events//ultah buma

June 14, 2007

Pada tanggal 21 April lalu, Komunitas puisi Bunga Matahari genap berusia tujuh tahun. Bukan waktu yang singkat, kalau diumpamakan manusia, maka usia tersebut berarti sudah saatnya masuk SD hehe. Komunitas yang awalnya hanya sebagai wadah bagi sejumlah teman yang ingin mengapresiasikan puisi mereka, kini sudah memiliki ribuan anggota di milisnya. Dan pada tanggal 29 April 2007, BuMa merayakan ulang tahun mereka, merayakan kesuksesan komunitas yang kini tak lagi balita itu.

dsc_2493-nivel.jpg

 

Perayaan ultah yang digelar di café West Pacific di bilangan Thamrin itu dimeriahkan dengan beberapa penampilan dari anggota milisnya. Otak and Chair tampil tentunya, membawakan  sejumlah komposisi andalan mereka, seperti “Sendiri”, “Yongkru Yo’a Yombre”, dan tentu saja, ”Teman Baikku Mati Bunuh Diri”. Kuartet Uga-Acha-Aan-Ichsan itu juga membawakan komposisi terbaru mereka yang berjudul ”Dengerin, Yo!”. Komposisi yang terakhir itu dibawakan oleh Acha, dan terdengar mirip seperti lagu rap dengan iringan perkusi tradisional, hehe.

dsc_2637.jpg

Lalu ada pula sebuah kelompok musik eksperimental yang bisa dibilang pendatang baru dalam acara BuMa. Menamakan dirinya Perusak Suara, trio Iman Fattah (gitaris Lain, Zeke and The Popo, dan entah apa lagi yang bisa dikerjakan manusia multi-talenta ini), Aulia Naratama (keyboardist Everybody Loves Irene), dan Wahyu (Marche La Void) membawakan komposisi yang tidak biasa. Mereka juga dibantu oleh Jorgy dalam membacakan sejumlah puisi.

dsc_2533.jpg

Selain itu ada pula pembacaan puisi dari beberapa anggota milis yang sudah tidak asing lagi seperti Nivel, Jorgy, Henry C Widjaja, dan Esti. Ada pula Hello Rain yang terdiri dari Nanda, Tania (Clover), Aan (D’zeek, thedyingsirens), dan Olive yang membawakan musikalisasi puisi.

dsc_2556.jpg

Acara ditutup dengan pemotongan kue ulang tahun oleh sejumlah pendiri BuMa seperti Festi, Ulil, Anya, Uga, serta beberapa teman-teman yang sudah lama berada di komunitas tersebut seperti Nira, Ney, dan Acha. //410


gig review – planetbumi album launch

April 17, 2007

Band yang sudah lama melintang di musik (indie) Indonesia, Planet Bumi, melancarkan serangkaian launching party untuk album terbaru mereka “Working Class Zero” di Jakarta dan Bandung bulan Maret lalu. Terlihat sejumlah ‘senior’ indie pada acara tersebut, serta keluarga (anak-istri) dari personilnya, mengingat umur band ini yang sudah lebih dari sepuluh tahun. Berikut adalah liputan singkatnya

>> Jakarta,

     SOHO PLAZA SEMANGGI, 02/03/07

Baru saja memasuki hari kedua di bulan Maret, Planet Bumi sudah mulai menggelar acara mereka. Rangkaian launching party diawali di Soho, Plaza Semanggi, yang lebih seperti reuni mantan-mantan personilnya. Uga yang dulu menjadi drummer Planet Bumi, saat launching tampil dengan bandnya thedyingsirens dan kelompok perkusi Otak and Chair. Sedangkan Aroel (gitaris) tampil akustik dengan bandnya yang sedang naik daun, Stereomantic. Sayangnya sound dari pihak penyedia tempat kurang memuaskan, bahkan pada titik tertentu terasa mengganggu. Venue yang terlalu terbuka dan ‘umum’ juga mengganggu kenyamanan penonton yang memang ingin menikmati acara. Penonton pun tidak dapat terlalu mendekat ke panggung karena pengunjung mall yang memang sering dijadikan meeting point itu seliweran di depan panggung.

