gig review – planetbumi album launch

April 17, 2007

Band yang sudah lama melintang di musik (indie) Indonesia, Planet Bumi, melancarkan serangkaian launching party untuk album terbaru mereka “Working Class Zero” di Jakarta dan Bandung bulan Maret lalu. Terlihat sejumlah ‘senior’ indie pada acara tersebut, serta keluarga (anak-istri) dari personilnya, mengingat umur band ini yang sudah lebih dari sepuluh tahun. Berikut adalah liputan singkatnya

>> Jakarta,

     SOHO PLAZA SEMANGGI, 02/03/07

Baru saja memasuki hari kedua di bulan Maret, Planet Bumi sudah mulai menggelar acara mereka. Rangkaian launching party diawali di Soho, Plaza Semanggi, yang lebih seperti reuni mantan-mantan personilnya. Uga yang dulu menjadi drummer Planet Bumi, saat launching tampil dengan bandnya thedyingsirens dan kelompok perkusi Otak and Chair. Sedangkan Aroel (gitaris) tampil akustik dengan bandnya yang sedang naik daun, Stereomantic. Sayangnya sound dari pihak penyedia tempat kurang memuaskan, bahkan pada titik tertentu terasa mengganggu. Venue yang terlalu terbuka dan ‘umum’ juga mengganggu kenyamanan penonton yang memang ingin menikmati acara. Penonton pun tidak dapat terlalu mendekat ke panggung karena pengunjung mall yang memang sering dijadikan meeting point itu seliweran di depan panggung.

 

dsc_0167.jpg

 

Acara yang seharusnya dimulai pukul 18.00 ngaret hingga sekitar satu setengah jam. Otak and Chair langsung membuka acara malam itu, dengan empat komposisi puisi/perkusi mereka. Kuartet yang terdiri dari Uga (thedyingsirens), Acha, Aan (thedyingsirens & D’Zeek) dan Ichsan (D’Zeek) itu sepertinya berhasil menarik perhatian pengunjung yang seliweran di mall itu, yang kebetulan karena Jumat malam jadi banyak sekali orang yang datang. Uga dan Acha bergantian membacakan karya-karya mereka, total empat komposisi dibawakan, termasuk “Sendiri” dan “Teman Baikku Mati Bunuh Diri”. Walaupun hanya ‘berbekal’ tiga djembe, Otak and Chair dapat membawakan komposisi-komposisi yang harmonis.

dsc_0173.jpg

 

Efek Rumah Kaca mendapat giliran berikutnya. Dengan tiga orang saja, mereka membawakan lagu-lagu mereka yang cenderung sedikit gelap dengan lirik bermuatkan kritik mengenai isu-isu lingkungan. Sesuai sekali dengan nama bandnya. Namun sayang memang, karena sound yang disediakan pada saat mereka main naik turun.

dsc_0299_tds.jpg

Bila dilihat dari pendukung acaranya, launching kali ini mengingatkan pada launching album thedyingsirens akhir tahun lalu yang menampilkan Efek Rumah Kaca dan Planet Bumi. Kali ini gantian thedyingsirens yang tampil untuk launching album Planet Bumi. Band yang baru saja ditinggalkan keyboardisnya Fino itu bermain lebih akustik, terutama bila dibandingkan dengan album mereka yang lebih elektronik. Malam itu thedyingsirens juga tampil tanpa basis mereka, Siska, dan digantikan dengan Ichsan. Seperti Otak and Chair minus Acha tapi digantikan dengan Nouri di gitar haha.. Sound kembali tidak keruan pada saat mereka main, mungkin pihak penyelenggara tidak terlalu serius dalam mempersiapkannya sehingga pada beberapa lagu mereka sound (terutama pada bass) terdengar aneh.

dsc_0321.jpg

Berikutnya adalah duo Stereomantic, yang ‘berkamuflase’ menjadi nama Stereocoustic karena saat itu mereka membawakan lagu-lagu mereka dengan format akustik. Lagi-lagi, sound yang tidak dapat diandalkan mengurungkan niat Maria (vokalis) untuk memainkan xylophone. Untungnya sound gitar Aroel tidak terlalu bermasalah. Stereocoustic tampil sangat sederhana malam itu, memainkan beberapa lagu dari album perdana mereka, termasuk hitsnya, “Takut”. Mereka juga membawakan lagu Bob Marley “Redemption Song” yang dimainkan cukup apik secara akustik.

