interview//ELEMENTAL GAZE

December 24, 2007

 

dsc_5136.jpg

Sudah lama Bystanders berniat untuk mewawancara band yang satu ini. Saat siang itu Bystanders bertandang ke markas mereka di sebuah rumah kos di Cisitu, Bandung, ternyata personil mereka belum lengkap dan mereka juga masih terlalu letih karena harus bersiap diri untuk tampil malam harinya. Akhirnya di sela-sela sebuah festival distro, bystanders mewawancara Fuad (F), Bilan (B) dan Luthfi (L) dari Elemental Gaze, dengan iringan musik reggae yang terdengar dengan jelas dari backstage.

 

Bisa diceritain secara singkat ga, awal dibentuknya Elemental Gaze?

[F] Jadi sekitar tahun 2004, saya sama teman sebangku saya, Myrdal mau bikin full band yang influencenya shoegaze. Tapi setelah beberapa kali manggung, sekitar pertengahan tahun 2005, kita memutuskan untuk vakum dulu. Karena Myrdal juga sibuk dengan band sebelumnya, The Retro, dan saya juga mulai kehilangan mood. Tapi trus ada Fitrah yang menawarkan diri untuk jadi manager Elemental Gaze, dan akhirnya saya juga pengen ngeband lagi. Tapi waktu itu kan saya sendirian, jadi trus saya ngajakin Luthfi, trus ngajak Bilan juga. Dan pertama kali kita tampil bertiga ya waktu kita tampil di Jakarta akhir tahun lalu. Jadi waktu di Jakarta kemaren itu adalah penampilan perdana kita bertiga. Bisa dibilang itu Elemental Gaze lahir kembali. Setelah itu ya berlanjut sampai sekarang.

 

Pertama kali ketemu Luthfi tuh gimana?

[F]  Jadi waktu itu mp3 lagu-lagu Elemental Gaze nyebar, dan nyampe ke Gembi. Trus Gembi ngenalin ke Yudi dan Luthfi (Yudi = kakaknya Luthfi, red). Ternyata Luthfi juga suka Elemental Gaze, dan saya juga suka sama proyekannya Luthfi waktu itu, Beautify. Jadilah akhirnya Luthfi gabung bareng EG.

 

Kalo pertama kali kenal Bilan?

[L]  mereka kan emang temen sekelas, hehehehe…

[F]  Jadi waktu Elemental Gaze masih saya sama Myrdal, Bilan emang udah ngebantu EG di bagian visual (video art). Trus pas EG ngajakin luthfi, bilan juga udah ngeremix beberapa lagu EG, dan akhirnya bilan gabung juga ke EG.

 

Influence musiknya EG dari mana?

[F] My Bloody Valentine,

[L]  Robin Guthrie

[B]  Iya, Cocteau Twins ama Robin Guthrie, Ulrich Schnauss,

[B]  Kraftwek,

[L]  Stun rus! (maksudnya stone roses, red)

[B]  Blur

 

Kalo dari EG sendiri, kalian nyebut musik kalian tuh apa?

[L]  kita sih nyebutnya nu gaze

 

Nu gaze tuh kayak gmn?

[L]  shoegaze era baru lah, klo bisa dibilang begitu

[B]  kita sebenernya ga pengen ngotak-ngotakkin sih, cuma kita pengen mengeksplore sound-sound yang berdasarkan shoegaze, gitu

 

kenapa namanya elemental gaze?

[L]  Dari lagunya Robin Guthrie

[F]  Nama Elemental Gaze awalnya dari lagunya Robin Guthrie yang judulnya ”Elemental”, trus kalo dari kita sendiri memaknai nama Elemental Gaze tuh seperti menerawangi sesuatu tapi lebih dalem lagi.

[L]  melihat hal-hal yang kebanyakan orang nglupain hal itu, nah itu yang pengen kita angkat.

[F]  Pengen ngeliat sesuatu lebih dalem aja

 

Rencana kalian dalam waktu dekat apa?

[B]  Bikin EP

 

EP kedua atau gimana? Kan tahun lalu ngeluarin juga.

[F]  Bukan sih, yang ini EP. Kalo yang dulu tuh sebetulnya untuk promo CD.

 

EP yang baru udah ada judulnya ga?

[F]  Belum ada

 

Trus di EP itu bakal ada berapa lagu?