 

dsc_0167.jpg

 

Acara yang seharusnya dimulai pukul 18.00 ngaret hingga sekitar satu setengah jam. Otak and Chair langsung membuka acara malam itu, dengan empat komposisi puisi/perkusi mereka. Kuartet yang terdiri dari Uga (thedyingsirens), Acha, Aan (thedyingsirens & D’Zeek) dan Ichsan (D’Zeek) itu sepertinya berhasil menarik perhatian pengunjung yang seliweran di mall itu, yang kebetulan karena Jumat malam jadi banyak sekali orang yang datang. Uga dan Acha bergantian membacakan karya-karya mereka, total empat komposisi dibawakan, termasuk “Sendiri” dan “Teman Baikku Mati Bunuh Diri”. Walaupun hanya ‘berbekal’ tiga djembe, Otak and Chair dapat membawakan komposisi-komposisi yang harmonis.

dsc_0173.jpg

 

Efek Rumah Kaca mendapat giliran berikutnya. Dengan tiga orang saja, mereka membawakan lagu-lagu mereka yang cenderung sedikit gelap dengan lirik bermuatkan kritik mengenai isu-isu lingkungan. Sesuai sekali dengan nama bandnya. Namun sayang memang, karena sound yang disediakan pada saat mereka main naik turun.

dsc_0299_tds.jpg

Bila dilihat dari pendukung acaranya, launching kali ini mengingatkan pada launching album thedyingsirens akhir tahun lalu yang menampilkan Efek Rumah Kaca dan Planet Bumi. Kali ini gantian thedyingsirens yang tampil untuk launching album Planet Bumi. Band yang baru saja ditinggalkan keyboardisnya Fino itu bermain lebih akustik, terutama bila dibandingkan dengan album mereka yang lebih elektronik. Malam itu thedyingsirens juga tampil tanpa basis mereka, Siska, dan digantikan dengan Ichsan. Seperti Otak and Chair minus Acha tapi digantikan dengan Nouri di gitar haha.. Sound kembali tidak keruan pada saat mereka main, mungkin pihak penyelenggara tidak terlalu serius dalam mempersiapkannya sehingga pada beberapa lagu mereka sound (terutama pada bass) terdengar aneh.

dsc_0321.jpg

Berikutnya adalah duo Stereomantic, yang ‘berkamuflase’ menjadi nama Stereocoustic karena saat itu mereka membawakan lagu-lagu mereka dengan format akustik. Lagi-lagi, sound yang tidak dapat diandalkan mengurungkan niat Maria (vokalis) untuk memainkan xylophone. Untungnya sound gitar Aroel tidak terlalu bermasalah. Stereocoustic tampil sangat sederhana malam itu, memainkan beberapa lagu dari album perdana mereka, termasuk hitsnya, “Takut”. Mereka juga membawakan lagu Bob Marley “Redemption Song” yang dimainkan cukup apik secara akustik.

dsc_0369.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan Room V. Mereka membuka penampilan dengan lagu “Catch”, selanjutnya penonton dimanjakan dengan sederetan lagu-lagu The Cure. Mulai dari “Boys Don’t Cry” yang dibawakan bersama Maria Stereomantic dan Uga thedyingsirens pada drum, lalu berturut-turut “Just Like Heaven”, “A Letter to Elise”, dan “Love Song”. Perhatian penonton juga tertarik pada seorang anak bule berbaju punk yang dengan semangatnya mengikuti acara, dan duduk di ujung panggung. Tidak lupa ia ikut berteriak-teriak menyanyikan beberapa lagu The Cure yang dibawakan Room V, terutama saat bagian “Show Me Show Me Show Me” pada “Just Like Heaven”. Room V juga sempat membawakan lagu hits lawas Planet Bumi, “Rindu”.

dsc_0486.jpg

Puncak acara akhirnya dimulai sekitar jam setengah sepuluh, saat Planet Bumi naik ke atas panggung. Mereka benar-benar seperti sejumlah karyawan yang baru pulang kerja, dengan setelan kemeja dan jas hitam, mungkin memang disengaja supaya sesuai dengan judul album mereka. Mereka pun langsung membawakan lagu-lagu dari album baru mereka seperti “Jimmi Pemenang”, “Bulan dan Bintang”, serta “Kau dan Aku” yang sudah dapat didengar di radio-radio. Band yang kini diperkuat Nyoman (vocal), Molli (bass), Eky (guitar), Helmi (guitar), Yudi (drum), dan Ari (keyboard) itu mendapat sambutan yang cukup meriah dari penonton, dan terlihat sejumlah musisi dan pelaku indie yang bisa dibilang cukup ‘senior’. Planet Bumi juga membawakan lagu “Untuk Semua Yang Tersiksa”, dimana Nyoman berduet dengan Vijey, vokalis dari Soulfullsonic. Penampilan merekapun ditutup dengan lagu “Mama”, yang pada album mereka diaransemen oleh mantan gitaris mereka Aroel.

