CURE ON SUNDAY

June 14, 2007


Tribute to The Cure, Brains Kafe, Kemang, Jakarta, 20 Mei 2007. Dengan semangat sebagai antisipasi kekecewaan kalau-kalau pada Agustus nanti The Cure yang asli tidak sempat menggelar konser di Singapura (dan tidak juga mampir ke Jakarta) maka tidak ada salahnya menghadiri acara tribute untuk band legendaris tersebut.

Di flyer tertera jumlah band yang mengisi acara ini, tidak tanggung-tanggung, 16 Band. Ternyata banyak juga band yang antusias membawakan lagu-lagu the Cure. Namun ternyata ada beberapa band yang akhirnya tidak bisa mengisi acara malam itu. thedyingsirens yang kabarnya akan membawakan lagu-lagu yang cukup ”langka” tidak jadi bermain karena Uga sakit liver sehingga harus bedrest sekitar sebulan lamanya. Sedangkan Clafty Elegy juga batal tampil karena salah satu personilnya berhalangan.

Hujan yang cukup lebat sore itu ternyata membuat acara terasa sangat sepi karena menghambat para penonton untuk hadir di awal waktu. Bahkan beberapa band pengisi di awal seperti Jude dan Cratty Fatty terpaksa bermain dengan penonton yang minim. Saat Guntingkuku membawakan ”Friday I’m in Love”, hanya seorang penikmat indie yang cukup eksis yang bisa berdansa mengikuti lagu ceria itu. Namun lagu-lagu lainnya terasa datar-datar saja seperti dalam ”Cut Here” ataupun dua lagu mereka sendiri yaitu ”Leisure Time” dan ”Say It Love” (di mana pada kedua lagu terakhir itu Denny pada vokal pindah ke posisi drum, dan drummernya menjadi salah satu pemain gitar bersama gitaris satunya lagi yang menggantikan Denny di vocal. Tapi entah karena tempat yang masih agak kosong atau memang karena permainan mereka yang cenderung biasa saja, Gunting Kuku tidak menampilkan sesuatu yang istimewa petang itu.

dsc_3919.jpg

Selanjutnya adalah Autoband yang hadir minus vokalis wanitanya. “Friday I’m in Love” dan “High” dibawakan dengan sedikit nuansa new-romantics ciri khas Autoband, serta lagu mereka sendiri Lantai Dansa. Rasanya band ini agak kurang pas me-remake lagu-lagu The Cure, jauh lebih berhasil ketika band ini mendaur ulang Human League atau Duran-Duran.

dsc_3982-autoband.jpg

Dear Nancy tampil berikutnya, dengan “berseragam” kaos garis-garis. Gitaris mereka, Alam Wijaya tidak dapat tampil pada hari itu, dan digantikan oleh gitaris C’mon Lennon, Hans. Dear Nancy juga membawa satu orang lagi additional player di bagian piano. “Close to Me”, “Treasure”, dan “Ordinary Friend” mereka bawakan dalam melodi folks-pop gaya Dear Nancy. Lagu “Ordinary Friend” sendiri rencananya akan dirilis dalam debut album Dear Nancy.

dsc_3992.jpg

Ballads of The Cliché tampil berikutnya, meneruskan atmosfer folk-pop yang sebelumnya dibangkitkan oleh Dear Nancy. Lagu yang pertama dibawakan malam itu, ”Heidy”, lebih merupakan promosi salah satu single dari album BOTC yang akan segera dirilis. Masih sebagai promosi album mereka, lagu lainnya “Feel Free to Feel Lost” menyusul dimainkan. Baru pada lagu ketiga, lagu The Cure dibawakan, “Just Like Heaven”, dan kalau anda sempat hadir di acara We Are Pop pastinya pernah melihat BOTC memainkannya. Kali ini dengan permainan yang lebih rapi tentunya. Trust dipermak oleh BOTC menjadi lebih mirip lagu yang ceria. Agak lucu juga ketika lagu yang aslinya galau berubah jadi lagu ceria. Kira-kira apa ya reaksi Robert Smith jika mendengarkan lagu versi BOTC ini? Seorang teman sempat berucap bahwa menurutnya Trust versi BOTC jauh lebih bagus daripada versi Homogenic. Sebagai penutup, BOTC membawakan lagu “Mint Car” yang beat-nya sangat ceria, namun sayang Bobby masih kurang menguasai lagu tersebut sehingga lagu yang menyenangkan itu terasa kurang greget-nya. Tapi secara keseluruhan, penonton cukup terhibur dengan penampilan atraktif mereka malam itu.

