make noise not bombs

January 18, 2008

Untuk membuat satu gig yang menyenangkan, sebetulnya tidak memerlukan tata suara spektakuler puluhan ribu watt ataupun tata lampu warna-warni yang menyilaukan mata. Yang diperlukan hanya niat, band yang mau berpartisipasi, dan komunitas yang mendukung acara Anda. Ya, setidaknya itulah yang dibuat oleh Food Not Bombs Bandung saat menggelar acara kecil-kecilan nan asik akhir Oktober lalu.


Hanya bertempat di sebuah studio kecil di bilangan Lengkong, Bandung, boleh dibilang gig mereka cukup berhasil. Penontonpun hanya dimintai sumbangan sukarela sebesar tiga ribu rupiah. Acara yang kecil memang terasa lebih akrab, karena biasanya yang datang adalah teman-teman para pengisi acara.

Bystanders tiba di venue di tengah hujan rintik-rintik yang mulai membasahi kota Bandung. Sejumlah penonton dan pengisi acara pun masih sempat mengisi perut dengan nasi goreng di rumah makan yang lokasinya tepat di bawah Jawara studio, tempat acara tersebut berlangsung.

 

bystanders-042101.jpg

Saat sampai di sana, A Stone A sedang bersiap-siap untuk tampil. Band yang personilnya para seniman visual itu mengisi sekitar hampir satu jam berikutnya dengan lagu-lagu mereka, campuran noise dan experimental sounds, dentuman-dentuman rock, lirik yang sarat kritik sosial, dan juga raungan Akbar sang vokalis. Pada beberapa lagu mereka Akbar dan Amenk sempat “tukar guling”, Amenk memainkan gitar dan mengisi vokal. Lalu ada pula satu lagu mereka dimana Andry Moch menggunakan semacam HT atau megaphone dan menggesekkannya dengan senar-senar gitarnya.

 

bystanders-042102.jpg

Berikutnya ada Aneka Digital Safari. Awalnya Bystanders mengira mereka baru check sound atau apa, saat mereka menjejerkan sejumlah efek gitar di lantai studio. Lalu mereka mengeluarkan suara-suara aneh dan ternyata, mereka sebetulnya sudah mulai membawakan komposisi mereka! Suatu bentuk karya yang sangat kreatif, karena di balik sounds yang rasanya tak beraturan dan bising, ada sebuah komposisi yang sangat harmonis.

 

bystanders-042103.jpg

Kemudian ada Pink Pony Club, yang boleh dibilang band yang paling tidak eksperimental malam itu. Seperti mendengarkan band-band indie/rock Bandung pada umumnya, apalagi kalau Anda baru saja mendengarkan Aneka Digital Safari hehe. Wajah yang sangat familiar, Hangga dari Inspirational Joni ternyata ada di band tersebut memainkan synthesizer korg-nya.

 

bystanders-042104.jpg

Dan sebagai penutup acara, band yang paling ditunggu-tunggu malam itu, Sungsang Lebam Telak. Band ini cukup langka gigsnya, karena mereka memang sengaja memilih apresiator yang tepat untuk musik mereka. Dibuka dengan pembacaan manifesto mereka, Dani (drums), Gembi (bass), dan Ageng (keyboard), membawakan lagu-lagu mereka dengan cara yang sama seperti mereka merekam EP mereka – secara live dan spontan. Mereka memang tidak membuat suatu komposisi lagu yang tertata rapi dengan kunci-kunci khusus, tapi mereka punya satu hal esensial dalam suatu band, yaitu kekompakan. Karena musik mereka yang free-jazz/free-improvisation itu memungkinkan para personilnya untuk membawakan lagu-lagu mereka semau hati, maka untuk menandakan kapan lagu harus pindah ke bagian berikut atau harus berhenti, sesekali Gembi memberikan tanda bagi Dani di drums. Bahkan bisa dibilang, penampilan live SL*T ternyata lebih rapi dibanding versi EP-nya!

Ya, benar-benar gig kecil yang menyenangkan. Ditambah dengan sejumlah botol minuman beralkohol dalam kadar ringan sebagai teman penghangat tubuh di dinginnya malam, rasanya semuanya menyatu malam itu. Tidak ada lagi istilah artis dan penonton. Semuanya bersaudara. //review and photo by 410//


CATCH THE NEW WAVE

June 14, 2007

A little nice surprise in mid-year, Indonesia kedatangan sebuah band yang dengan suksesnya mencampur adukkan new wave dan bossanova.

dsc_3863.jpg

Soundshine bekerja sama dengan Dunhill, serta CCF Jakarta dan Hotel Grand Kemang kali ini mendatangkan Nouvelle Vague. Acara ini juga merupakan rangkaian dari “Printemps des Francais” yang digelar CCF, sehingga tidak heran bila tiba-tiba saja band yang cukup baru ini datang ke Jakarta menjelang pertengahan tahun.

