Untuk membuat satu gig yang menyenangkan, sebetulnya tidak memerlukan tata suara spektakuler puluhan ribu watt ataupun tata lampu warna-warni yang menyilaukan mata. Yang diperlukan hanya niat, band yang mau berpartisipasi, dan komunitas yang mendukung acara Anda. Ya, setidaknya itulah yang dibuat oleh Food Not Bombs Bandung saat menggelar acara kecil-kecilan nan asik akhir Oktober lalu.
Hanya bertempat di sebuah studio kecil di bilangan Lengkong, Bandung, boleh dibilang gig mereka cukup berhasil. Penontonpun hanya dimintai sumbangan sukarela sebesar tiga ribu rupiah. Acara yang kecil memang terasa lebih akrab, karena biasanya yang datang adalah teman-teman para pengisi acara.
Bystanders tiba di venue di tengah hujan rintik-rintik yang mulai membasahi kota Bandung. Sejumlah penonton dan pengisi acara pun masih sempat mengisi perut dengan nasi goreng di rumah makan yang lokasinya tepat di bawah Jawara studio, tempat acara tersebut berlangsung.

Saat sampai di sana, A Stone A sedang bersiap-siap untuk tampil. Band yang personilnya para seniman visual itu mengisi sekitar hampir satu jam berikutnya dengan lagu-lagu mereka, campuran noise dan experimental sounds, dentuman-dentuman rock, lirik yang sarat kritik sosial, dan juga raungan Akbar sang vokalis. Pada beberapa lagu mereka Akbar dan Amenk sempat “tukar guling”, Amenk memainkan gitar dan mengisi vokal. Lalu ada pula satu lagu mereka dimana Andry Moch menggunakan semacam HT atau megaphone dan menggesekkannya dengan senar-senar gitarnya.

Berikutnya ada Aneka Digital Safari. Awalnya Bystanders mengira mereka baru check sound atau apa, saat mereka menjejerkan sejumlah efek gitar di lantai studio. Lalu mereka mengeluarkan suara-suara aneh dan ternyata, mereka sebetulnya sudah mulai membawakan komposisi mereka! Suatu bentuk karya yang sangat kreatif, karena di balik sounds yang rasanya tak beraturan dan bising, ada sebuah komposisi yang sangat harmonis.

Kemudian ada Pink Pony Club, yang boleh dibilang band yang paling tidak eksperimental malam itu. Seperti mendengarkan band-band indie/rock Bandung pada umumnya, apalagi kalau Anda baru saja mendengarkan Aneka Digital Safari hehe. Wajah yang sangat familiar, Hangga dari Inspirational Joni ternyata ada di band tersebut memainkan synthesizer korg-nya.

Dan sebagai penutup acara, band yang paling ditunggu-tunggu malam itu, Sungsang Lebam Telak. Band ini cukup langka gigsnya, karena mereka memang sengaja memilih apresiator yang tepat untuk musik mereka. Dibuka dengan pembacaan manifesto mereka, Dani (drums), Gembi (bass), dan Ageng (keyboard), membawakan lagu-lagu mereka dengan cara yang sama seperti mereka merekam EP mereka – secara live dan spontan. Mereka memang tidak membuat suatu komposisi lagu yang tertata rapi dengan kunci-kunci khusus, tapi mereka punya satu hal esensial dalam suatu band, yaitu kekompakan. Karena musik mereka yang free-jazz/free-improvisation itu memungkinkan para personilnya untuk membawakan lagu-lagu mereka semau hati, maka untuk menandakan kapan lagu harus pindah ke bagian berikut atau harus berhenti, sesekali Gembi memberikan tanda bagi Dani di drums. Bahkan bisa dibilang, penampilan live SL*T ternyata lebih rapi dibanding versi EP-nya!
Ya, benar-benar gig kecil yang menyenangkan. Ditambah dengan sejumlah botol minuman beralkohol dalam kadar ringan sebagai teman penghangat tubuh di dinginnya malam, rasanya semuanya menyatu malam itu. Tidak ada lagi istilah artis dan penonton. Semuanya bersaudara. //review and photo by 410//
Posted by bystanders