dsc_4104.jpg

Suasana mulai sedikit mendingin saat The Fellow naik ke atas panggung. Penampilan mereka bisa dibilang cukup biasa malam itu, tidak seperti saat Manchester Get Mad dua minggu sebelumnya. Untungnya vokalis mereka, Aryo, dapat menghangatkan atmosfer di sekitar panggung dengan mengajak sejumlah orang yang hadir untuk bernyanyi bersama. Membawakan lagu The Cure seperti “Play For Today” dan “Boys Don’t Cry”, mereka sepertinya sangat menikmati penampilan mereka.

dsc_4127-the-fellow.jpg

Fill n Feel tampil dengan vokalis yang bertata-rias paling mirip Robert Smith malam itu. Lengkap dengan sweater hitam kebesaran dan heavy dark mascara, vokalis mereka berhasil mencuri perhatian penonton yang datang. Fascination Streets yang dibawakan sebagai pembuka, bisa dibilang cukup menakjubkan. Tapi jutru sangat drop ketika membawakan Just Like Heaven dan Trust. Terlalu mengikuti versi lagu aslinya. Apalagi saat membawakan lagu ”Trust”, saat gitarisnya yang gitarnya mirip punya Noel (Gallagher) itu mendapat kehormatan untuk memainkan pianonya, terlihat sekali ia berusaha keras untuk mengingat not-not selanjutnya. Tapi attitude vokalisnya memang sepertinya menghayati sekali, karena ia sempat stage dive di satu kesempatan, dan duduk-duduk saja sambil merokok pada kesempatan lainnya.

dsc_4141.jpg

Planetbumi naik panggung berikutnya. Sedikit kejutan ketika Bagus (Room V) tampil mengisi vokal Planet Bumi, menggantikan Nyoman. ”A Night Like This” dihadirkan sebagai lagu pembuka. Lagu selanjutnya adalah lagu lawas planetbumi sendiri, Awan, dan Suci pun menyusul kemudian. Single The Cure lain yang dimainkan adalah A Forest. Permainan yang cukup rapi. Pada kesempatan tersebut planetbumi juga memperkenalkan drummer baru mereka, yang namanya sama dengan gitarisnya, Helmi. Sempat juga ada ‘solo session’ dari Helmi, yang menggantikan drummer sebelumnya, Yudi.

dsc_4238.jpg

Selanjutnya penonton disuguhkan dengan penampilan yang sangat menghibur dari The Kuctruts. Sebelum mulai Heri Purnomo aka Omokucrut tampil ke depan panggung sambil meledakkan kantung balon ulang tahun, disambut gelak tawa para penonton. Lumayan kocak dan tentunya menghibur, mengingat penampilan band-band sebelumnya cenderung tampil serius. Seluruh personel The Kucruts sendiri tampil dengan visor plus lampu. Lebih keren dari visor Goodnight Electric.

”Walaupun ini acara Tribute to The Cure, The Kucruts tidak akan membawakan lagu-lagu The Cure kayak yang The Cure maenin. Karena The Kucruts bukan The Cure, karena kami bukan mereka”, ujar omo kucrut sebelum memainkan lagu Bukan Mereka. ”Kami bukan Robert Smith, lalala…” ”A Forest” dibawakan oleh The Kucrut dengan beat disko ala The Upstairs. “Cinta Waria”, lagu andalah The Kucruts menyusul kemudian. Yang agak mengejutkan ketika “Killing An Arab” dimainkan sebagai lagu penutup apalagi ditambah dengan atraksi omokucrut menari-nari seperti tari ular di depan panggung. Penonton pun tertawa-tawa. Yang pasti penonton sangat terhibur oleh The Kucruts, entah oleh lagu-lagu yang mereka mainkan atau lebih karena atraksi panggung yang jenaka. Omo kembali meletuskan satu balon sebelum pamit turun panggung.

dsc_3436-kucruts.jpg

Penampilan band Dikeroyok Wanita yang tampil berikutnya sempat terhambat karena pedal drumnya bermasalah. Akhirnya penonton dibiarkan menunggu sekitar setengah jam hingga akhirnya datang pedal drum pengganti. Untunglah vokalis mereka Inyo, sudah biasa menjadi MC. Sehingga jeda waktu yang ada tidak terlalu kosong, walaupun jokes yang dilontarkan cukup garing hehe. Tapi memang penampilan drummer DW malam itu sangat mengesankan. Energinya seperti orang yang habis minum obat kuat, dalam konotasi yang positif, tentunya. Lagu hits mereka “Yes We Are Boyo” (buaya darat mungkin, maksudnya? –red) dibawakan sebagai lagu pembuka. Kemudian ada juga lagu “Primary” dan “The Hanging Garden” milik The Cure yang dibawakan dengan versi sedikit post-punk. Bahkan pada lagu terakhir terjadi yang Bystanders anggap sebagai ‘penganiayaan terhadap drum’, karena drummer DW membawakan lagu tersebut dengan sangat bersemangat, dengan permainan drum yang tidak biasa. Empat lagu usai mereka bawakan, dan keempat personil DW sepertinya puas dengan penampilan mereka malam itu. Memang, dengan baju hitam-merah, sepertinya memang mereka lebih pas untuk membawakan lagu-lagu Devo. Tinggal tambahkan saja topi piramida itu. Namun penampilan mereka kali itu setidaknya cukup atraktif dan memuaskan.

