interview//ballads of the cliche

January 19, 2008

 

bystanders-0403.jpg

Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan hingga akhirnya bisa mewawancara ‘keluarga besar’ Ballads of The Cliché. Sempat gagal enam kali, akhirnya pada percobaan ke tujuh Bystanders berhasil mewawancara mereka, walaupun tidak semua. Hanya ada Dimas (bass), Bobby (vokal), Erick (gitar), Fino (keyboard), Feri (drums) dan Zennis (saxophone). Bystanders juga sempat mewawancara manager mereka, Felix Dass dalam kesempatan terpisah.

 Dasar lagu-lagu yang dipilih untuk masuk ke album tuh apa sih? Apa ada kriteria tertentu?

Erick     : Menurut kami tuh ya, dasar yang paling kokoh adalah iman

Bobby    : Ga ada dasar khusus sih sebenernya

Erick     : Cuma insting aja, misalnya, “ah ini kayaknya kurang oke nih”

Bobby    : Ya, pilihan juga sih. Mungkin itu dasarnya juga insting kali ya

 

Kenapa Feel Free to Feel Lost yang dipilih jadi single pertama?

Bobby    : Karena itu yang dianggap paling merepresentasikan musik kita.

              Dan itu juga hasil diskusi internal dua hari dua malam

Dimas     : Jadi ballads ini kan sekarang ada delapan orang, dan kedelapan orang tersebut sama-sama membuat komposisi masuk. Salah satu hasil yang paling dijagoin ya Feel Free itu.

 

Trus rencananya dari album ini akan dirilis berapa single?

Fino      : Belum ada rencana sih, baru dua

Erick     : Setelah si Feel Free ada lagi,

              Kemungkinan besar, setidaknya ada dua lagi ke depan

 

Dan semuanya masing-masing akan dibikin EP juga?

Erick     : Iya, sampe kedua ke depan. Setelah itu nggak. Bangkrut, hahahaha…

 

Trus kan jarak antara rilisan EP pertama yang Hey, Smiley! sama album yang sekarang kan lama banget, itu kenapa?

Erick     :  Itu karena.. memang kita dikasih Tuhan begini

               Karena kita abis Hey Smiley itu rencana kita bikin full album, tapi mungkin karena belum waktunya kali ya, jadi akhirnya kita ngeluarin EP yang kedua. Rencananya abis EP kedua kita   pengen ngeluarin full album… Serius tuh! Tapi itu lagi, wong belum dikasih, ada aja masalahnya…

Fino      :   Kalo yang ketiga itu batalnya di proses waktunya.  Jadi rencananya abis Love Parade tuh bikin album, dirilis akhir 2006. Tapi karena teknis dan lain hal, sebagai pengisi  kekosongan bikin EP dulu

Dimas     :   Kalo dipikir-pikir ke belakang, itu sebenernya malah jadi keunggulan kita. Kalo ga kayak gitu mungkin kita ga bakal bisa kayak sekarang.

Bobby    :  Jadi intinya kita selalu mengambil sisi positif dari segala yang kita lalui

Erick     :   Sebenernya sih kita pengen banget, tapi kita nyadar juga. Ga kebayang klo kita ngeluarin albumnya dulu, pasti berantakan. Yang sekarang lebih mateng lah, mudah-mudahan..

 

Ribet ga sih, kan personil-personilnya ga dalam satu kota dan masing-masing pada sibuk kerja?

Erick     :  Wah klo yang itu nanya felix ama yungke deh

Bobby    : Apalagi Zennis akhir ini bakal sering ke Sanga-Sanga

Erick     :  Lo cari di peta deh tu, kasi petunjuk donk di pulau mana bro..

Zennis   :  Di Pulau Kalimantan, alias Borneo

Erick     : Nah zennis sering memainkan saxophonenya di sana

Zennis   :  Gua emang sengaja, nyari inspirasi

Erick     :  Jadi dia ngerasa masih kurang banget. Dan dia denger di sana ada Suhu Saxophone handal, kebetulan banget dia ditugasin kesana dari kantor. Jadi ya udah..

Fino      :  Dan dia juga alirannya pop, pop-folk gitu hahahahaha…

[jawaban serius dari Felix]

Felix      :  Ribet sih, tapi kita semua untungnya tersambung dengan kuantitas yang cukup lah.

               Oya, sama pake hati, itu yang paling dalem. Kalo ga pake hati udahan band-nya..

 

Oiya, French Riviera yang di EP Love Parade kan di-remix sama Tosi, trus apakah di EP-EP atau album-album berikutnya BOTC ada rencana untuk meremix lagu sendiri kayak kayak gitu?

Dimas     : Tidak menutup kemungkinan sih

Fino      :  Mungkin aja, tapi belum ada kepastian

Dimas     : Jadi kan memang yang ngeremix lagu-lagu kita itu memang temen-temen sendiri. Jadi pernah ada temen yang bikin remix salah satu lagu kita, iseng-iseng gitu, trus      nyerahin ke gua.    
Trus lagunya kita pake..

 

Buat Dimas ama Bobby nih. Kebanyakan musik dan liriknya kan yang nulis kalian berdua, itu idenya dari mana?

Dimas        : Jadi kalo lagu biasanya gua ga bisa maksain. Bisa aja misalnya gua pengen buat lagu yang kayak gini, misalnya, tapi mungkin ga maksimal. Jadi gua percaya, kalo itu kayak anugerah aja, dari Tuhan. Bisa datang sewaktu-waktu. Kalo misalnya gua lagi di bus gitu trus tiba-tiba kepikiran, ya bisa aja gitu, jadi. 

               Kalo lirik sih inspirasinya bisa banyak banget ya Bob, dari personal life masing-masing personil,

Bobby       : Kebanyakan dari kejadian sekitar yang kita alami sih

                Trus mungkin juga Dimas kan banyak berperan dalam bikin musik, tapi kadang-kadang ga tau liriknya harus seperti apa, jadi kita trus diskusi. Dari mood lagunya itu juga sih. Kira-kira mood lagunya seperti apa ya? Kalo nada-nada riang kan alangkah lebih baik kalo liriknya menceritakan hal-hal yang positif. Kadang juga lirik itu menyesuaikan mood lagunya itu sendiri.

 

Biggest achievement yang pernah dicapai Ballads, menurut kalian sendiri tuh apa?

Bobby    : Mengeluarkan album

Erick     : Setiap rilisan merupakan achievement buat kita

Fino      : Yang gol-nya mungkin album perdana dan mungkin yang kemaren tuh ya

Dimas     : Tur ke luar negeri (Singapore, red)

Erick     : Trus juga album kita didistribusiin sampe ke Jepang

Felix      : Kalo dari gua sih, pada dasarnya bisa survive. Soalnya emang .. tiap-tiap personil Ballads itu kayak ngebawa keajaibannya masing-masing

 

Kalau Ballads punya kesempatan untuk ke luar negeri lagi, itu pengennya ke mana?

(semua, kompak) Jepang kayaknya!

Dimas     : Karena kita baru aja diedarin di situ

Bobby    : Kan album kita didistribusiin sampe sana, yah sedikit bermimpi lah

Erick     : Intinya kita seneng karena ternyata musik kita diapresiasi di Jepang

 

Harapan Ballads sendiri buat album ini apa?

Erick     : Balik modal sih pertamanya, hahaha…

              Harapan seriusnya, selain bisa abadi (Erick sok serius, red) kayak judul albumnya, bisa diterima di khazanah musik Indonesia, huhuehhehehe

Dimas     : Jadi sebenernya, paling nggak albumnya Ballads ada di kehidupan teman-teman, walaupun sedikit. Tapi misalnya kalo orang putus cinta, atau lagi pengen jalan-jalan atau pengen seneng-seneng, album itu bisa menemani masa-masa itu.

 

Pertanyaan terakhir… favourite Evergreen song?

Zennis         : “Coffee Shop”

Dimas           : Gua “Distant Star” deh

Feri             : “Feel Free”

Fino            : Gua sama kayak “Dimas”, Distant Star

Bobby          : Gua.. “Heidi” deh, biar beda

Erick           : Gua bingung nih.. ni ya.. “Friend’s Guide” gua suka, “Distant Star” gua suka

Dimas           : Ya udah Erick “Friends Guide” berarti, biar beda

Fino            : Apa gua ganti ya? Biar ga sama kayak Dimas

Dimas           : Lo “Coffee Shop” lah

Fino            : “Coffee Shop” kan udah

Bobby          : Ya udah ga pa pa … Biar kesannya ga dibuat-buat, ada dobelnya satu… hahahaha..

//interview by 410//photo by satria ramadhan//

 

SHORT BIO : ballads of the cliché

 Ballads of the Cliché terbentuk di tahun 2004, dengan nama-nama yang sebenarnya tidak asing lagi. Tiga orang teman baik yang sama-sama bermukim di daerah Jakarta Barat — Dimas (bass), Erick (gitar), dan Bobby (vokal)  – dulu dikenal tampil bersama band mereka sebelumnya, Engsel. Lalu mereka mengajak beberapa teman mereka – ada Ferry di drums dan Wawan di gitar. Dan ada tiga personil additional yang akhirnya menjadi personil tetap karena memang sudah lama bersama mereka, yaitu Nina di piano, Zennis di saxophone, dan Fino di keyboard.


