian ada Pink Pony Club, yang boleh dibilang band yang paling tidak eksperimental malam itu. Seperti mendengarkan band-band indie/rock Bandung pada umumnya, apalagi kalau Anda baru saja mendengarkan Aneka Digital Safari hehe. Wajah yang sangat familiar, Hangga dari Inspirational Joni ternyata ada di band tersebut memainkan synthesizer korg-nya.

 

bystanders-042104.jpg

Dan sebagai penutup acara, band yang paling ditunggu-tunggu malam itu, Sungsang Lebam Telak. Band ini cukup langka gigsnya, karena mereka memang sengaja memilih apresiator yang tepat untuk musik mereka. Dibuka dengan pembacaan manifesto mereka, Dani (drums), Gembi (bass), dan Ageng (keyboard), membawakan lagu-lagu mereka dengan cara yang sama seperti mereka merekam EP mereka – secara live dan spontan. Mereka memang tidak membuat suatu komposisi lagu yang tertata rapi dengan kunci-kunci khusus, tapi mereka punya satu hal esensial dalam suatu band, yaitu kekompakan. Karena musik mereka yang free-jazz/free-improvisation itu memungkinkan para personilnya untuk membawakan lagu-lagu mereka semau hati, maka untuk menandakan kapan lagu harus pindah ke bagian berikut atau harus berhenti, sesekali Gembi memberikan tanda bagi Dani di drums. Bahkan bisa dibilang, penampilan live SL*T ternyata lebih rapi dibanding versi EP-nya!

Ya, benar-benar gig kecil yang menyenangkan. Ditambah dengan sejumlah botol minuman beralkohol dalam kadar ringan sebagai teman penghangat tubuh di dinginnya malam, rasanya semuanya menyatu malam itu. Tidak ada lagi istilah artis dan penonton. Semuanya bersaudara. //review and photo by 410//


invading jogja!

December 23, 2007

Pada 14 Juli lalu, Yogyakarta mendapat serbuan dari Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, delapan band dari Jakarta datang dengan menggunakan bus pariwisata untuk manggung secara cuma-cuma di sana.

Uniknya, sebagian besar band dari Jakarta itu personilnya adalah orang-orang yang sama. Yang paling banyak tampil adalah “duo tak terpisahkan” Aan dan Ichsan dari D’Zeek. Mereka berdua main dalam tiga band, yaitu D’Zeek, thedyingsirens, dan Sugarspin. Bahkan mereka nyaris bermain empat kali, yang satunya untuk bangkutaman, apabila pada malam itu Aan minum obat kuat penambah stamina. Memang setelah perjalanan yang melelahkan (dan mendebarkan dalam arti sebenarnya), dua insan D’zeek itu bisa collaps apabila memaksakan untuk naik panggung empat kali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan ke Jogja sendiri bisa menjadi cerita yang menarik untuk diceritakan ke anak-cucu mereka nanti. Terutama karena ketidaklihaian supirnya yang membuat semua penumpangnya berpikir akan menyebabkan kepunahan bagi komunitas indie Jakarta. Waktu juga menjadi musuh mereka, karena Jokja yang harusnya dapat dicapai dalam waktu paling lama sepuluh jam, kali itu memerlukan waktu hingga 12 jam. Alhasil antimo menjadi obat mujarab yang wajib diminum bagi orang-orang yang memerlukan energi di keesokan harinya. Terbukti bahwa orang-orang yang tertidur lelap karena minum antimo terlihat lebih segar dan bertenaga pada hari kedua.

Acaranya sendiri yang harusnya dimulai sekitar pukul enam terpaksa ngaret dua jam karena keterlambatan kedatangan para musisi Jakarta dan membuat sound check menjadi molor hingga pukul setengah tujuh. Sebagian besar band kloter kedua akhirnya lebih memilih untuk menonton Indonesia vs Arab Saudi terlebih dahulu di penginapan.

 

sweaters.jpg

Dua band Yogyakarta yang membuka acara yaitu The Quay dan Dolphins sayangnya terlewatkan dari pantauan Bystanders. Sweaters yang baru saja sampai di venue akhirnya menjadi band Jakarta pertama yang merasakan panggung Java Café. Mereka membawakan tiga lagu baru mereka, “25 Dazzling Stars”, “Shine”, dan versi baru dari “Ordinary Girl”, yang terdengar lebih ‘ceria’ dibanding versi sebelumnya. Mereka juga membawakan lagu Pure Saturday, “Desire”, dengan aransemen khas Sweaters tentunya.

dsc_3036-dzeek.jpg

D’Zeek tampil selanjutnya, dan pasangan Aan-Ichsan bermain pertama kalinya malam itu bersama band mereka. D’zeek membawakan lima lagu malam itu, termasuk tiga lagu dari EP terbaru mereka “The Oslo Report”, seperti “Willow”, “You”, dan “Bellamaid”.

