gig review//nostalgia bersama nofx

June 14, 2007

Bagi musik Indonesia, sepertinya sedikit terlambat untuk mendatangkan NOFX di dasawarsa ini. Tapi tentu saja, NOFX bukan sekedar band punk biasa yang tiba-tiba ngetrend di tahun 90-an, mereka adalah dewa-nya bila dikaitkan dengan musik punk di kalangan underground. Bahkan pada konsernya yang digelar 21 April lalu, mereka tidak memperbolehkan media untuk meliput. ”No f*ckin media”, katanya. Dan Fat Mike dengan leluasanya mencela beberapa jurnalis yang pontang panting memanjat di berbagai tempat untuk mengambil gambar para leluhur punk itu.

Datangnya NOFX memang momen yang sangat langka. Biasanya Indonesia hanya berani mendatangkan band-band mainstream yang mengatasnamakan diri mereka ’punk’. Seperti Good Charlotte yang datang sekitar tiga hari setelah konser ini. Mereka juga terkena celaan besar-besaran dari NOFX, dengan menjuluki kedua frontmen GC sebagai ”si kembar”. Kembali ke momen langka, ribuan penonton dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Jakarta hari itu, hanya sekedar menonton NOFX. Yang datang juga dari berbagai kalangan, mulai dari promotor musik, manager band, band members, dan sejumlah orang yang dilihat dari raut wajahnya sudah lama malang melintang di dunia punk. Ya, untungnya tidak ada anak-anak ABG dengan dandanan ala Good Charlotte campur My Chemical Romance di sana.

Dan NOFX pun berhasil membangkitkan nostalgia crowd yang memenuhi Arena PRJ malam itu. Sebanyak 23 lagu mereka mainkan, dibuka dengan ”Linoleum”. Setelah itu mereka membawakan sejumlah lagu dari album teranyar mereka ”Wolves in Wolves’ Clothing”. Dan tidak lupa mereka memainkan ”The Brews” (what an anthem! –red), ”Don’t Call Me White”, ”Perfect Government”, lagu dengan lirik hanya satu baris ”Kill All The White Man”, dan lagu dari Rancid ”Radio”.

Sebuah pengalaman seumur hidup yang tak terlupakan. Dan walaupun pengerahan keamanan yang pas-pasan, sebagian besar crowd yang datang sepertinya sadar, kalau membuat kerusuhan bukan lagi masa mereka. //410