Konsep venue yang dibangun kali itu tidak jauh berbeda dengan Soundshine Maret lalu, tapi terlihat lebih eksklusif. Bar dan lounge menawarkan suasana santai bagi layaknya kaum kelas atas, dan memang yang datang pada malam itu kebanyakan berasal dari kalangan itu. Namun sebagian besar crowd yang biasanya datang ke acara indie malah tidak terlihat. Mungkin karena harga tiketnya yang cukup mahal untuk ukuran band baru, ataupun karena pemberitaan mengenai kedatangan Nouvelle Vague yang cukup mendadak. Jadi bila dilihat crowd secara keseluruhan, memang mereka mendapatkan target market untuk sejumlah produk sponsor, namun target untuk musiknya sendiri malah tidak tercapai. Hal tersebut dapat jelas terlihat saat konser berlangsung, dimana sebagian besar crowd malah asik ngobrol sendiri dan menikmati suasana poolside, bukan menikmati musiknya.

Setelah dibuka dengan DJ set selama sekitar satu jam, Nouvelle Vague mulai memasuki panggung pada pukul 21.15. Mereka datang dengan formasi dua mastermind Marc Collin dan Olivier Libaux, dua vokalis mereka Melanie Pain dan Phoebe Killdeer (yang mengisi vocal pada album kedua mereka), serta sejumlah additional musicians di bagian drums dan bass.

Penampilan mereka diawali dengan lagu “Killing Moon” milik Echo and The Bunnymen, yang juga membuka album kedua mereka “Bande A Part”. Vokal Melanie Pain, diiringi nuansa akustik waltz, sepertinya sesuai sekali dengan suasana malam itu yang cenderung santai dan sedikit mendung. Namun suasana langsung memanas saat lagu kedua, “Dancing With Myself” dibawakan. Dengan gaya yang atraktif, Melanie dan Phoebe langsung menarik perhatian penonton. Sejumlah lagu yang sudah tidak asing di tahun 1980-an dibawakan kembali dengan ciri khas mereka, seperti “Blue Monday” milik New Order, “Heart of Glass” dari Blondie, dan “Teenage Kicks” nya The Undertones.

Bagi yang belum pernah atau sedikit asing dengan musik punk/new wave di awal tahun 1980-an, mereka sangat menikmati penampilan Nouvelle Vague yang terasa seperti berada di sebuah klub jazz/bossanova, dengan permainan musik yang sangat ekspresif dan nyaris tanpa cela. Sedangkan bagi para penggemar new wave/punk/synth pop era akhir 70-an hingga awal 80-an, Nouvelle Vague adalah music project yang sangat inovatif dan brilyan, karena mereka diajak untuk mendengarkan kembali lagu-lagu nostalgia itu dengan sentuhan baru.

Yang paling seru mungkin saat mereka membawakan “Too Drunk To Fuck”. Dengan semangatnya Melanie dan Phoebe membawakan lagu milik Dead Kennedys itu, dan mengajak penonton untuk ikut berteriak di bagian chorus. Phoebe juga sempat berguling-guling di atas panggung saking menjiwai lagu tersebut.

“Love Will Tear Us Apart” milik Joy Division dibawakan sebagai lagu terakhir sebelum encore. Crowd pun kembali ikut bernyanyi bersama pada akhir lagu tersebut, dan Melanie Pain sepertinya dapat membangkitkan kembali kharisma Ian Curtis saat membawakan lagu tahun 1981 itu. Setelah encore, mereka membawakan dua lagu lagi. Satu lagu yang cukup santai, “In A Manner of Speaking” milik Tuxedomoon, dan “Just Can’t Get Enough” dari Depeche Mode. Untuk lagu “Just Can’t Get Enough” aransemennya dibikin berbeda dengan yang ada di album self-titled mereka, dengan lebih banyak sentuhan jazz dan dengan tempo yang jauh lebih pelan. Sepertinya sengaja diaransemen ulang untuk dijadikan penutup konser mereka malam itu.

Personil Nouvelle Vague menutup konser mereka dengan menceburkan diri ke kolam renang menjadi pemisah antara stage dan penonton, dan acara malam itu kembali dilanjutkan dengan DJ set dan after party. Sebagian besar penonton terlihat sedikit kecewa karena durasi konser yang cukup singkat. Membawakan total 18 lagu, konser hanya berlangsung sekitar satu jam setengah. Namun yang jelas, mereka tidak kecewa akan penampilan band asal Perancis itu. Nouvelle Vague berhasil mencuri perhatian masyarakat musik Indonesia – they’re the new wave!//review and photo by 410


interview // annemarie

June 14, 2007

Mungkin akan lebih pas seandainya Bystanders bisa mewawancara Annemarie di saat piknik, sesuai dengan suasana cover album dan musik mereka. Namun karena tidak memungkinkan, Bystanders hanya sempat mengobrol-ngobrol sejenak dengan mereka di sela-sela gig mereka di Jakarta dan dilanjutkan melalui e-mail beberapa hari kemudian.

Seberapa jauh sih musik Annemarie berubah sejak awal berdirinya sampai sekarang, termasuk sejak adanya perubahan personil?