 

dsc_3112-ruangmaya.jpg

Kemudian ada band tuan rumah, Ruangmaya. Band yang musiknya terdengar seperti dream pop-shoe gaze-electronic itu membawakan dua lagu mereka yang cukup ‘suram’, “Revenge Orchestra” dan “Friends of the Night”. Mereka juga membawakan lagu The Cure “Trust”, yang dibawakan dengan aransemen mereka. Bahkan menurut bystanders versi ruangmaya sedikit lebih baik dibanding versinya Homogenic.

Setelah itu ada Sugarspin, band proyekan kolaborasi personil Clover (Tania, Zara, Nanda), D’zeek (Aan, Ichsan), ditambah Acum dari bangkutaman. Masih mengusung nuansa indie-pop, mereka membawakan lagu-lagu mereka seperti “The Girl with The Tears in Her Eyes”, “Sarinah”, dan “1993”.

 

dsc_3193-oh-nina.jpg

Lalu ada Oh Nina!, band Jogja dengan elektronik sebagai basis musik mereka. Hanya dengan tiga orang serta alat-alat analog sederhana (plus laptop), mereka dengan suksesnya membawakan lagu-lagu mereka. Kalau sempat ada selentingan bahwa band ini seperti Goodnight Electric, sepertinya hal tersebut salah! Karena materi yang dibawakan band ini lebih baik, dan mereka sepertinya menjadi bukti bahwa musik elektronik di Jogja mulai menggeliat seperti halnya di Jakarta dan Bandung.

 

dsc_3228-dear-nancy.jpg

Band folk-pop asal Jakarta/Bekasi Dear Nancy tampil berikutnya, dengan seragam kemeja garis-garis andalan mereka. Kali ini mereka masih dibantu oleh additional guitarist, Hans. Ya, Hans, benar-benar menjadi additional sejati malam itu! hehe.. Dear Nancy tentu saja membawakan lagu-lagu ceria khas mereka, seperti “Me and You”, “Beautiful Sunday”, dan “Brother and Sister”. Mereka juga sempat membawakan salah satu lagu dari pahlawan musik mereka, The Beatles, “If I Fell”.

 

dsc_3317-monophones.jpg

The Monophones yang tampil selanjutnya menjadi bintang malam itu. Boleh dibilang, penampilan Monophones adalah yang terbaik. Semua orang terbius oleh alunan musik mereka dan vocal yang luar biasa dari Alexandria. Tidak lupa mereka membawakan lagu Naif yang ada di album Mesin Waktu, “Nanar”.

 

dsc_3377-tds.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan thedyingsirens. Uga sempat memberi compliments kepada band sebelumnya, Monophones. Kali itu thedyingsirens tampil dengan formasi panggung terbarunya, “thedyingsirens and the couples company”, hehe.. Uga sebagai frontman ditemani oleh Nourie di gitar lalu dibantu oleh pasangan Aan (drums) dan Ichsan (bass) serta Hans (gitar) dan Tania (keyboards). Mereka membawakan lima lagu, dan hanya satu lagu saja yang diambil dari album mereka ‘Sketches of A Humming”, yaitu “Want To Say” yang dijadikan pembuka penampilan mereka. Lalu ada lagu “The Falls of The Idiot” dan “The Rain Song” yang sudah sering dibawakan pada penampilan mereka sepanjang tahun 2007 ini, serta ada dua lagu lagi yang baru kedua kalinya mereka bawakan di depan umum, yaitu “Our Times Our Feeling” dan “Lovely Eyes”.

 

dsc_3436-dojihatori.jpg

Kemudian ada band Yogyakarta, Dojihatori. Kali itu mereka membawa tamu asing, yaitu Domy, seorang gitaris band post-rock Octowallace asal Jerman. Mereka membawakan tiga lagu malam itu, termasuk “Mr. Edward Robinson”, yang dijadikan single untuk album baru mereka, yang akan diluncurkan bulan September mendatang.

