CURE ON SUNDAY

June 14, 2007


Tribute to The Cure, Brains Kafe, Kemang, Jakarta, 20 Mei 2007. Dengan semangat sebagai antisipasi kekecewaan kalau-kalau pada Agustus nanti The Cure yang asli tidak sempat menggelar konser di Singapura (dan tidak juga mampir ke Jakarta) maka tidak ada salahnya menghadiri acara tribute untuk band legendaris tersebut.

Di flyer tertera jumlah band yang mengisi acara ini, tidak tanggung-tanggung, 16 Band. Ternyata banyak juga band yang antusias membawakan lagu-lagu the Cure. Namun ternyata ada beberapa band yang akhirnya tidak bisa mengisi acara malam itu. thedyingsirens yang kabarnya akan membawakan lagu-lagu yang cukup ”langka” tidak jadi bermain karena Uga sakit liver sehingga harus bedrest sekitar sebulan lamanya. Sedangkan Clafty Elegy juga batal tampil karena salah satu personilnya berhalangan.

Hujan yang cukup lebat sore itu ternyata membuat acara terasa sangat sepi karena menghambat para penonton untuk hadir di awal waktu. Bahkan beberapa band pengisi di awal seperti Jude dan Cratty Fatty terpaksa bermain dengan penonton yang minim. Saat Guntingkuku membawakan ”Friday I’m in Love”, hanya seorang penikmat indie yang cukup eksis yang bisa berdansa mengikuti lagu ceria itu. Namun lagu-lagu lainnya terasa datar-datar saja seperti dalam ”Cut Here” ataupun dua lagu mereka sendiri yaitu ”Leisure Time” dan ”Say It Love” (di mana pada kedua lagu terakhir itu Denny pada vokal pindah ke posisi drum, dan drummernya menjadi salah satu pemain gitar bersama gitaris satunya lagi yang menggantikan Denny di vocal. Tapi entah karena tempat yang masih agak kosong atau memang karena permainan mereka yang cenderung biasa saja, Gunting Kuku tidak menampilkan sesuatu yang istimewa petang itu.

dsc_3919.jpg

Selanjutnya adalah Autoband yang hadir minus vokalis wanitanya. “Friday I’m in Love” dan “High” dibawakan dengan sedikit nuansa new-romantics ciri khas Autoband, serta lagu mereka sendiri Lantai Dansa. Rasanya band ini agak kurang pas me-remake lagu-lagu The Cure, jauh lebih berhasil ketika band ini mendaur ulang Human League atau Duran-Duran.

dsc_3982-autoband.jpg

Dear Nancy tampil berikutnya, dengan “berseragam” kaos garis-garis. Gitaris mereka, Alam Wijaya tidak dapat tampil pada hari itu, dan digantikan oleh gitaris C’mon Lennon, Hans. Dear Nancy juga membawa satu orang lagi additional player di bagian piano. “Close to Me”, “Treasure”, dan “Ordinary Friend” mereka bawakan dalam melodi folks-pop gaya Dear Nancy. Lagu “Ordinary Friend” sendiri rencananya akan dirilis dalam debut album Dear Nancy.

dsc_3992.jpg

Ballads of The Cliché tampil berikutnya, meneruskan atmosfer folk-pop yang sebelumnya dibangkitkan oleh Dear Nancy. Lagu yang pertama dibawakan malam itu, ”Heidy”, lebih merupakan promosi salah satu single dari album BOTC yang akan segera dirilis. Masih sebagai promosi album mereka, lagu lainnya “Feel Free to Feel Lost” menyusul dimainkan. Baru pada lagu ketiga, lagu The Cure dibawakan, “Just Like Heaven”, dan kalau anda sempat hadir di acara We Are Pop pastinya pernah melihat BOTC memainkannya. Kali ini dengan permainan yang lebih rapi tentunya. Trust dipermak oleh BOTC menjadi lebih mirip lagu yang ceria. Agak lucu juga ketika lagu yang aslinya galau berubah jadi lagu ceria. Kira-kira apa ya reaksi Robert Smith jika mendengarkan lagu versi BOTC ini? Seorang teman sempat berucap bahwa menurutnya Trust versi BOTC jauh lebih bagus daripada versi Homogenic. Sebagai penutup, BOTC membawakan lagu “Mint Car” yang beat-nya sangat ceria, namun sayang Bobby masih kurang menguasai lagu tersebut sehingga lagu yang menyenangkan itu terasa kurang greget-nya. Tapi secara keseluruhan, penonton cukup terhibur dengan penampilan atraktif mereka malam itu.

dsc_4104.jpg

Suasana mulai sedikit mendingin saat The Fellow naik ke atas panggung. Penampilan mereka bisa dibilang cukup biasa malam itu, tidak seperti saat Manchester Get Mad dua minggu sebelumnya. Untungnya vokalis mereka, Aryo, dapat menghangatkan atmosfer di sekitar panggung dengan mengajak sejumlah orang yang hadir untuk bernyanyi bersama. Membawakan lagu The Cure seperti “Play For Today” dan “Boys Don’t Cry”, mereka sepertinya sangat menikmati penampilan mereka.