dsc_3558.jpg

Ekspektasi berlebihan Bystanders ternyata berujung kekecewaan ketika Lipgloss bermain malam itu. Permainan yang tidak sesuai harapan. Nama Lipgloss yang sudah saya dengar lebih lama sebelumya ternyata tidak berimbas kepada kematangan kualitas musik mereka malam itu. “A Letter to Elise” yang mereka bawakan sebagai lagu pembuka, lebih terbantu karena banyak penonton yang suka lagu tersebut dan bukannya karena dimainkan secara apik oleh Lipgloss. Begitu pula ketika mereka memainkan “Why Cant I Be You”, atau lagu sendiri “Atas Namamu”. Sekedar penampilan yang biasa saja sebagai salah satu band yang terbilang cukup lama malang-melintang di scene indie. Namun penampilan mereka cukup kreatif saat vokalis mereka membawakan beberapa lagu dengan menggunakan toa, didukung dengan vocal yang cukup baik dan penampilan yang cukup atraktif tentunya.

dsc_3659.jpg

Salah satu band yang paling ditunggu-tunggu malam itu, Room V, hadir kemudian. Band lawas ini memang dulu terkenal jagonya dalam membawakan lagu-lagu The Cure. Sayangnya Bin tidak menyanyi malam itu dan hanya bermain bass sementara posisi vokalis diisi oleh Bagus yang pada penampilan sebelumnya juga menyanyi untuk Planet Bumi. Kali ini Bagus tampil dengan make-up ala Robert Smith. dengan cardigan hitam, serta mascara dan lipstick berwarna hitam. Lalu ada pula gitaris planetbumi Helmi yang ikut membantu mereka di drum. Room V sukses membawakan empat lagu The Cure yang cukup awam di telinga penonton sore itu seperti Love Song (yang dibawakan secara akustik), Boys Dont Cry, In Between Days, A Letter to Elise, Pleasure, dan Just Like Heaven. Lumayan untuk sekedar nostalgia.

dsc_3703.jpg

Goodnight Electric tampil sebagai penutup. Mayoritas penonton mungkin hadir untuk melihat trio yang satu ini. Sejumlah atribut Good.Friends terlihat di antara penonton, mungkin juga lebih banyak good.friends nya daripada yang benar-benar mau lihat tribute to the cure.

Tanpa banyak berbasa-basi GE memainkan Hello yang kini dijadikan intro resmi untuk promosi album mereka yang terbaru. Sayangnya sound synthetizer Bondi bermasalah dan suaranya agak tidak keluar. Kemudian tigal lagu mereka dibawakan, mulai dari “Solid Gold”, “This is For You”, dan “Versus”. Sejumlah penonton yang hadir untuk acara tribute pun langsung kecewa, karena GE lebih banyak membawakan lagu mereka sendiri daripada lagu The Cure. Baru pada lagu keempat, “The Walk”, GE membawakan lagu The Cure yang sudah diaransemen ulang oleh GE dalam beat disco-techno delapan puluhan. Kemudian Batman memanggil omokucrut ke atas panggung untuk berduet dalam lagu “A Forest”

Tidak tahu kenapa, malam itu banyak sekali band yang membawakan “A Forest”. Mungkin mereka kira lagu ini cukup jarang dibawakan, sehingga mereka memainkan lagu itu. Sayang, ternyata sebagian besar dari mereka berpikiran hal yang sama. Atau mungkin juga karena adanya pohon imitasi berukuran cukup besar di pojok kiri café, tempat para reporter Bystanders dan sejumlah teman lainnya berkumpul, haha.