 

dsc_3497_edit-eli.jpg

Everybody Loves Irene tampil dengan nuansa gelap, untuk menyesuaikan lagu-lagu kelam mereka. Tata lampu panggung dimatikan semua, dan mereka hanya ditemani satu lampu meja kecil berkap merah untuk menambah temaram suasana (yah, walaupun membuat dongkol sejumlah fotografer di depan panggung, karena fotonya jadi ga cihuy hehe –red). Band trip-hop asal Jakarta itu membuka penampilan mereka dengan membawakan lagu yang dijadikan single kedua mereka, “You’re My Tragedy”. Lalu dilanjutkan dengan single pertama mereka, “Memento Mori”. Sebelum mereka membawakan lagu ini, Dimas (bass) menyempatkan diri untuk berbicara. “Saya mau ngasih salam buat Saad, pemain nomor 11 dari Arab Saudi. Semoga dia ketabrak bis,” katanya. Hahaha… Sepertinya Dimas masih dendam sama Saad, yang mencetak gol ke gawang Indonesia pada perpanjangan waktu. Setelah membawakan “Hybrid Moments”-nya Misfits, penampilan ELI ditutup dengan lagu “Hate Sunday”. “Kalau Dear Nancy tadi punya lagu Beautiful Sunday, kita memiliki pandangan sebaliknya. Ya, we hate Sunday”, kata Aul (synth).

 

dsc_3574_edit-ballads.jpg

Ballads of the Cliché menjadi band Jakarta terakhir yang tampil malam itu, sekaligus menjadi penutup acara, karena bangkutaman tidak jadi tampil. Walaupun waktu sudah menunjukkan pukul dua malam, personil BOTC masih bersemangat untuk tampil malam itu, terutama Wawan. Ya, gitaris BOTC itu sepertinya menghayati lagu-lagu ceria BOTC yang dibawakan malam itu, seperti “Friend’s Guide”, “Feel Free to Feel Lost”, dan “Heidi”. Ballads juga membawakan lagu “Distant Star”, sebuah lagu akustik dengan Nina di vocal utama, diiringi gitar akustik oleh Dimas.

Dan akhirnya, berakhir juga malam panjang itu. Enam belas band telah mengisi malam itu, ditambah adanya beberapa DJ yang juga ikut mengisi acara di DJ booth. Sayangnya bangkutaman ‘perjuangan’ (karena personil aslinya tinggal Acum seorang) tidak jadi tampil, padahal scenster Jogja sudah menanti-nanti band Jakarta yang dilahirkan di Jogja itu.

Dapatkah band-band yang tampil New Pollution #2 sama suksesnya dengan mereka yang tampil di New Pollution #1? Apakah acara New Pollution sendiri mendapatkan eksistensinya kembali? Kita tunggu saja. //review and photo by 410//


happy friday

December 23, 2007

Bystanders mendapat kesempatan untuk memuat review sebuah gigs bertitel Happy Friday. Uta salah satu personil Dear Nancy menuangkan pandangan pribadinya dari dekat untuk kita semua. Simak reviewnya berikut ini.

 

dsc_1765-happy-friday.jpg

Happy Friday, Happy Friday, Friday I’m happy…” Suara duo MC ‘Cilik’ Azis dan Gilang ‘Waria Sok Aksi’ membahana di Bali Garden Café, sebuah kafe outdoor bersuasana Bali di Bekasi. Ya, Tanggal 29 Juni lalu memang pertama kalinya sekumpulan anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas Bekasi Indiepop Scene (BIS) yang dimotori Remon, bassist Dear Nancy, mengadakan sebuah acara di kota Bekasi. Kota yang seringkali membuat orang “bergidik” ketika mendengar namanya. Acara ini sendiri diharapkan bisa menjadi ajang kumpul-kumpul antar band tanpa membedakan jarak, dan semoga bisa menjadi acara rutin di kota itu.

Waktu menunjukkan hampir pukul delapan malam, molor 1 jam dari jadwal acara, saya baru tiba di venue, setelah menempuh perjalanan yang menantang maut di mobil yang dikendarai oleh Madava, bassist band psychedelic Pestol Aer, yang sebenarnya ukuran tingginya kurang memenuhi syarat untuk menjadi supir, memang jadwal cekson tadi sore yang sempat molor membuat kami harus pulang, berganti pakaian dan langsung kembali ke venue, ditambah supir yang ugal-ugalan, dan jalanan macet, akhirnya kami harus memburu waktu, sungguh melelahkan.