Sayang karena kesibukan masing-masing personil dan domisili mereka yang tidak dalam satu kota, membuat band ini jarang tampil secara lengkap. Untungnya personil lainnya saling melengkapi, sehingga permainan mereka tetap berjalan harmonis.

Terinspirasi oleh Belle and Sebastian, Nick Drake, Burt Bacharach and Donovan, Ballads of the Cliché menampilkan sebuah musik folk-pop manis yang sederhana, dan tentu saja dengan sentuhan khas mereka sendiri.

Setelah merilis empat EP, yaitu Hey Smiley, Snapshot of Serenity, Love Parade, dan Feel Free to Feel Lost, Ballads of the Cliché merilis debut album penuh mereka bertajuk “Evergreen” Agustus lalu.

 

www.myspace.com/balladsofthecliches


INTERVIEW // AUTUMN’S GREY SOLACE

January 19, 2008

 

Hi Erin and Scott, how are you? First is maybe a common question, but I really really wanna know why you named your band Autumn’s Grey Solace?

Scott                    : To me, autumn is a season of solace. Summer is over and winter is coming. The name, Autumn’s Grey Solace, reflects this feeling.

How did you guys meet?

Scott                    : We met through a couple of chance encounters and then we were inseparable. It seems like we were meant to be together, as if by fate.

What do you expect from people when they are listening to your music? Like feeling to fly or what? :-)

Scott                    : Yes, and like feeling to escape, to listen to the music and see images. I try to mix our music so that it “takes you away” especially on headphones.

How do you find Erin/Scott is a great partner?

Scott                    : We have good chemistry because we both have total freedom with our parts in this band. Erin does all the vocals and I make almost all of the music.

How do you interpret your music?

Scott                    : Our music is an expression of beauty and emotions.

Have you ever thought of moving to major label?

Scott                    : I would consider working with a major label because of their resources and their drive for success, as long as they didn’t try to get in the way of my artistic freedom.

I personally like Sorrow of Ashes. Can you tell me what the song is about?

Scott                    : Basically it’s about overcoming sorrow when something traumatic happens.

Does any of you have a side project?

Scott                    : No. We focus all of our time and energy on Autumn’s Grey Solace.

What label did you use before having a contract with Projekt Records?

Scott                    : We didn’t have a label. We saved up the money to manufacture and self-released “Within the Depths of a Darkened Forest”, our first album. We just had to get our music out there, and this helped us get the deal with Projekt.

Have you released a live DVD?

Scott                    : No, we haven’t been performing live. We have recorded one music video so far (see it on our myspace) and plan to make more. We may release a DVD of our music videos in the future.

Whom do you listen to lately? What other genre do you listen to?

Scott                    : Lately, I haven’t really been listening to other music. I’ve been so immersed in the making of the new Autumn’s Grey Solace album (coming in 2008) that it completely fulfills my desire to listen to music.

If you were not in Autumn’s Grey Solace, what would you be?

Scott                    : I would be a musician in another band. I could not see myself not being a musician.

It’s difficult to find your albums here

Scott                    : Our albums are distributed by RYKO distribution, and record stores can order from them. It may be easiest to order our albums on line.

Have you taken a listen to Indonesian indie music? The ones put in myspace probably?

Scott                    : Yes, I’ve seen some of the ones on myspace. I can’t exactly remember the band names, but they sounded good (kira-kira siapa ya yang mereka dengerin?, red)

Ever thought of having a gig in Indonesia? FYI, indie scene here is awesome :-)

Scott                    : If we ever have the opportunity to do a world tour, we will try to have a tour date in Indonesia. We would love to see what the indie scene there is like.

Well, I’m thanking you for your time. Success for you guys.

//interview by foe//bystanders-0408.gif


interview//sungsang lebam telak

January 19, 2008

 

bystanders-0409-s.jpg

Satu kata yang bisa diucap mengenai band ini. Wow. Sebuah band penuh spontanitas yang awalnya hanya sebuah iseng-iseng direview oleh seorang pewarta senior di koran nasional. Bystanders kembali berkelana ke Bandung, untuk berbincang akrab dengan Gembi (G), Dani (D), dan Ageng (A) di tengah derasnya hujan. Sebuah wawancara terdahsyat yang pernah dilakukan bystanders .

 Video klip kalian kabarnya gimana?

[D]  Sebenernya video klip tuh udah kita bikin sih,

[A]  Tapi saya ga merestui! hahahahaha…

[D] Video klip udah gua bikin dua, yang pertama emang konsepnya sentimentil banget. Gua mengambil dari footage film Happiness, pokoknya galau banget dan itu gua serius. Yang kedua itu gua ngambil dari footage film-film porno, khusus adegan klimaks dimana cowo-cowo sedang mengocok-ngocok anu-nya, soalnya itu gue rasa representasi dari lagu “Terbenam di Lautan Kegagahan Dubur”. Klimaksnya dapet banget ama lagu itu. Tapi, berhubung kita tuh demokratis, dua iya satu nggak, jadi ya kita nggak aja, gitu

[G]  Tapi sebenernya Paul Agusta juga sudah menawarkan ke SL*T untuk membuatkan video klip dalam konsep yang simpel

{D]  Sebenernya video yang gua bikin juga modus doang, untuk mendekatkan diri gua kepada seseorang video artist gitu

{G] Jadi kami harap kami bisa sebesar Sore, karena sama-sama diangkat oleh Paul Agusta

[D]  Bedanya Sore berskill, sementara kita tanpa skill, tanpa modal, tanpa tampang, dan kita penuh kesentimentilan

 Kalau influence kalian dari mana aja?

[G] Kalau SL*T secara keseluruhan, bagi gue ada Sandra Archestra, trus Storm & Stress.

[D] Sarah McLachlan

[G] Kalo dari sisi sentimentilnya sih Tori Amos bisa masuk, trus soal piano Ageng akan menjawab John Coltrane

[D] Dia keyboard atau piano lebih ke Anya ex-nya base jam (hahahaha)

[D]  Kalo gue karena referensi jazz gue yang terlalu rendah, gue ngambil influence bukan dari sisi musikal, tapi lebih dari sisi emosi. Kayak lagu Chintami Atmanegara yang video klipnya di kolam-kolam, yang kayak gitu.

      Ya, kalo SL*T mau disama-samain, mungkin mirip kayak Storm & Stress.

      Tapi pembelaan kami adalah, kami tercipta sebelum kami mendengar itu semua, jadi menurut kami sih sah-sah aja. Beda dengan band-band lain yang karena mendengarkan suatu band lalu tercipta musik mereka. Tapi kami tercipta dulu baru mendengarkan band-band tersebut.

[G]  Atau mungkin kami memang kurang referensi

[D]  Ya, kami memang kurang referensi berhubung mendengarkan winamp-nya di mesin tik

[A]  Kalau saya sebetulnya tidak ada influence yang signifikan. Pokonya influence tidak ada yang dominan lah, tapi banyak. Tapi karena terlalu banyak jadi ga ada yang paling dominan. Soalnya klo dalam praktek mah entah. Yang didenger apa, yang keluar apa. Tapi ada beberapa nama. Chick Corea sama Fred Jarrett.

[G] Ageng adalah sisi paling jazz di SL*T.

[D] Sementara Gembi dan Dani adalah sisi yang paling nakal dengan seksualitas dan seks bebasnya

Menurut SL*T, inspirasi paling kuat untuk membuat aransemen lagu tuh apa?

[G] Inspirasi di luar musikal kali ya, lebih tepatnya

[D]  Kesunyian, kesentimentilan

[D] Yang gue liat tuh, Ageng selalu berhasil dalam berbagai aspek kehidupan. Sementara gue dan Gembi tuh selalu gagal, entah itu cinta, kerja, atau kuliah

[G] Jadi di SL*T itu hidup yang paling beres adalah Ageng! Cuma kalo diliat dari sisi sentimentil, itu tidak berlaku pada Ageng. Sisi sentimentil cuma dari gue dan Dani doang

[D] Inspirasinya paling kesendirian, khayalan, trus cewe-cewe yang tersisihkan oleh keputusan mereka sendiri.

      Yang paling penting sih, menjaga eksistensi kami di dunia musik, daripada cuma jadi sekedar ‘gig-goers’ gitu, mending jadi ‘gig-players’

[G]  Kalo gue mungkin bener juga apa yang dikatakan Dani, tapi ada dua tambahan. Yang pertama adalah Afrizal Malna. Yang kedua adalah dua nama yang tidak akan dilupakan. Garnis Hangialevi. Itu yang menginspirasi hingga akhirnya tercipta lagu “Kecuali Mengenang Betismu, oh Sembadra”.

[A] Kalo saya ga ada, semua inspirasi berasal dari musik.

[D] Seni untuk seni, musik untuk musik

[A] Kalo di luar musikal, karena kegalauan gitu misalnya, oh sih itu udah lewat.

      Sebetulnya band ini buat Gembi dan Dani, bukan buat saya, karena apa yang dititipkan dalam konteks musik itu Gembi & Dani banget! Kalo saya hanya sekedar menyimpan estetika musikal saja

[D] Kalau untuk kami sendiri SL*T adalah berarti sukses, lelah, dan telah. Jadi intinya untuk kesuksesan dia, lelahnya karena pekerjaan yang dia lakukan, dan telahnya karena dia telah melalui hal-hal yang berhasil

[A] Dan ada satu kata untuk itu semua, kata-kata Dani itu, “Pernah pulang tanpa lelah?” hahahaha… saya puitis ya!