Sayangnya GE tidak membawakan “Lovesong” yang dulu pernah mereka mainkan di Thusrday Riot. Tapi apa mau dikata, pertunjukkan malam itu tetap harus berakhir. Sayangnya dengan antiklimaks. //review by yearry , 410//photo by 410


gig review – planetbumi album launch

April 17, 2007

Band yang sudah lama melintang di musik (indie) Indonesia, Planet Bumi, melancarkan serangkaian launching party untuk album terbaru mereka “Working Class Zero” di Jakarta dan Bandung bulan Maret lalu. Terlihat sejumlah ‘senior’ indie pada acara tersebut, serta keluarga (anak-istri) dari personilnya, mengingat umur band ini yang sudah lebih dari sepuluh tahun. Berikut adalah liputan singkatnya

>> Jakarta,

     SOHO PLAZA SEMANGGI, 02/03/07

Baru saja memasuki hari kedua di bulan Maret, Planet Bumi sudah mulai menggelar acara mereka. Rangkaian launching party diawali di Soho, Plaza Semanggi, yang lebih seperti reuni mantan-mantan personilnya. Uga yang dulu menjadi drummer Planet Bumi, saat launching tampil dengan bandnya thedyingsirens dan kelompok perkusi Otak and Chair. Sedangkan Aroel (gitaris) tampil akustik dengan bandnya yang sedang naik daun, Stereomantic. Sayangnya sound dari pihak penyedia tempat kurang memuaskan, bahkan pada titik tertentu terasa mengganggu. Venue yang terlalu terbuka dan ‘umum’ juga mengganggu kenyamanan penonton yang memang ingin menikmati acara. Penonton pun tidak dapat terlalu mendekat ke panggung karena pengunjung mall yang memang sering dijadikan meeting point itu seliweran di depan panggung.

 

dsc_0167.jpg

 

Acara yang seharusnya dimulai pukul 18.00 ngaret hingga sekitar satu setengah jam. Otak and Chair langsung membuka acara malam itu, dengan empat komposisi puisi/perkusi mereka. Kuartet yang terdiri dari Uga (thedyingsirens), Acha, Aan (thedyingsirens & D’Zeek) dan Ichsan (D’Zeek) itu sepertinya berhasil menarik perhatian pengunjung yang seliweran di mall itu, yang kebetulan karena Jumat malam jadi banyak sekali orang yang datang. Uga dan Acha bergantian membacakan karya-karya mereka, total empat komposisi dibawakan, termasuk “Sendiri” dan “Teman Baikku Mati Bunuh Diri”. Walaupun hanya ‘berbekal’ tiga djembe, Otak and Chair dapat membawakan komposisi-komposisi yang harmonis.

dsc_0173.jpg

 

Efek Rumah Kaca mendapat giliran berikutnya. Dengan tiga orang saja, mereka membawakan lagu-lagu mereka yang cenderung sedikit gelap dengan lirik bermuatkan kritik mengenai isu-isu lingkungan. Sesuai sekali dengan nama bandnya. Namun sayang memang, karena sound yang disediakan pada saat mereka main naik turun.

dsc_0299_tds.jpg

Bila dilihat dari pendukung acaranya, launching kali ini mengingatkan pada launching album thedyingsirens akhir tahun lalu yang menampilkan Efek Rumah Kaca dan Planet Bumi. Kali ini gantian thedyingsirens yang tampil untuk launching album Planet Bumi. Band yang baru saja ditinggalkan keyboardisnya Fino itu bermain lebih akustik, terutama bila dibandingkan dengan album mereka yang lebih elektronik. Malam itu thedyingsirens juga tampil tanpa basis mereka, Siska, dan digantikan dengan Ichsan. Seperti Otak and Chair minus Acha tapi digantikan dengan Nouri di gitar haha.. Sound kembali tidak keruan pada saat mereka main, mungkin pihak penyelenggara tidak terlalu serius dalam mempersiapkannya sehingga pada beberapa lagu mereka sound (terutama pada bass) terdengar aneh.

dsc_0321.jpg

Berikutnya adalah duo Stereomantic, yang ‘berkamuflase’ menjadi nama Stereocoustic karena saat itu mereka membawakan lagu-lagu mereka dengan format akustik. Lagi-lagi, sound yang tidak dapat diandalkan mengurungkan niat Maria (vokalis) untuk memainkan xylophone. Untungnya sound gitar Aroel tidak terlalu bermasalah. Stereocoustic tampil sangat sederhana malam itu, memainkan beberapa lagu dari album perdana mereka, termasuk hitsnya, “Takut”. Mereka juga membawakan lagu Bob Marley “Redemption Song” yang dimainkan cukup apik secara akustik.