Kalo dulu, kita memang sangat terpengaruh dengan musik twee pop, memang waktu itu lagi gencar dengerin itu. Kita dibilang twee pop ya ga menolak, tapi kita juga ga pengen mematok untuk di twee pop aja. Mengenai perubahan personil sebenarnya nggak ada masalah sama sekali, karena masing-masing dari kami (personil lama dan baru) semuanya suka dengan musik pop yang kami bawakan sendiri. Jadi musik yang kami bawakan masih konsisten berada di jalur pop-lah, hehe.

Untuk ke depannya Annemarie bakal terus di jalur twee pop atau ada kemungkinan untuk mengeksplore musik lainnya (yg masih di jalur pop mungkin)?

Kami juga ingin bereksperimental, masih dengan basic musik pop, tapi lebih melakukan eksplorasi sound mungkin.

Di album ABC On TV itu ada satu track juga, Strawberry Fields Forever, yang agak berbeda sih, sound yang ada disitu berasal dari groovebox. Mungkin untuk lagu-lagu berikutnya, kami bakal menambahkan sound dari groovebox juga, tapi yang sudah kepikiran sih pengennya menambahkan brass section. Terompet, juga biola mungkin?

Jarak antara rilis album sama acara launchingnya sendiri kan cukup lama, hambatannya apa sih?

Hambatan yang paling utama itu adalah kesibukan akademis, karena kami semua masih kuliah. Untungnya teman-teman dari Maritime (label) mau membantu mengadakan launching. Walaupun tadinya sempat pesimis, tapi akhirnya acaranya jadi diadakan bulan April, sekitar 2 bulan setelah rilis album. Untuk acara launching juga kita nggak mau yang gede-gedean, yang penting ngumpul-ngumpul aja lah.

Proses bikin albumnya sendiri berapa lama?

6 bulan. Kami butuh tiga bulan untuk persiapan bikin lagu, dan tiga bulan untuk rekaman. Waktunya agak lama karena, lagi-lagi, kesibukan akademis yang cukup membutuhkan perhatian, jadi pengerjaannya cuma bisa waktu weekend aja.

Ada hambatan tertentu ga waktu proses bikin albumnya, dengan personil yang belum tetap misalnya?

Ada. Waktu itu kami belum punya drummer tetap, dan bingung juga nyari drummer untuk recording. Untungnya, produser album kami, Vanco, bisa main drum dan juga bersedia untuk mengisi track drum yang belum direkam. Kalau yang lainnya nggak ada masalah, bahkan personil yang lama juga ikutan ngebantuin recordingnya kok.

Sedangkan proses bikin lagu-lagunya sendiri gimana?

Yang biasanya bikin lagu itu Iqbal. Dia ngerekam materi kasarnya dulu, terus dikasih ke personil yang lain. Kami masing-masing pikirin sendiri mau diisi seperti apa, terus dicoba untuk digabung waktu latihan. Dari situ masing-masing ngasih feedback, dan terus seperti itu sampai lagunya fix jadi.

Seberapa jauh sih kontribusi personil baru terhadap musik Annemarie?

Jauh juga. Feel pop-nya jadi lebih kerasa sekarang karena basic pop personil baru lebih kuat. Jojon, bassis, juga banyak berperan dalam proses pembuatan lagu-lagu baru.

Untuk lagu “Strawberry Fields Forever” itu kan beda banget dengan lagu yang lain, itu kenapa?

Basically, kami pengen terus bereksperimental dalam hal sound. Dan waktu itu Strawberry Fields Forever itu adalah hasil eksperimen kami. Memang berbeda sih, tapi kami suka dengan track itu. Dan menurut kami juga tidak ada salahnya untuk memasukkan lagu itu ke dalam album.

Adakah rencana untuk tur ke luar negeri (negeri jiran) seperti yang banyak dilakukan band2 indie beberapa waktu belakangan?

Ada! Bukan ke negeri jiran tapi, hehe. Kami masih berencana untuk manggung di Swedia.

Pertengahan tahun lalu sebenarnya Music Is My Girlfriend (MIMG, label indie Swedia yang merilis mini album Annemarie, The Living Model EP tahun 2004, juga album ABC On TV sekarang ini) nawarin kami melakukan tur, 20 gigs dalam waktu 1 bulan di Swedia. Tapi sayangnya nggak jadi karena masalah dana.

Kami sangat excited untuk manggung di Swedia karena musik kami dapat banyak review bagus dari sana. Mungkin karena genre musik kami swedish pop yang sama dengan musik pop disana ya…

Kalo ngliat covernya kan itu temanya piknik gitu, menurut kalian sendiri lagu apa sih yang paling cocok untuk dijadikan teman piknik?

Apple dan The Living Model sepertinya bakal cocok untuk piknik. Kalau kami dengerin lagu itu pasti bawaan moodnya jadi senang, hehe.

Kenapa dipilih “ABC on TV” sebagai judul albumnya?

Dulu itu setiap personel punya usulan judul album, tapi kami semua masih ngerasa itu nggak cocok. Akhirnya kami memutuskan untuk memakai salah satu judul lagu untuk dijadikan album. ABC on TV itu terpilih jadi judul album karena menurut kami itu sangat mewakili image pop yang ingin ditampilkan oleh Annemarie.

Kata-kata ABC on TV mengingatkan saya pada acara TV waktu saya kecil. Kalau Annemarie adalah sebuah acara TV, akan seperti apa ya?