[G] Ini pengaruh latar belakang SL*T yang sastrawi

Kenapa sih SL*T jarang sekali  manggung?

[D] Kita udah ngerilis dua EP tapi baru manggung di tiga gigs. Di sastra, FISIP Unpar, dan Food Not Bombs. Kalo dari gue sendiri kita lebih memilih apresiator yang tepat gitu. Karena dengan apresiator yang tepat maka konsep dan perasaan yang kita sampaikan mungkin akan tepat nyampenya gitu. Karena kalo apresiator-apresiatornya yang love-minded atau yang sexy-minded maka kita kurang kuat karena ya yang mereka butuhkan adalah tampang dan harmonisasi. Sedangkan kita tidak punya itu.

[A] Bukan.. penjelasannya bukan gitu… Masalahnya adalah penghargaan terhadap estetika yang kayak gini aja sih. Jadi sebetulnya klo ada audiens yang ga suka itu kita malah tersiksa. Itu feedback.

[D] Karena kita pengen manggung dan melakukan segalanya dengan konsep kita yang pengen senang-senang gitu. Kita mau menyajikan kesenangan kita buat orang-orang bukan penderitaan kita yang buat orang senang-senang. Jadi kita semua sama gitu.

Untuk berikutnya, ada kemungkinan ada EP lagi atau full album gitu ga?

[A]  Jangan berharap pada rencana-rencini. Rencana pun sudah 1001 rencana, tapi apa boleh dikata.

[D]  Kalo gue sendiri sih, nyikapin SL*T itu kayak gue nyikapin  maaf kasar — seperti kita melakukan rutinitas onani gitu. Kayak klo kita pengen, ya kita lakukan. Kita pengen melakukan segalanya, karena basic-nya kita senang. Menurut gue sendiri klo gue ngelakuin semuanya tanpa senang atau dengan paksaan atau kita sedikit menderita kayak bawa-bawa keyboard lah, latihan lagi lah, itu menurut gue bukan SL*T. Karena menurut gue SL*T itu senang untuk kami, senang untuk kamu. Jadi bukan penderitaan dari kami, senang buat kamu. Jadi konsep kami memang have fun banget lah.

Trus kan ini katanya yang penting penontonnya senang, SL*T juga senang. Nah itu untuk menggabungkan tiga orang untuk mood yang sama atau keinginan yang sama tuh gimana?

[D]  Kalo menurut gue, kayak kemaren tuh yang kita harus latihan dua kali itu bukan berarti kita untuk memaksimalkan performansi kita kepada apresiator gitu, tapi lebih ke memaksimalkan mood kita bareng-bareng. Kalo menurut kami mood kami udah bareng, tapi menurut apresiator masih ancur, ya bodo amat. Kalo gue sih lebih ngedasarin, kalo menurut kami senang, menurut kalian jelek, ya sama dengan senang. Tapi menurut kami senang, menurut kalian senang, ya sama dengan senang. Menurut kami jelek, menurut kalian jelek, ya ga mungkin SL*T ada. Karena didasarinya pada senang-senang lah. Senang untuk kami, terserah buat kalian.

Bisa diceritain dikit nggak, soal kesuksesan SL*T menembus netlabel Perancis eDogm?

[D] Waktu kita nembus e-label perancis itu sebenernya kalau secara personal malah menimbulkan kebingungan. Ibaratnya orang-orang Perancis kan budayanya lebih maju dari kita. Tapi kenapa mereka bisa kalah dengan wacana dan konsep yang kita tawarin? Dan sebenernya kalo diliat secara musik atau musikalitas, ya kita di dunia nasional sama dengan nol. Tapi mungkin karena kami diperkuat dan diperjelas oleh konsep dan wacana. Jadi sebenernya musik kami itu adalah output dari konsep dan fenomena yang kita serap.

[D] Awalnya mereka (eDogm) itu menggunakan fasilitas myspace dan mereka tertarik. Dan kebetulan kami adalah band satu-satunya di Asia yang mereka rilis. Dan mereka mungkin mengiyakan kami karena wacana dan konsep kami. Jadi kita cuma punya konsep dan wacana yang diporsikan kepada saudara Gembi.

[G] “Kecuali Mengenang Betismu” itu dirilisnya tepat waktu ulang tahun www.edogm.net, tanggal 14 Agustus lalu. Dan dirilis bareng dua rilisan lainnya, D’Incise dan Shamani. Jadi si eDogm itu memang netlabel spesialis free jazz, free improve, sama laptop improve, noise, sama yang gitu-gitu deh. Yang model-model acha-irwansyah gitu ga ada.

Kalo Gembi digantikan oleh Irwansyah tap bisa dapetin Acha, mending mana? Apakah milih keluar dari SL*T tapi
dapet Acha atau tetap bertahan?

[G] Gue pilih tetap di SL*T. I got a girlfriend and really love her so much. (cieehh yang baru jadian! -red)

[D] Saya mendukung Irwansyah untuk masuk SL*T karena sebetulnya ia adalah musisi super jazz.

[A] Kalo saya jawabannya ga tega.

[G] Kalo Ageng memang jawabannya cenderung simpel tapi mengandung banyak wacana di dalam kesimpelan tersebut.

[A]  Ga tega sama Irwansyahnya sebetulnya. Bukannya ga tega Gembi keluar

[D]  Irwansyah memang dispesialkan untuk menggantikan Gembi

[G]  Karena gosipnya gue mau jadi penari

[D] Memang gosipnya Gembi tuh sebelum ada Seleb Dance, dia lebih cenderung ke.. siapa tuh penari latar Madonna tuh, yang kayak banci2 itu?

[G] Max Don! lho… hahahahaha

[D]  Cuma kita rekrut karena kita kasian banyak gerak dia jadi butuh banyak koyo

Kenapa sih SL*T selalu membacakan manifesto Sungsang Lebam Telak setiap kali mau tampil? Maksudnya apa?

[D] Manifesto menurut gue, kita lempar ke apresiator karena, menurut kami itu sebagai penghancuran wacana jazz yang konvensional dan ortodok yang ada di Indonesia. Bagaimana caranya kita menghancurkan sesuatu tanpa berbekal elemen-elemen sesuatu itu. Kayak lo misalnya pengen menghancurkan dunia sepakbola tapi lo ga bisa maen bola, sebenernya itu sah-sah aja. Kalo menurut gue personal sih segala sesuatu entah itu seni entah itu musik asalkan lo punya wacana atau konsep itu keluarin aja dan Tuhan sahkan koq. Insya Allah ada ayat baru gitu

[G] Jadi manifesto itu juga seperti serangan juga buat orang-orang yang ngomong, “ah lo ngomong aja lo, lo punya karya ga?”

      Klo buat gue sih, mau punya karya atau ngga, ya kalo lo mau counter mah, lo counter aja asal lo punya konsep yang menurut lo penting buat dibahas. Dan manifesto SL*T secara keseluruhan kan, awalnya gue buat kan buat mengejek semua musik yang sudah terciptakan di dunia.

[D]  Yang terciptakan dan semua seragam gitu. Kayak kemaren kita masuk ke acaraacara jazz yang di Unpad gitu, lima jam lebih tuh jazz-nya sama aja gitu. Baru pas Gilang Ramadhan muncul dan Indra Lesmana, mereka berskill dan mereka memberikan sesuatu yang baru. Dan kita sangat menghormati terhadap segala sesuatu yang ditawarkan dengan cara yang baru.

[G] Istilahnya mungkin kami haus akan hal-hal yang baru. Selain baru tapi juga ngasih inovasi. Mungkin ga baru, tapi ada sesuatu lah

Pertama kali tergerak untuk membuat SL*T tuh gimana?

[D] Tergerak karena mentok dengan band gue yang bawain Stone Roses Primal Scream dan kebritpopan Manchester lain lain. Gue menemukan media baru selain gue bersolo project, jadi ya oke lah. Pertamanya sih atas dasar, biasalah, sok-eksis. Yang keduanya emang untuk seni dan seni. Seni untuk seni, dan musik untuk musik. Dan untuk Rebecca Theodora, hahaha..

[G]  SL*T nih buat gue sendiri, gue tiap buat sesuatu itu berawal dari iseng2, begitu juga SL*T. Gue nyambung ama Ageng, dan Dani partner-in-crime gue, ya udah, semuanya klop, dan jadilah SL*T. Dan menurut gue rasanya bakal berdosa klo kita nambahin personil yang entah siapa gitu. Misalnya manajernya Elemental Gaze mungkin. Itu pasti bakal mengubah konsep SL*T secara keseluruhan. (kebetulan Fitrah, manager Elemental Gaze, menjadi saksi wawancara ini -red)

Bagaimana pendapat SL*T mengenai maraknya Sungsang Darlings yang marak datang ke gigs kalian?

[D] Sungsang Darlings menurut gue hanyalah korban dari konsep dan segala wacana yang kita angkat. Dan kenapa namanya Sungsang Darlings karena kita ingin memparodikan segala keposeran yang terjadi di Indonesia ini. Walaupun ya kita nganggepnya kita menghargai “bla bla bla band tersebut” darlings tapi ya kenapa kita memakai nama tersebut karena kita terlalu muak dengan fenomena seragam

[D]  Kenapa ga make nama Sungsang Friends, atau Sungsang People gitu?