dsc_0369.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan Room V. Mereka membuka penampilan dengan lagu “Catch”, selanjutnya penonton dimanjakan dengan sederetan lagu-lagu The Cure. Mulai dari “Boys Don’t Cry” yang dibawakan bersama Maria Stereomantic dan Uga thedyingsirens pada drum, lalu berturut-turut “Just Like Heaven”, “A Letter to Elise”, dan “Love Song”. Perhatian penonton juga tertarik pada seorang anak bule berbaju punk yang dengan semangatnya mengikuti acara, dan duduk di ujung panggung. Tidak lupa ia ikut berteriak-teriak menyanyikan beberapa lagu The Cure yang dibawakan Room V, terutama saat bagian “Show Me Show Me Show Me” pada “Just Like Heaven”. Room V juga sempat membawakan lagu hits lawas Planet Bumi, “Rindu”.

dsc_0486.jpg

Puncak acara akhirnya dimulai sekitar jam setengah sepuluh, saat Planet Bumi naik ke atas panggung. Mereka benar-benar seperti sejumlah karyawan yang baru pulang kerja, dengan setelan kemeja dan jas hitam, mungkin memang disengaja supaya sesuai dengan judul album mereka. Mereka pun langsung membawakan lagu-lagu dari album baru mereka seperti “Jimmi Pemenang”, “Bulan dan Bintang”, serta “Kau dan Aku” yang sudah dapat didengar di radio-radio. Band yang kini diperkuat Nyoman (vocal), Molli (bass), Eky (guitar), Helmi (guitar), Yudi (drum), dan Ari (keyboard) itu mendapat sambutan yang cukup meriah dari penonton, dan terlihat sejumlah musisi dan pelaku indie yang bisa dibilang cukup ‘senior’. Planet Bumi juga membawakan lagu “Untuk Semua Yang Tersiksa”, dimana Nyoman berduet dengan Vijey, vokalis dari Soulfullsonic. Penampilan merekapun ditutup dengan lagu “Mama”, yang pada album mereka diaransemen oleh mantan gitaris mereka Aroel.

>> Bandung
Soho Cihampelas Walk, 16/03/07

Acara di Bandung sama ngaretnya dengan di Bandung, yang akhirnya baru mulai pukul 19.30, dan itupun venue masih terbilang sepi. Yang mendapat kehormatan membuka acara malam itu adalah Elemental Gaze, band shoegaze/dream pop Bandung. Kali itu Elemental Gaze tampil tanpa vokalis utamanya, Fuad, sehingga untuk vocal digantikan oleh gitarisnya Lhutfi. Elemental Gaze juga berkolaborasi dengan vokalis Hollywood Nobody, Dian, dan vokalis A Stone A, Akbar. Empat lagu dibawakan oleh Elemental Gaze, termasuk “To Leave After the Memories are Full” dan “Love Your Love, Death Your Love”.

Selanjutnya giliran band folk-pop asal Jakarta, Dear Nancy. Band yang baru saja menggelar launching party untuk EP mereka “My Little Story” itu membawakan sejumlah lagu dari EP tersebut, seperti “Beautiful Sunday”, “Brother and Sister”, dan “Me and You”. Mereka juga sempat membawakan cover dari lagu ‘pahlawan’ mereka The Beatles yang berjudul “If I Fell”

Band ketiga yang tampil malam itu adalah The Milo. Band yang cukup ‘legendaris’ di kota Bandung itu sepertinya memang telah ditunggu-tunggu oleh penonton, karena mungkin karena mereka memang sudah jarang tampil. The Milo pun berhasil memuaskan penonton yang datang dengan membawakan sejumlah lagu mereka seperti “Malaikat”, “Cool”, dan “So Regret”. Aji dkk juga sempat membawakan remake dari lagu The Beatles yang berjudul “Tomorrow Never Knows”.

Acara mencapai puncaknya saat Planet Bumi tampil. Pada malam itu band yang sudah malang melintang di musik Indonesia selama 10 tahun itu membawakan sekitar lima lagu yang semuanya diambil dari album terbaru mereka, “Working Class Zero”. Lagu “Teman” dijadikan pembuka, dilanjutkan dengan lagu “Pencaci” dan “Jumpa Lagi”. Planet Bumi juga membawakan lagu hits mereka yang sudah sering didengar di radio Jakarta yaitu “Kau dan Aku”. Penampilan mereka pun ditutup dengan lagu “Bulan dan Bintang”.

>> Jakarta
Timeout Café, Pasar Festival, 24/03/07

Ini adalah launching party ketiga yang digelar Planet Bumi bulan ini. Sebelumnya acara launching ketiga ini akan diadakan di café Eastern Promise, Kemang. Namun sekitar seminggu sebelumnya diberitahukan kalau venue dipindah ke Timeout Café di Pasar Festival, Kuningan. Tidak jauh berbeda dengan launching yang di Soho, launching kali ini juga ngaret cukup lama.