Apa ya.. mungkin seperti acara anak-anak yang colourful dan menyenangkan. Seperti Sesame Street atau Pocoyo-nya Disney mungkin? Haha..



//interview and photo by 410



CURE ON SUNDAY

June 14, 2007


Tribute to The Cure, Brains Kafe, Kemang, Jakarta, 20 Mei 2007. Dengan semangat sebagai antisipasi kekecewaan kalau-kalau pada Agustus nanti The Cure yang asli tidak sempat menggelar konser di Singapura (dan tidak juga mampir ke Jakarta) maka tidak ada salahnya menghadiri acara tribute untuk band legendaris tersebut.

Di flyer tertera jumlah band yang mengisi acara ini, tidak tanggung-tanggung, 16 Band. Ternyata banyak juga band yang antusias membawakan lagu-lagu the Cure. Namun ternyata ada beberapa band yang akhirnya tidak bisa mengisi acara malam itu. thedyingsirens yang kabarnya akan membawakan lagu-lagu yang cukup ”langka” tidak jadi bermain karena Uga sakit liver sehingga harus bedrest sekitar sebulan lamanya. Sedangkan Clafty Elegy juga batal tampil karena salah satu personilnya berhalangan.

Hujan yang cukup lebat sore itu ternyata membuat acara terasa sangat sepi karena menghambat para penonton untuk hadir di awal waktu. Bahkan beberapa band pengisi di awal seperti Jude dan Cratty Fatty terpaksa bermain dengan penonton yang minim. Saat Guntingkuku membawakan ”Friday I’m in Love”, hanya seorang penikmat indie yang cukup eksis yang bisa berdansa mengikuti lagu ceria itu. Namun lagu-lagu lainnya terasa datar-datar saja seperti dalam ”Cut Here” ataupun dua lagu mereka sendiri yaitu ”Leisure Time” dan ”Say It Love” (di mana pada kedua lagu terakhir itu Denny pada vokal pindah ke posisi drum, dan drummernya menjadi salah satu pemain gitar bersama gitaris satunya lagi yang menggantikan Denny di vocal. Tapi entah karena tempat yang masih agak kosong atau memang karena permainan mereka yang cenderung biasa saja, Gunting Kuku tidak menampilkan sesuatu yang istimewa petang itu.

dsc_3919.jpg

Selanjutnya adalah Autoband yang hadir minus vokalis wanitanya. “Friday I’m in Love” dan “High” dibawakan dengan sedikit nuansa new-romantics ciri khas Autoband, serta lagu mereka sendiri Lantai Dansa. Rasanya band ini agak kurang pas me-remake lagu-lagu The Cure, jauh lebih berhasil ketika band ini mendaur ulang Human League atau Duran-Duran.

dsc_3982-autoband.jpg

Dear Nancy tampil berikutnya, dengan “berseragam” kaos garis-garis. Gitaris mereka, Alam Wijaya tidak dapat tampil pada hari itu, dan digantikan oleh gitaris C’mon Lennon, Hans. Dear Nancy juga membawa satu orang lagi additional player di bagian piano. “Close to Me”, “Treasure”, dan “Ordinary Friend” mereka bawakan dalam melodi folks-pop gaya Dear Nancy. Lagu “Ordinary Friend” sendiri rencananya akan dirilis dalam debut album Dear Nancy.

dsc_3992.jpg

Ballads of The Cliché tampil berikutnya, meneruskan atmosfer folk-pop yang sebelumnya dibangkitkan oleh Dear Nancy. Lagu yang pertama dibawakan malam itu, ”Heidy”, lebih merupakan promosi salah satu single dari album BOTC yang akan segera dirilis. Masih sebagai promosi album mereka, lagu lainnya “Feel Free to Feel Lost” menyusul dimainkan. Baru pada lagu ketiga, lagu The Cure dibawakan, “Just Like Heaven”, dan kalau anda sempat hadir di acara We Are Pop pastinya pernah melihat BOTC memainkannya. Kali ini dengan permainan yang lebih rapi tentunya. Trust dipermak oleh BOTC menjadi lebih mirip lagu yang ceria. Agak lucu juga ketika lagu yang aslinya galau berubah jadi lagu ceria. Kira-kira apa ya reaksi Robert Smith jika mendengarkan lagu versi BOTC ini? Seorang teman sempat berucap bahwa menurutnya Trust versi BOTC jauh lebih bagus daripada versi Homogenic. Sebagai penutup, BOTC membawakan lagu “Mint Car” yang beat-nya sangat ceria, namun sayang Bobby masih kurang menguasai lagu tersebut sehingga lagu yang menyenangkan itu terasa kurang greget-nya. Tapi secara keseluruhan, penonton cukup terhibur dengan penampilan atraktif mereka malam itu.

dsc_4104.jpg

Suasana mulai sedikit mendingin saat The Fellow naik ke atas panggung. Penampilan mereka bisa dibilang cukup biasa malam itu, tidak seperti saat Manchester Get Mad dua minggu sebelumnya. Untungnya vokalis mereka, Aryo, dapat menghangatkan atmosfer di sekitar panggung dengan mengajak sejumlah orang yang hadir untuk bernyanyi bersama. Membawakan lagu The Cure seperti “Play For Today” dan “Boys Don’t Cry”, mereka sepertinya sangat menikmati penampilan mereka.

