
Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan hingga akhirnya bisa mewawancara ‘keluarga besar’ Ballads of The Cliché. Sempat gagal enam kali, akhirnya pada percobaan ke tujuh Bystanders berhasil mewawancara mereka, walaupun tidak semua. Hanya ada Dimas (bass), Bobby (vokal), Erick (gitar), Fino (keyboard), Feri (drums) dan Zennis (saxophone). Bystanders juga sempat mewawancara manager mereka, Felix Dass dalam kesempatan terpisah.
Dasar lagu-lagu yang dipilih untuk masuk ke album tuh apa sih? Apa ada kriteria tertentu?
Erick : Menurut kami tuh ya, dasar yang paling kokoh adalah iman
Bobby : Ga ada dasar khusus sih sebenernya
Erick : Cuma insting aja, misalnya, “ah ini kayaknya kurang oke nih”
Bobby : Ya, pilihan juga sih. Mungkin itu dasarnya juga insting kali ya
Kenapa Feel Free to Feel Lost yang dipilih jadi single pertama?
Bobby : Karena itu yang dianggap paling merepresentasikan musik kita.
Dan itu juga hasil diskusi internal dua hari dua malam
Dimas : Jadi ballads ini kan sekarang ada delapan orang, dan kedelapan orang tersebut sama-sama membuat komposisi masuk. Salah satu hasil yang paling dijagoin ya Feel Free itu.
Trus rencananya dari album ini akan dirilis berapa single?
Fino : Belum ada rencana sih, baru dua
Erick : Setelah si Feel Free ada lagi,
Kemungkinan besar, setidaknya ada dua lagi ke depan
Dan semuanya masing-masing akan dibikin EP juga?
Erick : Iya, sampe kedua ke depan. Setelah itu nggak. Bangkrut, hahahaha…
Trus kan jarak antara rilisan EP pertama yang Hey, Smiley! sama album yang sekarang kan lama banget, itu kenapa?
Erick : Itu karena.. memang kita dikasih Tuhan begini
Karena kita abis Hey Smiley itu rencana kita bikin full album, tapi mungkin karena belum waktunya kali ya, jadi akhirnya kita ngeluarin EP yang kedua. Rencananya abis EP kedua kita pengen ngeluarin full album… Serius tuh! Tapi itu lagi, wong belum dikasih, ada aja masalahnya…
Fino : Kalo yang ketiga itu batalnya di proses waktunya. Jadi rencananya abis Love Parade tuh bikin album, dirilis akhir 2006. Tapi karena teknis dan lain hal, sebagai pengisi kekosongan bikin EP dulu
Dimas : Kalo dipikir-pikir ke belakang, itu sebenernya malah jadi keunggulan kita. Kalo ga kayak gitu mungkin kita ga bakal bisa kayak sekarang.
Bobby : Jadi intinya kita selalu mengambil sisi positif dari segala yang kita lalui
Erick : Sebenernya sih kita pengen banget, tapi kita nyadar juga. Ga kebayang klo kita ngeluarin albumnya dulu, pasti berantakan. Yang sekarang lebih mateng lah, mudah-mudahan..
Ribet ga sih, kan personil-personilnya ga dalam satu kota dan masing-masing pada sibuk kerja?
Erick : Wah klo yang itu nanya felix ama yungke deh
Bobby : Apalagi Zennis akhir ini bakal sering ke Sanga-Sanga
Erick : Lo cari di peta deh tu, kasi petunjuk donk di pulau mana bro..
Zennis : Di Pulau Kalimantan, alias Borneo
Erick : Nah zennis sering memainkan saxophonenya di sana
Zennis : Gua emang sengaja, nyari inspirasi
Erick : Jadi dia ngerasa masih kurang banget. Dan dia denger di sana ada Suhu Saxophone handal, kebetulan banget dia ditugasin kesana dari kantor. Jadi ya udah..
Fino : Dan dia juga alirannya pop, pop-folk gitu hahahahaha…
[jawaban serius dari Felix]
Felix : Ribet sih, tapi kita semua untungnya tersambung dengan kuantitas yang cukup lah.
Oya, sama pake hati, itu yang paling dalem. Kalo ga pake hati udahan band-nya..
Oiya, French Riviera yang di EP Love Parade kan di-remix sama Tosi, trus apakah di EP-EP atau album-album berikutnya BOTC ada rencana untuk meremix lagu sendiri kayak kayak gitu?
Dimas : Tidak menutup kemungkinan sih
Fino : Mungkin aja, tapi belum ada kepastian
Dimas : Jadi kan memang yang ngeremix lagu-lagu kita itu memang temen-temen sendiri. Jadi pernah ada temen yang bikin remix salah satu lagu kita, iseng-iseng gitu, trus nyerahin ke gua.
Trus lagunya kita pake..
Buat Dimas ama Bobby nih. Kebanyakan musik dan liriknya kan yang nulis kalian berdua, itu idenya dari mana?