dsc_0369.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan Room V. Mereka membuka penampilan dengan lagu “Catch”, selanjutnya penonton dimanjakan dengan sederetan lagu-lagu The Cure. Mulai dari “Boys Don’t Cry” yang dibawakan bersama Maria Stereomantic dan Uga thedyingsirens pada drum, lalu berturut-turut “Just Like Heaven”, “A Letter to Elise”, dan “Love Song”. Perhatian penonton juga tertarik pada seorang anak bule berbaju punk yang dengan semangatnya mengikuti acara, dan duduk di ujung panggung. Tidak lupa ia ikut berteriak-teriak menyanyikan beberapa lagu The Cure yang dibawakan Room V, terutama saat bagian “Show Me Show Me Show Me” pada “Just Like Heaven”. Room V juga sempat membawakan lagu hits lawas Planet Bumi, “Rindu”.

dsc_0486.jpg

Puncak acara akhirnya dimulai sekitar jam setengah sepuluh, saat Planet Bumi naik ke atas panggung. Mereka benar-benar seperti sejumlah karyawan yang baru pulang kerja, dengan setelan kemeja dan jas hitam, mungkin memang disengaja supaya sesuai dengan judul album mereka. Mereka pun langsung membawakan lagu-lagu dari album baru mereka seperti “Jimmi Pemenang”, “Bulan dan Bintang”, serta “Kau dan Aku” yang sudah dapat didengar di radio-radio. Band yang kini diperkuat Nyoman (vocal), Molli (bass), Eky (guitar), Helmi (guitar), Yudi (drum), dan Ari (keyboard) itu mendapat sambutan yang cukup meriah dari penonton, dan terlihat sejumlah musisi dan pelaku indie yang bisa dibilang cukup ‘senior’. Planet Bumi juga membawakan lagu “Untuk Semua Yang Tersiksa”, dimana Nyoman berduet dengan Vijey, vokalis dari Soulfullsonic. Penampilan merekapun ditutup dengan lagu “Mama”, yang pada album mereka diaransemen oleh mantan gitaris mereka Aroel.

>> Bandung
Soho Cihampelas Walk, 16/03/07

Acara di Bandung sama ngaretnya dengan di Bandung, yang akhirnya baru mulai pukul 19.30, dan itupun venue masih terbilang sepi. Yang mendapat kehormatan membuka acara malam itu adalah Elemental Gaze, band shoegaze/dream pop Bandung. Kali itu Elemental Gaze tampil tanpa vokalis utamanya, Fuad, sehingga untuk vocal digantikan oleh gitarisnya Lhutfi. Elemental Gaze juga berkolaborasi dengan vokalis Hollywood Nobody, Dian, dan vokalis A Stone A, Akbar. Empat lagu dibawakan oleh Elemental Gaze, termasuk “To Leave After the Memories are Full” dan “Love Your Love, Death Your Love”.

Selanjutnya giliran band folk-pop asal Jakarta, Dear Nancy. Band yang baru saja menggelar launching party untuk EP mereka “My Little Story” itu membawakan sejumlah lagu dari EP tersebut, seperti “Beautiful Sunday”, “Brother and Sister”, dan “Me and You”. Mereka juga sempat membawakan cover dari lagu ‘pahlawan’ mereka The Beatles yang berjudul “If I Fell”

Band ketiga yang tampil malam itu adalah The Milo. Band yang cukup ‘legendaris’ di kota Bandung itu sepertinya memang telah ditunggu-tunggu oleh penonton, karena mungkin karena mereka memang sudah jarang tampil. The Milo pun berhasil memuaskan penonton yang datang dengan membawakan sejumlah lagu mereka seperti “Malaikat”, “Cool”, dan “So Regret”. Aji dkk juga sempat membawakan remake dari lagu The Beatles yang berjudul “Tomorrow Never Knows”.

Acara mencapai puncaknya saat Planet Bumi tampil. Pada malam itu band yang sudah malang melintang di musik Indonesia selama 10 tahun itu membawakan sekitar lima lagu yang semuanya diambil dari album terbaru mereka, “Working Class Zero”. Lagu “Teman” dijadikan pembuka, dilanjutkan dengan lagu “Pencaci” dan “Jumpa Lagi”. Planet Bumi juga membawakan lagu hits mereka yang sudah sering didengar di radio Jakarta yaitu “Kau dan Aku”. Penampilan mereka pun ditutup dengan lagu “Bulan dan Bintang”.

>> Jakarta
Timeout Café, Pasar Festival, 24/03/07

Ini adalah launching party ketiga yang digelar Planet Bumi bulan ini. Sebelumnya acara launching ketiga ini akan diadakan di café Eastern Promise, Kemang. Namun sekitar seminggu sebelumnya diberitahukan kalau venue dipindah ke Timeout Café di Pasar Festival, Kuningan. Tidak jauh berbeda dengan launching yang di Soho, launching kali ini juga ngaret cukup lama.