dsc_4127-the-fellow.jpg

Fill n Feel tampil dengan vokalis yang bertata-rias paling mirip Robert Smith malam itu. Lengkap dengan sweater hitam kebesaran dan heavy dark mascara, vokalis mereka berhasil mencuri perhatian penonton yang datang. Fascination Streets yang dibawakan sebagai pembuka, bisa dibilang cukup menakjubkan. Tapi jutru sangat drop ketika membawakan Just Like Heaven dan Trust. Terlalu mengikuti versi lagu aslinya. Apalagi saat membawakan lagu ”Trust”, saat gitarisnya yang gitarnya mirip punya Noel (Gallagher) itu mendapat kehormatan untuk memainkan pianonya, terlihat sekali ia berusaha keras untuk mengingat not-not selanjutnya. Tapi attitude vokalisnya memang sepertinya menghayati sekali, karena ia sempat stage dive di satu kesempatan, dan duduk-duduk saja sambil merokok pada kesempatan lainnya.

dsc_4141.jpg

Planetbumi naik panggung berikutnya. Sedikit kejutan ketika Bagus (Room V) tampil mengisi vokal Planet Bumi, menggantikan Nyoman. ”A Night Like This” dihadirkan sebagai lagu pembuka. Lagu selanjutnya adalah lagu lawas planetbumi sendiri, Awan, dan Suci pun menyusul kemudian. Single The Cure lain yang dimainkan adalah A Forest. Permainan yang cukup rapi. Pada kesempatan tersebut planetbumi juga memperkenalkan drummer baru mereka, yang namanya sama dengan gitarisnya, Helmi. Sempat juga ada ‘solo session’ dari Helmi, yang menggantikan drummer sebelumnya, Yudi.

dsc_4238.jpg

Selanjutnya penonton disuguhkan dengan penampilan yang sangat menghibur dari The Kuctruts. Sebelum mulai Heri Purnomo aka Omokucrut tampil ke depan panggung sambil meledakkan kantung balon ulang tahun, disambut gelak tawa para penonton. Lumayan kocak dan tentunya menghibur, mengingat penampilan band-band sebelumnya cenderung tampil serius. Seluruh personel The Kucruts sendiri tampil dengan visor plus lampu. Lebih keren dari visor Goodnight Electric.

”Walaupun ini acara Tribute to The Cure, The Kucruts tidak akan membawakan lagu-lagu The Cure kayak yang The Cure maenin. Karena The Kucruts bukan The Cure, karena kami bukan mereka”, ujar omo kucrut sebelum memainkan lagu Bukan Mereka. ”Kami bukan Robert Smith, lalala…” ”A Forest” dibawakan oleh The Kucrut dengan beat disko ala The Upstairs. “Cinta Waria”, lagu andalah The Kucruts menyusul kemudian. Yang agak mengejutkan ketika “Killing An Arab” dimainkan sebagai lagu penutup apalagi ditambah dengan atraksi omokucrut menari-nari seperti tari ular di depan panggung. Penonton pun tertawa-tawa. Yang pasti penonton sangat terhibur oleh The Kucruts, entah oleh lagu-lagu yang mereka mainkan atau lebih karena atraksi panggung yang jenaka. Omo kembali meletuskan satu balon sebelum pamit turun panggung.

dsc_3436-kucruts.jpg

Penampilan band Dikeroyok Wanita yang tampil berikutnya sempat terhambat karena pedal drumnya bermasalah. Akhirnya penonton dibiarkan menunggu sekitar setengah jam hingga akhirnya datang pedal drum pengganti. Untunglah vokalis mereka Inyo, sudah biasa menjadi MC. Sehingga jeda waktu yang ada tidak terlalu kosong, walaupun jokes yang dilontarkan cukup garing hehe. Tapi memang penampilan drummer DW malam itu sangat mengesankan. Energinya seperti orang yang habis minum obat kuat, dalam konotasi yang positif, tentunya. Lagu hits mereka “Yes We Are Boyo” (buaya darat mungkin, maksudnya? –red) dibawakan sebagai lagu pembuka. Kemudian ada juga lagu “Primary” dan “The Hanging Garden” milik The Cure yang dibawakan dengan versi sedikit post-punk. Bahkan pada lagu terakhir terjadi yang Bystanders anggap sebagai ‘penganiayaan terhadap drum’, karena drummer DW membawakan lagu tersebut dengan sangat bersemangat, dengan permainan drum yang tidak biasa. Empat lagu usai mereka bawakan, dan keempat personil DW sepertinya puas dengan penampilan mereka malam itu. Memang, dengan baju hitam-merah, sepertinya memang mereka lebih pas untuk membawakan lagu-lagu Devo. Tinggal tambahkan saja topi piramida itu. Namun penampilan mereka kali itu setidaknya cukup atraktif dan memuaskan.