[F]  sekitar 4 lah

 

Bakal rilis kapan?

[B]  September lah, tadinya mau Agustus tapi ternyata ga kekejar

[F]  Karena ga ada waktu juga sih

 

Lho September bukannya malah pas puasa?

[L]  Oh ga koq, kita pengennya awal september udah kelar

[B]  Jadi mulai ngegarapnya Agustus, dan mudah-mudahan bisa selesai bulan September

 

Klo harapan jangka panjangnya apa?

[F]  Terus bikin lagu, makin ngematengin band itu sendiri,

      dan terus mengeksplore apa yang kita senengin aja.

[L]  Pengennya sih maen di luar yah…

Luar mana nih?

[L]  Luar negeri lah…

Timor Leste?

[L]  Latvia… hahahahaha….

[B]   Terus mengeksplore sound-sound baru

[F]  Lah sama donk?

[B]  Sama yah? hehehe

 

Performance yang paling berkesan?

[F]  Pertama yang di Jakarta. Soalnya itu pertama kali bertiga, dan bawain lagu-lagu baru

[L]  sama yg ini (Kick Fest), soundnya paling enak

      Tadi soundnya enak ga?

[B]  better lah. 80 persen bagus

[L]  klo dibandingin yang lain?

[B]  gw lebih seneng yg di blitz sih, lebih enak di sana

[L]  soalnya di blitz kan set listnya banyak, jadi bisa menikmati panggung juga gitu

      tujuh lagu gitu, cape juga, hehehehe…

      jadi tiga itu lah

 

Trus proses bikin lagunya sendiri gmn?

[F]  Jadi biasanya materi awal saya yang buat, habis itu diserahin ke yang lain. Trus biasanya diedit sama bilan, trus luthfi nambahin suara gitar… Abis itu diramu lagi bareng-bareng..

 

Klo maen musik dengan media elektronik begini, lebih gampang ga sih?

Kan ga usah ke studio buat latian gitu, misalnya..

[F]  Ya jadi lebih gampang, karena kita juga menggunakan instrumen elektronik cukup banyak, jadi latiannya lebih gampang lah

      jadi kita bisa latian gitu di rumah, daripada harus ke studio

      Paling kalo mau manggung aja kita latian di studio

 

Trus ntar untuk recording EP gmn?

recording di studio atau lebih ke home recording?

[F]  home recording aja.

[B}  klo sekarang home recording dulu,

      Lagi nyoba home recording dulu lah.

 

OK, makasih banget yah atas interviewnya. Sukses buat calon EP-nya ya!


gig review – planetbumi album launch

April 17, 2007

Band yang sudah lama melintang di musik (indie) Indonesia, Planet Bumi, melancarkan serangkaian launching party untuk album terbaru mereka “Working Class Zero” di Jakarta dan Bandung bulan Maret lalu. Terlihat sejumlah ‘senior’ indie pada acara tersebut, serta keluarga (anak-istri) dari personilnya, mengingat umur band ini yang sudah lebih dari sepuluh tahun. Berikut adalah liputan singkatnya

>> Jakarta,

     SOHO PLAZA SEMANGGI, 02/03/07

Baru saja memasuki hari kedua di bulan Maret, Planet Bumi sudah mulai menggelar acara mereka. Rangkaian launching party diawali di Soho, Plaza Semanggi, yang lebih seperti reuni mantan-mantan personilnya. Uga yang dulu menjadi drummer Planet Bumi, saat launching tampil dengan bandnya thedyingsirens dan kelompok perkusi Otak and Chair. Sedangkan Aroel (gitaris) tampil akustik dengan bandnya yang sedang naik daun, Stereomantic. Sayangnya sound dari pihak penyedia tempat kurang memuaskan, bahkan pada titik tertentu terasa mengganggu. Venue yang terlalu terbuka dan ‘umum’ juga mengganggu kenyamanan penonton yang memang ingin menikmati acara. Penonton pun tidak dapat terlalu mendekat ke panggung karena pengunjung mall yang memang sering dijadikan meeting point itu seliweran di depan panggung.

