Setelah sempat tertunda karena faktor cuaca, peluncuran album Mesin Waktu: Teman-Teman Menyanyikan Lagu Naif akhirnya digelar.
Untuk ukuran acara besar, penonton yang datang malam Jumat kali itu memang tidak sebanyak yang diharapkan. Sebagian besar dari crowd yang sudah terlanjur terguyur hujan deras di hari Rabu tidak lagi mau mengambil resiko untuk datang pada malam itu. Namun sepertinya pihak panitia sudah mempekerjakan seorang pawang hujan yang cukup sakti, karena acara sukses digelar tanpa hujan, walaupun sempat sedikit gerimis. Acarapun dibebaskan dari segala persyaratan yang dibebankan pada malam sebelumnya. Semua orang boleh masuk gratis, tanpa harus membeli CD ataupun register SMS.
Walaupun hampir 80 persen band yang tampil adalah band indie, namun crowd yang datang malam itu bukan hanya dari satu komunitas saja. Mungkin memang karena musik yang diusung Naif cenderung mudah diterima masyarakat, walaupun tidak seperti musik mainstream kebanyakan.
Rian Pelor dan seorang MC lagi dari Prambors memimpin acara malam itu, dan seperti biasa, malam itupun menjadi malam ngocol ala Rian, dengan segala gaya khasnya. Dan semalaman itu ia sepertinya bahan yang cukup baru untuk dicela, yaitu Kangen Band. Band mainstream baru dari Lampung itu berhasil ‘dihabisi’ oleh Rian, dimana ia sempat mengatakan, “Kangen Band makes Radja sounds good”. Hahaha…
Penonton mulai rusuh saat The Brandals naik ke atas panggung. Beberapa orang bahkan naik ke atas panggung dan mencoba eksis di acara itu, walaupun sepertinya mereka juga tidak terlalu familiar dengan lirik-lirik lagu band asal Jakarta itu. Penampilan mereka ditutup dengan lagu yang dijadikan single pertama untuk album Mesin Waktu, “Mobil Balap”. The Brandals beruntung sekali bisa mendapat kehormatan untuk membawakan lagu Naif yang paling populer itu. Dan karena lagu itu nuansa keyboard-nya cukup kental, The Brandals mendapatkan bantuan dari keyboardist Sore, Mondo Gascaro.

Monophones dari Yogyakarta membawakan musik-musik mereka yang cukup membuat penonton ”merinding”. Vokal Alexandria yang entah berapa oktaf tingginya, dibalut dengan musik nan apik dari personil lainnya. Untuk beberapa lagu Monophones juga dibantu oleh Ricky dari White Shoes and The Couples Company.

The Adams dan White Shoes and the Couples Company sepertinya berhasil mendinginkan kembali suasana malam itu, sesuai dengan turunnya hujan rintik-rintik untuk sementara waktu.

Namun puncak performance malam itu memang dipegang oleh Tika, yang malam itu membawa band pendukung barunya yang bernama Wrong is the New Right. Membuka penampilannya dengan ”Smells Like Teen Spirit”nya Nirvana yang dinyanyikan ala Tori Amos, Tika kemudian membawakan lagunya ”Under Their Feet” yang cukup misterius itu. Lagu Naif ”Dia Adalah Pusaka Sejumlah Umat Manusia Yang Ada Di Seluruh Dunia” pun disulap menjadi lagu bernuansa jazz dan soulful-like ala Nina Simone.

Sebelum Naif naik ke atas panggung, Rian Pelor mengajak penonton untuk mengheningkan cipta, tanda turut berduka cita atas meninggalnya ayah dari Emil beberapa waktu lalu.
Dan akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga. David, Jarwo, Pepeng, dan Emil naik ke atas panggung. Awalnya mereka sempat memberi sepatah-dua patah kata sambutan. Dan mereka pun membawakan lagu-lagu mereka dengan sangat enerjik. David memang top-nya dalam memanaskan atmosfer. Lagu ”Uang”, ”Dia”, serta ”Ajojing” dari album terbaru mereka ’Televisi’ mereka bawakan dengan sukses. //photo and review by 410
Posted by bystanders
Posted by bystanders