dsc_3558.jpg

Ekspektasi berlebihan Bystanders ternyata berujung kekecewaan ketika Lipgloss bermain malam itu. Permainan yang tidak sesuai harapan. Nama Lipgloss yang sudah saya dengar lebih lama sebelumya ternyata tidak berimbas kepada kematangan kualitas musik mereka malam itu. “A Letter to Elise” yang mereka bawakan sebagai lagu pembuka, lebih terbantu karena banyak penonton yang suka lagu tersebut dan bukannya karena dimainkan secara apik oleh Lipgloss. Begitu pula ketika mereka memainkan “Why Cant I Be You”, atau lagu sendiri “Atas Namamu”. Sekedar penampilan yang biasa saja sebagai salah satu band yang terbilang cukup lama malang-melintang di scene indie. Namun penampilan mereka cukup kreatif saat vokalis mereka membawakan beberapa lagu dengan menggunakan toa, didukung dengan vocal yang cukup baik dan penampilan yang cukup atraktif tentunya.

dsc_3659.jpg

Salah satu band yang paling ditunggu-tunggu malam itu, Room V, hadir kemudian. Band lawas ini memang dulu terkenal jagonya dalam membawakan lagu-lagu The Cure. Sayangnya Bin tidak menyanyi malam itu dan hanya bermain bass sementara posisi vokalis diisi oleh Bagus yang pada penampilan sebelumnya juga menyanyi untuk Planet Bumi. Kali ini Bagus tampil dengan make-up ala Robert Smith. dengan cardigan hitam, serta mascara dan lipstick berwarna hitam. Lalu ada pula gitaris planetbumi Helmi yang ikut membantu mereka di drum. Room V sukses membawakan empat lagu The Cure yang cukup awam di telinga penonton sore itu seperti Love Song (yang dibawakan secara akustik), Boys Dont Cry, In Between Days, A Letter to Elise, Pleasure, dan Just Like Heaven. Lumayan untuk sekedar nostalgia.

dsc_3703.jpg

Goodnight Electric tampil sebagai penutup. Mayoritas penonton mungkin hadir untuk melihat trio yang satu ini. Sejumlah atribut Good.Friends terlihat di antara penonton, mungkin juga lebih banyak good.friends nya daripada yang benar-benar mau lihat tribute to the cure.

Tanpa banyak berbasa-basi GE memainkan Hello yang kini dijadikan intro resmi untuk promosi album mereka yang terbaru. Sayangnya sound synthetizer Bondi bermasalah dan suaranya agak tidak keluar. Kemudian tigal lagu mereka dibawakan, mulai dari “Solid Gold”, “This is For You”, dan “Versus”. Sejumlah penonton yang hadir untuk acara tribute pun langsung kecewa, karena GE lebih banyak membawakan lagu mereka sendiri daripada lagu The Cure. Baru pada lagu keempat, “The Walk”, GE membawakan lagu The Cure yang sudah diaransemen ulang oleh GE dalam beat disco-techno delapan puluhan. Kemudian Batman memanggil omokucrut ke atas panggung untuk berduet dalam lagu “A Forest”

Tidak tahu kenapa, malam itu banyak sekali band yang membawakan “A Forest”. Mungkin mereka kira lagu ini cukup jarang dibawakan, sehingga mereka memainkan lagu itu. Sayang, ternyata sebagian besar dari mereka berpikiran hal yang sama. Atau mungkin juga karena adanya pohon imitasi berukuran cukup besar di pojok kiri café, tempat para reporter Bystanders dan sejumlah teman lainnya berkumpul, haha.

Sayangnya GE tidak membawakan “Lovesong” yang dulu pernah mereka mainkan di Thusrday Riot. Tapi apa mau dikata, pertunjukkan malam itu tetap harus berakhir. Sayangnya dengan antiklimaks. //review by yearry , 410//photo by 410


gig review//wonderbra album launch

June 14, 2007

dsc_3454.jpg

Bystanders merasa terhormat sekali mendapatkan undangan langsung untuk datang ke launching band ini. Pada tanggal 3 Mei lalu, Wonderbra menggelar launching party atas album mereka, “Crossing The Railroad”. Dengan sejumlah band pembuka yang cukup menarik, seperti Stupid Robotic Killing Machine, Stereomantic, Afamous, serta Zeke and The Popo. Bertempat di Colours Café, Wonderbra berhasil menggebrak penonton yang datang dengan sejumlah lagu  rock n roll-funk-psychadelic mereka.

Dibuka dengan “Die, Die, Baby Die” yang sangat menghentak, mereka membawakan lagi sekitar delapan lagu lainnya seperti “Dig It Deep”, “Dance With The Blues”, dan “Crossing The Railroad” yang mengajak crowd yang datang untuk moshing – atau setidaknya menghentakkan kepala mereka. Sebagian besar crowd sepertinya memang teman-teman dekat mereka, dan mereka memenuhi daerah sekitar panggung untuk menyanyi bersama. Bahkan lagu “Loveless Blues” yang tidak ada di album dan awalnya tidak masuk dalam set list, ikut dimainkan karena ada request dari teman-teman yang datang. //photo and review by 410//


gig review//think thursday

June 14, 2007

pict0073-planb-bw.jpg

Sejumlah gigs biasanya digelar menjelang weekend. Tapi gig yang satu ini malah digelar di tengah minggu, tepatnya hari Kamis. Dan tempatnya juga lumayan berbeda dengan gigs gratisan lainnya. Di Caven’s Dine & Club, Hotel Nikko lt.28. Pemandangan dari tempat ini sangat bagus, namun sekaligus memberi kengerian bagi orang yang phobia ketinggian.

