album review//discography of ballads of the cliche’s EPs

January 19, 2008

bystanders-040501.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Hey, Smiley! EP]
2004 // ballads of the cliché

Berapa banyakkah dari para pecinta musik pop yang sangat merasakan dampak karya-karya dari musisi-musisi seperti Blueboy, Edson, Belle and Sebastian bahkan dari roots seperti free design, The Beatles dan Simon & Garfunkel? Ballads of the cliché adalah contoh dari membekasnya dampak tersebut. Ya, sekelompok pemuda dan seorang pemudi pecinta musik-musik akustik, gitar pop dan folk ini merilis sebuah debut ep sebagai tribute untuk musisi favorit mereka!

Hey Smiley! EP yang berisikan 5 buah lagu ini adalah bentuk kontribusi mereka di dunia indiepop Indonesia. Dengan berbekal gitar kopong, back vocal yang harmonis, vocal yang khas folk, dentingan piano disana-sini sebagai pemanis, nada-nada dari harmonica, mereka telah berhasil menghadirkan ‘minuman’ yang sangat menyegarkan bagi para penggemar pop yang sudah lama haus akan musik pop yang jujur, simple, easy listening dan penuh cerita. Simak saja kelima lagu dalam ep ini and see what’s it all about.

Untuk penggemar : belle and Sebastian, edson, beatles, Bacharach, simon & garfunkel and all other folksy guitar pop musicians. //arvidson//

bystanders-040502.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Snapshot of Serenity EP]
2005 // ballads of the cliché

Kalau Hey Smiley adalah EP perkenalan dan merefresh kenangan pada pahlawan musik folk mereka, Snapshot of Serenity EP adalah perjalanan BOTC menuju kedewasaan. Dalam rekaman ini jelas terlihat banyak kemajuan baik dari segi teknis rekaman maupun dari segi materi yang semakin matang, sebagai lagu pembuka “To The Left, To The Same Sun That Guide Us Through That Day” BOTC tampak ingin mencoba mengawinkan petikan gitar folk dengan unsur musik klasik dengan string sections yang kental juga piano yang dominan. Tentunya terdapat anthem-anthem folk seperti pada lagu “My Sense” dan “Season of Joy” layaknya mendengarkan field mice ataupun tetua musik folk, Simon & Garfunkel. Pada “Where Are You, monet? I Miss Your Beautiful Sky”? tampaknya mereka merasa kehilangan the beauty of monet sky dari salah satu lagu dari EP mereka yang terdahulu. Dan pada lagu penutup “Chance of A Lifetime” jika kita menyimak sampai akhir, mereka menyelipkan versi remix dari lagu “Under the Beautiful Monet Sky” untuk mengobati kerinduan mereka .//arvidson//

bystanders-040503.jpg
BALLADS OF THE CLICHÉ
[Love Parade EP]
2006 // ballads of the cliché

Di antara EP botc sebelumnya, bisa dibilang EP ini adalah yang paling berwarna. Boleh dibilang lagu “Love Parade” adalah sebuah pembuktian bahwa band ini memang serius menggarap musiknya dan makin mematangkan permainan mereka. Suara saxophone dari Zennis yang mulai dominan juga menunjukkan musik mereka yang makin penuh, sebuah terobosan baru yang berhasil menambah kedewasaan botc.

Sayangnya di lain sisi, EP ini bagaikan EP recycle. Karena selain “Love Parade”, tidak ada lagu baru yang ditawarkan oleh band ini. Memang, hanya di EP ini mereka membawakan “Pop Kinetik”, lagu dari band indie legendaris Jakarta Rumah Sakit, namun tentu saja lagu ini bukanlah sesuatu hal yang baru bagi mereka yang telah mengikuti pergerakan indie sejak dasawarsa 90-an. Untungnya, botc berhasil membawakan lagu ini dengan sangat baik, dengan versi folk-pop mereka tentunya.

Dua lagu berikutnya, merupakan remake dari lagu-lagu mereka sebelumnya. “Simple”, tentu saja sebuah gubahan baru dari “Make It Simple” yang ada di EP Hey Smiley! repackaged, yang sebetulnya versi aslinya terdengar lebih manis. Kemudian ada “French Riviera” yang diremix oleh Tosynth (Arcade Playmate, Earth Colony), yang memang mendalami lagu-lagu 80-an/chiptunes. Jadi tidak heran kalau lagu ini menjadi terdengar seperti suara permainan Nintendo. //410//

bystanders-040504.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Feel Free to Feel Lost EP]
2007 // ballads of the cliché

Banyak misinterpretasi yang timbul saat Ballads of the Cliché merilis EP dan full album mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan walaupun EP ini dijual dengan harga yang cukup ekonomis, namun sebagian besar penggemar musik mereka lebih memilih menunggu sedikit lebih lama untuk membeli albumnya.

Padahal di album ini ada lagu akustik yang sangat manis dan menarik untuk disimak. Judulnya “Miss You at the First Sight”. Lagu yang sederhana, singkat, dan sesuai untuk digunakan sebagai pendamping bersantai.

Namun selain itu, ya sudah. Karena EP ini hanya berisi tiga lagu, dan dua lagu lainnya sebetulnya lagu yang sama, “Feel Free to Feel Lost”. Yang satu dibawakan secara full band, lalu ada versi akustiknya. Dan walaupun lagu ini dipilih menjadi single pertama mereka dan memang lagu ini unik dan cukup berbeda dengan lagu-lagu botc lainnya tapi sepertinya tidak ada yang terlalu istimewa dari lagu ini.