Soulfullsonic membuka acara malam itu, dimana masih belum terlalu banyak penonton yang datang. Sejumlah orang yang datang pun sempat dibingungkan dengan adanya acara musik di café yang bersebelahan dengan Timeout. Akhirnya sempat ada jeda setelah soulfullsonic main, dan acara baru dilanjutkan sekitar pukul delapan.

dsc_3683.jpg

Band yang tampil berikutnya adalah Revolusi Pop, yang dari gaya dan penampilan vokalisnya, sudah dapat ditebak bahwa band yang satu ini sangat terinfluence oleh The Cure. Dan benar saja, selain membawakan lagu-lagu mereka sendiri, Revolusi Pop juga membawakan lagu The Cure, “Cut Here” dan “Caterpillar”. Bahkan lagu mereka yang dijadikan penutup penampilan band itu terdengar mirip sekali dengan “Pictures of You”. Mereka juga mengakui bahwa lagu tersebut mirip dengan lagu The Cure. Mengingatkan pada Room V yang pada launching pertama yang tidak tanggung-tanggung membawakan empat lagu hits dari The Cure.

dsc_3717_dhendy.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan Dhendy, yang kata Uga adalah ‘the next rising star’. Dhendy dan produsernya, Made, tampil full akustik, hanya dengan dua gitar saja. Walaupun tampil serba minimalis, mereka bermain dengan sangat rapi dan apik. Membuka penampilannya dengan lagu Duran Duran “Ordinary World”, Dhendy kemudian membawakan beberapa lagunya “Go Away” dan “Life”. Kedua lagu tersebut rencananya akan dimasukkan ke dalam EPnya yang akan dilaunch bulan depan. Penampilan Dhendy kali ini juga jauh lebih baik dibanding penampilan perdananya pada acara Quarter Life Crisis yang gelap gulita awal Februari lalu.

dsc_3751_edit.jpg

The Kucruts yang tampil berikutnya langsung disambut meriah oleh penonton. Tampaknya mereka datang dengan massanya sendiri, karena pada saat mereka bersiap untuk tampil, café yang tadinya cukup sepi dan pengunjungnya malu-malu untuk masuk ke tengah langsung penuh dan berdesakan. Penampilan mereka juga cukup unik, seperti sekumpulan anak SMIP dengan dasi hitam yang bermain campuran rock n roll ringan dan elektronik pop. Omo sang vokalis juga langsung menarik perhatian penonton dengan gayanya yang khas, didukung dengan kacamata hitam dan topi Union Boy berbentuk kucing, lambang The Kucruts. Penampilan langsung dibuka dengan lagu “Remaja Pesta”. Kemudian band asal Jakarta ini memainkan empat lagu lagi, termasuk yang sangat ditunggu-tunggu penonton “Cinta Waria”, dan lagu baru mereka “Dengkulku Masa Depanku”.

dsc_3794_edit.jpg

Setelah massa dihangatkan oleh penampilan kocak The Kucruts, band trip-hop Everybody Loves Irene seketika merubah suasana menjadi dingin dan sedikit kelam. Band yang baru saja meluncurkan albumnya “The Very First Thing You Must Learn About Flying is Gravity” itu adalah line up terbaru dari acara launching itu, karena sebelumnya mereka tidak dimasukkan ke daftar pengisi acara. Penampilan band yang terdiri dari Irene (vocal), Yudhi (gitar), Dimas (bass), Adi (drums), Aulia (synthesizer, sampler) dan Aji (keyboard) itu dibuka dengan cover lagu The Misfits “Hybrid Moments”. Kemudian mereka membawakan lagu hits Planet Bumi “Rindu” yang diaransemen ulang dengan nuansa trip-hop khas Everybody Loves Irene. Dilanjutkan dengan single mereka “Memento Mori” yang terdengar kelam, dan ditutup dengan lagu “Hate Sunday” yang rencananya akan menjadi single mereka berikutnya.

dsc_3923_acum.jpg

Band pembuka terakhir adalah band veteran asal Jokja, Bangkutaman. Timeout café pun menjadi semakin penuh dan penonton mendesak ke dekat panggung (walaupun sebetulnya tidak ada panggungnya hehe), dan hanya beberapa orang saja yang masih bisa duduk-duduk santai, karena sebagian besar lainnya berdiri di sepanjang café. Setelah dibuka dengan intro, Bangkutaman langsung membawakan lagu mereka “Trapped in the Middle”. Suasanapun makin memanas ketika mereka membawakan lagu hits The Stone Roses “Elephant Stone” (yang guitar version, bukan drum intro). Dan penampilan mereka malam itu ditutup dengan lagu dari The Who, “Substitute”. Sayang sekali mereka hanya membawakan empat lagu, karena sebagian besar penonton masih ingin mendengarkan lebih banyak lagu lagi dari mereka.