Dear Nancy didaulat untuk tampil pertama, wow! belum hilang peluh tapi sudah harus tampil. Setelah menyapa beberapa personil D’zeek yang sudah datang kami pun naik pentas, 5 lagu akhirnya dibawakan termasuk lagu baru berjudul “Ordinary Friends”. Lagi-lagi Dear Nancy menggunakan additional gitar, kali ini yang bertugas ialah Arif dari band De’Because, dengan gitar Rickenbacker miliknya menambah nuansa Beatles dalam musik kami.

Band pertama biasanya dijadikan tumbal dalam setiap acara, mulai dari sound yang belum padu, penonton yang masih sedikit, tapi untungnya Boni, soundman handal dari Bekasi mampu mengatasi semuanya dengan baik.

Kemudian Duo Mc absurd, kembali naik pentas, setelah mengeluarkan lawakan-lawakan tradisional, The Experience naik panggung, dimotori kakak beradik Daud (Drum) dan Abram (Gitar) band ini sebenarnya sudah berdiri sejak lama, namun karena kesibukan personilnya mereka belum merilis album, salah satu peserta Indiefest tahun ini, dengan musik rock’n roll semacam Jimi Hendrix berpadu dengan gebukan drum ala John Bonham dari LedZeppelin, bisa dibilang The Experience tampil all out malam itu, mereka benar-benar menghentak venue, saya sempat terkesima pada lagu “Rock ’n Roll style”, Daud berhasil ‘memperkosa’ drumnya dengan sadis.

Setelah sempat keluar untuk mngumpulkan energi kembali ke venue, kali ini giliran band legenda Planet Bumi yang tampil. Mereka tampil handal malam itu, mengingat usia personilnya yang sudah matang. Membawakan beberapa lagu dari album terbaru seperti “Jumpa Lagi” dan “Jimmy Pemenang” dan satu lagu The Smiths (one of my favourite!) There’s a light that never goes out!, tanpa disuruh, penonton ikutan bernyanyi…terutama Mumu manager auto band yang berdandan sangat ‘indies’ malam itu..

D’zeek tampil sesudahnya, dengan personil lengkap mereka mencoba mendinginkan venue, kekaguman saya dengan band ini dimulai sejak awal acara, terlihat mereka sudah ada di venue, bahkan sebelum saya datang, padahal venue kali ini merupakan salah satu tempat yang susah dicari, bahkan peta pun tidak banyak membantu, tapi Aan dan Iksan duet maut dari band ini sudah terlihat sejak awal acara, hebat! Band yang sudah lama malang melintang di dunia musik per-indie an ini membawakan lagu dari album terbaru yang dirilis oleh Paviliun Records, suara Joe Danu sang vokalis terlihat lebih matang. Perpaduan drum dan bass antara Aan dan Pie juga cukup enak dinikmati, mungkin karena alat yang begitu minim, membuat sound gitar Ichsan kurang terdengar. But, overall they’re good!

Ditengah hingar bingar musik D’zeek saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Endy dan personil Planet Bumi lainnya di belakang panggung, mereka terlihat puas dan memberikan tanggapan positif terhadap acara ini, para personilnya terlihat letih, “Maklum baru pada pulang kerja..” kata Nyoman frontman sekaligus salah satu ikon “indies” Indonesia di era 99-2000’..

Selesai berbincang dan mengantar mereka ke tempat parkir saya kembali mengintip panggung, ternyata gelap! Lampu panggung dimatikan, namun musik tetap meraung keras, “Friday yang tampil..” ujar Tosmik alias pop_flux dari band Portia Romina. Wow! jauh-jauh datang dari Surabaya hanya untuk main di Bekasi, salut untuk Friday, terlihat Yanu dan Rengga dari The Porno menonton di barisan depan. Ditengah kegelapan, para personil menjadi semakin menggila di panggung, distorsi tiada henti mengingatkan kita pada band noise rock Sonic Youth dengan alunan vokal yang mirip-mirip Thom Yorke (Radiohead), tapi lagi-lagi minimnya alat membuat sound mereka kurang begitu dashyat, tidak sedashyat performance mereka di Blitz malam sebelumnya.

Ketika Friday tampil, telpon saya terus berdering, Erik dari Ballads of the Cliché menanyakan alamat lengkap venue, karena mereka sudah hampir satu jam terjebak di Bekasi, wah! Akhirnya satu persatu personil band balada ini muncul, dengan sedikit keluh kesah karena pertama kalinya band ini main di Bekasi. hehe maaf fren. Dimas bassist band ini yang datang langsung dari Bandung malah lebih dulu tiba.