Mungkin bila Anda bukan seorang kolektor rilisan indie lokal ataupun penggemar berat ballads of the cliché, Anda akan berpikir dua kali sebelum membeli EP ini. //410//


album review//ballads of the cliche//evergreen

January 19, 2008

bystanders-0406.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Evergreen]
2007 // ballads of the cliché

Could’ve been better. Mungkin itu yang bisa diungkapkan untuk menjelaskan full album perdana dari Ballads of the Cliché. Dengan jam terbang yang bisa dibilang cukup berpengalaman, sayang sekali “Evergreen” kurang dikemas dengan baik.

Kurang dikemas di sini, lebih dimaksudkan ke musik yang mereka bawakan. Karena berbeda dengan packaging album mereka yang apik, dilengkapi dengan foto-foto yang profesional, ternyata malah terkesan dibuat dengan terburu-buru.

Padahal, sejumlah lagu yang ada di album ini sudah mereka mainkan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Dan proses rekamannya sendiri cukup lama, dibuat dalam kurun waktu April 2006 sampai Juni 2007. Jadi seharusnya mereka punya banyak waktu untuk merapikan semuanya. Memang tidaklah mudah untuk mengorganisir delapan orang dalam satu band, apalagi yang tinggal dalam dua kota yang berbeda. Jadi target memang harus ditetapkan untuk album yang kabarnya sudah lama direncanakan ini.

Kesan terburu-buru itu bisa didengar di sejumlah lagu. Dalam “French Riviera” misalnya. Pada lagu yang sudah pernah masuk dalam EP mereka “Hey Smiley!” itu Bobby terdengar ragu-ragu dan terkesan gugup dalam membacakan potongan percakapan yang ia bawakan bersama Nina. Dalam “Season of Joy”, lagu ini menjadi terkesan buru-buru dan terlalu cepat, tidak sesuai dengan suasana obrolan santai yang tersirat dalam liriknya.

Sejumlah lagu lawas memang sengaja mereka aransemen ulang, dan masing-masing hanya satu lagu saja dari tiap EP yang dimasukkan ke dalam Evergreen. Jadi bagi yang ingin bernostalgia dengan lagu “Hey Smiley”, “Jennifer Loves Hewitt”, ataupun “Make It Simple”, lebih baik membeli EP terdahulu saja. Karena lagu-lagu tersebut tidak ada dalam album ini.

Tapi untungnya mereka digantikan dengan lagu-lagu baru mereka yang bisa menghilangkan rasa kecewa Anda. Ada “Heidi” dan “Friend’s Guide” yang bersemangat dan sudah dapat sering didengarkan di sejumlah performance mereka. Ada juga “Old Friend” dan “Hot Chocolate” yang dibawakan secara akustik, untuk menemani masa-masa bersantai ataupun merencanakan sebuah kejutan manis bagi orang yang Anda kasihi. //review by 410//

.track by track.

01. Snapshot of Serenity // Lagu yang berjudul sama seperti EP kedua mereka, “Snapshot of Serenity”, ini ternyata malah tidak ada di dalam EP tersebut. Lagu ini pas sekali untuk membuka album mereka – santai, damai, sederhana, dan singkat. Pas untuk dinikmati di sore hari, di sebuah taman kafe daerah Dipati Ukur sambil minum teh dan fruitcake.

02. Friend’s Guide // Menyenangkan sekali mendengarkan lagu ini. Rasanya bersemangat. Seperti saat bersantai di sebuah warung rokok bersama teman-teman terdekat lalu gitaran ria. Yang unik dari lagu ini mungkin dengan adanya suara banjo, yang memberikan nuansa country.

03. Feel Free to Feel Lost // Lagu ini memang beragam, tapi sayang finishing-nya kurang baik. Komposisi suara saat bernyanyi bersama tidak harmonis, bahkan terdengar sumbang. Vokal Bobby pun terdengar dipaksakan lebih rendah di bawah jangkauan vokalnya. Dan harusnya lagu ini tidak perlu dibuat versi akustik seperti dalam EPnya.

04. French Riviera // Lagu ini boleh dibilang sangat berbeda dengan lagu lainnya di album ini. Dengan suara akordion untuk memberi suasana yang lebih Perancis, versi lagu yang sempat muncul di EP Hey Smiley dan versi remix-nya di Love Parade, ini terdengar paling manis di album ini. Sayangnya rasa terburu-buru seperti dikejar shift masih terasa di lagu ini. Mungkin dengan tempo sama tapi cara permainan yang lebih santai akan membuat pendengar BOTC bisa lebih menghayati keromantisan lagu ini. Pronounciation Bobby dalam bahasa Perancis juga masih kurang sempurna, malah lebih baik saat di EP Hey Smiley. 05. Back in The Old Days // Lagu nostalgia. Mengingatkan pada masa kecil saat semuanya terlihat sangat sederhana dan menyenangkan.