dsc_3967.jpg

Planet Bumi yang tampil pada puncak acara juga akhirnya hanya memainkan sebagian lagu dari set list yang aslinya karena keterbatasan waktu. Bahkan Bangkutaman yang dijadwalkan tampil pada pukul 20.30, baru tampil pada sekitar pukul 22.40. Kali ini Planet Bumi membawakan lagu mereka dari album terdahulu, “Rindu” yang juga sempat dibawakan Everbody Loves Irene malam itu. Setelah itu mereka membawakan lagu-lagu dari album terbaru mereka, “Working Class Zero” seperti “Jimmi Pemenang”, “Jumpa Lagi”, “Kau dan Aku”, serta “Bulan dan Bintang”. //410


cd review // everybody loves irene

April 17, 2007

album-eli.jpg

EVERYBODY LOVES IRENE
The Very First Thing You Must Learn About Flying is Gravity
2006 // Demajors

If you Hate Sunday, having Uncertainty Anxiety, and always assume that “Gravity Always Wins”, then you better listen to Everybody Loves Irene’s latest album, “The Very First Thing You Must Learn About Flying is Gravity”.

Selamat datang di dunia kelam Everybody Loves Irene, sepertinya itulah yang mau dikumandangkan mereka dalam album ini. Sepuluh lagu yang mampu mengantarkan kita ke mimpi-mimpi yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya. Lebih baik apabila didengarkan sebelum tidur di malam hari, saat hujan mengguyur deras hingga aroma rumput dan tanah yang basah tercium hingga ke dalam rumah. Suara samples tercampur dengan orchestral sounds namun masih terasa live bandnya. Suara bass dan drum (bukan loops) masih terdengar kental, sehingga terdengar lirih dan dingin di satu sisi, namun masih terasa berat dan gelap di sisi lainnya. Aransemen dan mixing yang sangat baik didukung dengan vocal Irene yang membuat bulu kuduk berdiri, ELI benar-benar menyuguhkan musik yang gloomy. Totally.

Dibuka dengan “The Lullaby Show”, Irene menyanyikan sepotong lagu sebagai intro,  seperti suatu perkenalan atau sekedar sambutan selamat datang bagi yang baru mendengarkan musik mereka. Dua lagu singles mereka, “Crop Circle Me” dan “Memento Mori”, ditempatkan di urutan berikutnya, dan memang dua lagu ini terdengar lebih catchy atau mungkin less gloomy dari delapan lagu lainnya. Secara musikalitas, dua lagu ini juga sepertinya mendapat perhatian lebih dari ELI, karena terdengar lebih ‘terkemas’ dengan baik. Untuk “Memento Mori” – atau yang berarti mengingat kematian – lagu yang satu ini memang unik, karena walaupun terdengar sedikit ‘rumit’ namun masih sangat enak untuk didengarkan. Apalagi di dalam perjalanan pulang kantor saat gerimis rintik-rintik.

Sayangnya pada lagu berikutnya, “Gravity Always Wins”, sample yang sebelumnya digunakan untuk membuka lagu ini pada EP mereka “Uncertainty, Anxiety, and All The Sorrows in The World” tidak ada di album ini. Padahal pembacaan puisi oleh seorang perempuan yang terisak-isak itu benar-benar menambah kekelaman lagu yang sepertinya memang menjadi titik gravitasi album ini. Tempo yang digunakan juga lebih cepat dibandingkan versi lagu ini pada EP ataupun demo mereka sebelumnya.

Tiga lagu lainnya yang mungkin sudah tidak asing (karena bisa didownload gratis dari myspace hehe) yaitu “Try ,Try, Try”, “Uncertainty Anxiety” dan “Hate Sunday” juga diikutsertakan ke dalam album ini, dengan aransemen yang tidak terlalu jauh berbeda. Selain itu ada pula lagu dari The Misfits “Hybrid Moments” yang di-remake menjadi bernuansa trip hop ala Everybody Loves Irene. Hanya saja, pada album ini lagunya menjadi instrumental, minus vocal Irene.

Setelah mendengarkan lagu ini secara full, masihkah kita memimpikan ada hari esok yang cerah? Mungkin lebih baik hujan saja.