dsc_4127-the-fellow.jpg

Fill n Feel tampil dengan vokalis yang bertata-rias paling mirip Robert Smith malam itu. Lengkap dengan sweater hitam kebesaran dan heavy dark mascara, vokalis mereka berhasil mencuri perhatian penonton yang datang. Fascination Streets yang dibawakan sebagai pembuka, bisa dibilang cukup menakjubkan. Tapi jutru sangat drop ketika membawakan Just Like Heaven dan Trust. Terlalu mengikuti versi lagu aslinya. Apalagi saat membawakan lagu ”Trust”, saat gitarisnya yang gitarnya mirip punya Noel (Gallagher) itu mendapat kehormatan untuk memainkan pianonya, terlihat sekali ia berusaha keras untuk mengingat not-not selanjutnya. Tapi attitude vokalisnya memang sepertinya menghayati sekali, karena ia sempat stage dive di satu kesempatan, dan duduk-duduk saja sambil merokok pada kesempatan lainnya.

dsc_4141.jpg

Planetbumi naik panggung berikutnya. Sedikit kejutan ketika Bagus (Room V) tampil mengisi vokal Planet Bumi, menggantikan Nyoman. ”A Night Like This” dihadirkan sebagai lagu pembuka. Lagu selanjutnya adalah lagu lawas planetbumi sendiri, Awan, dan Suci pun menyusul kemudian. Single The Cure lain yang dimainkan adalah A Forest. Permainan yang cukup rapi. Pada kesempatan tersebut planetbumi juga memperkenalkan drummer baru mereka, yang namanya sama dengan gitarisnya, Helmi. Sempat juga ada ‘solo session’ dari Helmi, yang menggantikan drummer sebelumnya, Yudi.

dsc_4238.jpg

Selanjutnya penonton disuguhkan dengan penampilan yang sangat menghibur dari The Kuctruts. Sebelum mulai Heri Purnomo aka Omokucrut tampil ke depan panggung sambil meledakkan kantung balon ulang tahun, disambut gelak tawa para penonton. Lumayan kocak dan tentunya menghibur, mengingat penampilan band-band sebelumnya cenderung tampil serius. Seluruh personel The Kucruts sendiri tampil dengan visor plus lampu. Lebih keren dari visor Goodnight Electric.

”Walaupun ini acara Tribute to The Cure, The Kucruts tidak akan membawakan lagu-lagu The Cure kayak yang The Cure maenin. Karena The Kucruts bukan The Cure, karena kami bukan mereka”, ujar omo kucrut sebelum memainkan lagu Bukan Mereka. ”Kami bukan Robert Smith, lalala…” ”A Forest” dibawakan oleh The Kucrut dengan beat disko ala The Upstairs. “Cinta Waria”, lagu andalah The Kucruts menyusul kemudian. Yang agak mengejutkan ketika “Killing An Arab” dimainkan sebagai lagu penutup apalagi ditambah dengan atraksi omokucrut menari-nari seperti tari ular di depan panggung. Penonton pun tertawa-tawa. Yang pasti penonton sangat terhibur oleh The Kucruts, entah oleh lagu-lagu yang mereka mainkan atau lebih karena atraksi panggung yang jenaka. Omo kembali meletuskan satu balon sebelum pamit turun panggung.

dsc_3436-kucruts.jpg

Penampilan band Dikeroyok Wanita yang tampil berikutnya sempat terhambat karena pedal drumnya bermasalah. Akhirnya penonton dibiarkan menunggu sekitar setengah jam hingga akhirnya datang pedal drum pengganti. Untunglah vokalis mereka Inyo, sudah biasa menjadi MC. Sehingga jeda waktu yang ada tidak terlalu kosong, walaupun jokes yang dilontarkan cukup garing hehe. Tapi memang penampilan drummer DW malam itu sangat mengesankan. Energinya seperti orang yang habis minum obat kuat, dalam konotasi yang positif, tentunya. Lagu hits mereka “Yes We Are Boyo” (buaya darat mungkin, maksudnya? –red) dibawakan sebagai lagu pembuka. Kemudian ada juga lagu “Primary” dan “The Hanging Garden” milik The Cure yang dibawakan dengan versi sedikit post-punk. Bahkan pada lagu terakhir terjadi yang Bystanders anggap sebagai ‘penganiayaan terhadap drum’, karena drummer DW membawakan lagu tersebut dengan sangat bersemangat, dengan permainan drum yang tidak biasa. Empat lagu usai mereka bawakan, dan keempat personil DW sepertinya puas dengan penampilan mereka malam itu. Memang, dengan baju hitam-merah, sepertinya memang mereka lebih pas untuk membawakan lagu-lagu Devo. Tinggal tambahkan saja topi piramida itu. Namun penampilan mereka kali itu setidaknya cukup atraktif dan memuaskan.