>> Bandung
Soho Cihampelas Walk, 16/03/07

Acara di Bandung sama ngaretnya dengan di Bandung, yang akhirnya baru mulai pukul 19.30, dan itupun venue masih terbilang sepi. Yang mendapat kehormatan membuka acara malam itu adalah Elemental Gaze, band shoegaze/dream pop Bandung. Kali itu Elemental Gaze tampil tanpa vokalis utamanya, Fuad, sehingga untuk vocal digantikan oleh gitarisnya Lhutfi. Elemental Gaze juga berkolaborasi dengan vokalis Hollywood Nobody, Dian, dan vokalis A Stone A, Akbar. Empat lagu dibawakan oleh Elemental Gaze, termasuk “To Leave After the Memories are Full” dan “Love Your Love, Death Your Love”.

Selanjutnya giliran band folk-pop asal Jakarta, Dear Nancy. Band yang baru saja menggelar launching party untuk EP mereka “My Little Story” itu membawakan sejumlah lagu dari EP tersebut, seperti “Beautiful Sunday”, “Brother and Sister”, dan “Me and You”. Mereka juga sempat membawakan cover dari lagu ‘pahlawan’ mereka The Beatles yang berjudul “If I Fell”

Band ketiga yang tampil malam itu adalah The Milo. Band yang cukup ‘legendaris’ di kota Bandung itu sepertinya memang telah ditunggu-tunggu oleh penonton, karena mungkin karena mereka memang sudah jarang tampil. The Milo pun berhasil memuaskan penonton yang datang dengan membawakan sejumlah lagu mereka seperti “Malaikat”, “Cool”, dan “So Regret”. Aji dkk juga sempat membawakan remake dari lagu The Beatles yang berjudul “Tomorrow Never Knows”.

Acara mencapai puncaknya saat Planet Bumi tampil. Pada malam itu band yang sudah malang melintang di musik Indonesia selama 10 tahun itu membawakan sekitar lima lagu yang semuanya diambil dari album terbaru mereka, “Working Class Zero”. Lagu “Teman” dijadikan pembuka, dilanjutkan dengan lagu “Pencaci” dan “Jumpa Lagi”. Planet Bumi juga membawakan lagu hits mereka yang sudah sering didengar di radio Jakarta yaitu “Kau dan Aku”. Penampilan mereka pun ditutup dengan lagu “Bulan dan Bintang”.

>> Jakarta
Timeout Café, Pasar Festival, 24/03/07

Ini adalah launching party ketiga yang digelar Planet Bumi bulan ini. Sebelumnya acara launching ketiga ini akan diadakan di café Eastern Promise, Kemang. Namun sekitar seminggu sebelumnya diberitahukan kalau venue dipindah ke Timeout Café di Pasar Festival, Kuningan. Tidak jauh berbeda dengan launching yang di Soho, launching kali ini juga ngaret cukup lama.

Soulfullsonic membuka acara malam itu, dimana masih belum terlalu banyak penonton yang datang. Sejumlah orang yang datang pun sempat dibingungkan dengan adanya acara musik di café yang bersebelahan dengan Timeout. Akhirnya sempat ada jeda setelah soulfullsonic main, dan acara baru dilanjutkan sekitar pukul delapan.

dsc_3683.jpg

Band yang tampil berikutnya adalah Revolusi Pop, yang dari gaya dan penampilan vokalisnya, sudah dapat ditebak bahwa band yang satu ini sangat terinfluence oleh The Cure. Dan benar saja, selain membawakan lagu-lagu mereka sendiri, Revolusi Pop juga membawakan lagu The Cure, “Cut Here” dan “Caterpillar”. Bahkan lagu mereka yang dijadikan penutup penampilan band itu terdengar mirip sekali dengan “Pictures of You”. Mereka juga mengakui bahwa lagu tersebut mirip dengan lagu The Cure. Mengingatkan pada Room V yang pada launching pertama yang tidak tanggung-tanggung membawakan empat lagu hits dari The Cure.