Soulfullsonic membuka acara malam itu, dimana masih belum terlalu banyak penonton yang datang. Sejumlah orang yang datang pun sempat dibingungkan dengan adanya acara musik di café yang bersebelahan dengan Timeout. Akhirnya sempat ada jeda setelah soulfullsonic main, dan acara baru dilanjutkan sekitar pukul delapan.

dsc_3683.jpg

Band yang tampil berikutnya adalah Revolusi Pop, yang dari gaya dan penampilan vokalisnya, sudah dapat ditebak bahwa band yang satu ini sangat terinfluence oleh The Cure. Dan benar saja, selain membawakan lagu-lagu mereka sendiri, Revolusi Pop juga membawakan lagu The Cure, “Cut Here” dan “Caterpillar”. Bahkan lagu mereka yang dijadikan penutup penampilan band itu terdengar mirip sekali dengan “Pictures of You”. Mereka juga mengakui bahwa lagu tersebut mirip dengan lagu The Cure. Mengingatkan pada Room V yang pada launching pertama yang tidak tanggung-tanggung membawakan empat lagu hits dari The Cure.

dsc_3717_dhendy.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan Dhendy, yang kata Uga adalah ‘the next rising star’. Dhendy dan produsernya, Made, tampil full akustik, hanya dengan dua gitar saja. Walaupun tampil serba minimalis, mereka bermain dengan sangat rapi dan apik. Membuka penampilannya dengan lagu Duran Duran “Ordinary World”, Dhendy kemudian membawakan beberapa lagunya “Go Away” dan “Life”. Kedua lagu tersebut rencananya akan dimasukkan ke dalam EPnya yang akan dilaunch bulan depan. Penampilan Dhendy kali ini juga jauh lebih baik dibanding penampilan perdananya pada acara Quarter Life Crisis yang gelap gulita awal Februari lalu.

dsc_3751_edit.jpg

The Kucruts yang tampil berikutnya langsung disambut meriah oleh penonton. Tampaknya mereka datang dengan massanya sendiri, karena pada saat mereka bersiap untuk tampil, café yang tadinya cukup sepi dan pengunjungnya malu-malu untuk masuk ke tengah langsung penuh dan berdesakan. Penampilan mereka juga cukup unik, seperti sekumpulan anak SMIP dengan dasi hitam yang bermain campuran rock n roll ringan dan elektronik pop. Omo sang vokalis juga langsung menarik perhatian penonton dengan gayanya yang khas, didukung dengan kacamata hitam dan topi Union Boy berbentuk kucing, lambang The Kucruts. Penampilan langsung dibuka dengan lagu “Remaja Pesta”. Kemudian band asal Jakarta ini memainkan empat lagu lagi, termasuk yang sangat ditunggu-tunggu penonton “Cinta Waria”, dan lagu baru mereka “Dengkulku Masa Depanku”.

dsc_3794_edit.jpg

Setelah massa dihangatkan oleh penampilan kocak The Kucruts, band trip-hop Everybody Loves Irene seketika merubah suasana menjadi dingin dan sedikit kelam. Band yang baru saja meluncurkan albumnya “The Very First Thing You Must Learn About Flying is Gravity” itu adalah line up terbaru dari acara launching itu, karena sebelumnya mereka tidak dimasukkan ke daftar pengisi acara. Penampilan band yang terdiri dari Irene (vocal), Yudhi (gitar), Dimas (bass), Adi (drums), Aulia (synthesizer, sampler) dan Aji (keyboard) itu dibuka dengan cover lagu The Misfits “Hybrid Moments”. Kemudian mereka membawakan lagu hits Planet Bumi “Rindu” yang diaransemen ulang dengan nuansa trip-hop khas Everybody Loves Irene. Dilanjutkan dengan single mereka “Memento Mori” yang terdengar kelam, dan ditutup dengan lagu “Hate Sunday” yang rencananya akan menjadi single mereka berikutnya.

dsc_3923_acum.jpg

Band pembuka terakhir adalah band veteran asal Jokja, Bangkutaman. Timeout café pun menjadi semakin penuh dan penonton mendesak ke dekat panggung (walaupun sebetulnya tidak ada panggungnya hehe), dan hanya beberapa orang saja yang masih bisa duduk-duduk santai, karena sebagian besar lainnya berdiri di sepanjang café. Setelah dibuka dengan intro, Bangkutaman langsung membawakan lagu mereka “Trapped in the Middle”. Suasanapun makin memanas ketika mereka membawakan lagu hits The Stone Roses “Elephant Stone” (yang guitar version, bukan drum intro). Dan penampilan mereka malam itu ditutup dengan lagu dari The Who, “Substitute”. Sayang sekali mereka hanya membawakan empat lagu, karena sebagian besar penonton masih ingin mendengarkan lebih banyak lagu lagi dari mereka.