dsc_3558.jpg

Ekspektasi berlebihan Bystanders ternyata berujung kekecewaan ketika Lipgloss bermain malam itu. Permainan yang tidak sesuai harapan. Nama Lipgloss yang sudah saya dengar lebih lama sebelumya ternyata tidak berimbas kepada kematangan kualitas musik mereka malam itu. “A Letter to Elise” yang mereka bawakan sebagai lagu pembuka, lebih terbantu karena banyak penonton yang suka lagu tersebut dan bukannya karena dimainkan secara apik oleh Lipgloss. Begitu pula ketika mereka memainkan “Why Cant I Be You”, atau lagu sendiri “Atas Namamu”. Sekedar penampilan yang biasa saja sebagai salah satu band yang terbilang cukup lama malang-melintang di scene indie. Namun penampilan mereka cukup kreatif saat vokalis mereka membawakan beberapa lagu dengan menggunakan toa, didukung dengan vocal yang cukup baik dan penampilan yang cukup atraktif tentunya.

dsc_3659.jpg

Salah satu band yang paling ditunggu-tunggu malam itu, Room V, hadir kemudian. Band lawas ini memang dulu terkenal jagonya dalam membawakan lagu-lagu The Cure. Sayangnya Bin tidak menyanyi malam itu dan hanya bermain bass sementara posisi vokalis diisi oleh Bagus yang pada penampilan sebelumnya juga menyanyi untuk Planet Bumi. Kali ini Bagus tampil dengan make-up ala Robert Smith. dengan cardigan hitam, serta mascara dan lipstick berwarna hitam. Lalu ada pula gitaris planetbumi Helmi yang ikut membantu mereka di drum. Room V sukses membawakan empat lagu The Cure yang cukup awam di telinga penonton sore itu seperti Love Song (yang dibawakan secara akustik), Boys Dont Cry, In Between Days, A Letter to Elise, Pleasure, dan Just Like Heaven. Lumayan untuk sekedar nostalgia.

dsc_3703.jpg

Goodnight Electric tampil sebagai penutup. Mayoritas penonton mungkin hadir untuk melihat trio yang satu ini. Sejumlah atribut Good.Friends terlihat di antara penonton, mungkin juga lebih banyak good.friends nya daripada yang benar-benar mau lihat tribute to the cure.

Tanpa banyak berbasa-basi GE memainkan Hello yang kini dijadikan intro resmi untuk promosi album mereka yang terbaru. Sayangnya sound synthetizer Bondi bermasalah dan suaranya agak tidak keluar. Kemudian tigal lagu mereka dibawakan, mulai dari “Solid Gold”, “This is For You”, dan “Versus”. Sejumlah penonton yang hadir untuk acara tribute pun langsung kecewa, karena GE lebih banyak membawakan lagu mereka sendiri daripada lagu The Cure. Baru pada lagu keempat, “The Walk”, GE membawakan lagu The Cure yang sudah diaransemen ulang oleh GE dalam beat disco-techno delapan puluhan. Kemudian Batman memanggil omokucrut ke atas panggung untuk berduet dalam lagu “A Forest”

Tidak tahu kenapa, malam itu banyak sekali band yang membawakan “A Forest”. Mungkin mereka kira lagu ini cukup jarang dibawakan, sehingga mereka memainkan lagu itu. Sayang, ternyata sebagian besar dari mereka berpikiran hal yang sama. Atau mungkin juga karena adanya pohon imitasi berukuran cukup besar di pojok kiri café, tempat para reporter Bystanders dan sejumlah teman lainnya berkumpul, haha.

Sayangnya GE tidak membawakan “Lovesong” yang dulu pernah mereka mainkan di Thusrday Riot. Tapi apa mau dikata, pertunjukkan malam itu tetap harus berakhir. Sayangnya dengan antiklimaks. //review by yearry , 410//photo by 410


gig review//electroduce bandung

June 14, 2007

Setelah sukses menggelar launching di Embassy Jakarta maret lalu, band electropop yang sedang naik daun bersama ini menyerbu Bandung melalui gelaran showcase album terbaru mereka’ “Electroduce Yourself” tepat di halaman Monik Shophouse 3 Mei lalu.

Kawasan setiabudi yang biasanya ramai dengan mobil ‘turis’ dari Jakarta yang ingin berbelanja dikawasan penuh factory outlet yang terkenal itu atau sekedar mencari café yang cozy dan enak untuk makan, makin diramaikan oleh DJ-DJ dari Poptastic! Army dari sekitar pukul 15.00 hingga Goodnight Electric tampil.

MC Une yang biasa memandu les voila naik ke panggung dengan mendaulat Olive Tree yang memang malam itu menjadi opening act. Setelah beberapa menit persiapan akhirnya Olive Tree tampil menghentak halaman monik yang disulap menjadi suatu indie sauna dengan lagu-lagu- mereka yang upbeat yang mereka sebut musik Strawberry Pop.

Audiens datang bukan hanya dari bandung, tetapi dari beberapa kota seperti Jakarta, Tasikmalaya dan bahkan dari Semarang. Terlihat juga rombongan Good Friends (fans club Goodnight Electric) dari Jakarta dengan memakai tshirt merah Good Friends, malah ada 3 orang yang memakai semacam topeng robotic yang dibuat dari kardus sebagai bentuk dukungan mereka kepada band kesayangan mereka yang memang memainkan musik yang cenderung robotic dengan unsure chip tunes yang kental. Setelah memainkan sekitar 7 lagu akhirnya Olive Tree turun panggung dan dilanjutkan MC lagi dengan membagi-bagikan hadiah seperti merchandise Goodnight Electric tentunya dengan terlebih dahulu menjawab pertanyaan-pertanyaan trivia, dan Good Friends tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan seperti ini, karena mereka tampaknya sudah tahu luar dalam tentang band fenomenal itu.