06. Hot Chocolate // Ini adalah lagu satu-satunya yang vokalnya dibawakan oleh Wawan, gitaris BOTC. Lagu yang sangat manis, pas sekali dibawakan secara akustik. Vokal Wawan juga terdengar baik sekali di lagu ini, sangat lembut. Hanya saja sesekali masih terdengar cadelnya, hehe. Dan ternyata lagu inilah yang dibawakan Wawan dan Ferry sewaktu We Are Pop pertama April lalu, yang kali itu diberi judul “See You Soon”.

07. Love Parade // Kedengarannya tidak ada yang berbeda dari lagu ini dibanding dengan versi sebelumnya pada EP Love Parade. Salah satu lagu BOTC yang paling sempurna, rasanya. Semua mendapatkan porsi main yang adil, menjadikan lagu ini sangat harmonis.

08. Old Friend // Ya, ini dia lagu terbaik BOTC untuk dimainkan secara akustik. Sayangnya lagu ini malah tidak pernah dimasukkan ke dalam EP-EP mereka sebelumnya. Di sini mereka menceritakan rasa kesepian yang senantiasa datang sebagai sahabat lama. Bagi yang mencintai kesepian dan suka berjalan-jalan sendiri di tengah kota, dengarkanlah lagu ini. Sebuah soundtrack yang baik untuk perjalanan menyendiri itu.

09. Lights of Hope // Di lagu ini BOTC mendapat bantuan dari Rissa, vokalis Homogenic. Nuansa lagu ini sepertinya memiliki kekuatan magis untuk membuat bulu kuduk pendengarnya berdiri. Apalagi ditambah vokal Rissa yang memang sesuai dengan lagu-lagu semacam ini. Sayangnya take vocalnya sepertinya (sekali lagi) terburu-buru, jadi nuansa dingin dan sepi yang ingin dibangkitkan lagu ini sedikit terusik.

10. Season of Joy // Sayang, lagu ini harus diaransemen ulang menjadi lagu full band. Padahal lebih menyenangkan untuk mendengarkan versi akustiknya di EP Snapshot of Serenity. Rasanya pas untuk menemani sore dengan teman lama, untuk sekedar nostalgia dan tersenyum bersama.

11. Heidi // Lagu ini menjadi lagu BOTC yang paling bersemangat, dan rasanya senang sekali mendengarkan lagu ini. Dengan tempo yang cepat, permainan drum yang apik, dan harmonisasi vokal yang pas.

12. Coffeeshop // Masih teringat saat mendownload lagu ini di myspace, sebuah versi live mereka saat bermain di Singapore awal tahun ini. Saat itu suara Bobby terdengar sedikit gemetar. Di album ini, vokal Bobby tentu saja terdengar lebih tenang. Lagu ini juga mendapat bantuan dari Arina Epiphania (Mocca) pada flute, namun ya sayang, sekali lagi, terasa buru-buru.

13. Distant Star // Tepat sekali lagu ini dijadikan penutup. Seperti menutup hari yang cerah, dan bersiap untuk menyambut mimpi di malam hari. Sebuah kilas balik mengenai kisah cinta yang emosional. Jadi bagi Anda yang punya kisah cinta yang tidak berakhir bahagia, disarankan untuk tidak mendengarkan lagu ini di malam hari saat sendirian. Atau Anda bisa menguras air mata semalam suntuk.


album review//Sungsang Lebam Telak//Sungsang Lebam Telak EP

January 19, 2008

bystanders-041201.jpg

SUNGSANG LEBAM TELAK
[Sungsang Lebam Telak EP]
2006 // lost disco

Ada satu hal yang perlu diperhatikan saat memutuskan untuk mendengarkan EP pertama Sungsang Lebam Telak ini – Jangan mendengarkannya di saat tidur!

Karena bila lagu-lagu dalam EP ini tercampur dalam playlist winamp Anda yang mendamaikan hati dan lagu pengantar tidur lainnya, jangan salahkan mereka apabila salah satu lagu mereka membangunkan Anda dari mimpi indah. Raungan-raungan filosofis, ditambah permainan penuh spontanitas dari Ageng, Gembi, dan Dani, memang benar-benar sebuah seruan yang membangunkan penikmat musik Indonesia yang terbiasa dibuai dengan musik-musik terpola, pamer skill, dan penampilan seragam.

Tidak ada lirik di dalam EP ini. Jadi bagi Anda yang suka karaoke, lupakan saja semua ide itu. Atau Anda ingin berkaraoke mengikuti bunyi-bunyian yang keluar dari mulut Ageng? Nah kalau yang itu silahkan saja.

Sayang, Bystanders tidak mendengarkan band-band yang sama dengan para personil Sungsang Lebam Telak, jadi kami sedikit mengawang-awang saat harus mendeskripsikan musik yang diusung mereka. Namun lagipula, para personil SL*T mengaku komposisi mereka tidaklah mengikuti salah satu pakem tertentu, semuanya hanya dari hati dan demi kesenangan mereka.

Yang pasti, ini adalah musik yang berani. Sama halnya seperti inspirasi yang datang dari Tuhan, secara spontan mereka memainkan jari-jari dan kaki-kaki mereka untuk memainkan lagu demi lagu. Semuanya tidak dirancang, hanya mengikuti keinginan gerakan badan yang jiwanya siap meronta-ronta, memberontak karena terlalu lama diatur oleh si otak.

Dentuman-dentuman drum yang dimainkan Dani di satu bagian seperti orang yang dirasuki oleh hal-hal di luar kesadaran, dan di bagian lain begitu terstruktur.