dsc_3967.jpg

Planet Bumi yang tampil pada puncak acara juga akhirnya hanya memainkan sebagian lagu dari set list yang aslinya karena keterbatasan waktu. Bahkan Bangkutaman yang dijadwalkan tampil pada pukul 20.30, baru tampil pada sekitar pukul 22.40. Kali ini Planet Bumi membawakan lagu mereka dari album terdahulu, “Rindu” yang juga sempat dibawakan Everbody Loves Irene malam itu. Setelah itu mereka membawakan lagu-lagu dari album terbaru mereka, “Working Class Zero” seperti “Jimmi Pemenang”, “Jumpa Lagi”, “Kau dan Aku”, serta “Bulan dan Bintang”. //410


gig review//dear nancy ep launch

April 17, 2007

 

Dear Nancy, band folk-pop acoustic yang berbasis di Jakarta/Bekasi akhirnya menggelar launching party untuk EP mereka yang berjudul “My Little Story”. Walaupun EP-nya sendiri sudah dirilis sejak 24 November tahun lalu, mereka baru dapat menggelar launching party tahun ini. Launching party pertama diadakan di Nic’s Café Bekasi, 23 Februari lalu. Berikut adalah review dari launching kedua mereka di Toko Buku Aksara, Kemang, tanggal 8 Maret 2007.

dsc_1515.jpg

Suasana The Beatles terasa sekali malam itu. Saat DeBecause membuka acara malam itu, penonton yang belum pernah mendengarkan musik mereka juga pasti sudah mulai menduga bahwa band tersebut akan membawakan lagu-lagu The Beatles. Dan memang benar, band yang personilnya ‘berseragam’ setelan jas hitam itu adalah cover band The Beatles. Sayang karena pengaturan sound yang kurang baik, atmosfer The Beatles yang ingin mereka bangun jadi sedikit buyar. Namun dari segi penguasaan musik, mereka memang benar-benar The Beatles fan. Sejumlah lagu The Beatles yang kurang awam pun sempat dibawakan, walaupun akhirnya mereka juga membawakan lagu-lagu Beatles yang cukup terkenal seperti “Twist and Shout” dan “And I Love Her”.

dsc_1559.jpg

Saat jeda, Dear Nancy mulai memperkenalkan salah satu video klip mereka, yaitu “My Little Story”, buatan Nol Kecil Production. Setelah itu acara pun dilanjutkan dengan penampilan band yang namanya saja sudah menggambarkan jenis musiknya [hehe..], yaitu Karon N’ Roll. Memang ketika band ini tampil, suasana awal yang cukup santai dan tenang seperti berubah 180 derajat. Mereka langsung menghentak penonton dengan beberapa lagu andalan mereka yang diambil dari EP (yang juga beru dirilis) berjudul “Infra Bercinta”. Mungkin yang sedikit aneh adalah ketika vokalisnya yang bertampang sangar, berbadan gelap, dan berambut keriting tak beraturan itu tampil dengan baju berwarna kuning cerah dengan lollypop merah di tangan. Tapi tetap saja hal itu tidak mengurangi ke-“rock n roll”an band buatan jebolan mahasiswa IKJ ini.

dsc_1646_edit.jpg

Jeda kedua kembali diisi dengan pemutaran video klip Dear Nancy, “Bonnie and Clyde”. Video klip ini dibuat oleh Irine, seorang mahasiswa ITB, dan rencananya lagu yang judulnya mirip dengan lagunya Beyonce itu akan dijadikan single pertama dari Dear Nancy untuk EP mereka.

Venue semakin sesak ketika White Shoes and the Couples Company mulai memasuki panggung. WSTCC pun langsung membuka penampilan mereka dengan membawakan remake lagu dari album pertama yang berjudul “Nothing to Fear”. Lagu ini terdengar lebih ceria sekarang, dibanding dua versi yang ada di album tersebut. Berikutnya mereka membawakan lagu “Kampus Kemarau” yang baru kedua kalinya mereka bawakan di depan umum. Pertama kalinya adalah ketika acara Acoustic Set di Café au Lait tahun lalu. White Shoes juga memperkenalkan dua lagu baru mereka, yang salah satunya ditulis oleh Ricky Surya (bass) dan yang satu lagi ditulis oleh Rio (gitar).