//410


gig review // “the lullaby show”, everybody loves irene album launch

April 16, 2007

eli-crop.jpg

Judul “The Lullaby Show” sepertinya sangat tepat dipakai Everybody Loves Irene saat meluncurkan album perdana mereka. Selain start acara yang cenderung lebih malam dibandingkan acara launching album biasanya, venue yang dipakai juga sesuai untuk mengantarkan pengunjungnya beristirahat malam.

Public di bilangan Taman Ria Senayan yang dipilih ELI memang sangat cozy. Ratusan lampu bohlam yang digantungkan sebagai sumber cahaya yang temaram, memperkuat suasana gloomy yang dibangun oleh ELI. Pukul sembilan malam acara dibuka dengan penampilan thedyingsirens. Band yang kini hanya berempat itu langsung menambah kelamnya suasana dengan lagu “Sometimes”. Kali ini penampilan Uga dkk dilengkapi dengan background video yang projectornya tepat diarahkan ke Uga sang vokalis. Hasilnya adalah potongan-potongan video dengan siluet Uga di tengahnya, suatu ide yang cukup kreatif buatan Andri Lemes.

Mundurnya Fino dari band tersebut ternyata membuat thedyingsirens semakin terdengar galau, karena tidak ada lagi suara dentingan sintetis keyboard dan tds pun menjadi lebih bernuansa akustik. Memang sangat berbeda penampilan tds secara live dibandingkan dengan album mereka, “Sketches of A Humming”. Setelah membawakan sekitar lima lagu, termasuk dua lagu mereka yaitu ”The Fall of the Idiots” dan ”The Rain Song”, penampilan thedyingsirens pun ditutup dengan versi baru “Kapalku Telah Pergi”, yang terdengar sangat gelap saat dibawakan secara akustik karena memang versi asli dari lagu ini sangat didominasi oleh suara keyboard.

Waktu jeda digunakan ELI untuk mempromosikan video klip terbaru mereka, “Memento Mori”, sembari para personilnya mempersiapkan alat di panggung. Band yang terdiri dari Yohana Erine Siregar (Irene) pada vokal, Yudhi Arfani pada gitar, Dimas Anindityo pada bass, Mulyadi Triharsono (Adi) pada drums, Aulia Naratama pada synthesizer dan sampler, Nurendro Siwiaji (Aji) pada keyboard malam itu memakai setelan jas dengan sedikit nuansa pink pada kemeja ataupun dasi mereka. Video klip yang bernuansa gelap (sesuai sekali dengan lagunya) itu disutradarai oleh Andri Lemes.

Penampilan mereka dibuka dengan lagu yang judulnya juga dijadikan tema launching albumnya, ”The Lullaby Show”. Suatu pengantar tidur ke alam yang lebih gelap, ke dunia Everybody Loves Irene. Dibantu dengan empat orang di strings section (cello, dua biola dan clarinet), sound orchestral yang dibawakan secara live membuat bulu kuduk semakin berdiri. Gelap. Kelam. Dingin. Terutama mungkin saat membawakan “Uncertainty Anxiety”. Rasanya ingin menerawang dan ikut melayang ke dunia gelap mereka

Saat memainkan “Gravity Always Wins”, mereka sempat memutar sample yang digunakan dalam versi demo album mereka. Sebuah puisi yang diambil dari salah satu film, dimana sang pembaca puisi pada akhirnya menangis terisak-isak. Sungguh sample yang menyayat hati. Apalagi kemudian masuk bagian intro lagu tersebut, yang berupa dentingan-dentingan suara mirip xylophone dan noise-noise dari sampler Aulia.

Di sela-sela penampilannya, ELI sempat membagikan CD yang berisikan dua video klip dari single mereka ”Crop Circle Me” dan ”Memento Mori”. Selain itu ada pula file remix dari ”Gravity Always Wins” dan ”Hybrid Moments” yang masih berbentuk wav.

ELI juga membawakan lagu dari album mereka yang merupakan cover dari lagu milik The Misfits berjudul ”Hybrid Moments”. Menurut Irene, ELI sengaja mengcover lagu dari band punk Amerika karena menurut mereka, sudah terlalu banyak band punk yang mengcover lagu punk, ataupun band metal mengcover lagu metal. Jadi ELI ingin melakukan semacam gebrakan dengan membuat versi trip hop dari satu lagu punk.

Selama sekitar satu jam dibuai dengan lagu-lagu pengantar menuju kelamnya mimpi, sampai juga pada ”Hate Sunday”, yang dibawakan untuk menutup penampilan mereka malam itu. Tidak terasa sembilan lagu sudah dibawakan oleh Everybody Loves Irene, dan lagu-lagu merekapun terus terngiang di kuping pengunjung malam itu, menemani mereka hingga ke lelapnya tidur.

//pix/words/410