Yang paling dahsyat dari EP ini adalah “Ratapan Komodo Basah Terlunta-lunta”. Dilihat dari judul lagunya saja sudah cukup menggelitik telinga. Apalagi saat mendengarkan lagunya. Seperti ritual memanggil hujan atau ritual untuk menyelamatkan si komodo. Konon kabarnya lagu ini punya makna yang sangat filosofis dan mendalam bagi penciptanya. //review by 410//


album review//Sungsang Lebam Telak//Kecuali Mengenang Betismu EP

January 19, 2008

bystanders-041202.jpg

SUNGSANG LEBAM TELAK
[Kecuali Mengenang Betismu EP]
2007 // lost disco

Dibanding dengan EP sebelumnya yang dinamai “Sungsang Lebam Telak”, EP ini boleh dibilang lebih matang. Sepertinya Sungsang Lebam Telak telah menemukan zona nyaman mereka, dan malah cenderung ‘teratur’.

Coba saja dengar “Kecuali Mengenang Betismu, Oh Sembadra”, lagu kedua yang dijadikan judul EP ini. Nada-nada piano yang dibawakan rasanya sentimentil sekali. Romantis bak musik jazz yang ada di lounge-lounge eksekutif. Penuh dengan kunci-kunci minor 9 atau 14.

Tapi memang gaya musik mereka semakin berkembang. EP “Kecuali Mengenang Betismu” ini juga terdengar lebih ear-friendly bagi orang awam ataupun yang baru saja mendengarkan musik Sungsang Lebam Telak. Walaupun tetap dalam semangat spontanisme, EP ini terdengar lebih harmonis.

 Mixing-nya juga terdengar lebih baik. Raungan-raungan Ageng pada lagu “Teruntuk Siapapun Yang Membuat Alismu Menari” sepertinya benar-benar bisa membuat alis Anda menari. Dan mungkin karena direkam secara live, maka lagu ini terasa hidup sekali. Kalau ada yang pernah datang ke acara jazz kelas atas dan menyaksikan para musisinya asyik berimprovisasi di atas panggung, lagu itu ya kurang lebih seperti itu. Ditambah dengan finishing yang bagus sekali.

 Ada juga gema dari raungan Ageng dan suara seperti speaker rusak di lagu “Leher-Leher Penyabar”. Satu sentuhan kecil yang cukup menarik.

 Buat Anda yang menganggap jazz itu easy-listening, coba dengarkan dulu SL*T! Dahi rasanya selalu ingin berkerut mencoba untuk mencari tahu apa yang ingin disampaikan trio asal Bandung ini melalui musiknya.

 Tambahan suara piano yang cukup dominan di EP ini juga memberi nuansa tersendiri dibanding EP sebelumnya. Improvisasi yang sangat baik, padahal mereka mengaku sebagai musisi tanpa skill! hahaha..

 Satu saran yang sebaiknya disimak, bagi Anda yang diperbolehkan memperdengarkan koleksi lagu-lagu Anda di kantor, sebaiknya jangan memutar lagu ini di tengah jam sibuk ataupun di tengah deadline ketat. Dapat cukup membuat senewen. //review by 410//


album review//zeke and the popo//space in the headlines

January 19, 2008

bystanders-041501.jpg

ZEKE AND THE POPO
[Space in the Headlines]
2007 // black morse

Sebuah perjalanan panjang dalam labirin berliku-liku tanpa diketahui ujungnya. Sebuah harapan akan wonderland, sebuah tempat yang indah di ujung pelangi. Tapi tentu saja, dalam sebuah perjalanan, terkadang yang penting bukanlah tujuan akhir, namun perjalanan itu sendiri. Menikmati berbagai macam hal yang ditemui di tengah perjalanan, memberi pengalaman baru.

Ya, mungkin itu yang ingin disampaikan oleh Zeke and The Popo dalam album ini. Berbagai pengalaman dari perjalanan itu. Seperti menyaksikan puluhan film hitam-putih yang dipancarkan melalui proyektor berdebu. Atau membayangkan sendiri dalam pikiran Anda imaji-imaji yang distimulasi dari lagu-lagu mereka.

Mungkin apabila Anda mendengarkan lagu-lagu ini di saat tidur, Anda akan memasuki dunia gelap nan misterius. Penuh dengan asap rokok dan aroma eklektik, membuat Anda berpikir, mereka-reka, dan mencoba mengetahui sesosok bayangan yang ada di ujung lorong.

Dalam album ini para penggemar Zeke and The Popo masih bisa bernostalgia dengan lagu-lagu mereka terdahulu, baik dari mini album Unrescued World ataupun yang tersebar di beberapa soundtrack film lokal.

Dibuka dengan lagu “Profesor Komodo” yang sekaligus dijadikan single pertama mereka. Saat Bystanders pertama kali mendengarkan lagu ini, yaitu saat zatpp membuka peluncuran album salah satu band indie Jakarta, sepertinya tidak ada kata-kata lain yang bisa terucap selain “Wow”. Lagu ini memang menakjubkan.

Ada juga sebuah pertunjukan sirkus tersembunyi di balik layar yang tersingkap saat mendengarkan “First Act Gun”. Sebuah pemandangan berwarna-warni dipenuhi manusia dengan berbagai bentuk menunjukkan talentanya. Atraksi-atraksi spektakuler muncul di tengah arena.