Band yang sudah ditunggu dari sore itu akhirnya tampil juga dengan blocking panggung seperti biasa, Henry  Foundation sang frontman diapit di kiri dan kanannya oleh oomleo dan Bondi Goodboy dengan synthetizer mereka masing-masing.  Dibuka dengan intro yang berjudul “Hello” sembari para personil GE mengajak audiens untuk mengangkat tangan kanan ke depan sekilas seperti Nazi Salute hehehehehe. Lanjut dengan “Automatic Heart” lalu “#1” yang mereka dedikasikan untuk para fans setia mereka, Good Friends. Mereka tampil malam itu tidak biasanya, oomleo dan Bondi Goodboy banyak memainkan synthetizer mereka dan Henry malam itu bernyanyi semi-lip sync dengan menggunakan layering vocal. Malam itu mereka membawakan sekitar 10 lagu dari album terbaru mereka termasuk “Laser Gun Electro Boy” single album kedua mereka, “Interval” yang mengingatkan soundtrack breakdance era 80-an akhir, dan ”Super Visor Go” yang menceritakan tentang visor yang mereka bertiga pakai, dan sebelum memainkan lagu tersebut pun sang frontman berpromo-ria bahwa visor yang mereka pakai akan segera mereka pasarkan untuk para fans huhuhuhuhu jago bisnis juga nih GE :P . Lagu dari kompilasi Thursday Riot, ”T.E.C.H.N.O>LOGY juga mereka bawakan.

Penampilan mereka hampir tanpa cela malam itu dengan audiens berjoget dan ikut menyanyi tanpa henti bersama mereka, Monik malam itu benar- benar disulap jadi indie sauna! Penampilan mereka ditutup dengan lagu dari album pertama mereka, yang bertitel “Supermarket I Am In“ dengan sedikit remix dan terdengar lebih dance dan beatnya lebih cepat dari aslinya, pukul 10 lewat sedikit usailah sudah showcase mereka, akan tetapi mereka juga menggelar semacam press conference dan jumpa fans di halaman dalam monik untuk para fans yang sudah meregistrasi dengan layanan sms dari Aksara Records dan menunjukkan sms balasan tersebut kepada panitia. //arvidson


album review // goodnight electric – electroduce yourself

April 13, 2007

electroduceyourself_hires.jpg

 

 

 

 

 

 

Goodnight Electric
E
lectroduce Yourself
2007 // aksara records

Electro-pop yang lebih matang. Mungkin kata-kata itulah yang dapat mendeskripsikan album terbaru dari Goodnight Electric, “Electroduce Yourself”. Bila dibandingkan dengan “Love and Turbo Action”, lagu-lagu dalam album yang baru dirilis 21 Maret lalu itu memang terdengar lebih matang dan mungkin bisa dibilang lebih ’manusiawi’. Masuknya oomleo dan Bondi benar-benar memberi hawa segar bagi GE, karena album kali ini terasa sekali teamworknya, walaupun dalam penulisan lagu masih didominasi Henry Foundation (Batman). Album ini juga terasa sangat ‘pop’ dibanding album sebelumnya, mungkin seperti mendengarkan lagu-lagu elektronik-pop di akhir tahun 80-an atau awal 90-an, yang sedikit mendapat pengaruh dari musik soul kulit hitam. Namun beat yang digunakan pada beberapa lagu masih terasa sekali new wave-nya, yang mengingatkan pada lagu-lagu Depeche Mode pra-1985.

Sebagian besar lagu dalam album ini masih sangat upbeat, dengan loop-loop yang cenderung cukup sederhana, namun sound yang digunakan memang jauh lebih variatif. Ketiga personil GE sepertinya memaksimalkan potensi masing-masing, sehingga musik mereka juga terdengar lebih eksploratif, dan dapat dibilang lebih ’humanize’. Lagu-lagu yang dibawakanpun menjadi lebih real dan terasa melodinya, tidak terdengar seperti sekedar looping ataupun minus one.

Salah satu lagu yang paling eksploratif dalam album ini bisa didengar dalam ”Solid Gold”. Sekilas lagu ini tidak seperti lagu GE pada umumnya, dengan looping yang saling bertumpuk namun tetap harmonis dan melodic sounds yang terdengar seperti campuran synth-EP-organ, namun secara garis besar masih memiliki benang merah yang sama. Sementara ”Interval”, cenderung terdengar seperti lagu breakdance tahun 90-an, terutama di bagian intronya.