Dimas : Jadi kalo lagu biasanya gua ga bisa maksain. Bisa aja misalnya gua pengen buat lagu yang kayak gini, misalnya, tapi mungkin ga maksimal. Jadi gua percaya, kalo itu kayak anugerah aja, dari Tuhan. Bisa datang sewaktu-waktu. Kalo misalnya gua lagi di bus gitu trus tiba-tiba kepikiran, ya bisa aja gitu, jadi.
Kalo lirik sih inspirasinya bisa banyak banget ya Bob, dari personal life masing-masing personil,
Bobby : Kebanyakan dari kejadian sekitar yang kita alami sih
Trus mungkin juga Dimas kan banyak berperan dalam bikin musik, tapi kadang-kadang ga tau liriknya harus seperti apa, jadi kita trus diskusi. Dari mood lagunya itu juga sih. Kira-kira mood lagunya seperti apa ya? Kalo nada-nada riang kan alangkah lebih baik kalo liriknya menceritakan hal-hal yang positif. Kadang juga lirik itu menyesuaikan mood lagunya itu sendiri.
Biggest achievement yang pernah dicapai Ballads, menurut kalian sendiri tuh apa?
Bobby : Mengeluarkan album
Erick : Setiap rilisan merupakan achievement buat kita
Fino : Yang gol-nya mungkin album perdana dan mungkin yang kemaren tuh ya
Dimas : Tur ke luar negeri (Singapore, red)
Erick : Trus juga album kita didistribusiin sampe ke Jepang
Felix : Kalo dari gua sih, pada dasarnya bisa survive. Soalnya emang .. tiap-tiap personil Ballads itu kayak ngebawa keajaibannya masing-masing
Kalau Ballads punya kesempatan untuk ke luar negeri lagi, itu pengennya ke mana?
(semua, kompak) Jepang kayaknya!
Dimas : Karena kita baru aja diedarin di situ
Bobby : Kan album kita didistribusiin sampe sana, yah sedikit bermimpi lah
Erick : Intinya kita seneng karena ternyata musik kita diapresiasi di Jepang
Harapan Ballads sendiri buat album ini apa?
Erick : Balik modal sih pertamanya, hahaha…
Harapan seriusnya, selain bisa abadi (Erick sok serius, red) kayak judul albumnya, bisa diterima di khazanah musik Indonesia, huhuehhehehe
Dimas : Jadi sebenernya, paling nggak albumnya Ballads ada di kehidupan teman-teman, walaupun sedikit. Tapi misalnya kalo orang putus cinta, atau lagi pengen jalan-jalan atau pengen seneng-seneng, album itu bisa menemani masa-masa itu.
Pertanyaan terakhir… favourite Evergreen song?
Zennis : “Coffee Shop”
Dimas : Gua “Distant Star” deh
Feri : “Feel Free”
Fino : Gua sama kayak “Dimas”, Distant Star
Bobby : Gua.. “Heidi” deh, biar beda
Erick : Gua bingung nih.. ni ya.. “Friend’s Guide” gua suka, “Distant Star” gua suka
Dimas : Ya udah Erick “Friends Guide” berarti, biar beda
Fino : Apa gua ganti ya? Biar ga sama kayak Dimas
Dimas : Lo “Coffee Shop” lah
Fino : “Coffee Shop” kan udah
Bobby : Ya udah ga pa pa … Biar kesannya ga dibuat-buat, ada dobelnya satu… hahahaha..
//interview by 410//photo by satria ramadhan//
SHORT BIO : ballads of the cliché
Ballads of the Cliché terbentuk di tahun 2004, dengan nama-nama yang sebenarnya tidak asing lagi. Tiga orang teman baik yang sama-sama bermukim di daerah Jakarta Barat — Dimas (bass), Erick (gitar), dan Bobby (vokal) – dulu dikenal tampil bersama band mereka sebelumnya, Engsel. Lalu mereka mengajak beberapa teman mereka – ada Ferry di drums dan Wawan di gitar. Dan ada tiga personil additional yang akhirnya menjadi personil tetap karena memang sudah lama bersama mereka, yaitu Nina di piano, Zennis di saxophone, dan Fino di keyboard.
Sayang karena kesibukan masing-masing personil dan domisili mereka yang tidak dalam satu kota, membuat band ini jarang tampil secara lengkap. Untungnya personil lainnya saling melengkapi, sehingga permainan mereka tetap berjalan harmonis.
Terinspirasi oleh Belle and Sebastian, Nick Drake, Burt Bacharach and Donovan, Ballads of the Cliché menampilkan sebuah musik folk-pop manis yang sederhana, dan tentu saja dengan sentuhan khas mereka sendiri.
Setelah merilis empat EP, yaitu Hey Smiley, Snapshot of Serenity, Love Parade, dan Feel Free to Feel Lost, Ballads of the Cliché merilis debut album penuh mereka bertajuk “Evergreen” Agustus lalu.
www.myspace.com/balladsofthecliches
Posted by bystanders 
Posted by bystanders 
Posted by bystanders 