Satu lagu yang mungkin terdengar sangat berbeda adalah “Mighty Love”. Bagaikan alter ego zatpp, di tengah-tengah kepesimisan dan keremangan dunia abu-abu mereka, terselip satu lagu ceria penuh semangat.

Bagi yang ingin menikmati remangnya malam di tengah kesendirian, mencoba pulang ke rumah setelah satu hari yang buruk, mencoba melarikan diri dari semua beban pikiran, atau di saat putus asa karena tidak ada yang bisa lagi dilakukan untuk menyelamatkan nasib yang apes, ada baiknya mencoba mendengarkan “Unrescued World”, “Subtext”, atau “I-Novel”. Sediakan juga substansi pelarian Anda (kalau ada), dan biarkan dia membawa jiwa Anda.

Oh ya, bagi yang suka mengulik, lagu ini benar-benar kaya dengan berbagai jenis instrumen musik. Semuanya bertumpuk secara sinergis dengan sejumlah cuplikan-cuplikan film ataupun sample-sample musik. //review by 410//


album review//brett anderson//brett anderson

January 18, 2008

bystanders-0425.jpg

Brett Anderson

[BRETT ANDERSON] (self titled)

2007 // V2 Music


Brett Anderson, mantan vokalis Suede (dan The Tears), hadir kembali di blantika musik internasional melalui self-titled solo album pertamanya. Tapi tunggu dulu, kalau Anda mengharapkan Brett akan membawakan musik ala Suede maka bersiaplah untuk kecewa.
Solo album ini hampir-hampir bertolak belakang dengan karya-karya Brett dalam band lamanya tersebut.

Setelah menyelesaikan proyek band reuni dengan Bernard Buttler, The Tears, album ini lebih ingin menampilkan sosok Brett sebagai individu.

Keseluruhan lagu dalam solo album ini memang berbeda dengan karya Brett dalam Suede. Jika Anda termasuk yang nge-fans berat dengan sosok Brett maka tentunya akan mudah untuk langsung suka terhadap keseluruhan materi album. Tidak seglamor Suede, memang. Bahkan lebih bernuansa ballads. Tapi sederhana dan orisinil.

Album ini sendiri bukan tanpa maksud menggunakan self titled. Dalam situs pribadinya www.brettanderson.co.uk Brett sendiri menjelaskan bahwa judul album sengaja dinamai sesuai namanya dengan tujuan memperkenalkan nama: Brett Anderson. Nama yang terlanjur akrab di telinga para pendegar musik sebagai vokalis Suede. Dan tampaknya hal ini yang ingin ditolak oleh self titled album ini. Brett Anderson adalah dirinya sendiri, dan bukannya Suede.

Walhasil, banyak nada miring dari para penggemar Suede terhadap solo album Brett Anderson. Meskipun demikian bukan berarti tidak ada penilaian yang positif terhadapnya.

Kesederhanaan agaknya yang ingin ditonjolkan oleh Brett. Dengan mayoritas lagu dimainkan “sekedar” menggunakan gitar akustik dan iringan instrumen band yang ala kadarnya namun terasa apik ketika dipadukan dengan aransemen strings yang menawan. Brett lebih ingin mengedepankan egoisme pribadinya dengan mencurahkan segala isi hatinya dalam sejumlah tracks dalam album ini, dan bukannya menyajikan komposisi musikalitas yang rumit. Brett agaknya mencoba untuk berani melangkah meninggalkan bayang-bayang kejayaan Suede, dengan langkah musiknya sendiri.

Nah, kalau-kalau Anda mencoba memirip-miripkan album solo ini dengan album Suede, mungkin album A New Morning adalah satu-satunya yang mendekati sound di album ini.

Dengan mengusung 11 nomor tracks di album ini Brett seakan mengajak kita untuk membaca “diary” dari perjalanan hidup dirinya yang lebih bersifat personal, tentang cinta, teman, dan keluarga.

01. Love is Dead // track pertama yang juga sebagai single pertama, mencoba bercerita secara eksplisit sesuai judulnya. Dimainkan dengan instrument yang sekedar cukup. Mungkin lagu ini adalah versi sendu dari lagu Positivity, dan jauh lebih simple.
02. One Lazy Morning // track kedua. Diawali dengan permainan solo piano yang sederhana, bahkan cenderung malas. Rayuan yang menggoda untuk bermalas-malasan di pagi hari ketika akhir pekan.
03. Dust and Rain // lagu ketiga, ibarat versi sederhana dari lagu Beautiful Looser di album A New Morning.
04. Intimacy // lagu keempat. Lagu yang hanya terdiri dari 6 baris lirik, dengan penekanan pada kalimat “Intimacy, I want you to be the part of me”.
05. To the Winter // lagu kelima. Lagi-lagi lagu galau yang lain di album ini. “If you’re gone I’ll carry on but deep inside I’ll give my heart to the winter”.
06. Scorpio Rising // track nomor enam. Brett memainkan lagu ini sedikit mirip dengan lagu Indian Strings di album Head Music, minus perkusi ala Indian tentunya. Mungkin lagu ini adalah track terbaik di album ini.
07. The Infinite Kiss // track nomor tujuh. Masih mempertahankan musikalitas yang sederhana.
08. Colour of the Night // track kedelapan. Dinyanyikan hanya dengan solo piano diiringi gesekan cello.
09. The More We Possess the Less We Own of Ourselves // lagu kesembilan. Iringan strings terasa dominan dalam lagu down tempo ini.
10. Ebony // Mungkin lagu kesepuluh ini adalah satu-satunya lagu yang “ceria” di album ini.
11. Song for My Father // track kesebelas. Sesuai dengan judulnya, lagu ini ditujukan oleh Brett kepada kenangan akan sang ayah.