Beberapa lagu malah terdengar seperti new romantics ballad, dengan tempo yang lebih pelan dan sound yang terdengar lebih ringan, walaupun masih terasa sekali synthnya. Pada lagu ”I’m O.K.” misalnya. Satu-satunya lagu buatan oomleo ini malah cenderung terdengar seperti lagu pop Indonesia di era 80an ataupun lagu pop artis Inggris 80an orbitan Stock/Aitken/Waterman bercampur dengan new romantics yang dibawakan band-band transgender/androgyny di masa yang sama. Lalu pada lagu ”Rain In My Room”, yang musiknya terasa ringan sekali, tidak ada not-not staccato dan lebih banyak menggunakan strings/atmospheric sounds.

Sementara itu ada juga lagu yang berada di antaranya. Misalnya lagu ”Laser Gun Electro Boy” yang pop dan ringan namun tetap ada nuansa elektronik dan new wave-nya memang cocok sekali untuk dijadikan single pertama, selain karena cukup catchy untuk pendengar awam tentunya. Lagu ini juga sepertinya lagu yang paling mewakili keseluruhan dari album yang diproduseri Gepeng (yang juga manajer GE) itu.

Alur dalam album ini juga jauh lebih ’tertata’. Dibuka dengan lagu ”Hello” yang menjadi intro musik mereka, kemudian langsung menghentak dengan lagu ”#1”, dilanjutkan dengan lagu-lagu upbeat lainnya. Tempo mulai terasa lebih santai mulai dari ”Rain in My Room” hingga akhir, walaupun sempat disela dengan ”Solid Gold” dan ”Super Visor Go” yang kembali kencang.

TRACK BY TRACK

01. Hello
Sebuah perkenalan dari trio elektro asal Jakarta ini. Mirip dengan ”Love and Turbo Action” di album terdahulu yang biasa digunakan untuk membuka penampilan mereka, disambut dengan diangkatnya tangan kanan ke atas. Sound yang dipakai sangat elektronik dan cenderung ’robotik’ karena lagunya dinyanyikan dengan menggunakan vocoder.

02. #1
Lagu khusus yang dibuat Goodnight Electric untuk fans mereka, yang dikenal dengan sebutan good.friends. Sangat upbeat dan terdengar sangat ”sintetis”.

03. Art School Flying Object
Awalnya sedikit gelap dan terdengar seperti lagu Eurythmics yang ”Sweet Dreams”, karena synth sounds yang dipakai cenderung berat termasuk sound digital drumnya. Namun ketika masuk chorus, baru terdengar elektronik-pop nya.

04. Laser Gun Electro Boy
Lagu ini dipilih jadi single pertama mereka, karena sepertinya menjadi lagu yang paling bisa mewakili keseluruhan dari album ini, selain mungkin karena catchy bagi pendengar awam. Video klipnya sendiri sudah mulai ditayangkan di tv swasta, disutradarai oleh rekan kerja Batman di Jadugar, Anggun Priambodo. Lagu ini terdengar pop dan ringan, walaupun masih terdengar sound electronic/new wave-nya. Liriknya juga cukup menarik (atau bahkan cenderung lucu) karena menceritakan tentang seorang cowok yang curhat kepada seorang electro boy. Apakah electro boy ini seorang robot? Atau hanyalah mahasiswa Teknik Elektro? Hahaha…

05. Interval
Seperti lagu SKJ ’88 atau lagu breakdance awal 90-an/akhir 80-an, yang lebih afdhol dinikmati dengan ikat kepala (head band) warna ngejreng dan legging super ketat. Intro yang sangat ”breakdance” itu kemudian digabung dengan electronic pop di bagian chorus. Perpaduan yang sangat bagus, bahkan menurut saya ini menjadi lagu terbaik di album ini.

06. Rain In My Room
Salah satu lagu yang sangat pop. Diawali dengan beberapa potongan suara radio yang diubah-ubah frekuensinya, kemudian lagu masuk dengan nuansa yang cenderung dingin, dengan sounds yang cenderung terdengar atmospheric dan paduan synth-strings. Lirik dan soundnya sesuai sekali dengan keadaan Jakarta yang baru-baru ini dilanda banjir dan angin puting beliung.

07. This Is For You
Ini juga salah satu lagu yang cenderung sangat pop. Terdengar elektronik karena sound melodinya saja dan penggunaan vocoder pada backing vocal.

08. Solid Gold
Lagu GE yang paling eksploratif. Pada awalnya tidak terdengar seperti lagu GE pada umumnya, dengan looping yang merupakan paduan digital beat drum dan sekitar tiga atau empat lagi looping synth, saling bertumpuk namun tetap harmonis. Sound yang digunakan juga cenderung berbeda, seperti terkena sedikit nuansa musik soulnya C&C Music Factory dan lagu techno pop 90an.

09. Super Visor Go
Salah satu lagu dengan tempo yang cukup tinggi. Beat dan looping synth-nya juga cukup catchy, dengan suara drum digital segi enam yang sangat kental. Perpaduan musik elektronik tapi masih tetap humanize, karena part-part melodic yang dimainkan sangat baik oleh Bondi. Sementara dari segi lirik, menurut saya lagu ini paling kreatif.

10. I’m OK
Terdengar seperti lagu pop Indonesia di akhir 80an yang genrenya juga dibawakan oleh Club Eighties, namun dengan lebih banyak sentuhan elektronik. Atau terdengar seperti campuran lagu pop yang dibawakan artis-artis Inggris 80an yang diorbitkan oleh Stock/Aitken/Waterman dengan new romantics yang dibawakan oleh band-band transgender/androgyny di masa yang sama. Pada lagu ini GE dibantu oleh Isabelle Patrice pada backing vocal.

