as simple as ABC

June 14, 2007

Setelah ditunggu-tunggu akhirnya Annemarie mengadakan launching album mereka ”ABC On TV” di Prefere Dago. Acara yang lebih merupakan syukuran bersama teman-teman dan para penggemar mereka itu berlangsung hangat dan meriah dengan diiringi beberapa kolaborasi Annemarie dengan teman-teman dari band pop lainnya.

Sebenarnya album ”ABC On TV” sudah dirilis akhir tahun lalu di luar negeri oleh label swedia Music Is My Girlfriend (yang juga telah merilis EP mereka yang berjudul The Living Model EP) bekerjasama dengan Plastilina Records. Karena itu iqbal sang gitaris yang juga merupakan vokalis pria mereka berkata bahwa launching malam itu lebih tepat dikatakan sebagai kumpul-kumpul dan syukuran bersama teman-teman, label, maupun fans.

Acara dibuka dengan pertunjukan band noise dari Surabaya, Lull, dilanjutkan dengan band Shoegaze/Dreampop yang dikapteni oleh Yayan sang vokalis yang juga gitaris. Kurang lebih lima buah lagu dibawakan oleh band itu termasuk materi baru mereka yang sangat “berbahaya“ seperti “Cataclysmic” dan “Methian Dreams”. Sound mereka khas shoegaze dengan gitar wall of sound dan drowning disana-sini, serta vokal yang samar-samar tertutup tumpukan distorsi gitar.

Perfect Angel tampil selanjutnya kemudian dilanjutkan dengan Astrolab, band indiepop yang sama-sama berada dibawah naungan Maritime Records, yang juga merilis album Annemarie di Indonesia.

Lagu pertama yang dibawakan Astrolab adalah “My Guitar Sting The Nerves”. Terlihat jelas mereka sangat terpengaruh oleh band-band rilisan Sarah Records dan juga Ocean Blue karena Rangga, sang lead guitar, sangat menyukai hal-hal yang berbau kelautan. Mereka membawakan lima buah lagu, termasuk “Lara Jiwa” dan “We Are The Burlesque“. Lagu tersebut cocok banget untuk menjadi penutup dan klimas dari performance mereka dengan kord-kord gitar major7 khas indiepop dan vokal cewek yang cute.

Dan akhirnya! yang punya acara tampil juga sebagai penutup launching malam itu. Satu-persatu personil naik keatas panggung sambil memegang instrument mereka. Oh ya! Malam itu Annemarie mengajak Vian (gitaris Jelly Belly dan AbadKatroWave) sebagai additional lead gitar karena Inu sudah tidak bersama mereka lagi. Tanti sang kibordis sekaligus vokalis cewek mereka, tampil laksana dewi malam itu dengan backless dress nan anggun, sementara Iqbal dan Jojon tampil dengan sweater mereka. Hanya Vian yang malam itu tampak masih seperti rootsnya yaitu shoegaze dengan tshirt MBVnya dan memainkan gitarnya malam itu dengan menatap sepatu. Alhasil jadilah bahan sorakan teman-teman yang pada waktu itu meneriakkan kata-kata seperti “Oii gitarisnya koq ga twee sih?” atau “Woyy itu gitarisnya galau amat!”.

Pada lagu tersingkat “Lazy Sunny Day” mereka mengajak penonton untuk ikut clap their hands along with them. Mereka juga berkolaborasi dengan beberapa rekan dari band pop Bandung untuk ikut bernyanyi bersama mereka seperti pada lagu Love In The Morning (feat. Hilman 1900 Yesterday), Bubblegum I See (feat. Kiki Chan dari Olive Tree yang tampil sangat centil), dan Strawberry Fields Forever (feat. El Vincent Vega). Ternyata lagu Strawberry Fields Forever bukanlah remake atau cover dari lagu The Beatles, hanya kebetulan berjudul sama.

Mereka juga mengajak vokalis lama mereka yaitu Eko untuk menyanyi pada lagu Won’t Be Nice. Dan launching malam itu ditutup dengan lagu andalan mereka, Apple (Suicide On Your Stereo Set). //review by arvidson//photo dok annemarie



gig review//electroduce bandung

June 14, 2007

Setelah sukses menggelar launching di Embassy Jakarta maret lalu, band electropop yang sedang naik daun bersama ini menyerbu Bandung melalui gelaran showcase album terbaru mereka’ “Electroduce Yourself” tepat di halaman Monik Shophouse 3 Mei lalu.