Setelah acara agak sedikit ternoda dengan adanya keributan (aneh, berkelahi di acara indiepop?) acara dilanjutkan, Band balada yang sedang naik daun Ballads of the Cliché tampil. Meski tanpa didukung personil lengkap (Fino, keyboardis band ini kebetulan berhalangan) Ballads tampil memukau, mama saya terlihat antusias ketika “Love Parade” di bawakan. Dengan sound yang apa adanya itu tidak mengurangi energi pop ballads, hanya ada satu lagu dimana Wawan (Rhtyhm) menyanyikan lagu sambil bermain gitar, suara vokalnya sangat kecil, sehingga kurang terdengar…

Setelah Ballads duo MC autis masih cuap-cuap menandakan acara berakhir, tapi masih ada satu performance lagi dari band Bekasi yang sudah lebih dulu eksis di dunia Indiepop Gunting Kuku, dengan influence musik semacam James, Lightning Seed, band ini tampil dengan personil lengkap, membawakan beberapa lagu, termasuk dua lagu dari The Charlatans yang mereka bawakan ketika acara Manchester get mad.

Mendengar musik Gunting Kuku sekilas seperti terbawa suasana ketika musik Britpop berjaya di tahun 98-99 era-era GM 2000 atau Gueni,

Acara pun berakhir, setelah berbincang-bincang dengan teman-teman, dan Andri dari Paviliun Records, saya, Remon, Arif dan Ivan pop mengantarkan manager Dear Nancy, Minda pulang ke rumah yang sampai saat ini menjadi misteri.

Sebelum tertidur, ingatan saya menerawang kembali pada acara tadi, sebuah acara yang penuh dengan nuansa keakraban, persahabatan, tanpa di halangi jarak yang cukup jauh.. //review by mynameisuta//photo by 410//


THE FUTURE BELONGS TO US!

December 11, 2007

Blitz Megaplex Jumat malam pada 13 Juli 2007 terlihat lebih ramai, tidak seperti weekend biasanya. Keramaian tersebut terbagi menjadi dua kerumunan, antara mereka yang memang datang untuk menikmati hiburan film, dan mereka yang datang untuk ikut serta dalam kemeriahan sebuah party yang bertajuk Iycey Awards Party.


Diadakan oleh British Council, Iycey (International Young Creative Enterpreneurs of the Year) Awards merupakan bentuk penghargaan terhadap insan kreatif di scene desain, film, musik dan fesyen. Acara yang mengusung tema The Future Belongs to Creative Enterpreneurs! ini dimulai sekitar jam 7.30 dan diawali dengan beberapa speech.
Hadir malam itu orang-orang yang terlibat dalam acara serta rekan-rekan dari para nominees, dan kaum penikmat musik indie dimana Bystanders diantaranya. Sineas-sineas kondang pun hadir, Mira Lesmana salah satunya.


Malam itu diundang tiga band indie local asal Bandung; Mocca, Polyester Embassy dan Rock n Roll Mafia untuk memeriahkan acara. Kelihatannya memang ketiga band tersebut yang sengaja dipilih oleh panitia penyelenggara karena ketiganya berasal dari Fast Forward Record, pemenang IYCEY Award kategori musik edisi sebelumnya.

Bystanders tiba di lokasi sekitar jam 8. Selama beberapa menit memperhatikan orang-orang yang sedang lalu lalang dan mengantri di loket tiket, serta melihat-lihat display film di layar. Sampai kemudian seperti melihat sosok Elang Polyester Embassy, beserta Tomo sang bassist. Berbincang-bincang sejenak, kemudian kami masuk ke venue yang terletak di pojok ruangan. Bystanders sedikit kecewa begitu mendapat info dari sang frontman Polyester Embassy bahwa masing-masing band akan membawakan hanya tiba buah lagu.

 

mocca08.jpg

Mocca hadir pertama. Penikmat musik indie tanpa basa-basi menuju ke depan stage. Mocca membawakan 3 buah lagu dari album Colors. Secara berurut Object of My Affection, Hyper-Ballad dan terakhir The Best Thing in The World . Membawa serta seorang additional trumpet player, band ini tampil sederhana namun tetap memukau. Dengan kostum kebangsaan, which is dress, Arina terlihat paling semangat dibanding personil yang lain.