Bystanders menyempatkan datang ke acara perdana Think Thursday, 19 April lalu. Dibuka dengan thedyingsirens, lalu langsung dilanjutkan dengan penampilan pestolaer. Setelah itu ada band pop-rock-top40 Frezia. Dan ditutup dengan penampilan planetbumi. //review by 410//photo by Bram Prasetya [dok planetbumi]


gig review//turn back the clock

June 14, 2007

Setelah sempat tertunda karena faktor cuaca, peluncuran album Mesin Waktu: Teman-Teman Menyanyikan Lagu Naif akhirnya digelar.

Untuk ukuran acara besar, penonton yang datang malam Jumat kali itu memang tidak sebanyak yang diharapkan. Sebagian besar dari crowd yang sudah terlanjur terguyur hujan deras di hari Rabu tidak lagi mau mengambil resiko untuk datang pada malam itu. Namun sepertinya pihak panitia sudah mempekerjakan seorang pawang hujan yang cukup sakti, karena acara sukses digelar tanpa hujan, walaupun sempat sedikit gerimis. Acarapun dibebaskan dari segala persyaratan yang dibebankan pada malam sebelumnya. Semua orang boleh masuk gratis, tanpa harus membeli CD ataupun register SMS.

Walaupun hampir 80 persen band yang tampil adalah band indie, namun crowd yang datang malam itu bukan hanya dari satu komunitas saja. Mungkin memang karena musik yang diusung Naif cenderung mudah diterima masyarakat, walaupun tidak seperti musik mainstream kebanyakan.

Rian Pelor dan seorang MC lagi dari Prambors memimpin acara malam itu, dan seperti biasa, malam itupun menjadi malam ngocol ala Rian, dengan segala gaya khasnya.  Dan semalaman itu ia sepertinya bahan yang cukup baru untuk dicela, yaitu Kangen Band. Band mainstream baru dari Lampung itu berhasil ‘dihabisi’ oleh Rian, dimana ia sempat mengatakan, “Kangen Band makes Radja sounds good”. Hahaha…

Penonton mulai rusuh saat The Brandals naik ke atas panggung. Beberapa orang bahkan naik ke atas panggung dan mencoba eksis di acara itu, walaupun sepertinya mereka juga tidak terlalu familiar dengan lirik-lirik lagu band asal Jakarta itu. Penampilan mereka ditutup dengan lagu yang dijadikan single pertama untuk album Mesin Waktu, “Mobil Balap”. The Brandals beruntung sekali bisa mendapat kehormatan untuk membawakan lagu Naif yang paling populer itu. Dan karena lagu itu nuansa keyboard-nya cukup kental, The Brandals mendapatkan bantuan dari keyboardist Sore, Mondo Gascaro.

dsc_2035.jpg

Monophones dari Yogyakarta membawakan musik-musik mereka yang cukup membuat penonton ”merinding”. Vokal Alexandria yang entah berapa oktaf tingginya, dibalut dengan musik nan apik dari personil lainnya. Untuk beberapa lagu Monophones juga dibantu oleh Ricky dari White Shoes and The Couples Company.

dsc_2081.jpg

The Adams dan White Shoes and the Couples Company sepertinya berhasil mendinginkan kembali suasana malam itu, sesuai dengan turunnya hujan rintik-rintik untuk sementara waktu.

dsc_2141_edit.jpg

Namun puncak performance malam itu memang dipegang oleh Tika, yang malam itu membawa band pendukung barunya yang bernama Wrong is the New Right. Membuka penampilannya dengan ”Smells Like Teen Spirit”nya Nirvana yang dinyanyikan ala Tori Amos, Tika kemudian membawakan lagunya ”Under Their Feet” yang cukup misterius itu. Lagu Naif ”Dia Adalah Pusaka Sejumlah Umat Manusia Yang Ada Di Seluruh Dunia” pun disulap menjadi lagu bernuansa jazz dan soulful-like ala Nina Simone.

dsc_2195.jpg

Sebelum Naif naik ke atas panggung, Rian Pelor mengajak penonton untuk mengheningkan cipta, tanda turut berduka cita atas meninggalnya ayah dari Emil beberapa waktu lalu.