Secara keseluruhan semua materi dalam album ini menampilkan suatu kesederhanaan musikalitas nan apik. Tanpa perlu berlebihan. //review by yearry//


album review//pet shop boys//concrete

January 18, 2008

bystanders-0426.jpg

Pet Shop Boys

[Concrete]

2006 // Parlophone

Pejamkan mata Anda saat mendengarkan album ini untuk pertama kali. Riuh tepuk tangan yang memenuhi gedung Mermaid Theatre saat lagu ”Left To My Own Devices” dimulai, akan membuat bulu kuduk Anda berdiri. Terutama apabila Anda seorang Pet Shop Boys’ die-hard-fan dan belum pernah menyaksikan konser mereka secara live. Concrete adalah album live pertama mereka, satu bentuk paduan musik elektronik dan orkestra. Sekilas mengingatkan pada lagu ”Overture to Performance” dari EP Was It Worth It yang juga ada dalam DVD Performance yang menampilkan konser mereka di Birmingham pada tahun 1991. Namun sebetulnya baru kali itu lagu yang aslinya dari album Behaviour itu dibawakan dengan iringan orkestra, dan sebuah track yang tepat untuk membuka konser mereka.

Konser yang digelar pada tanggal 8 Mei 2006 itu disiarkan secara eksklusif untuk program “Sold On Song” di BBC Radio 2. Diiringi oleh BBC Concert Orchestra, penampilan Pet Shop Boys kali itu secara apik menggabungkan musik orkestra secara live dan musik elektronik.

Dan tidak seperti konser mereka lainnya, kali ini Pet Shop Boys tampil dengan full-band, bukan hanya Chris di belakang synthesizer dan keyboard Roland-nya. Bahkan ada drummer betulan bukan drum loops, dan tentu saja musisi lainnya.Trevor Horn, yang menjadi produser album ini dan juga studio album mereka sebelumnya Fundamental, bermain bass. Satu hal yang istimewa, kan?

Tapi mungkin yang paling istimewa dalam dari konser tersebut adalah tampilnya sejumlah bintang tamu. Bukan hanya sekedar ‘bintang tamu’, tapi ketiganya adalah penyanyi yang cukup terkenal. Yang pertama adalah Rufus Wainwright yang membawakan ”Casanova in Hell”. Penyanyi gay asal Kanada itu membawakan lagu yang sebenarnya menertawakan seorang laki-laki – digambarkan sebagai Casanova – yang kehilangan kemampuannya untuk menarik lawan jenis.

Lalu ada Frances Barber yang membawakan “Friendly Fire”, dari drama musikal “Closer To Heaven”. Frances Barber mendapatkan peran sebagai Billie Trix dari bulan Mei sampai Oktober 2001 dalam drama musikal itu.

Dan jangan lupa tamu istimewa terakhir Robbie Williams. Robbie memang sudah bekerja sama dengan Pet Shop Boys sejak ia merilis album keduanya I’ve Been Expecting You, dimana Neil Tennant menyumbangkan suaranya untuk lagu “No Regrets” bersama dengan Neil Hannon dari Divine Comedy. Dalam konser itu Robbie membawakan salah satu lagu klasik Pet Shop Boys yang berjudul “Jealousy”.

Lagu ini sebenarnya sudah pernah dicover oleh band asal Newcastle, Dubstar, secara akustik pada tahun 1997, tapi Robbie membawakan dengan versi yang berbeda dari aslinya maupun dari versi akustikan Dubstar. Sebelum Robbie naik ke atas panggung, Neil sempat membacakan satu bait puisi dari drama “Othello” karya Shakespeare.

Enam dari total 17 lagu yang dibawakan dalam konser tersebut diambil dari album terbaru mereka Fundamental, album yang cukup kelam sebetulnya. “The Sodom and Gomorrah Show” dibuka dengan intro yang mirip dengan pembukaan sebuah sirkus atau kabaret. “Integral”, yang tidak kalah orkestralnya dengan sounds dari string section dan uptempo drum beats mendukung pesan yang ingin disampaikan dalam liriknya. Di sini, Neil dengan sinisnya mengkritik masalah kode identifikasi.

Lagu lainnya dari album itu adalah “Numb” yang ditulis oleh Diane Warren. Bisa dibilang lagu itu merupakan lagu yang paling menyayat hati yang pernah dinyanyikan oleh Pet Shop Boys. Dua lagu lainnya dari album adalah “Luna Park” dan “Indefinite Leave to Remain”

Sisanya diambil dari berbagai album mereka. Ada “Jealousy”, “Left To My Own Devices”, dan “It’s Alright” dari Behaviour, “It’s A Sin” dan “Rent” dari Actually, “Dreaming of The Queen” dari Very, “You Only Tell Me When You’re Drunk” dari Nightlife, dan tentu saja lagu yang memperkenalkan mereka ke blantika musik dunia “West End Girls” dari debut album Please. Dan ada juga dua lagu dari proyek musikal mereka, “After All” dari Battleship Potempkin dan “Friendly Fire” dari Closer To Heaven, serta satu lagu dari film Scandal yang berjudul “Nothing Has Been Proved”.