[D] Kita ga make Sungsang People karena menurut kami apapun yang berkaitan dengan Pure Saturday itu adalah berhakekat tinggi, dan tidak bisa diejek. Esensial banget. PS adalah saingan berat SL*T.

[G] Jadi itu, satu-satunya saingan kami adalah PS. Tapi di lain pihak yang telah dihaturkan oleh Dani barusan, sebetulnya kami sedih karena kenapa SD yang datang hanyalah yang itu-itu saja. Apakah tidak bertambah apresiator yang lainnya untuk musik SL*T. Ini fenomena aneh.

[D]  Padahal belum ada Perda yang mengeluarkan larangan SD untuk tercipta. Jadi nyantai aja lah dengan Denny Setiawan (Gubernur Jawa Barat, red) dll. Itu masih sah-sah aja

Kalo harapannya SL*T buat para Sungsang Darlings yang habis nontonnya gigs kalian apa?

[G] Klo gue yang penting bajak sebanyak-banyaknya SL*T album manapun yang kalian dapat dan bagikan ke orang-orang yang kalian kasihi ataupun kalian benci. Karena menurut kami makin banyak yang mendengar maka makin indah dunia ini.

[D] Kalo gue buat para SD, bajaklah pada porsinya gitu. Kalo lo ngebajak band-band yang pengen lo bajak ya lo bajak aja gitu. Tapi kalo ada yang pengen dihargai dengan membeli CD original ya terserah lo. Kalo ada duit ya beli CD original, kalo nggak ada ya nggak usah.

      Itu prinsip PPKn gue gitu, adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. hahahahahaha…

 //interview by 410 & pemudagalau//photo by 410//


interview // zeke and the popo

January 19, 2008

 

bystanders-0413.jpg

Sepertinya menjadi suatu kehormatan bagi Bystanders saat mewawancarai band yang satu ini. Suatu malam setelah jam kantor, Bystanders pun menyempatkan diri untuk bertamu ke tempat latihan mereka, sekaligus kediaman vokalis mereka, Zeke, untuk sebuah sesi wawancara dengan Zeke [z], Iman [I], Leo [L], dan Yudi [Y]

Zatpp itu kan udah lama dibentuknya, kenapa baru sekarang merilis full album?

[Z]        Sebetulnya dari dulu kan udah pengen bikin full album, cuma kita ngerilis EP dulu. Dan EP kan juga harus ada promosinya, dll gitu. Efeknya tuh waktu di Bandung, waktu kita maen di Les Voila gitu dan ternyata sosialisasinya bagus. Pas kita manggung, orang-orang pada tau lagunya gitu,d an itu suatu experience yang kita belum pernah dapet sebelumnya. Dari situ kita mulai ada temen-temen di Bandung yang suka musik kita, dan kita juga kenal dengan pergerakan musik di Bandung. Dan setelah itu lah kita berencana untuk bikin full album.

Kenapa Profesor Komodo yang dijadiin single pertama?

[Z]        Soalnya kita sepakat lagu itu yang paling catchy

[L]         Pake bahasa Indonesia juga..

[Z]        Maksudnya kita berusaha untuk menyesuaikan lah, kalo radio tuh kayak apa peraturan-peraturannya. Ya kita kalo ikutan sesuatu kan juga harus fleksibel.

[Y]        dan kayanya itu lagu juga paling mewakili albumnya. Warna warni banget lah.

 Sebetulnya apa sih arti dari Profesor Komodo?

[Y]         No one knows!

[Z]        Profkom ini, sebenernya itu lagu lama, lagu terlama kita mungkin sebenernya. Dulu gua buat four-track demonya di Seattle, dan gua bener-bener heavily influenced, to be totally honest, by “No One Never Knows”-nya Beatles. Kayak kalo jaman dulu di tahun 60-an kan musik dengan bantuan LSD atau sejenisnya bisa membuat kita dibawa lebih tinggi ke suatu tempat, kayak wonderland gitu lah. Itu secara aura dan musik ya, kalo liriknya sih itu kita membebaskan orang untuk berinterpretasi lah.

 Kenapa koq komodo?

[Z]        Karena ecstasynya dapet dengan musiknya, pas masuk kuping dan meresap ke otak kita. Di sini kita bisa tiba-tiba ngeliat semua orang kayak komodo, trus ada profesornya di ujung yang lagi nge-DJ atau apa lagi maen musik apa gitu, hahaha..

 Oiya bisa diceritain dikit soal albumnya ga?

[Y]        Dikerjakan dalam 2 tahun, dan bersihnya tuh baru 1,5 tahun. Karena setengah tahun pertama kita sudah merekam gitar, bas, vocal, drum – saat itu masih sama Amir – dan kita udah merekam 4-5 lagu, tiba-tiba hard disknya crash. Semua data yang ada ga terselamatkan.

[Z]        Itu pas yang crash rekamannya di studio yang konvensional lah. Gara-gara crash, kita rekamannya di rumah ini (rumahnya Zeke, red)

[Y]        Jadi setelah segala malapetaka itu, daripada keluar cost terlalu banyak, kita pindahin alat-alatnya ke sini. Ternyata soundnya malah lebih enak di sini. Jadi kita memutuskan untuk melanjutkan di sini

 Kalo pemilihan track listingnya tuh gimana?

[Z]        Dulu sempet bikin voting, tapi hasilnya pada beda-beda semua jadi malah ribet sendiri. Gue inget kalo band luar tuh bisa nunda 6 bulan gara-gara masalah track listing. Dan gue pikir kita jangan sampe seribet itu lah. Trus yang lain bilang ya udah lah serahin aja ke gue. Dan gue ngerasa track listing yang sekarang itu sih cukup. Sebagai contoh, misalnya kayak lagu “Get A Star and Kill Her” itu kan emang lagu ending-nya kita kalo manggung, penutupan gitu lah. Nah itu ketebak banget kan kalo ditaro di lagu ke-13. Nah itu malah kita taro jadi nomer 8. Jadi kayak setelah penghabisan tapi belum klimaks juga. Jadi malah klimaks itu malah di lagu “I-Novel”. Itu zatpp yang sendirian, dan lucunya di lagu itu kita dibantu oleh choir. Kita eksperimen juga dengan choir, dan keliatannya kalo ada lagu-lagu yang cocok bakal kita terusin make choir.

 Rencananya di album ini bakal ada berapa single?

[Z]        Standar sih, ada tiga

 Tiap single bakal dibikin cdnya juga ga?

[Z]        Maunya sih tiap single. Kayak profkom itu kita ngerilis 200 kopi dan ga akan diduplikasi lagi.

          Dulu sebelum album ini zatpp kan banyak berkonstribusi ke film, trus gimana sih pandangan zatpp tentang film Indonesia?

[Z]    Kalo menurut gw pribadi sih, itu karena kebetulan orang-orang yang bekerja di film kebanyakan temen-temen kita semua. Jadi kalo mereka punya proyek, biasanya kita juga tau. Dan biasanya kita duluan yang dihubungi untuk konsul, dll. Kayak yang paling baru, “Kala”, kebetulan pas banget untuk musiknya zatpp, dan sutradaranya juga sama ama Janji Joni. Jadi akhirnya bener-bener total kita bantuin. Di album ost-nya zatpp ada dua lagu.

 Sebenernya klo dibandingin, perkembangan musik Indonesia dengan film Indonesia tuh gimana sih?

[Z]        Musik lebih maju lah, iya ga sih?

{Y}        Setuju!

{Z]        Film tuh masih kayak 50 tahun belakang.. Sorry to say, tapi film sekarang malah jadi bisnis. Bener-bener produser yang megang kendalinya. Liat aja sekarang, film horror merajai pasar film nasional. Dan itu masih akan berlangsung selama dua tahun ke depan. Soalnya orang-orang juga masih ada yang bakal antre di 21 tahun depan buat nonton film horror. Jadi siap-siap aja, pocong 11 atau 13!

            Dan mereka bikin film semurah-murahnya karena mereka mentingin kuantitas bukan kualitas

 

Kalo misalnya zatpp adalah sebuah film, akan menjadi film apa?

[L]      Klo gue mungkin film-film PI gitu, kayak era-era Chicago tahun 30-an. Istri mafia menyewa private investigator untuk nyelidikin sesuatu, item putih, trus detektifnya lagi duduk di ruangannya, ngisep pipa. Trus cewenya masuk dari balik kaca ada siluetnya. Film-film detektif kali ya. Tapi yang jaman-jaman dulu, tahun 30-an.

[Y]        Ada juga satu lagu yang judulnya “First Act Gun”, dan itu lagu sirkus. Jadi bayangannya tuh kayak film itu ga cuma satu tema. Itu kayak kita baru dateng dari dunia mana gitu trus yang ‘ho-ho-ho, welcome!’, kayak masuk wonderland gitu. Jadi satu tema yang detektif, satu tema lagi ada perangnya, jadi bener-bener menunjukkan variety dari album itu sendiri, ga cuma satu tema.

Gimana rasanya disebut Beatles yang sakit?

[Y]        Ehem, ga enak badan (sambil batuk-batuk, red)

            Kalo beatles-nya lagi sakit, lagi flu semua, ya gitu deh

[L]         Beatles yang ga mood, lagi BT, yang pincang, jadi buntung..

Kenapa sih terinspirasi banget sama Beatles?

[L]         Kita semua suka Beatles, tapi kalo buat gue Beatles nomer dua. Nomer satunya David Bowie.