 

polem11.jpg

 
Hadir kedua, setelah kira-kira setengah jam pembacaan nominees dan pemberian award kepada para pemenang, adalah Polyester Embassy. Dijadwalkan main jam 8, kenyataannya band ini baru naik stage sekitar jam 9. Lagu pertama yaitu Ruins, track ke-tujuh dari albu
m perdana mereka. Disusul kemudian dengan Good Feeling yang disambut oleh tepuk tangan kecil dari sudut kanan dan kiri penonton. Terlihatlah wajah-wajah penghuni milis Polyester Embassy yang membentuk kelompok-kelompok kecil sing along bersama sang band pujaan. Terakhir dimainkanlah Polypanic Room, yang kalau Bystanders perhatikan pasti selalu dibawakan saat mereka tampil di depan crowd Jakarta.


Sekilas info, di tengah break Farhan dan Okki Prambors selaku MC sempat memperbincangkan dan mengomentari kaum indie yang hadir dengan atribut indie mereka. Menurut MC Farhan, style fesyen kaum indie (mungkin maksudnya cutting-edge, red) identik dengan segala sesuatu yang berbau kotak-kotak.


Rock n Roll Mafia mendapat kesempatan main di penghujung acara, selepas semua awards dibacakan dan dianugrahkan.
Performance mereka dibuka dengan lagu Questions.

Nyanya, the lady vocalist baru naik stage pada lagu kedua, Translove. Mengenakan dress longgar berwarna goldish light brown dan rambut dikuncir ke belakang she looked so chic. Kehadiran Nyanya menambah fokus audiens terhadap performance mereka. Zsa zsa zsu dijadikan lagu pamungkas. Namun sayang, pada saat Zsa zsa zsu dimainkan sebagian besar tamu sudah meninggalkan venue.


Pemenang pada Iycey Awards 2007 diantaranya yaitu Gustaff Iskandar untuk kategori desain dan Wahyu Aditya untuk kategori film.
Selamat kepada para pemenang semoga menjadi dorongan kita semua untuk terus berkarya. Pojokan Blitz Megaplex malam itu terasa dipenuhi atmosfer jiwa muda. Jiwa muda yang kreatif. //review by foe//photo by foe and yearry//


tahiti 80

December 11, 2007

Oktober 2001, terdengar lagu catchy, upbeat dan menawan sedang diputar DJ malam itu pada acara tahunan sebuah klab indie di bandung. Yeah! lagu tersebut berjudul heartbeat dari sebuah band bernama Tahiti 80. Barangkali sejak saat itu tak sedikit sudah yang jatuh cinta dengan band asal prancis ini dan rilisan-rilisannya hingga kini.

dsc_3910-t80.jpg

Ketika terdengar rumor yang ternyata menjadi fakta beberapa bulan lalu bahwa mereka akan tampil live di Jakarta, para penggemar Tahiti 80 tentu merasa bahwa ini adalah acara yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Sebuah kesempatan besar agar bisa menonton mereka secara live, from of their own eyes! Dan akhirnya pada tanggal 21 juli 2007 di Nikko Hotel Jakarta impian itu pun tergapai! Sebuah momen tak ternilai melihat penampilan mereka secara langsung. Juga akhirnya bisa sing along bersama-sama dengan penggemar Tahiti 80 lainnya dari segala penjuru Indonesia.


Tampil sebagai salah satu band pembuka yaitu holy city rollers.
Penampilan dilanjutkan dengan salah satu band lokal yang sudah tak asing lagi namanya, Sore. Malam itu mereka tampil lengkap dengan beberapa additional player untuk memainkan saxophone dan terompet yang membuat penampilan mereka malam itu lebih istimewa dari biasanya. Dibuka dengan salah satu lagu baru mereka, lalu dilanjutkan dengan “Mata Berdebu”, “Lihat”, dan lagu dari soundtrack Berbagi Suami, “Pergi Tanpa Pesan”. Sebenarnya mereka tampil cukup baik, tetapi ada beberapa kali gangguan noise dari feedback gitar Ade Paloh jadi mengurangi kesempurnaan penampilan mereka malam itu. Kurang lebih mereka memainkan enam buah lagu termasuk “Etalase” yang dinyanyikan oleh bembi sang drummer yang handal.