“Rent”, yang dipilih sebagai lagu kedua, dibawakan dalam versi yang berbeda. Aransemen tersebut sebetulnya pernah dibawakan dalam penampilan mereka di tahun 1989 dan versi originalnya dibawakan bersama Liza Minelli. Namun sepertinya versi akustik dari lagu tersebut yang dibawakan dalam konser Somewhere terasa lebih baik, saat Neil Tennant membawakan lagu tersebut sambil memainkan gitar akustik.

Lagu-lagu lainnya, sepertinya tidak terlalu banyak diaransemen ulang. Sebagian besar dari lagu-lagu tersebut memang sudah memiliki aransemen strings jadi cocok sekali untuk iringan orkestra, ya hanya membuat mereka sedikit lebih dramatis saja. Coba saja dengarkan “It’s A Sin” misalnya. Lagu yang menceritakan Neil memprotes apa yang ia pelajari di sekolah Katolik itu terasa lebih “nendang” dengan iringan strings live dan tentu saja karena ada backing vocals, yang salah satunya adalah penyanyi opera Sally Bradshaw.

Last but not least, ada “West End Girls”. Lagu ini terasa sangat teatrikal di konser ini. Lagu yang sangat tepat untuk menutup penampilan mereka malam itu.

Jadi bagi Anda pecinta Pet Shop Boys, album ini haruslah Anda miliki. Selain karena ini adalah album live pertama mereka dengan iringan orkestra, album ini rasanya punya daya hipnotis yang membuat Anda merasa berada di tengah-tengah penonton di Mermaid Theatre, menyaksikan mereka secara live. //review by 410//


album review//justice//cross

January 18, 2008

bystanders-042701.jpeg

JUSTICE

[CROSS]

2007 // Ed Bander Records

Semenjak mendapatkan penghargaan best video di mtv europe awards 2006 dalam video klip “We Are Your Friends” justice jadi salah satu playlist wajib disc jockey ibu kota. Band yang di motori oleh Gaspard Augé dan Xavier de Rosnay (and yeah they came from france) ini mulai di kenal sejak mereka bergabung dengan Ed Bander Records (record label khusus electro di perancis). mereka sudah berhasil menelurkan 7 EP album dan 1 Full album.

Setengah dari album † (Cross) sudah jadi dancefloor anthem setiap club malam penjuru ibu kota. saya sendiri juga cukup senang mendengar album ini, keseluruhan dari album ini cukup bagus untuk dipakai head nodding dan booty shakin’, keseluruhan 13 lagu di album ini berisikan sound sound analog synthesizer, keyboard retro, fuzzy distortion, dan drum machine yang terdengar catchy dengan kesan raw.

D.A.N.C.E (yang kemudian di remix dengan versi yang lebih raw menjadi B.E.A.T) adalah bentuk penghargaan mereka kepada michael jackson, dengan sampling choir anak anak. saya suka saat dari track Let There Be Light pindah ke track D.A.N.C.E, mereka sangat jenius dalam urusan perpindahan satu track dan ke track lainya. namun tidak semua lagu di album ini bertemakan dancefloor anthem seperti pada umumnya lagu lagu electro house yang terkesan memaksa kita menari sampai akhirnya digotong pulang ke rumah. Phantom misalnya, terdengar gelap namun sangat dance-able di telinga saya.

Waters Of Nazareth yang penuh dengan distorsi bass abstrak mungkin jadi lagu paling yang bisa membuat kepala kalian geleng geleng tampa bantuan alkohol maupun methil amphetapine lagu ini juga banyak di remix, mulai dari feadz, mustapha 3000 (Erol Alkan), dan banyak lagi. seperti umumnya band electro, house dan lainya mereka juga cukup sering mendaur ulang (remix, hehe) lagu lagu mulai dari soulwax sampai daft punk bahkan Madonna sampai NERD. //review by allan guling//


album review//jens lekman//night falls over kortedala

January 18, 2008

bystanders-042702.jpg

Jens Lekman

[Night Falls Over Kortedala]

2007 // Secretly Canadian

 The clumsy boy from Gothenburg is back! Yeahh! lelaki pemalu dan berbakat yang memiliki nama jens lekman ini baru saja merilis album terbarunya bulan Oktober lalu, dan segera menjadi album favorit bystanders untuk penghujung tahun 2007 ini.

 Bagaimana tidak? Dengan lirik2 yang begitu lugas dan manis juga jenaka, jens menggabungkan unsur-unsur penting dalam musik pop yang dimainkannya dengan kemegahan dari brass & strings sections dan sentuhan black soul stuffs yang kental juga tak lupa dengan kemelankolisan vocal jens yang memang membius :)

 Pada album ini sepertinya jens ingin bernostalgia dengan beberapa pengalaman cintanya yang gagal seperti pada lagu favorit saya, “Sipping on The Sweet Nectar” dan juga hubungan persahabatannya yang sangat deep seperti pada lagu “A Postcard To Nina” yang menceritakan jens mengirimkan kartu pos berupa dukungan terhadap temannya yang bernama Nina yang mencintai sejenis setelah sebelumnya jens pretends to be her boyfriend to make her parents stop worry about Nina’s sexual orientation. What a real friend isn’t he?