            Mungkin kalo kita survey di famili 100, cari orang yang ga suka Beatles mungkin bakal susah banget.

[Y]        Karena tiap orang kan punya kesan sendiri dengan beatles

[L]         Gue kan sukanya Beatles era 66 ke depan, dan kalo gue bandingin dengan band-band tahun ‘96 ke atas, gue udah denger dari Beatles. Jadi mereka tuh kayak 30 tahun lebih maju otaknya. Dan anehnya lagi mereka berempat kompak banget. Bukan cuma satu orang aja yang jenius, tapi empat-empatnya, dan bisa kumpul jadi satu. Tapi above all, simplicity. Jadi mereka jenius bukan kayak jenius yang kayak jaman sekarang. Simple, kayak misalnya kita denger lagu “Obladi Oblada”, yang simpel banget. Buat kita nih musisi, kalo kita bawain kayak tadi tuh, berantakan

[Y]        Jadi lagu nih kita dengerin kayaknya gampang , tapi pas dibawain, susah banget. Ada detil-detil yang ga ketauan

[L]         Ga play-friendly hahahaha..

            Dan buat gue ga banyak band yang kayak gitu.

[Y]      Dan juga kalo misalnya kita suka satu band gitu ya, yang baru-baru. Pas mereka diwawancara, “lo inspirasinya siapa?” Akhirnya semua ke Beatles juga. Jadi buat apa kita terinspirasi ke mereka, karena merekapun terinspirasi dari beatles.

[L]         Kayak the source of evil hahahaha…

Kalo soal influence gimana? Ada yang lain di luar Beatles mungkin?

[L]         Beatles pasti. Tapi dari kecil kan Yudi, Iman, gue dengerinnya macem-macem. Waktu SMP ada yang dengerin metal, punk, dll, dan semuanya itu jadi ngebangun kita. Nambah wawasan musik kita juga. Kalo recently, gue sendiri banyak dengerin Classic Rock  Pinkfloyd gitu

[L]         Kalo Iman?

[I]         Sama..

[Y]        Kalo yang lagi didengerin sekarang Ben Folds Five sama Led Zeppelin

 Trus bisa diceritain soal labelnya?

[Z]        Labelnya berdiri karena ada zatpp. Namanya black morse, black dari musik delta blues. Morse dari kode morse. Jadi rilisan kita tuh orang-orang yang dengerin tuh ga langsung nelen langsung musiknya. Tapi kayak musti diulik lagi lah.

 Rencana jangka pendek dan jangka panjangnya zatpp apa?

[Y]        Jangka pendek sejuta kopi hahahaha…

[Z]        Kita mau bikin materi untuk video klip kedua. Tapi jangka pendek kita mau nentuin single kedua dulu lah. Jadi kalo udah tau bisa bikin video klip, bisa mulai produksi yang lain-lain juga.

[Z]        Kalo jangka panjangnya..

[Y]        Mendoktrin anak-anak

            Jadi ntar nama anak kita popo semua

[Z]        Dan akan banyak popo-popo kecil. hahahaha..

 //interview by 410 and pemudagalau//photo by 410//


interview//friday

December 24, 2007

Dua hari berturut-turut Bystanders ikut menjadi saksi penampilan band asal Surabaya ini. Setelah mereka selesai tampil dalam acara Happy Friday, Bystanders menghampiri mereka untuk sebuah wawancara singkat.

Pertama gimana sih kesan-kesannya secara general mengenai scene di Jakarta, Bekasi, Surabaya?
Kalo dilihat dari genrenya mungkin karena di sini biasanya lebih dulu, lebih dekat dengan sumber informasi. Jadi jakarta-bekasi secara genre tuh mungkin influencenya selangkah lebih dulu lah, dan secara komunitas juga, dibanding Surabaya.  Tapi menurut kami sekarang Surabaya sudah mulai bagus. Genrenya juga mulai bervariasi, band-band nya juga mulai banyak yang bagus, banyak rilisan-rilisan baru juga.

Klo setau saya kan surabaya terkenalnya dengan band-band cadas, trus sampai seberapa jauh sih hal tersebut mempengaruhi musiknya Friday?
Basically Friday tuh rock lah Klo di dalamnya ada unsur sedikit galau ya karena kita senang aja untuk membuat musik seperti itu. Emang lingkungannya di surabaya tuh rock banget. Surabaya dulu tuh rock semua, baru taun 2000-an lah indie pop masuk. Setelah baru mulai rame, banyak genre-genre baru yang masuk dan mempengaruhi pelaku musik di Surabaya. Klo dulu tuh rock terus… sampe dulu pernah ada julukan barometernya musik rock kan Surabaya… Jadi kalau Friday pengen nyoba musik galau tapi masih dibalut rock. Galau metal gitu lah, hahahaha…

Friday sendiri tuh mencirikan musiknya gimana?
Kalo dari kita sendiri, selalu menyebutnya secara general aja, rock. Tapi kita juga mendapat pengaruh ambient, shoegaze, dan yang semacam itu lah. Bahkan ada yang ngomong jazz-punk-psychadelic rock opo iku..  Gado-gado lah, hahahhaa…

Bedanya apa antara manggung di Jakarta-Bekasi-Surabaya?
Klo di Jakarta mungkin karena album kita ini dirilis juga di jkt, jadi ada beberapa orang yang tau juga lagu kita, dan kita lumayan diapresiasi. Sedangkan klo di kota-kota lain masih banyak yang diem gitu, ga tau musik kita. Kalo di Surabaya sendiri responnya udah mulai bagus lah

Dalam waktu dekat ada rencana untuk tur?
Klo di Surabaya mungkin masih banyak lah tawaran manggung. Tapi klo di luar Surabaya mau sekalian nunggu dirilisnya repackaged, tapi repackagednya belum selesai sih.

Rencananya kapan?
masih belum pasti juga, karena kita masih brainstorming aja, apakah mau repackaged/remix/album baru. Mudah-mudahan sih bisa cepet rilis, paling ga tahun ini lah.

//interview by 410//


interview//ruangmaya

December 24, 2007

 

dsc_3114-ruangmaya.jpg

Awalnya Bystanders mengenal dari ruangmaya dari media yang sama dengan nama mereka, ruang maya. Namun saat meliput New Pollution #2 di Jogja, Bystanders akhirnya bertemu dengan mereka di dunia sebenarnya. Berikut hasil wawancara singkatnya.

 
Kalo dari kalian sendiri, kalian menyebut musik ruangmaya tuh gimana?
Nyebut musik kita apa ya? susah je kalo diterangin. Menjelaskannya juga ga sesederhana itu. Lagipula masing-masing personil punya influence yang berbeda-beda. Kita sering denger berbagai jenis musik, jadi kita ga mau ngotak-ngotakkan lah. Banyak juga orang yang menyimpulkan kita seperti dream pop atau electronic-eksperimental, tapi kita sendiri ga pernah menyimpulkan musik kita kayak gitu sih. Kalo dari kita musik itu mengalir aja. Dan memang musik kita dibilang seperti itu kan menurut interpretasi orang-orang aja, sedangkan kita sendiri ga pernah mengotakkan musik kita ini atau itu.

Pertama kali tercetus untuk membuat musik seperti itu gimana ceritanya?
Kebetulan waktu itu Angga sama Opik bikin band. Tapi instrumentnya banyak yang tidak terjangkau. Lalu masuklah Lintang untuk ngisi bagian loop-nya

Di jokja sendiri, banyak ga sih band-band yang muncul dengan musik yang mungkin mirip dengan ruangmaya?
Kalo dilihat secara umum sih di sini pop-nya banyak, soalnya kan jogja kulturnya pop banget. Mungkin kalo dari elektronik-nya kita suka dimiripkan dengan oh nina. Tapi nanti coba lihat sendiri aja. (kebetulan waktu itu Bystanders mewawancara ruangmaya sesaat sebelum penampilan oh, nina!-red)

Tadi kan sempet bawain The Cure yang “Trust”, apakah The Cure menjadi salah satu influence kuat untuk ruangmaya?
Influence sih banyak, kadang-kadang kita juga bawain The Beatles, bawain The Police, trus ada juga yang suka GnR. Kadang2 sepultura, hahaha. Intinya kita bawain apaan aja koq. ga usah serius2 lah, dibawa fun aja. kita mungkin musiknya galau tapi sebetulnya kita nyantei koq. sebetulnya kita ceria2 gitu, hahahahaha….

Namanya kenapa ruangmaya?
Tadinya mau rivermaya tapi udah ada yang make, hahahahaha… 
Kalo definisi dari kita tentang ruangmaya tuh ruangan yang kita ciptakan tak terbatas…selayak nya ruang khayal yang membawa kita ke sebuah mimpi dengan alunan yang indah dan mendayu….

Katanya ruangmaya sedanga mempersiapkan EP ya? Trus sudah sampai mana materi untuk EP kalian?
Untuk masalah EP kita udah ada materi..rencana juli lalu udah selesai mixing.. Tapi karna kuliah yang sangat padat dan kesibukan yang sangat padat kita tunda dulu.. ya mudah mudahan lah cepat selesai dan bisa merespon band jogja dan luar kota.. doakan ya? hehehehe….


interview//summer in berlin

December 24, 2007

dsc_2884-sib.jpg

Akhir Juli lalu Bystanders menghadiri pembukaan sebuah video eksibisi, OK MILITIA di Galeri Nasional, Jakarta. Pada hari pertama eksibisi tersebut dihadirkan 3 grup musik untuk perform. Summer in Berlin salah satunya. Interested with the words “Summer in Berlin”, Bystanders kemudian mengajak ngobrol salah seorang personilnya yang bernama lengkap Lily Adi Permana. Here it is.