Kawasan setiabudi yang biasanya ramai dengan mobil ‘turis’ dari Jakarta yang ingin berbelanja dikawasan penuh factory outlet yang terkenal itu atau sekedar mencari café yang cozy dan enak untuk makan, makin diramaikan oleh DJ-DJ dari Poptastic! Army dari sekitar pukul 15.00 hingga Goodnight Electric tampil.

MC Une yang biasa memandu les voila naik ke panggung dengan mendaulat Olive Tree yang memang malam itu menjadi opening act. Setelah beberapa menit persiapan akhirnya Olive Tree tampil menghentak halaman monik yang disulap menjadi suatu indie sauna dengan lagu-lagu- mereka yang upbeat yang mereka sebut musik Strawberry Pop.

Audiens datang bukan hanya dari bandung, tetapi dari beberapa kota seperti Jakarta, Tasikmalaya dan bahkan dari Semarang. Terlihat juga rombongan Good Friends (fans club Goodnight Electric) dari Jakarta dengan memakai tshirt merah Good Friends, malah ada 3 orang yang memakai semacam topeng robotic yang dibuat dari kardus sebagai bentuk dukungan mereka kepada band kesayangan mereka yang memang memainkan musik yang cenderung robotic dengan unsure chip tunes yang kental. Setelah memainkan sekitar 7 lagu akhirnya Olive Tree turun panggung dan dilanjutkan MC lagi dengan membagi-bagikan hadiah seperti merchandise Goodnight Electric tentunya dengan terlebih dahulu menjawab pertanyaan-pertanyaan trivia, dan Good Friends tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan seperti ini, karena mereka tampaknya sudah tahu luar dalam tentang band fenomenal itu.

Band yang sudah ditunggu dari sore itu akhirnya tampil juga dengan blocking panggung seperti biasa, Henry  Foundation sang frontman diapit di kiri dan kanannya oleh oomleo dan Bondi Goodboy dengan synthetizer mereka masing-masing.  Dibuka dengan intro yang berjudul “Hello” sembari para personil GE mengajak audiens untuk mengangkat tangan kanan ke depan sekilas seperti Nazi Salute hehehehehe. Lanjut dengan “Automatic Heart” lalu “#1” yang mereka dedikasikan untuk para fans setia mereka, Good Friends. Mereka tampil malam itu tidak biasanya, oomleo dan Bondi Goodboy banyak memainkan synthetizer mereka dan Henry malam itu bernyanyi semi-lip sync dengan menggunakan layering vocal. Malam itu mereka membawakan sekitar 10 lagu dari album terbaru mereka termasuk “Laser Gun Electro Boy” single album kedua mereka, “Interval” yang mengingatkan soundtrack breakdance era 80-an akhir, dan ”Super Visor Go” yang menceritakan tentang visor yang mereka bertiga pakai, dan sebelum memainkan lagu tersebut pun sang frontman berpromo-ria bahwa visor yang mereka pakai akan segera mereka pasarkan untuk para fans huhuhuhuhu jago bisnis juga nih GE :P . Lagu dari kompilasi Thursday Riot, ”T.E.C.H.N.O>LOGY juga mereka bawakan.

Penampilan mereka hampir tanpa cela malam itu dengan audiens berjoget dan ikut menyanyi tanpa henti bersama mereka, Monik malam itu benar- benar disulap jadi indie sauna! Penampilan mereka ditutup dengan lagu dari album pertama mereka, yang bertitel “Supermarket I Am In“ dengan sedikit remix dan terdengar lebih dance dan beatnya lebih cepat dari aslinya, pukul 10 lewat sedikit usailah sudah showcase mereka, akan tetapi mereka juga menggelar semacam press conference dan jumpa fans di halaman dalam monik untuk para fans yang sudah meregistrasi dengan layanan sms dari Aksara Records dan menunjukkan sms balasan tersebut kepada panitia. //arvidson


gig review // Soundshine 2007

April 13, 2007

sondre.jpg

Musik Indonesia kembali diserang bangsa Skandinavia. Setelah sukses menggelar Soundshine 2006 dengan mendatangkan duo fenomenal Kings Of Convenience tahun lalu, Popcycle dan Dunhill kembali menggebrak Jakarta dan Bandung dengan mendatangkan Club 8 dan Sondre Lerche and The Faces Down.