11. V.S.
Lagu ini seperti musik 8 bit yang dikemas dengan elektronik pop. Upbeat, tapi masih sangat pop. Sebetulnya lagu ini lebih cocok dijadikan lagu terakhir, seperti yang dilakukan GE saat launching, menutup penampilan mereka dengan lagu ini, featuring tiga personil Polypony.

12. Automatic Heart
Musiknya lebih enteng dan pop. Awalnya saya mendengar lagu ini seperti lagu disco padang hahaha… Tapi lagu ini cukup menyenangkan memang. Liriknya seperti curhatan seorang robot yang lagi jatuh cintrong, haha…

//410


gig review // goodnight electric album launch

April 13, 2007

dsc_3419_ge.jpg

Trio Electro dari Jakarta, Goodnight Electric meluncurkan album baru mereka yang berjudul “Electroduce Yourself” di Embassy, Jakarta pada Rabu 21 Maret 2007 lalu. Album kedua mereka kini di bawah naungan label Aksara Record.

Diawali dengan press conference yang dipandu oleh David Tarigan personel GE (Batman, Oomleo, dan Bondi) didampingi Hanin Sidharta selaku pihak label Aksara Record menjawab sejumlah pertanyaan dari para wartawan dan penggemar Goodnight Electric sendiri. Dalam Press conference yang dimulai sekitar pukul 5 sore GE menjelaskan tentang album kedua mereka ini dan segala hal yang berkaitan dengan acara launching tersebut. Press conference diakhiri dengan penayangan perdana videoklip Laser Gun Electro, single pertama dari album tersebut yang disutradarai oleh Anggun Priambodo.

Show sendiri dimulai sekitar pukul enam. Polypony hadir sebagai opening act. Dengan formasi duo vokalis wanita (Hedytia dan Anna Karina) dan seorang DJ (MRDR) Polypony coba menampilkan musik disco ringan. Sejumlah lagu yang dibawakan sayangnya lebih mirip pertunjukan karaoke. Bisa dibilang kehadiran Polypony sebagai pertunjukkan pembuka bagi GE terlalu dipaksakan.

Goodnight electric selanjutnya tampil. Sekedar formalitas, Batman mengucapkan kata-kata terima kasih dan seterusnya dan memperkenalkan lagu baru dari album kedua mereka. Hello mengawali pertunjukkan GE. Lagu ini lebih terasa sebagai intro konser mereka malam itu. Sayangnya karena mayoritas penonton belum ada yang mengenal materi lagu maka antusiasme penonton belum terlihat.

#1 dipilih sebagai lagu kedua. Lagu ini ditujukan bagi Good Friends (fans club GE) dan orang-orang yang selama ini mensuport GE. “Karena kalian adalah #1”, ujar Batman sebelum mulai menyanyikan lagu tersebut. Penonton masih terbengong karena belum kenal dengan lagu yang dibawakan. Begitu juga ketika lagu ketiga, Interval dimainkan.

dsc_3380_bondi.jpg

Art School Flying Object, lagu ciptaan Bondi Goodboy dimainkan kemudian. Dilanjutkan dengan Rain in My Room, This Is For You, Automatic Heart, dan Super Visor Go. Para penonton masih dalam suasana yang setengah ikut menikmati dan setengahnya lagi mencoba mencerna musik yang dibawakan oleh GE dari album kedua mereka ini. Kecuali dalam beberapa lagu, sound dan aransemen musik yang dimainkan GE dalam album barunya terasa sangat berbeda dengan lagu-lagu yang biasa dimainkan dari album pertama. Sedikit terasa lebih berat bagi telinga para ABG yang hadir sebagai penonton mayoritas malam itu.

 

Hal ini mencapai klimaksnya ketika lagu karya Oomleo, I’m OK dimainkan. Aransemen yang cukup mengejutkan bahwa GE ternyata banyak membawa perbedaan dalam album keduanya ini. Sempat terdengar celetukan diantara penonton, “kok GE sekarang beda banget ya?”. Penonton cukup terhibur ketika di sela-sela lagu personel GE membagi-bagikan kaos serta kaset Electroduce Yourself.

dsc_3421.jpg

“Mungkin kalian sudah ada yang pernah dengar lagu ini, karena sering kita mainkan di beberapa kesempatan. Judulnya Solid Gold,” Batman menjelaskan. Antusiasme penonton baru terlihat di sini karena lagu tersebut terbilang sudah cukup sering dimainkan di live performance GE sehingga mereka cukup familiar dengan lagu ini. Lagu terakhir di sesi pertama, GE kemudian turun panggung. Tidak terdengar suara-suara “we want more” dari penonton. Sepertinya penonton cukup yakin bahwa pertunjukkan belum berakhir dan GE akan naik panggung lagi.