 

dsc_0167.jpg

 

Acara yang seharusnya dimulai pukul 18.00 ngaret hingga sekitar satu setengah jam. Otak and Chair langsung membuka acara malam itu, dengan empat komposisi puisi/perkusi mereka. Kuartet yang terdiri dari Uga (thedyingsirens), Acha, Aan (thedyingsirens & D’Zeek) dan Ichsan (D’Zeek) itu sepertinya berhasil menarik perhatian pengunjung yang seliweran di mall itu, yang kebetulan karena Jumat malam jadi banyak sekali orang yang datang. Uga dan Acha bergantian membacakan karya-karya mereka, total empat komposisi dibawakan, termasuk “Sendiri” dan “Teman Baikku Mati Bunuh Diri”. Walaupun hanya ‘berbekal’ tiga djembe, Otak and Chair dapat membawakan komposisi-komposisi yang harmonis.

dsc_0173.jpg

 

Efek Rumah Kaca mendapat giliran berikutnya. Dengan tiga orang saja, mereka membawakan lagu-lagu mereka yang cenderung sedikit gelap dengan lirik bermuatkan kritik mengenai isu-isu lingkungan. Sesuai sekali dengan nama bandnya. Namun sayang memang, karena sound yang disediakan pada saat mereka main naik turun.

dsc_0299_tds.jpg

Bila dilihat dari pendukung acaranya, launching kali ini mengingatkan pada launching album thedyingsirens akhir tahun lalu yang menampilkan Efek Rumah Kaca dan Planet Bumi. Kali ini gantian thedyingsirens yang tampil untuk launching album Planet Bumi. Band yang baru saja ditinggalkan keyboardisnya Fino itu bermain lebih akustik, terutama bila dibandingkan dengan album mereka yang lebih elektronik. Malam itu thedyingsirens juga tampil tanpa basis mereka, Siska, dan digantikan dengan Ichsan. Seperti Otak and Chair minus Acha tapi digantikan dengan Nouri di gitar haha.. Sound kembali tidak keruan pada saat mereka main, mungkin pihak penyelenggara tidak terlalu serius dalam mempersiapkannya sehingga pada beberapa lagu mereka sound (terutama pada bass) terdengar aneh.

dsc_0321.jpg

Berikutnya adalah duo Stereomantic, yang ‘berkamuflase’ menjadi nama Stereocoustic karena saat itu mereka membawakan lagu-lagu mereka dengan format akustik. Lagi-lagi, sound yang tidak dapat diandalkan mengurungkan niat Maria (vokalis) untuk memainkan xylophone. Untungnya sound gitar Aroel tidak terlalu bermasalah. Stereocoustic tampil sangat sederhana malam itu, memainkan beberapa lagu dari album perdana mereka, termasuk hitsnya, “Takut”. Mereka juga membawakan lagu Bob Marley “Redemption Song” yang dimainkan cukup apik secara akustik.

dsc_0369.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan Room V. Mereka membuka penampilan dengan lagu “Catch”, selanjutnya penonton dimanjakan dengan sederetan lagu-lagu The Cure. Mulai dari “Boys Don’t Cry” yang dibawakan bersama Maria Stereomantic dan Uga thedyingsirens pada drum, lalu berturut-turut “Just Like Heaven”, “A Letter to Elise”, dan “Love Song”. Perhatian penonton juga tertarik pada seorang anak bule berbaju punk yang dengan semangatnya mengikuti acara, dan duduk di ujung panggung. Tidak lupa ia ikut berteriak-teriak menyanyikan beberapa lagu The Cure yang dibawakan Room V, terutama saat bagian “Show Me Show Me Show Me” pada “Just Like Heaven”. Room V juga sempat membawakan lagu hits lawas Planet Bumi, “Rindu”.

dsc_0486.jpg

Puncak acara akhirnya dimulai sekitar jam setengah sepuluh, saat Planet Bumi naik ke atas panggung. Mereka benar-benar seperti sejumlah karyawan yang baru pulang kerja, dengan setelan kemeja dan jas hitam, mungkin memang disengaja supaya sesuai dengan judul album mereka. Mereka pun langsung membawakan lagu-lagu dari album baru mereka seperti “Jimmi Pemenang”, “Bulan dan Bintang”, serta “Kau dan Aku” yang sudah dapat didengar di radio-radio. Band yang kini diperkuat Nyoman (vocal), Molli (bass), Eky (guitar), Helmi (guitar), Yudi (drum), dan Ari (keyboard) itu mendapat sambutan yang cukup meriah dari penonton, dan terlihat sejumlah musisi dan pelaku indie yang bisa dibilang cukup ‘senior’. Planet Bumi juga membawakan lagu “Untuk Semua Yang Tersiksa”, dimana Nyoman berduet dengan Vijey, vokalis dari Soulfullsonic. Penampilan merekapun ditutup dengan lagu “Mama”, yang pada album mereka diaransemen oleh mantan gitaris mereka Aroel.