Dan akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga. David, Jarwo, Pepeng, dan Emil naik ke atas panggung. Awalnya mereka sempat memberi sepatah-dua patah kata sambutan. Dan mereka pun membawakan lagu-lagu mereka dengan sangat enerjik. David memang top-nya dalam memanaskan atmosfer. Lagu ”Uang”, ”Dia”, serta ”Ajojing” dari album terbaru mereka ’Televisi’ mereka bawakan dengan sukses. //photo and review by 410


events//ultah buma

June 14, 2007

Pada tanggal 21 April lalu, Komunitas puisi Bunga Matahari genap berusia tujuh tahun. Bukan waktu yang singkat, kalau diumpamakan manusia, maka usia tersebut berarti sudah saatnya masuk SD hehe. Komunitas yang awalnya hanya sebagai wadah bagi sejumlah teman yang ingin mengapresiasikan puisi mereka, kini sudah memiliki ribuan anggota di milisnya. Dan pada tanggal 29 April 2007, BuMa merayakan ulang tahun mereka, merayakan kesuksesan komunitas yang kini tak lagi balita itu.

dsc_2493-nivel.jpg

 

Perayaan ultah yang digelar di café West Pacific di bilangan Thamrin itu dimeriahkan dengan beberapa penampilan dari anggota milisnya. Otak and Chair tampil tentunya, membawakan  sejumlah komposisi andalan mereka, seperti “Sendiri”, “Yongkru Yo’a Yombre”, dan tentu saja, ”Teman Baikku Mati Bunuh Diri”. Kuartet Uga-Acha-Aan-Ichsan itu juga membawakan komposisi terbaru mereka yang berjudul ”Dengerin, Yo!”. Komposisi yang terakhir itu dibawakan oleh Acha, dan terdengar mirip seperti lagu rap dengan iringan perkusi tradisional, hehe.

dsc_2637.jpg

Lalu ada pula sebuah kelompok musik eksperimental yang bisa dibilang pendatang baru dalam acara BuMa. Menamakan dirinya Perusak Suara, trio Iman Fattah (gitaris Lain, Zeke and The Popo, dan entah apa lagi yang bisa dikerjakan manusia multi-talenta ini), Aulia Naratama (keyboardist Everybody Loves Irene), dan Wahyu (Marche La Void) membawakan komposisi yang tidak biasa. Mereka juga dibantu oleh Jorgy dalam membacakan sejumlah puisi.

dsc_2533.jpg

Selain itu ada pula pembacaan puisi dari beberapa anggota milis yang sudah tidak asing lagi seperti Nivel, Jorgy, Henry C Widjaja, dan Esti. Ada pula Hello Rain yang terdiri dari Nanda, Tania (Clover), Aan (D’zeek, thedyingsirens), dan Olive yang membawakan musikalisasi puisi.

dsc_2556.jpg

Acara ditutup dengan pemotongan kue ulang tahun oleh sejumlah pendiri BuMa seperti Festi, Ulil, Anya, Uga, serta beberapa teman-teman yang sudah lama berada di komunitas tersebut seperti Nira, Ney, dan Acha. //410


art events//poem of blood

June 14, 2007
dsc_1627.jpg

Ironis. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan tema yang diusung Ugo Untoro pada pamerannya, “Poem of Blood” awal April lalu.

Melalui berbagai media, mulai dari lukisan, seni instalasi, hingga video, seniman kelahiran Purbalingga itu memaparkan bagaimana kuda, yang sangat berjasa dalam mengantarkan manusia ke peradaban, serta berperan besar dalam meluaskan pengetahuan dan wawasan yang berkembang di seluruh dunia, kini ditinggalkan begitu saja. Bahkan yang lebih kejamnya, banyak dari kuda-kuda yang ada kini berakhir di penjagalan, menjadi sekedar ‘makanan eksotis’.

Yang paling menarik dari pameran ini adalah lorong panjang nan gelap, dimana bila kita memasuki lorong tersebut kita dapat mendengarkan suara derapan kuda beserta ringkikannya. Mengerikan, sekaligus menyayat hati. Manusia telah berkhianat, dan kuda menjadi korbannya.//410


art events//stencil art vs performing art

June 14, 2007

Pada awalnya mungkin tidak ada yang mengira stencil dapat dijadikan sebagai suatu seni. Karena memang awalnya stencil hanya digunakan di kalangan industri, seperti untuk sablon, pembuatan tanda instansi, ataupun pemberian tanda jenis angkot. Tapi kini seni stensil telah berkembang lebih jauh dari itu. Sebagai salah satu bagian dari street art, kontribusi stensil di ruang public pun sering dijadikan sebagai alat propaganda.

 dsc_0108.jpg

Mulai bermunculannya street art di berbagai tempat di kota-kota besar membuat sejumlah seniman stencil ingin untuk mendokumentasikan karya mereka, antara lain melalui pameran. Dan bertampat di Ruang Rupa, pameran Stencil Art pun digelar 29 Maret lalu. Sejumlah karya dari kelompok stencil art yang tidak asing seperti Bujangan Urban, Sijago Merah, dan Sekte Online dapat dilihat langsung di sana. Dan tanpa menggunakan media lain, mereka langsung membuat karya mereka di segala penjuru ruang pamer RuRu, mulai dari dinding, cermin, lantai, hingga langit-langit.

 dsc_0022.jpg

Dan acara pameran juga diiringi oleh penampilan sejumlah DJ (oleh karena itu nama acaranya Stencil Art vs Performing Art). DJ yang tampil antara lain ada Indra 7, Asunk, dan Ale. //410