>> Jakarta // 10 Maret 2007

dsc_1876_rissa-horizontal.jpg

Soundshine 2007 di Jakarta dimulai sekitar pukul 18.00. Tak lama setelah open gate, Homogenic muncul sebagai band pertama. Berbeda dengan set yang biasa dimainkan, kali ini Homogenic membawa serta additional players: pemain bass dan drummer. Alhasil beat drum machine yang biasa terdengar dalam versi “electronica” dalam lagu/live versi mereka kini lebih terasa real. Begitu juga sound bass yang ditampilkan melalui live player.

Selain itu, penampilan Homogenic malam itu terasa lebih ’ceria’, beberapa lagunya sepertinya sengaja diaransemen ulang khusus untuk Soundshine. Dibuka dengan intro, vokalis Rissa Saraswati lalu masuk ke panggung dengan menyanyikan single Utopia. Menyusul kemudian adalah Giutar Song, Semu, Walk in Silence, Taste of Harmony, dan ditutup oleh lagu Untukmu Duniaku. Secara umum tidak ada yang terlalu istimewa dari aksi Homogenic malam itu. Sekedar perbandingan, live mereka di Les Voila final edition plus dancer dan kostum era 50-an agaknya masih lebih baik.

sore1.jpg

Selanjutnya penampilan dari Sore. Agak mengejutkan ketika Sore membawa tiga orang backing vokal serta tiga pemain brass section. Dan benar saja totalitas permainan Sore malam tersebut cukup terlihat. Sejumlah nomor yang dibawakan oleh Sore adalah dari album Centralismo serta soundtrack Berbagi Suami. Satu lagu berjudul Essensimo ‘bocoran’ dari album kedua mereka juga dimainkan. Aksi Sore ditutup dengan lagu No Fruits for Today.

dsc_2110_edit_crop.jpg

Club 8 hadir setelah itu. Disambut antusiasme penonton mereka langsung memainkan The Next Step You’ll Take sebagai lagu pembuka. Sayangnya penampilan Club 8 kali ini tidak didukung dengan sound yang baik. Beberapa penonton bahkan kecewa karena feedback terjadi belasan kali. Terlihat beberapa kali personel club8 meminta agar kru mengecek ulang sound. Bahkan Karolina sempat berbicara kepada penoton bahwa dia tidak bisa mendengar suaranya sendiri saat dia bernyanyi. “But it doesn’t matter if you still can hear my voice when I’m singing”, ujarnya sedikit menghibur.

Berbeda dengan penampilan Kings of Convenience tahun lalu yang tampil akustik dan penampilan Edson pada LA Lights Indiefest yang serba minimalis, Club 8 malam itu hadir dalam format band. Selain Karolina dan suami, club8 juga membawa seorang gitaris, bassis, dan drummer. Mereka cukup interaktif dengan para penonton. Bahkan mereka cukup terkejut ketika beberapa single dari album yang tidak beredar di Indonesia tapi sebagian besar penonton justru hafal liriknya dan menyanyi bersama. “you almost make me cry” kata Karolina. Tiga lagu baru dimainkan malam itu. Menurut mereka lagu-lagu tersebut belum pernah dimainkan dihadapan penonton, dan baru saja selesai ditulis beberapa minggu yang lalu. Rencananya lagu-lagu tersebut akan dimasukkan ke dalam album baru yang sedang mereka garap, dan akan rilis September nanti.

dsc_2349_edit_crop.jpg

Sondre Lerche and The Faces Down yang menjadi penutup rangkaian acara malam itu langsung tampil menghentak. Bahkan baru memasuki lagu kedua, senar gitar Sondre Lerche sudah putus, namun mereka tetap bersemangat meneruskan lagu-lagu mereka. Sejumlah lagu dari album terbaru mereka, ”Phantom Punch” mendominasi pnampilan mereka. Beberapa lagu juga sempat dibawakan secara akustik (solo), seperti ”(I Wanna) Call It Love”, ”Happy Birthday Girl”, dan lagu dari Prefab Sprout berjudul ”L.I.M.O.G.E.S.”