Prediksi penonton cukup tepat, GE naik panggung lagi setelah ganti kostum. Sesi kedua dimulai dengan Love and Turbo Action, penonton secara serempak mengangkat tangan kanan mereka ke atas (bergaya seperti hormat ala Hitler). Penonton makin antusias ketika T.E.C.H.N.O>LOGY dimainkan dan terdengar mereka bernyanyi bersama.

Laser Gun Electro Boy single utama album Electroduce Yourself dimainkan selanjutnya. Lagu tersebut cukup sering disiarkan melalui radio-radio di Jakarta sehingga sudah cukup akrab di telinga para penonton. menyusul kemudian Supermarket I am in dari album pertama dibawakan dalam versi remix.

dsc_3377_batman.jpg

Pertunjukkan mencapai klimaksnya ketika lagu Versus dimainkan. Lagu tersebut juga menjadi lagu penutup pada konser launching album GE malam itu. Riuh tepuk tangan penonton mengakhiri pertunjukkan GE. Secara umum pertunjukkan malam itu bisa dibilang cukup lumayan walaupun terkesan datar-datar saja tanpa unsur kejutan yang berarti.

Penonton membubarkan diri, sebagian lagi menunggu after party bersama DJ Hogi dan sejumlah teman dekat mereka. //pix/410//words/yearry//

dsc_3358.jpg


interview with Goodnight Electric

April 13, 2007

dsc_3167.jpg

Dua hari menjelang peluncuran album baru Goodnight Electric, bystanders akhirnya berhasil juga mewawancarai Batman (HF), Oomleo (O) dan Bondi (B) di sela-sela latihan mereka di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Lucky us, bystanders juga sempat mendengarkan sedikit bocoran lagu dari album baru mereka ”Electroduce Yourself”.

Pertama-tama pertanyaan standar dulu nih, kenapa judul albumnya “Electroduce Yourself”?

HF : Sebenernya album yang sekarang ini lebih ke “reintroduce”, perkenalan ulang Goodnight Electric. Karena adanya beberapa perbedaan di dalam tubuh GE sendiri, tentunya. Terutama mungkin dari segi personil, yang sekarang lebih seperti tim dengan masuknya oomleo dan Bondi. Selain itu kita juga pengen nggak cuma GE yang memperkenalkan diri, tapi kita juga ingin mengenal orang-orang yang mendengarkan dan mengikuti musik kita. Sehingga ada hubungan antara GE dan mereka yang mendengarkan dan mendukung musik kita, nggak cuma satu arah.

Perbedaan apa aja dari segi musikalitas antara album yang baru ini dibandingkan dengan album pertama GE?

HF : Waah.. beda banget. Soalnya kan tiap manusia pasti berkembang, dan pemikiran kita kemarin dengan hari ini pasti beda. Contohnya kemaren hujan trus rumah gw bocor, jadi gw belajar benerin rumah yang bocor.. [hmm... mungkin kejadian yang sama menginspirasi Batman untuk membuat lagu ”Rain in My Room” hehehe – red]. Belajar dari kesalahan yang lalu, trus mengikuti perkembangan yang baru, jadi yang pasti berbeda dengan sebelumnya. Lebih dewasa, lebih wise, lebih laki-laki… Kalau dulu mungkin masih gay, sekarang lebih laki-laki, tapi masih gay sih… Sisi femininnya masih ada… Kalau dari skala 10, kita dulu 5 sekarang 6 lah… hahaha…

Materi album GE kan udah siap sejak tahun kemarin, kenapa baru sekarang launch-nya? Apa sih hambatan-hambatannya?

HF : Kalau materi sih udah dua tahun dibikinnya… Untuk finishingnya akhirnya kita rekaman pas bulan puasa kemaren, cuma setelah bulan puasa itu banyak kegiatan juga buat GE. Akhirnya Januari mulai kosong, sampe Februari, jadi kita jalan lagi. Sebetulnya target sih 2006, ternyata kita banyak tur Eropa, Asia-Afrika gitu.. Bandung maksudnya hehehe…

Bisa diceritain secara singkat ngga, proses pembuatan albumnya?

HF : Proses pembuatannya macem-macem sih.. Biasanya tiap orang bikin di komputer masing-masing, trus materi yang udah ada dibawa kesini, trus diolah bareng-bareng… Prosesnya ga jauh beda lah ama band lain, cuma mungkin kalo kita bikinnya bisa di rumah, sedangkan kalo band lain kan musti jam session di studio misalnya. Biasanya kita bikin lagu mentah gitu, trus kadang-kadang latian-latian kecil dulu..

Kalo di album ini, sejauh mana sih eksplorasi musik-nya GE?

HF : Wah total banget deh. Sekarang kan ada tiga kepala di GE, jadi ada tiga unsur.. Bondi bawain influence sendiri yang baru, oomleo juga.. Jadi klo dengerin yang baru pasti kerasa deh bedanya.

Trus kalo influence-nya yang sekarang kebanyakan dari mana? Apakah ada band khusus yang menginfluence album GE kali ini?

HF : Pas proses buat album kita malah nggak dengerin apa-apa.. Oomleo tuh malah dengerin band Brazil…

O : Ellis Regina ama Antonio Carlos Joabim. [AC Joabim terkenal dengan lagu-lagu seperti “Girl From Ipanema” dan “Wave”-red]
Pokoknya banyak lah influence yang nada-nada Major 7th gitu..