 Dalam album ini jens bereksplorasi dengan much more brass sections, strings sections, alat tiup, perkusi, backing vocal a la soul tahun 60-70an yang menghasilkan salah satu album kandidat the best album 2007 versi bystanders. Highly recommended! //review by arvidson//


review//moby//go-the best of moby

December 24, 2007

go_very_best_of_moby.jpg

 

 

 

 

 

 

MOBY

GO – THE BEST OF MOBY

2006//mute/V2


Moby sedang galau. Mungkin itu yang ingin disampaikan oleh pria jenius berumur 41 tahun ini.

Memang, 23 tahun adalah waktu yang tidak sebentar untuk menjadi musisi yang matang seperti Moby. Pria vegan ini sudah memulai karir musiknya di umur 17 tahun, dan mulai menjadi DJ di New York pada awal umur 20-an. Namun album ini sepertinya kurang mampu untuk menceritakan perjalanan musiknya, terutama album-album awal miliknya. Dan bagi Anda yang menyukai Moby karena lagu-lagu upbeatnya seperti ”Bodyrock” (lagu ini hanya muncul dalam album versi Amerika Latin), ”Extreme Ways”, dan lagu klasik yang sangat keren ”(That’s When I Reach For My) Revolver”, siap-siaplah kecewa.

Tapi bagi yang menyukai sisi kesendirian Moby dan perlu pengiring untuk mengisi hari-hari solitude, album ini bisa dijadikan soundtrack yang sangat baik. Lagu-lagu yang terkumpul di sini memang memberikan nuansa galau (tapi tidak kelam, hehe), seperti kita memandang langit sore yang mulai mendung.

Dan walaupun sebagian besar lagu yang ada di album ini bertempo cepat, namun suasana mendung itu masih dapat terasa. Mungkin karena kunci minor dan sound-sound strings yang terasa menyanyat hati. Bahkan di lagu ”Slipping Away (Crier La Vie)”, walaupun Moby telah mengganti aransemennya menjadi sedikit ’ceria’, tetap saja lagu yang vocalnya dibawakan oleh Moby dan Mylene Farmer (dalam album ’Hotel’ Moby bekerja sama dengan Alison Moyet) itu terasa seperti seseorang yang menerawang masa lalunya dan merasa ia hanyalah makhluk tidak berdaya melawan waktu yang terus berjalan.

Perasaan serupa juga dapat didengar dari ”Go”. Lagu bertempo cepat dan pas untuk dijadikan pengiring tubuh untuk bergerak liar itu tetap saja ada nuansa ’dingin’. Karena pada lagu itu Moby mengambil sample strings dari lagu ”Laura Palmer’s Theme”, yang dijadikan tema lagu untuk mini seri misteri di tahun 90-an ”Twin Peaks”. Bagi mereks yang tumbuh di tahun 90-an dan mengikuti mini seri tersebut di TVRI programa 2, pastilah akan merasakan nuansa yang dapat membuat bulu kuduknya berdiri.

Secara musikal, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Moby memang jenius. Ia bukanlah musisi ataupun DJ pada umumnya. Sound-sound yang dipakai sederhana, musiknya pun tidak ’njelimet’ seperti lagu-lagu dung-ces yang banyak dimainkan di klub-klub dugem terdekat. Gaya hidupnya yang sederhana dan ketulusan cintanya pada musik membuat Moby total dalam menciptakan musik-musiknya. Dan itulah yang membuat musiknya istimewa. Masih bisa membuat orang berdansa, bahkan dalam kesuraman pikirannya.

Sementara itu kumpulan kesinisan penganut faham liberal tersirat dengan jelas dalam lirik-liriknya. Berbagai kekhawatirannya akan dunia yang makin terpuruk ditumpahkan ke dalam lagu-lagunya. Dengarkan saja ”Why Does My Heart Feel So Bad”. Suatu kekecewaannya sebagai warga negara Amerika Serikat (yang menurutnya image buruk sistem politik negaranya diperburuk dengan terpilihnya George W Bush sebagai presiden) juga dituangkannya dalam lagu ”Lift Me Up”.

Selain itu Moby juga mencoba mengangkat kembali vokal orang-orang kulit hitam di tahun 1920-an, menggunakan sejumlah sample dari musik dasawarsa itu pada lagu seperti ”Find My Baby” dan ”Honey”. Moby memang menggemari musik kulit hitam. Bahkan di saat ia telah bosan dengan segala musik new wave dan pop kulit putih di akhir 80-an, ia mulai mengeksplorasi musik hip hop dan memainkan sejumlah records dari musisi-musisi hip hop saat ia DJ’ing di klub lokal.

Satu lagu baru yang dimasukkan ke dalam album ini adalah ”New York, New York”, yang vocalnya dibawakan oleh vokalis legendaris dari band Blondie, Debbie Harry. Sebuah lagu yang tepat sekali, seperti sebuah persembahan khusus dari Moby untuk kota yang ’membesarkannya’ menjadi seorang musisi seperti sekarang. Lagu yang cukup sinis sebetulnya, menggambarkan sebuah realita di kota tersebut, seperti yang dikutip dari websitenya, ”It’s a song about degeneracy and debauchery in New York City,”.

So, for all of you loneliest people, go listen to this record. And found out that you are not alone. //review by 410//