Bisa diceritain ga awal terbentuknya Summer in Berlin (SIB)?
Awal terbentuknya Summer in Berlin (SIB) itu iseng hehehehe… Awalnya cuma sebuah side project dari gue dan Ian. Berhubung Ian ini lagi vakum dari the Grasmeresnya! Kebetulan gue juga lagi ga ada kesibukan dalam bermusik, ya udah akhirnya terbentuklah SIB. Mungkin kami membuat SIB karena pengen mencoba bereksplorasi lebih dalam bermusik, dan juga emang lagi sedikit jenuh, yaah hiburan di kala lagi libur dari kegiatan pekerjaan, atau apalah gue juga bingung hehe (sama, kita juga bingung heuheu, red). Mungkin sebuah side project yg berbuntut panjang kali ya! Tapi kami membuat SIB bukan karena musik electronic sedang naik, tapi karena kami memang ga ada fasilitas lain dlm bermusik, maen gitar ga jago, apalagi alat musik yg lain, lagipula musik electronic dah lama ada kok di sini.

Konsep spesifik musik yang dianut apa si?
SIB itu ga berkonsep, kami membuat musik tanpa konsep apapun. Bagi kami musik itu bebas, konsep malah menjadi sebuah tembok yang menghalangi kami. Sama halnya dalam genre kami ga mau dikotak-kotakkan.. ga punya kostum, ga harus berpenampilan seperti …………… ya tau lah! (*berpikir*, red)

Posisi masing-masing personil di band? Tanggung jawabnya apa aja?
Ian vokal bertanggung jawab nyanyi, gue sequencer bertanggung jawab dalam hal membuat musik dan kadang gue dibantu sama Adel pada sampler, looping over voice pas lagi perfom.

Apa si yang SIB harapkan dari audiens setelah denger musik SIB?
Ga berharap apa-apa, ya kalo audiensnya suka sama musik kami syukur, kalo ga suka ya gapapa (pasrah amat sih, red). Soalnya kami bermusik itu akhirnya ya mempresentasikannya ke public, untuk didengar orang banyak! Mudah-mudahan sih audiensnya ngerti bahwa musik kami berbicara tentang sesuatu, bukan noise asal bikin. Intinya sih mencoba membuat orang untuk melihat sesuatu ga hanya dari satu sudut pandang mata aja. Hehe ga jelas ya? (*mengernyitkan dahi*, red)

Emang ga berniat pake vokalis ya? Waktu main di Galeri Nasional kan ga pake tuh.
Ian itu vokalis di Summer in Berlin. Kalo kemarin yg main di Galeri Nasional itu live P.A aja dari gue, ngewakilin SIB, dibantu sama Adel.

Apakah SIB merupakan titik akhir perjalanan karir musik masing-masing personil? Dalam artian, kalian akan solid di sini.
Kalo titik akhir ga lah, karena SIB ini sebuah side project yang pastinya bisa aja salah satu dari orang yang ada di SIB ini bisa mundur kapan pun, tapi ya mungkin akan diteruskan walau hanya tinggal satu orang aja.

Kenapa summer bukan spring? Trus kenapa milih Jerman bukan negara eropa lainnya?
Karena lebih enak summer daripada spring. Kalo kenapa Jerman ya karena Berlin itu tempat yang sangat gue ingin kunjungi hehe.
Summer in Berlin itu sebenarnya judul lagunya Alphaville kok hehe.

Kalian itu lebih fokus ke bikin ep or album gitu apa main main dan main live??
Ya kalo ada rejeki pengen bikin ep ato album sendiri sih, tapi kalo sekarang kami coba buat musik dulu dan bermain dari satu tempat ke tempat lain.

Kalo ada tawaran dari major label untuk bikin album perdana, tapi mereka pengennya SIB ngikutin apa yg mereka mau, pokoknya mulai dari musik ampe cover album mereka yang nentuin. Gimana tuh? Diambil ga?
Ga mau, mendingan gue bikin album sendiri pake duit gue sendiri hehehe.

Menurut lo, 3 tahun ke depan SIB dah seterkenal Rock n Roll Mafia ato GE ga? Heuheuehue.
Ga lah masa cuma setenar Rock n Roll Mafia ma GE doang, yang lebih dong. Kalo secara pribadi sih gue ga peduli bisa tenar atau ga seperti mereka! Lagipula gue bukan sosok pribadi manusia yang GILPOP (gila popularitas) lebih enak jadi orang biasa aja.

Anyway by the way, kan Agustus ini kita ngerayain ultah begara kita tercinta nih. Dampak positif musik SIB terhadap keadaan sosial ekonomi negara kita apa? Hueheuheuheu.
Oh tujuh belasan. Ya dampak positifnya mungkin gue bisa liat lagi panjat pinang di kalimalang hehehe becanda! Tapi yang pasti semoga keadaan ekonominya membaik. Ya kalo dampaknya gue ga tau tapi mudah-mudahan sih berdampak positif.

//interview by foe


interview//ELEMENTAL GAZE

December 24, 2007

 

dsc_5136.jpg

Sudah lama Bystanders berniat untuk mewawancara band yang satu ini. Saat siang itu Bystanders bertandang ke markas mereka di sebuah rumah kos di Cisitu, Bandung, ternyata personil mereka belum lengkap dan mereka juga masih terlalu letih karena harus bersiap diri untuk tampil malam harinya. Akhirnya di sela-sela sebuah festival distro, bystanders mewawancara Fuad (F), Bilan (B) dan Luthfi (L) dari Elemental Gaze, dengan iringan musik reggae yang terdengar dengan jelas dari backstage.

 

Bisa diceritain secara singkat ga, awal dibentuknya Elemental Gaze?

[F] Jadi sekitar tahun 2004, saya sama teman sebangku saya, Myrdal mau bikin full band yang influencenya shoegaze. Tapi setelah beberapa kali manggung, sekitar pertengahan tahun 2005, kita memutuskan untuk vakum dulu. Karena Myrdal juga sibuk dengan band sebelumnya, The Retro, dan saya juga mulai kehilangan mood. Tapi trus ada Fitrah yang menawarkan diri untuk jadi manager Elemental Gaze, dan akhirnya saya juga pengen ngeband lagi. Tapi waktu itu kan saya sendirian, jadi trus saya ngajakin Luthfi, trus ngajak Bilan juga. Dan pertama kali kita tampil bertiga ya waktu kita tampil di Jakarta akhir tahun lalu. Jadi waktu di Jakarta kemaren itu adalah penampilan perdana kita bertiga. Bisa dibilang itu Elemental Gaze lahir kembali. Setelah itu ya berlanjut sampai sekarang.

 

Pertama kali ketemu Luthfi tuh gimana?

[F]  Jadi waktu itu mp3 lagu-lagu Elemental Gaze nyebar, dan nyampe ke Gembi. Trus Gembi ngenalin ke Yudi dan Luthfi (Yudi = kakaknya Luthfi, red). Ternyata Luthfi juga suka Elemental Gaze, dan saya juga suka sama proyekannya Luthfi waktu itu, Beautify. Jadilah akhirnya Luthfi gabung bareng EG.

 

Kalo pertama kali kenal Bilan?

[L]  mereka kan emang temen sekelas, hehehehe…

[F]  Jadi waktu Elemental Gaze masih saya sama Myrdal, Bilan emang udah ngebantu EG di bagian visual (video art). Trus pas EG ngajakin luthfi, bilan juga udah ngeremix beberapa lagu EG, dan akhirnya bilan gabung juga ke EG.

 

Influence musiknya EG dari mana?

[F] My Bloody Valentine,

[L]  Robin Guthrie

[B]  Iya, Cocteau Twins ama Robin Guthrie, Ulrich Schnauss,

[B]  Kraftwek,

[L]  Stun rus! (maksudnya stone roses, red)

[B]  Blur

 

Kalo dari EG sendiri, kalian nyebut musik kalian tuh apa?

[L]  kita sih nyebutnya nu gaze

 

Nu gaze tuh kayak gmn?

[L]  shoegaze era baru lah, klo bisa dibilang begitu

[B]  kita sebenernya ga pengen ngotak-ngotakkin sih, cuma kita pengen mengeksplore sound-sound yang berdasarkan shoegaze, gitu

 

kenapa namanya elemental gaze?

[L]  Dari lagunya Robin Guthrie

[F]  Nama Elemental Gaze awalnya dari lagunya Robin Guthrie yang judulnya ”Elemental”, trus kalo dari kita sendiri memaknai nama Elemental Gaze tuh seperti menerawangi sesuatu tapi lebih dalem lagi.

[L]  melihat hal-hal yang kebanyakan orang nglupain hal itu, nah itu yang pengen kita angkat.

[F]  Pengen ngeliat sesuatu lebih dalem aja

 

Rencana kalian dalam waktu dekat apa?

[B]  Bikin EP

 

EP kedua atau gimana? Kan tahun lalu ngeluarin juga.

[F]  Bukan sih, yang ini EP. Kalo yang dulu tuh sebetulnya untuk promo CD.