>> Bandung
Soho Cihampelas Walk, 16/03/07

Acara di Bandung sama ngaretnya dengan di Bandung, yang akhirnya baru mulai pukul 19.30, dan itupun venue masih terbilang sepi. Yang mendapat kehormatan membuka acara malam itu adalah Elemental Gaze, band shoegaze/dream pop Bandung. Kali itu Elemental Gaze tampil tanpa vokalis utamanya, Fuad, sehingga untuk vocal digantikan oleh gitarisnya Lhutfi. Elemental Gaze juga berkolaborasi dengan vokalis Hollywood Nobody, Dian, dan vokalis A Stone A, Akbar. Empat lagu dibawakan oleh Elemental Gaze, termasuk “To Leave After the Memories are Full” dan “Love Your Love, Death Your Love”.

Selanjutnya giliran band folk-pop asal Jakarta, Dear Nancy. Band yang baru saja menggelar launching party untuk EP mereka “My Little Story” itu membawakan sejumlah lagu dari EP tersebut, seperti “Beautiful Sunday”, “Brother and Sister”, dan “Me and You”. Mereka juga sempat membawakan cover dari lagu ‘pahlawan’ mereka The Beatles yang berjudul “If I Fell”

Band ketiga yang tampil malam itu adalah The Milo. Band yang cukup ‘legendaris’ di kota Bandung itu sepertinya memang telah ditunggu-tunggu oleh penonton, karena mungkin karena mereka memang sudah jarang tampil. The Milo pun berhasil memuaskan penonton yang datang dengan membawakan sejumlah lagu mereka seperti “Malaikat”, “Cool”, dan “So Regret”. Aji dkk juga sempat membawakan remake dari lagu The Beatles yang berjudul “Tomorrow Never Knows”.

Acara mencapai puncaknya saat Planet Bumi tampil. Pada malam itu band yang sudah malang melintang di musik Indonesia selama 10 tahun itu membawakan sekitar lima lagu yang semuanya diambil dari album terbaru mereka, “Working Class Zero”. Lagu “Teman” dijadikan pembuka, dilanjutkan dengan lagu “Pencaci” dan “Jumpa Lagi”. Planet Bumi juga membawakan lagu hits mereka yang sudah sering didengar di radio Jakarta yaitu “Kau dan Aku”. Penampilan mereka pun ditutup dengan lagu “Bulan dan Bintang”.

>> Jakarta
Timeout Café, Pasar Festival, 24/03/07

Ini adalah launching party ketiga yang digelar Planet Bumi bulan ini. Sebelumnya acara launching ketiga ini akan diadakan di café Eastern Promise, Kemang. Namun sekitar seminggu sebelumnya diberitahukan kalau venue dipindah ke Timeout Café di Pasar Festival, Kuningan. Tidak jauh berbeda dengan launching yang di Soho, launching kali ini juga ngaret cukup lama.

Soulfullsonic membuka acara malam itu, dimana masih belum terlalu banyak penonton yang datang. Sejumlah orang yang datang pun sempat dibingungkan dengan adanya acara musik di café yang bersebelahan dengan Timeout. Akhirnya sempat ada jeda setelah soulfullsonic main, dan acara baru dilanjutkan sekitar pukul delapan.

dsc_3683.jpg

Band yang tampil berikutnya adalah Revolusi Pop, yang dari gaya dan penampilan vokalisnya, sudah dapat ditebak bahwa band yang satu ini sangat terinfluence oleh The Cure. Dan benar saja, selain membawakan lagu-lagu mereka sendiri, Revolusi Pop juga membawakan lagu The Cure, “Cut Here” dan “Caterpillar”. Bahkan lagu mereka yang dijadikan penutup penampilan band itu terdengar mirip sekali dengan “Pictures of You”. Mereka juga mengakui bahwa lagu tersebut mirip dengan lagu The Cure. Mengingatkan pada Room V yang pada launching pertama yang tidak tanggung-tanggung membawakan empat lagu hits dari The Cure.