Jeda terakhir, dan video klip terakhir dari Dear Nancy. Kali ini dibuat oleh Indra Ameng, berjudul “Brother and Sister”. Video hitam-putih ini bersetting di daerah Jakarta dan Bandung, termasuk kereta api Parahyangan dan beberapa tempat-tempat khas Bandung.

dsc_1765.jpg

Acara ditutup dengan penampilan yang punya acara, Dear Nancy. Dibuka dengan intro, band yang beranggotakan Wemmy Lopulalan (vokal, gitar akustik, perkusi), Ralmond Karundeng (bass, harmonika), Alam Wijaya (gitar elekrik), Ellisabeth Listyarini (keyboard,vokal latar), dan Christo Putra (drum, vokal latar) itu kemudian membawakan sekitar 11 lagu, termasuk enam lagu yang mereka masukkan ke dalam EP mereka, “My Little Story”. Inspirasi The Beatles memang terdengar sekali di lagu-lagu mereka, terutama di bagian drums dan gitar pada lagu “Me and You”. Lagu-lagu mereka juga cukup santai dan ringan, dan sangat enak untuk didengarkan di Minggu sore yang cerah.

Band yang berawal dari vocal grup gereja ini juga sempat membawakan beberapa lagu dengan akustik, dimana drummer Utha ikut memainkan gitar sedangkan Ralmond mengistirahatkan bass-nya dan memainkan harmonica. Sayangnya, mungkin karena jadwal launching yang sempat ngaret satu jam ataupun karena beberapa orang mendengar kabar mengenai kedatangan Club 8 di Casa yang terletak di atas toko buku itu, sehingga pada sepertiga akhir acara, penonton mulai berkurang. TIdak lagi berdesakan hingga ke depan dan berhadapan langsung dengan pemain band-nya seperti pada saat Karon N Roll ataupun White Shoes & The Couples Co. Tapi untungnya masih ada beberapa orang dan teman-teman mereka yang menonton hingga akhir pertunjukkan.

 

Lagu “Brother and Sister” akhirnya dijadikan penutup acara malam itu, saat jam sudah menunjukkan sekitar pukul 22.30. Secara keseluruhan, ini adalah salah satu acara launching yang sangat menyenangkan penuh dengan lagu-lagu ringan dan santai. Band di bawah naungan Paviliun Records itu sepertinya berhasil membuat launching yang cukup apik.//review by 410//


cd review//dear nancy//my little story

April 17, 2007

dear-nancy-album.jpg

 

 

 

 

 

 

 

DEAR NANCY
My Little Story EP
2006 // Paviliun Records

Sesuai sekali dengan covernya, EP Dear Nancy “My Little Story” sepertinya pas untuk menjadi teman piknik di hari yang cerah. Enam lagu dimasukkan ke dalam EP ini, termasuk satu lagu outro yang berjudul “Lullaby”. Sayang memang, hanya ada lima. Apalagi durasi tiap lagunya hanya berkisar tiga menitan, jadi dengan waktu 18 menit saja kita sudah bisa mendengarkan seluruh lagu dalam albumnya. Andaikan betul-betul digunakan untuk menjadi teman piknik, pasti akan bosan apabila lagu-lagu yang sama berulang tiap 18 menit.

Musik yang diusung Dear Nancy adalah seperti melakukan kawin silang antara The Beatles dengan Ballads of The Cliché. Atau mungkin seperti BOTC versi minimalis, tapi lebih banyak unsur Beatlesnya. Coba saja dengar lagu pertama mereka di EP ini, “Me and You”, dimana permainan gitar dan drumnya terdengar ‘Beatles’ sekali. Sedangkan lagu lainnya lebih ke folk-pop dengan sentuhan sound-sound woodwind dan sedikit strings lewat keyboard.

Mendengarkan musik Dear Nancy juga seperti bernostalgia ke masa anak-anak, saat dunia masih terasa indah, dan pikiran juga belum terbebani dengan masalah-masalah yang menimpa negara. Sebuah piknik keluarga di tahun 70-an, udara cerah, dan langit biru belum terkena polusi udara. Atau saat bersepeda di sore hari bersama sahabat baik di waktu kecil, menyusuri jalan-jalan kecil di dalam komplek rumah, lalu saat lelah beristirahat di bawah pohon sambil minum es tung-tung. Hehe.

Satu lagu yaitu “Bonnie and Clyde” [jadi inget lagunya Beyonce ama Jay Z, hehe] dimainkan secara akustik, sedangkan lagu terakhir “Lullaby” dimainkan secara solo oleh Ellisabeth. Sekilas lagu ini mirip sekali dengan “Brahm’s Lullaby”, dengan suara xylophone yang ringan. Sebuah penutup yang manis dari Dear Nancy, yah mungkin bisa dijadikan pengantar tidur saat beristirahat di bawah pohon tadi, ditemani angin sepoi-sepoi. //410