 

EP yang baru udah ada judulnya ga?

[F]  Belum ada

 

Trus di EP itu bakal ada berapa lagu?

[F]  sekitar 4 lah

 

Bakal rilis kapan?

[B]  September lah, tadinya mau Agustus tapi ternyata ga kekejar

[F]  Karena ga ada waktu juga sih

 

Lho September bukannya malah pas puasa?

[L]  Oh ga koq, kita pengennya awal september udah kelar

[B]  Jadi mulai ngegarapnya Agustus, dan mudah-mudahan bisa selesai bulan September

 

Klo harapan jangka panjangnya apa?

[F]  Terus bikin lagu, makin ngematengin band itu sendiri,

      dan terus mengeksplore apa yang kita senengin aja.

[L]  Pengennya sih maen di luar yah…

Luar mana nih?

[L]  Luar negeri lah…

Timor Leste?

[L]  Latvia… hahahahaha….

[B]   Terus mengeksplore sound-sound baru

[F]  Lah sama donk?

[B]  Sama yah? hehehe

 

Performance yang paling berkesan?

[F]  Pertama yang di Jakarta. Soalnya itu pertama kali bertiga, dan bawain lagu-lagu baru

[L]  sama yg ini (Kick Fest), soundnya paling enak

      Tadi soundnya enak ga?

[B]  better lah. 80 persen bagus

[L]  klo dibandingin yang lain?

[B]  gw lebih seneng yg di blitz sih, lebih enak di sana

[L]  soalnya di blitz kan set listnya banyak, jadi bisa menikmati panggung juga gitu

      tujuh lagu gitu, cape juga, hehehehe…

      jadi tiga itu lah

 

Trus proses bikin lagunya sendiri gmn?

[F]  Jadi biasanya materi awal saya yang buat, habis itu diserahin ke yang lain. Trus biasanya diedit sama bilan, trus luthfi nambahin suara gitar… Abis itu diramu lagi bareng-bareng..

 

Klo maen musik dengan media elektronik begini, lebih gampang ga sih?

Kan ga usah ke studio buat latian gitu, misalnya..

[F]  Ya jadi lebih gampang, karena kita juga menggunakan instrumen elektronik cukup banyak, jadi latiannya lebih gampang lah

      jadi kita bisa latian gitu di rumah, daripada harus ke studio

      Paling kalo mau manggung aja kita latian di studio

 

Trus ntar untuk recording EP gmn?

recording di studio atau lebih ke home recording?

[F]  home recording aja.

[B}  klo sekarang home recording dulu,

      Lagi nyoba home recording dulu lah.

 

OK, makasih banget yah atas interviewnya. Sukses buat calon EP-nya ya!


interview // annemarie

June 14, 2007

Mungkin akan lebih pas seandainya Bystanders bisa mewawancara Annemarie di saat piknik, sesuai dengan suasana cover album dan musik mereka. Namun karena tidak memungkinkan, Bystanders hanya sempat mengobrol-ngobrol sejenak dengan mereka di sela-sela gig mereka di Jakarta dan dilanjutkan melalui e-mail beberapa hari kemudian.

Seberapa jauh sih musik Annemarie berubah sejak awal berdirinya sampai sekarang, termasuk sejak adanya perubahan personil?

Kalo dulu, kita memang sangat terpengaruh dengan musik twee pop, memang waktu itu lagi gencar dengerin itu. Kita dibilang twee pop ya ga menolak, tapi kita juga ga pengen mematok untuk di twee pop aja. Mengenai perubahan personil sebenarnya nggak ada masalah sama sekali, karena masing-masing dari kami (personil lama dan baru) semuanya suka dengan musik pop yang kami bawakan sendiri. Jadi musik yang kami bawakan masih konsisten berada di jalur pop-lah, hehe.

Untuk ke depannya Annemarie bakal terus di jalur twee pop atau ada kemungkinan untuk mengeksplore musik lainnya (yg masih di jalur pop mungkin)?

Kami juga ingin bereksperimental, masih dengan basic musik pop, tapi lebih melakukan eksplorasi sound mungkin.

Di album ABC On TV itu ada satu track juga, Strawberry Fields Forever, yang agak berbeda sih, sound yang ada disitu berasal dari groovebox. Mungkin untuk lagu-lagu berikutnya, kami bakal menambahkan sound dari groovebox juga, tapi yang sudah kepikiran sih pengennya menambahkan brass section. Terompet, juga biola mungkin?

Jarak antara rilis album sama acara launchingnya sendiri kan cukup lama, hambatannya apa sih?

Hambatan yang paling utama itu adalah kesibukan akademis, karena kami semua masih kuliah. Untungnya teman-teman dari Maritime (label) mau membantu mengadakan launching. Walaupun tadinya sempat pesimis, tapi akhirnya acaranya jadi diadakan bulan April, sekitar 2 bulan setelah rilis album. Untuk acara launching juga kita nggak mau yang gede-gedean, yang penting ngumpul-ngumpul aja lah.

Proses bikin albumnya sendiri berapa lama?

6 bulan. Kami butuh tiga bulan untuk persiapan bikin lagu, dan tiga bulan untuk rekaman. Waktunya agak lama karena, lagi-lagi, kesibukan akademis yang cukup membutuhkan perhatian, jadi pengerjaannya cuma bisa waktu weekend aja.

Ada hambatan tertentu ga waktu proses bikin albumnya, dengan personil yang belum tetap misalnya?

Ada. Waktu itu kami belum punya drummer tetap, dan bingung juga nyari drummer untuk recording. Untungnya, produser album kami, Vanco, bisa main drum dan juga bersedia untuk mengisi track drum yang belum direkam. Kalau yang lainnya nggak ada masalah, bahkan personil yang lama juga ikutan ngebantuin recordingnya kok.

Sedangkan proses bikin lagu-lagunya sendiri gimana?

Yang biasanya bikin lagu itu Iqbal. Dia ngerekam materi kasarnya dulu, terus dikasih ke personil yang lain. Kami masing-masing pikirin sendiri mau diisi seperti apa, terus dicoba untuk digabung waktu latihan. Dari situ masing-masing ngasih feedback, dan terus seperti itu sampai lagunya fix jadi.

Seberapa jauh sih kontribusi personil baru terhadap musik Annemarie?

Jauh juga. Feel pop-nya jadi lebih kerasa sekarang karena basic pop personil baru lebih kuat. Jojon, bassis, juga banyak berperan dalam proses pembuatan lagu-lagu baru.

Untuk lagu “Strawberry Fields Forever” itu kan beda banget dengan lagu yang lain, itu kenapa?

Basically, kami pengen terus bereksperimental dalam hal sound. Dan waktu itu Strawberry Fields Forever itu adalah hasil eksperimen kami. Memang berbeda sih, tapi kami suka dengan track itu. Dan menurut kami juga tidak ada salahnya untuk memasukkan lagu itu ke dalam album.

Adakah rencana untuk tur ke luar negeri (negeri jiran) seperti yang banyak dilakukan band2 indie beberapa waktu belakangan?

Ada! Bukan ke negeri jiran tapi, hehe. Kami masih berencana untuk manggung di Swedia.

Pertengahan tahun lalu sebenarnya Music Is My Girlfriend (MIMG, label indie Swedia yang merilis mini album Annemarie, The Living Model EP tahun 2004, juga album ABC On TV sekarang ini) nawarin kami melakukan tur, 20 gigs dalam waktu 1 bulan di Swedia. Tapi sayangnya nggak jadi karena masalah dana.

Kami sangat excited untuk manggung di Swedia karena musik kami dapat banyak review bagus dari sana. Mungkin karena genre musik kami swedish pop yang sama dengan musik pop disana ya…

Kalo ngliat covernya kan itu temanya piknik gitu, menurut kalian sendiri lagu apa sih yang paling cocok untuk dijadikan teman piknik?

Apple dan The Living Model sepertinya bakal cocok untuk piknik. Kalau kami dengerin lagu itu pasti bawaan moodnya jadi senang, hehe.

Kenapa dipilih “ABC on TV” sebagai judul albumnya?

Dulu itu setiap personel punya usulan judul album, tapi kami semua masih ngerasa itu nggak cocok. Akhirnya kami memutuskan untuk memakai salah satu judul lagu untuk dijadikan album. ABC on TV itu terpilih jadi judul album karena menurut kami itu sangat mewakili image pop yang ingin ditampilkan oleh Annemarie.

Kata-kata ABC on TV mengingatkan saya pada acara TV waktu saya kecil. Kalau Annemarie adalah sebuah acara TV, akan seperti apa ya?

Apa ya.. mungkin seperti acara anak-anak yang colourful dan menyenangkan. Seperti Sesame Street atau Pocoyo-nya Disney mungkin? Haha..



//interview and photo by 410



interview // DJ DANES

June 14, 2007

kenapa drum and bass?? kapan milestone itu bermula?

waktu gue kuliah di jerman, gue suka collect records (12″ inch vinyl), semuanya gue kumpulin yang gue suka sampe satu saat gue dapet satu mixtape Grooverider keluaran prototype taun 1998. The rest is history…

Koleksi vinyl pertama loe apa?

tough question…can’t recall it ..tapi gue rasa itu Abstract Truth – Get Another Plan keluaran Talkin Loud

Waw.. talkin loud itu labelnya si sir giles peterson khan?? dan kayaknya lebih banyak acid jazz??

wah, lo pasti punya taste music yang ok hehehe. Yap. gilles bikin talkin loud tapi disitu banyak juga artis2 non acid jazz. basicly talkin loud always delivers quality. roni size juga ada di talkin loud. abstract truth itu ke arah jazzy jungle kinda stuff…gue amazed dengan lagu2 kayak gitu di taun segitu..langka menurut gue di taun 98.