Band pembuka selanjutnya adalah band indiepop cukup legendaris, yaitu Pure Saturday. Mereka tampil dengan bantuan dua eks vokalis mereka yang disebut Suryo alias suar dan iyo. Dibuka dengan tembang dari album perdana mereka yaitu silence penonton yang kebanyakan sudah mengenal lagu-lagu mereka kontan saja langsung berjingkrak dan bernyanyi bersama-sama dengan permainan band lawas dan telah banyak menginspirasi band-band indiepop saat ini. Semua tembang inti dari ketiga album mereka semuanya dibawakan termasuk anthem wajib mereka, yaitu “Kosong” dan “Desire”. PS membawakan delapan buah lagu malam itu yang ditutup dengan lagu terbaru mereka yang bertitel “Spoken” dengan kombinasi vokal dari suryo.


Akhirnya band yang ditunggu-tunggu dan si empunya acara tampil satu persatu ke atas panggung. Dimulai dengan masuknya sang gitaris Mederic Gontier, lalu Xavier sang frontman, drummer mereka Sylvain Marchand yang malam itu didaulat menjadi soundman dan stage manager mereka tidak bermain, digantikan dengan seorang additional, lalu terakhir masuklah basis mereka yang menggemaskan Pedro Resende.


Dibuka dengan lagu dari album Puzzle, “Yellow Butterfly” Tahiti 80 sukses membuat para penonton langsung berjingkrak sambil ikut bernyanyi bersama mereka.
Sang frontman pun sesekali mengucapkan “selamat malam” atau “terima kasih” kepada penonton. Semua hits dari album puzzle sampai album terbaru mereka fosbury mereka bawakan, seperti “Made First”, “Better Days Will Come”, “1000 Times”, bahkan “China Town” yang hanya ada pada album fosbury rilisan US. Para penonton yang datang kebanyakan familiar hanya pada lagu-lagu dari Fosbury, tetapi pada album Wallpaper For the Soul, dan mini album Pieces of Sunshine penonton tampak kurang familiar.


Oya! Malam itu pada saat lagu “Changes” Pedro memakai semacam topeng panda maskot mereka yang mereka beri nama Fosbury, dan memang rumornya Pedro sangat menyukai panda dan ia pun pada bagian akhir lagu tersebut ikut memainkan perkusi bersama-sama sang drummer menyajikan tontonan yang cukup atraktif.


Setelah “Changes” mereka pun turun panggung sejenak untuk istirahat dan penonton pun mulai berteriak-teriak “we want more!” dan “heartbeat please!” selang beberapa menit mereka kembali lagi dengan memainkan lagu slow yang romantis berjudul “Something About You Girl”, editor bystanders tampaknya punya cerita tersendiri tentang lagu ini. Lalu dilanjutkan dengan “Wallpaper for the Soul”. Tampaknya encore ini diperuntukkan untuk cooling down sejenak karena sejak awal sudah digeber dengan lagu-lagu mereka yang upbeat dan danceable.


Setelah aftermath, mereka pun melakukan encore lagi! Kali ini cukup lama mereka berada dibawah panggung. Dan akhirnya mereka pun mengabulkan penonton yang sejak awal sampai akhir memang mengharapkan mereka membawakan anthem wajib mereka yaitu heartbeat. Langsung saja penonton histeris dan berjingkrak ikut menyanyikan can u feel my heartbeat can u feel my heartbeat when i’m closed to u? show malam itu berlangsung cukup baik dan tertib hanya saja terdengar kabar bahwa teman-teman media yang berada persis di depan panggung merasa terganggu oleh ulah para oknum panitia yang kurang profesional dan tidak sopan.
Tapi overall para penggemar band indiepop Perancis tersebut merasa sangat puas dengan penampilan mereka yang hampir tanpa cela sedikitpun! Di belakang panggung beberapa penggemar setia berkesempatan berfoto ria bersama Xavier. Sungguh menyenangkan! Selepas konser, sesampainya di rumah album Tahiti 80 tentu bisa jadi pilihan utama pengantar tidur bagi mereka yang hadir malam itu. //review by arvidson//photo by 410//


CATCH THE NEW WAVE

June 14, 2007

A little nice surprise in mid-year, Indonesia kedatangan sebuah band yang dengan suksesnya mencampur adukkan new wave dan bossanova.

dsc_3863.jpg

Soundshine bekerja sama dengan Dunhill, serta CCF Jakarta dan Hotel Grand Kemang kali ini mendatangkan Nouvelle Vague. Acara ini juga merupakan rangkaian dari “Printemps des Francais” yang digelar CCF, sehingga tidak heran bila tiba-tiba saja band yang cukup baru ini datang ke Jakarta menjelang pertengahan tahun.