Lagu hits mereka ”Two Way Monologue” dibawakan dengan tempo yang cukup menghentak, dengan sound yang sangat baik. Sound EP yang khas pada lagu itupun digantikan dengan permainan gitar, namun tetap terdengar manis. Lagu dari album berjudul sama itu juga dijadikan penutup penampilan mereka yang sekaligus menutup acara Soundshine 2007 di Jakarta. //pix/410//words/yearry/410//

>> Bandung, 11 March 2007

Band pertama yang didaulat membuka Soundshine 2007 yang digelar di Sabuga adalah Sore. Dengan membawa seorang additional saxophonist, mereka tampil spesial malam itu. Lagu pertama yang dibawakan adalah “Funk The Hole“ dari Janji Joni. Lalu dilanjutkan “Mata berdebu“ yang makin hangat dengan ditambahnya unsur saxophone dan ditutup dengan sebuah lagu yang jarang mereka bawakan yaitu “Lihat“. Tujuh buah lagu mereka mainkan malam itu dan mereka juga membawakan sebuah lagu dari upcoming album mereka.

Setelah Sore tampil memukau, dilanjutkan dengan Homogenic yang tampil dengan format full band dengan additional drum dan bass. Penampilan Homogenic dimulai dengan Intro yang biasa mereka bawakan saat live dan seperti biasa mereka selalu menggunakan outfit yang eye-catching. Malam itu mereka mengenakan semacam jaket tahun 60-an era Twiggy Lawson dengan perpaduan antara putih dan hijau toska.

Lagu-lagu yang mereka bawakan diarrange ulang, diretouch menjadi lebih ‘ceria’. Mungkin untuk menyesuaikan dengan nuansa ceria yang akan ditampilkan dua band utama. Mereka juga menggunakan additional dancers pada lagu “Walk In Silence” dan lagu penutup “Untukmu Duniaku”. Dan seorang mime yang tampil cukup menarik pada lagu “Taste Of Harmony”.

Akhirnya setelah jeda waktu yang hampir sama dengan sebelumnya, band yang ditunggu-tunggu tampil ke atas panggung dengan dipimpin Johan Angergard dan tiga additonal players mereka (Lead Guitars, Bass, dan Drums) lalu disusul Karolina Komstedt yang malam itu tampil sederhana tetapi sangat manis dan girly.

Mereka banyak membawakan lagu-lagu dari album Strangely Beautiful, dan di tiap lagunya selalu memancing audiens untuk ikut bernyanyi bersama mereka.

Pada malam itu mereka juga berkolaborasi dengan Mocca (for the very first time they actually meet in person!) dalam lagu “I Will Never” dan “Love In December”.

Atmosfer hangat mereka hantarkan pada penonton melalui musik smooth dan suara Karolina yang lembut dan khas bahkan terkesan pemalu. Pada Encore mereka akhirnya membawakan request penonton yaitu “Missing You” dengan versi akustik yang sangat slow.

Sekitar pukul 11.00 akhirnya Sondre Lerche dan tim Faces Down-nya yang berjumlah 3 orang menghentak dengan lagu dari album terbarunya “Phantom Punch”. Malam itu mereka banyak membawakan lagu-lagu dari Phantom Punch dan banyak dari penonton yang tidak ‘paham’ dengan lagu-lagu yang mereka bawakan sehingga mereka mendapat sambutan yang kurang menyenangkan dari penonton. Namun, penonton terhibur dengan aksi panggung mereka yang atraktif dengan kemampuan bermusik yang baik.

Sondre Lerche & The Faces Down juga membawakan lagu “Minor Detail” dari album “Duper Session”. Lagu “Two Way Monologue” dimainkan secara akustik tanpa drum pada encore. Sondre juga sempat mengcover lagu dari salah satu band inggris era 90-an Prefab Sprout secara solo. Total 19 lagu mereka bawakan malam itu sekaligus menutup Sounshine 2007 di Bandung. //arvidson