dsc_3717_dhendy.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan Dhendy, yang kata Uga adalah ‘the next rising star’. Dhendy dan produsernya, Made, tampil full akustik, hanya dengan dua gitar saja. Walaupun tampil serba minimalis, mereka bermain dengan sangat rapi dan apik. Membuka penampilannya dengan lagu Duran Duran “Ordinary World”, Dhendy kemudian membawakan beberapa lagunya “Go Away” dan “Life”. Kedua lagu tersebut rencananya akan dimasukkan ke dalam EPnya yang akan dilaunch bulan depan. Penampilan Dhendy kali ini juga jauh lebih baik dibanding penampilan perdananya pada acara Quarter Life Crisis yang gelap gulita awal Februari lalu.

dsc_3751_edit.jpg

The Kucruts yang tampil berikutnya langsung disambut meriah oleh penonton. Tampaknya mereka datang dengan massanya sendiri, karena pada saat mereka bersiap untuk tampil, café yang tadinya cukup sepi dan pengunjungnya malu-malu untuk masuk ke tengah langsung penuh dan berdesakan. Penampilan mereka juga cukup unik, seperti sekumpulan anak SMIP dengan dasi hitam yang bermain campuran rock n roll ringan dan elektronik pop. Omo sang vokalis juga langsung menarik perhatian penonton dengan gayanya yang khas, didukung dengan kacamata hitam dan topi Union Boy berbentuk kucing, lambang The Kucruts. Penampilan langsung dibuka dengan lagu “Remaja Pesta”. Kemudian band asal Jakarta ini memainkan empat lagu lagi, termasuk yang sangat ditunggu-tunggu penonton “Cinta Waria”, dan lagu baru mereka “Dengkulku Masa Depanku”.

dsc_3794_edit.jpg

Setelah massa dihangatkan oleh penampilan kocak The Kucruts, band trip-hop Everybody Loves Irene seketika merubah suasana menjadi dingin dan sedikit kelam. Band yang baru saja meluncurkan albumnya “The Very First Thing You Must Learn About Flying is Gravity” itu adalah line up terbaru dari acara launching itu, karena sebelumnya mereka tidak dimasukkan ke daftar pengisi acara. Penampilan band yang terdiri dari Irene (vocal), Yudhi (gitar), Dimas (bass), Adi (drums), Aulia (synthesizer, sampler) dan Aji (keyboard) itu dibuka dengan cover lagu The Misfits “Hybrid Moments”. Kemudian mereka membawakan lagu hits Planet Bumi “Rindu” yang diaransemen ulang dengan nuansa trip-hop khas Everybody Loves Irene. Dilanjutkan dengan single mereka “Memento Mori” yang terdengar kelam, dan ditutup dengan lagu “Hate Sunday” yang rencananya akan menjadi single mereka berikutnya.

dsc_3923_acum.jpg

Band pembuka terakhir adalah band veteran asal Jokja, Bangkutaman. Timeout café pun menjadi semakin penuh dan penonton mendesak ke dekat panggung (walaupun sebetulnya tidak ada panggungnya hehe), dan hanya beberapa orang saja yang masih bisa duduk-duduk santai, karena sebagian besar lainnya berdiri di sepanjang café. Setelah dibuka dengan intro, Bangkutaman langsung membawakan lagu mereka “Trapped in the Middle”. Suasanapun makin memanas ketika mereka membawakan lagu hits The Stone Roses “Elephant Stone” (yang guitar version, bukan drum intro). Dan penampilan mereka malam itu ditutup dengan lagu dari The Who, “Substitute”. Sayang sekali mereka hanya membawakan empat lagu, karena sebagian besar penonton masih ingin mendengarkan lebih banyak lagu lagi dari mereka.

dsc_3967.jpg

Planet Bumi yang tampil pada puncak acara juga akhirnya hanya memainkan sebagian lagu dari set list yang aslinya karena keterbatasan waktu. Bahkan Bangkutaman yang dijadwalkan tampil pada pukul 20.30, baru tampil pada sekitar pukul 22.40. Kali ini Planet Bumi membawakan lagu mereka dari album terdahulu, “Rindu” yang juga sempat dibawakan Everbody Loves Irene malam itu. Setelah itu mereka membawakan lagu-lagu dari album terbaru mereka, “Working Class Zero” seperti “Jimmi Pemenang”, “Jumpa Lagi”, “Kau dan Aku”, serta “Bulan dan Bintang”. //410