HF : Technotronik, NKOTB juga…

Lagu-lagunya juga kedengeran kayak musik new wave/elektronik yang akhir 80-an atau awal 90-an gitu ya?

HF : Iya emang kita kepengaruh ama Technotronik dan 2 Unlimited. Semangatnya tapi ya. Sebenernya kita lebih banyak dapet inspirasi musik dari semangat orang-orang yang bikin musiknya, dibanding lagu-lagunya. Semangat Antonio Carlos Joabim membuat masterpiece, semangatnya Technotronik membuat lagu berapa bpm yang dikenang sepanjang 90-an, dan akhirnya dibenci orang tahun 2000-an.

Kalo band yang lagi didengerin sekarang?

HF : Tiger Baby

B : Beck yang terbaru

O : Masih dengerin yang dulu-dulu sih, kayak The Beatles, Chet Baker, AC Joabim

Trus beberapa lagunya yang tadi gw denger kayaknya terdengar pop banget, itu kenapa?

HF : Emang kita maksudnya pop semua tapi malah ada yang nggak pop

O : Kesalahan ngerancang lagu.. Harusnya pop malah jadi nggak pop

Lebih enak mana, manggung di pensi, acara kecil, atau acara khusus kayak pameran seni?

HF : Enak semuanya sih, karena beda2 karakternya. Kita malah seneng kayak gitu, jadi ga bosen juga. Jadi beda2 pengalamannya… maen di club, beda, art scene beda, distro beda lagi pengalamannya, apalagi pensi beda lagi…
Kita malah pengen lah nyoba pengalaman-pengalaman baru, bahkan yang belum pernah kayak apa oomleo?

O : Kawinan…

HF : Atau ngaben gitu misalnya…

Ada alasan khusus nggak mengenai pemilihan Gepeng (yang juga manager GE-red) jadi produser album kedua ini?

HF : Nggak ada alasan khusus sih, yah karena selama ini deket aja.. Dan tiap album kan musti ada produsernya untuk mengarahkan album tersebut, kebetulan Gepeng juga udah lama banget berkecimpung di musik elektronik, lalu bekerja di Goodnight. Jadi biar musiknya ga kemana-mana juga gitu…

Tema album kali ini apa?

HF : Beberapa lagu banyak yang kita dedikasiin untuk apa yang telah kita alami, kayak ada satu lagu yang kita bikin buat good friends misalnya, dan pengalaman-pengalaman kaya gitu.

Apa alasan memilih Sir Dandy untuk pembuatan covernya?

HF : Jadi waktu pas proses pembuatan cover, kita sibuk blingsatan juga, dan tiap personil punya ide sendiri-sendiri soal rancangan covernya…

B : Akhirnya kita ambil jalan tengahnya,

HF : Daripada band-nya bubar cuma gara-gara cover album, jadi kita nyari desainer freelance, dan kita milih Sir Dandy

Ada maksud atau tema tertentu nggak dari desain covernya?

HF : Jadi ini sebenernya kreativitasnya Sir Dandy untuk mengolah logonya Goodnight yg G strip E itu.

O : Logo G strip E itu dibuat semacam elemen grafis gitu

HF : Pas diliat, banyak yang kenapa ini koq GG sih? Pas dibuka baru… oooh oke..

Menurut GE, apa image GE sendiri setelah dirilisnya album kedua ini?

HF : Positif. Disiplin. Mengajak hal-hal yang positif. Yah… kayak jauhi narkoba, belajar, trus jangan nonton pensi mulu, ntar dimarahin orang tuanya..

Ada rencana untuk distribusi di luar lagi nggak, kayak album pertama?

HF : Jadi waktu kerjasama ama Aksara, kita minta demand lebih, kita minta didistribusiin ya minimal Asia Tenggara lah. Soalnya dilihat dari responden myspace gitu kita punya banyak temen2 di luar kayak Malaysia, Singapore gitu.

Kalo bisa kolaborasi ama artis tertentu, mau ama siapa?

O : BCL juga oke – Bahan C*** Laki-laki [hahaha…]

HF : Kita sih open, selama mereka mau lah, menerima kita apa adanya kayak gini… gpp..

OK, pertanyaan terakhir, ceritain dikit donk soal masing-masing lagu yang ada di album ”Electroduce Yourself”…

“Hello” >> say hello to everyone :)
“#1″ >> Tentang Goodnight Electric & audiencenya….they are number one!*
“Art School Flying Object” >> Tentang perupa yang merubah sesuatu
“Laser Gun Electro Boy” >> Conversation antara Laser Gun Electro Boy dan seseorang yang sedih
“Interval” >> Stuck in relationship
“Rain In My Room” >> Stuck with situation
“This Is For You” >> good relationship!
“Solid Gold” >> Mengagumi stranger pada pandangan kedua
“Super Visor Go” >> Pendedikasian terhadap topi visor!
“Im OK” >> Stuck in relationship again!
“V.S” >> It’s about war!
“Automatic Heart” >> Falling in love!

//pix/410//words/410/yearry//

dsc_3237_ge-interview.jpg