Konsep venue yang dibangun kali itu tidak jauh berbeda dengan Soundshine Maret lalu, tapi terlihat lebih eksklusif. Bar dan lounge menawarkan suasana santai bagi layaknya kaum kelas atas, dan memang yang datang pada malam itu kebanyakan berasal dari kalangan itu. Namun sebagian besar crowd yang biasanya datang ke acara indie malah tidak terlihat. Mungkin karena harga tiketnya yang cukup mahal untuk ukuran band baru, ataupun karena pemberitaan mengenai kedatangan Nouvelle Vague yang cukup mendadak. Jadi bila dilihat crowd secara keseluruhan, memang mereka mendapatkan target market untuk sejumlah produk sponsor, namun target untuk musiknya sendiri malah tidak tercapai. Hal tersebut dapat jelas terlihat saat konser berlangsung, dimana sebagian besar crowd malah asik ngobrol sendiri dan menikmati suasana poolside, bukan menikmati musiknya.

Setelah dibuka dengan DJ set selama sekitar satu jam, Nouvelle Vague mulai memasuki panggung pada pukul 21.15. Mereka datang dengan formasi dua mastermind Marc Collin dan Olivier Libaux, dua vokalis mereka Melanie Pain dan Phoebe Killdeer (yang mengisi vocal pada album kedua mereka), serta sejumlah additional musicians di bagian drums dan bass.

Penampilan mereka diawali dengan lagu “Killing Moon” milik Echo and The Bunnymen, yang juga membuka album kedua mereka “Bande A Part”. Vokal Melanie Pain, diiringi nuansa akustik waltz, sepertinya sesuai sekali dengan suasana malam itu yang cenderung santai dan sedikit mendung. Namun suasana langsung memanas saat lagu kedua, “Dancing With Myself” dibawakan. Dengan gaya yang atraktif, Melanie dan Phoebe langsung menarik perhatian penonton. Sejumlah lagu yang sudah tidak asing di tahun 1980-an dibawakan kembali dengan ciri khas mereka, seperti “Blue Monday” milik New Order, “Heart of Glass” dari Blondie, dan “Teenage Kicks” nya The Undertones.

Bagi yang belum pernah atau sedikit asing dengan musik punk/new wave di awal tahun 1980-an, mereka sangat menikmati penampilan Nouvelle Vague yang terasa seperti berada di sebuah klub jazz/bossanova, dengan permainan musik yang sangat ekspresif dan nyaris tanpa cela. Sedangkan bagi para penggemar new wave/punk/synth pop era akhir 70-an hingga awal 80-an, Nouvelle Vague adalah music project yang sangat inovatif dan brilyan, karena mereka diajak untuk mendengarkan kembali lagu-lagu nostalgia itu dengan sentuhan baru.

Yang paling seru mungkin saat mereka membawakan “Too Drunk To Fuck”. Dengan semangatnya Melanie dan Phoebe membawakan lagu milik Dead Kennedys itu, dan mengajak penonton untuk ikut berteriak di bagian chorus. Phoebe juga sempat berguling-guling di atas panggung saking menjiwai lagu tersebut.

“Love Will Tear Us Apart” milik Joy Division dibawakan sebagai lagu terakhir sebelum encore. Crowd pun kembali ikut bernyanyi bersama pada akhir lagu tersebut, dan Melanie Pain sepertinya dapat membangkitkan kembali kharisma Ian Curtis saat membawakan lagu tahun 1981 itu. Setelah encore, mereka membawakan dua lagu lagi. Satu lagu yang cukup santai, “In A Manner of Speaking” milik Tuxedomoon, dan “Just Can’t Get Enough” dari Depeche Mode. Untuk lagu “Just Can’t Get Enough” aransemennya dibikin berbeda dengan yang ada di album self-titled mereka, dengan lebih banyak sentuhan jazz dan dengan tempo yang jauh lebih pelan. Sepertinya sengaja diaransemen ulang untuk dijadikan penutup konser mereka malam itu.

Personil Nouvelle Vague menutup konser mereka dengan menceburkan diri ke kolam renang menjadi pemisah antara stage dan penonton, dan acara malam itu kembali dilanjutkan dengan DJ set dan after party. Sebagian besar penonton terlihat sedikit kecewa karena durasi konser yang cukup singkat. Membawakan total 18 lagu, konser hanya berlangsung sekitar satu jam setengah. Namun yang jelas, mereka tidak kecewa akan penampilan band asal Perancis itu. Nouvelle Vague berhasil mencuri perhatian masyarakat musik Indonesia – they’re the new wave!//review and photo by 410