Sepertinya awan mendung menyelimuti suasana We Are Pop! #2 yang digelar di pelataran Hey Folks! awal September lalu. Untungnya, seperti kiasan jadul “mendung tak berarti hujan”, masih berlaku. Karena panitia acara itu ternyata tidak menggunakan jasa esensial untuk acara outdoor – pawang hujan. Ya, meskipun angin sesekali berhembus, acara tersebut masih selamat dari hujan.
Acara dimulai sekitar pukul 16.00, dan dibuka oleh band Jakarta yang sedang naik daun, Whisper Desire. Beberapa penonton kabarnya sengaja datang lebih awal untuk bisa menyaksikan band yang satu ini. Kemudian ada Carnaby, band yang cukup baru namun wajah-wajah familiar terlihat di sana, seperti Hans C’mon Lennon dan Aan D’zeek.

Band ketiga yang tampil pada sore itu adalah Sweaters, yang kali itu tampil tanpa diperkuat drummer mereka Jodhie, dan digantikan oleh Aan dari D’zeek. Dibuka dengan intro, Sweaters kemudian membawakan sejumlah lagu baru mereka seperti “25 Dazzling Stars” dan “Shine”. Kedua lagu tersebut dapat didengarkan di promo colongan mereka apabila Anda membeli kaos Sweaters yang baru. Sweaters juga membawakan lagu ‘klasik’ mereka dari EP Ordinary Girl, “Lovelies”, dan lagu Pure Saturday “Desire” yang diremake dengan sentuhan khas Sweaters. Cukup membuat bulu kuduk merinding dan memberi kesan ‘butterflies-in-your-stomach kind of thing’.
Usai penampilan dari Sweaters, acara dihentikan sejenak untuk break Maghrib, dan penonton bisa beristirahat dan mengobrol ria entah apakah sekedar untuk eksis atau memang sekedar melepas rindu karena bertemu sejumlah teman-teman lama. Beberapa wajah familiar di scene Bandung juga terlihat di sana, untuk menyaksikan teman-teman mereka, rombongan Maritime records, yang akan tampil malam itu. Tapi ternyata, rombongan Maritime itu malah sempat terhambat di jalan, karena tuas gas mobil Joz (manager Astrolab) patah dan mereka baru bisa sampai di Jakarta pada sekitar pukul delapan.

Kembali ke acara, Marche La Void menjadi penampil berikutnya pasca break Maghrib. Band ini membawakan sejumlah lagu post-rock mereka yang menyayat hati. Saat mendengarkannya, lebih baik Anda menyingkirkan segala bentuk benda tajam di dekat Anda, atau hidup Anda mungkin akan segera berakhir, terhipnotis oleh musik mereka untuk segera memotong urat nadi Anda.

Setelah itu ada band asal Menteng Dalam, D’zeek. Mereka membawakan lima lagu, termasuk tiga lagu dari EP terbaru mereka “The Oslo Report”, yaitu “Willow”, “You”, dan “Bellamaid”. Ya, setelah berendam dalam suasana depresi saat mendengarkan Marche La Void, D’zeek sepertinya mencoba mengembalikan Anda ke dunia nyata yang sebenarnya not-oh-so-bad. Vokal Joe Danu yang soft dipadu dengan musik ‘semi’ akustik, rasanya pas sekali untuk menemani malam yang menyenangkan. D’zeek memang telah keluar dari stereotype Radiohead yang sempat disandang mereka, dan untunglah – karena mereka terdengar lebih baik sekarang!

Kemudian ada Ballads of the Cliché yang menyamar sebagai band cover version Belle and Sebastian, dengan nama alter-ego the so-called Ballads and Sebastian. Kali ini kembali mereka tampil bertujuh, minus pemain saxophone mereka Zennis. Sebelum mulai, Bobby membagi-bagikan kertas berisi lirik lagu Belle and Sebastian yang akan mereka bawakan ke audiens yang datang malam itu. “Biar bisa pada ikutan nyanyi,” katanya. Atau bisa juga untuk membantu vokalis BOTC itu kalau-kalau ia lupa liriknya? hehe. Tapi cara itu bisa dibilang sangat efektif. Karena pada pecinta indie-pop yang datang malam itu jadi bisa berkaraoke ria. Yang paling antusias mungkin Merdi dan Acum yang kebetulan ada di barisan depan. Dengan penuh semangat vokalis dan basis Sweaters itu ikut menyanyikan lagu-lagu seperti “If You’re Feeling Sinister” dan “If She Wants Me”. BOTC juga sempat membawakan “Is It Wicked Not To Care” dengan Nina pada vokal.

Setelah itu, band asal Bandung jellybelly tampil. Ya, akhirnya mereka sampai juga dengan selamat di Jakarta. Tidak lagi diperkuat oleh inai di vokal, Devita cukup baik dalam menggantikan inai membawakan lagu-lagu suram jellybelly. Jadi teringat dulu Devita sempat berduet dengan Aji saat The Milo tampil di TRL, untuk membawakan “Romantic Purple”. Tanpa Inai, kini hanya Budi seoranglah yang tersisa dari personil awal mereka. Jellybelly membawakan sejumlah lagu baru mereka yang sudah cukup sering mereka bawakan dalam penampilan mereka sejak tahun lalu. Dibuka dengan “Remidial Memory”, lalu “Weak”, “The Universe is U”, dan ditutup dengan “Quite Isola”. Membawa sound engineer yang handal, menjadikan sound-sound yang dibawakan memukau telinga audiens yang datang.

Acara dilanjutkan dengan penampilan Astrolab. Sejumlah teman setuju bahwa Astrolab adalah the next big thing. Sayang EP mereka belum dirilis juga. Padahal sudah banyak yang menunggu. Enam lagu mereka bawakan dengan apik, termasuk single pertama mereka “Lara Jiwa”, dimana mereka dibantu oleh Reza, vokalis Abadkatrowave.

Dan acara gloomy Sunday itu ditutup dengan penampilan dari Everybody Loves Irene. Aulia menyendiri di sudut kiri panggung dengan mejanya, lengkap dengan laptop Mac-nya, synth, pesawat telefon vintage, dan lampu berkap merah itu. Tapi yang jadi perhatian malam itu malah Yudi, gitaris yang kacamatanya senantiasa melorot itu. Entah kenapa, Yudi jadi bahan cela teman-temannya malam itu, hehe. ELI membawakan lima lagu, tiga dari album mereka The Very First Thing You Must Learn About Flying is Gravity yaitu “Uncertainty, Anxiety”, “You’re My Tragedy”, dan “Hybrid Moments”. Mereka juga membawakan cover dari lagu band lawas planetbumi berjudul “Rindu”. Lagu ini pertama kali mereka bawakan saat peluncuran album planetbumi Working Class Zero di Pasar Festival akhir Maret lalu. Kali itu ELI juga memperkenalkan lagu baru mereka yang berjudul “Blood in A Rush”.
Akhirnya usai sudah acara malam itu, dan audiens yang datang pun pulang, membawa awan mendung mereka masing-masing ke rumah. //review and photo by 410//
Posted by bystanders 
Posted by bystanders 


Posted by bystanders 





