And then the drum n bass taste loe mulai pas lo kenal vinylnya siapa??

it has to be roni size and all the full cycle family, roni size – brown paper bag, krust – warhead, classic stuff.

bisa ceritain dikit tentang sejarah drum and bass??

singkatnya, musik ini berawal dari illegal parties dan radio show di UK di awal tahun 90an. Lalu mulai keluar nama2 seperti Grooverider & Fabio, LTJ Bukem, Goldie dengan Timeless nya. They helped to shape the future of drum n bass. Drum n bass sendiri udah melewati 3 golden years di taun 94, 97, dan 2001.

Jadi acid jazz itu rootnya drum and bass, secara kebanyakan artisnya jebolan talkin loud record?

talkin loud mungkin sempet kedatengan artis2 seperti roni size dll, tapi sebenernya label itu tidak membuat dirinya identik dengan dnb. tapi kalau gue mau bilang singkatnya, acid jazz dan dnb berbeda satu sama lain. acid jazz berangkat dari jazz dengan enrichment genre2 lain, dnb berangkat dari four to the floor, evolved dari oldskool, jungle, breaks, etc

kapan nyoba mulai nge-dj?

small gig di Aachen, taun 98.. I wasn’t playing dnb though. Gue main breaks disitu. It was monumental for me though

emang gimana ceritanya dari ngumpulin vinyl bisa langsung get involve in dance floor party gigs?

terjadi sejalan dengan waktu aja.Selama kuliah, gue banyak ngabisin waktu di record store, kenal dengan dj lokal, belajar ngedj sendiri trus dapet gig sampe gue sempet kerja jd resident dj dan main di butik.

gig pertama loe dengan vibe drum and bass??

Nope. breaks..atau dulu gue sebutnya breakbeat..it was my first passion actually

trus dari ngegig, sempet bikin project apa aja?? i mean in the form of discography or somethin??

Oh… hmm… discography atau gig apa aja? discography nih maksudnya release kan?

Yes

Oh… hmm… taun 2001 gue release universal drumz 1 – vorsprung durch drum n bass…itu mix cd yang keluar pertama kali commercialy di jakarta, bandung dan jogjakarta. 2003 gue release universal drumz 2, di release commercially juga. 2007 ini gue buat universal drumz 3, available as downloadable podcast. kalau discography tunes media distorsi – in between (danes remix radio edit), the sastro – plaza maya (danes remix), danes feat. allied force – dancing in the sun, rock n roll mafia – what’s its all about (danes remix), danes – murder selecta (released in singapore only), apa lagi ya gue lupa euy.. hehehe…

kalo universal drumz seri 1,2,3 itu sebenernya kompilasi dari dj2x drum and bass yang loe kompilasi ya??

Iya

releasenya pake label apa??

Indie. alias no label. gue release sendiri. helped by some of my friends to distribute it. you’d find universal drumz most likely di distro2 dan aksara waktu itu. dan limited edition…only 100-200 copies

emangnya kompilasi tiap2x dj di situ ga terikat satu label??

Gak terikat satu label

in other word emang kebanyakan dj yang loe ajak di project universal drumz itu dj2x indie ya??

di universal drumz itu adalah mostly big names di drum n bass scene di UK

ada dj lokal ga yang terlibat di project itu selaen loe??

gak ada sih. pada waktu itu drum n bass masih terhitung musik baru di Indonesia. jadi dj yang ada ya itu2 aja.

gw liat loe sering pake screen name danes stereowerk, emang stereowerk itu apa??

stereowerk adalah drum n bass collective di Indonesia yang gue buat di taun 2001. Sepulangnya gue dari Jerman, gue mau nerusin apa yang gue jalanin disana dan stereowerk ini yang akan menjadi platform untuk drum n bass di Indonesia. anggota terakhir ada total 7 orang. dan distributed di jakarta, bandung dan jogjakarta. so basiclly we covered all places in Indonesia. tapi status stereowerk sekarang harus di freezed dulu karena semua anggotanya sudah mulai berumur dan mulai sibuk dengan kerjaan masing2.

emang siapa aja membernya??

mereka semua udah jadi legend di drum n bass scene di Indonesia sejak taun 2001, ada Tara, Weza, Icham, gue, dll

bisa di list lengkap ga (nama lengkap)??

waktu stereowerk dibuat,..anggota awal termasuk founder nya adalah cuma gue sendiri. lalu member awal ada 3 orang, yaitu Dodi lalu ada Adhe yang akhirnya menang di Heineken Thirst. sisanya banyak pergantian member.

Kalo drum sonic science itu project loe bareng dj laen ato emang single dj performance??

project sendiri gue

masih jalan?? udah ngeluarin single or album??

drum sonic science masih berbentuk open project….jadi statusnya masih jalan (dan pending dulu)…sebenernya gue kasih nama itu untuk home studio gue…rencana mau keluarin album tapi mesti banyak pr yang harus dikerjain termasuk milih lagu etc.

kalo komunitas drum and bass di indonesia sendiri gimana??

kalau gue boleh bilang, stereowerk punya pengaruh kuat di komunitas drum n bass di indonesia pada waktu itu. Sekarang ini gue udah nggak involve lagi di stereowerk dan komunitas itu sendiri. Jadi agak taking back myself a bit. Mungkin udah saatnya berhenti main drum n bass.

hahaha… kok gitu??

alesannya simple sih…dari taun 1998 sampe sekarang, gue udah hampir 10 taun dealing dengan drum n bass dan pernak pernik nya. let just say, I had my time, udah ngerasain semua nya.

selama loe ngedj, ada ga dj laen yang bisa dibilang mate loe dalam ngedj??

semua yang di stereowerk adalah mate gue.

menurut loe scene musik indonesia saat ini gimana?? baik industrial maupun indie

label2 indie udah mulai going strong kalo gue liat. so major labels..you’d better watch out. Hahaha.. it’s all good lah

ada ga yang jadi favourite loe?? ato setidaknya yang sering loe denger saat ini

wah banyak…hmm..producer fav gue kayak 4 hero, dave taylor, pendulum, etc

kalo yang lokal??

Hmm… dj fav gue itu ada namanya nishkra di bandung, yang bikin poptastic kalo ga salah. producer fav mungkin blom ada yang sreg, tapi banyak producer2 yang udah makin keren sekarang kayak hendra rnrm

katanya lagi nyoba ngerelease label ya?? symmetrix records??

symmetrix records itu sebenernya direncanakan untuk ngeluarin lagu2 gue yang numpuk di studio dan blom sempet dikeluarin. Tapi akhir2 malah aktif di post production untuk bikin jingle iklan, album mixing, dan mastering.

udah ngeproduce apa aja??

ada beberapa album yang pernah di mixing disini. iklan juga sempet beberapa. dan pastinya hasil karya gue sendiri..salah satunya in between nya media distorsi yang buat di release di jepang.

oya tentang in betweenya media distorsi yang loe remix, itu gimana ceritanya sampe di releas di beberapa kompilasi, such as jadi supplemen kompilasinya di majalah rolling stone yang bulan mei ini??

ceritanya pretty simple, untuk project drum sonic science, gue banyak kolaborasi dengan artis2 lokal kayak media distorsi, rock n roll mafia, the sastro, junko, etc etc…indra7 (media distorsi) nawarin gue bikin remix in between untuk album repackaged mereka di jepang.

kalo ada kesempatan kolaborasi or ngeremix or somethin bareng artist lokal, who would you prefer to??

Hmm… almarhum chrisye? Hahaha…

ada lagi??

blom ada. Soalnya belum ada waktu

bisa share ga, 10 playlist current loe??

boleh…playlist gue ga semua drum n bass…isinya lagu2 yang lagi gue suka at the moment;

1. Carol Williams – Can’t Get Away from Loving you

2. Subfocus – Airplane

3. Mylo – Mars Needs Women

4. 4 Hero – Play with Changes

5. Groove Armada – Get Down (extended remix)

6. Refunk – It’s Groovey

7. Coldcut – True Skool remix

8. Prodigy – Charly

9. Masters at Work – To be in love (MJ Cole remix)

10. Bebel Gilberto – lupa judulnya, (Telefon Tel Aviv remix)

dari list gue diatas cuma ada 1 lagu drum n bass

the last question: dj mana aja yang nginfluence loe banget dalam karier loe ber dj ria??

the last & the toughest question,…hehe…gue akan coba sebut sedikit aja…tapi 3 nama ini cukup banyak berpengaruh buat gue…dj zinc, jeff mills sama sir gilles peterson. satu lagi mungkin this new young upcoming dj namanya james zabiela.

oya satu lagi?? hehehe… ada plan ngeluarin album ga dalam waktu dekat??

plan gue dalam waktu dekat,..mungkin gue akan vakuum dari scene drum n bass di Indonesia dan maybe going back to slower stuff

Biodata dj Danes:

nama lengkap: anindio daneswara

myspace : www.myspace.com/drumsonicscience

friendster: http://www.friendster.com/danes

//interview by wongacid