dsc_3717_dhendy.jpg

Acara dilanjutkan dengan penampilan Dhendy, yang kata Uga adalah ‘the next rising star’. Dhendy dan produsernya, Made, tampil full akustik, hanya dengan dua gitar saja. Walaupun tampil serba minimalis, mereka bermain dengan sangat rapi dan apik. Membuka penampilannya dengan lagu Duran Duran “Ordinary World”, Dhendy kemudian membawakan beberapa lagunya “Go Away” dan “Life”. Kedua lagu tersebut rencananya akan dimasukkan ke dalam EPnya yang akan dilaunch bulan depan. Penampilan Dhendy kali ini juga jauh lebih baik dibanding penampilan perdananya pada acara Quarter Life Crisis yang gelap gulita awal Februari lalu.

dsc_3751_edit.jpg

The Kucruts yang tampil berikutnya langsung disambut meriah oleh penonton. Tampaknya mereka datang dengan massanya sendiri, karena pada saat mereka bersiap untuk tampil, café yang tadinya cukup sepi dan pengunjungnya malu-malu untuk masuk ke tengah langsung penuh dan berdesakan. Penampilan mereka juga cukup unik, seperti sekumpulan anak SMIP dengan dasi hitam yang bermain campuran rock n roll ringan dan elektronik pop. Omo sang vokalis juga langsung menarik perhatian penonton dengan gayanya yang khas, didukung dengan kacamata hitam dan topi Union Boy berbentuk kucing, lambang The Kucruts. Penampilan langsung dibuka dengan lagu “Remaja Pesta”. Kemudian band asal Jakarta ini memainkan empat lagu lagi, termasuk yang sangat ditunggu-tunggu penonton “Cinta Waria”, dan lagu baru mereka “Dengkulku Masa Depanku”.

dsc_3794_edit.jpg

Setelah massa dihangatkan oleh penampilan kocak The Kucruts, band trip-hop Everybody Loves Irene seketika merubah suasana menjadi dingin dan sedikit kelam. Band yang baru saja meluncurkan albumnya “The Very First Thing You Must Learn About Flying is Gravity” itu adalah line up terbaru dari acara launching itu, karena sebelumnya mereka tidak dimasukkan ke daftar pengisi acara. Penampilan band yang terdiri dari Irene (vocal), Yudhi (gitar), Dimas (bass), Adi (drums), Aulia (synthesizer, sampler) dan Aji (keyboard) itu dibuka dengan cover lagu The Misfits “Hybrid Moments”. Kemudian mereka membawakan lagu hits Planet Bumi “Rindu” yang diaransemen ulang dengan nuansa trip-hop khas Everybody Loves Irene. Dilanjutkan dengan single mereka “Memento Mori” yang terdengar kelam, dan ditutup dengan lagu “Hate Sunday” yang rencananya akan menjadi single mereka berikutnya.

dsc_3923_acum.jpg

Band pembuka terakhir adalah band veteran asal Jokja, Bangkutaman. Timeout café pun menjadi semakin penuh dan penonton mendesak ke dekat panggung (walaupun sebetulnya tidak ada panggungnya hehe), dan hanya beberapa orang saja yang masih bisa duduk-duduk santai, karena sebagian besar lainnya berdiri di sepanjang café. Setelah dibuka dengan intro, Bangkutaman langsung membawakan lagu mereka “Trapped in the Middle”. Suasanapun makin memanas ketika mereka membawakan lagu hits The Stone Roses “Elephant Stone” (yang guitar version, bukan drum intro). Dan penampilan mereka malam itu ditutup dengan lagu dari The Who, “Substitute”. Sayang sekali mereka hanya membawakan empat lagu, karena sebagian besar penonton masih ingin mendengarkan lebih banyak lagu lagi dari mereka.

dsc_3967.jpg

Planet Bumi yang tampil pada puncak acara juga akhirnya hanya memainkan sebagian lagu dari set list yang aslinya karena keterbatasan waktu. Bahkan Bangkutaman yang dijadwalkan tampil pada pukul 20.30, baru tampil pada sekitar pukul 22.40. Kali ini Planet Bumi membawakan lagu mereka dari album terdahulu, “Rindu” yang juga sempat dibawakan Everbody Loves Irene malam itu. Setelah itu mereka membawakan lagu-lagu dari album terbaru mereka, “Working Class Zero” seperti “Jimmi Pemenang”, “Jumpa Lagi”, “Kau dan Aku”, serta “Bulan dan Bintang”. //410


art events//banjir puisi di stasiun

April 17, 2007

dsc_2702_edit.jpg

Banjir kembali melanda Jakarta. Kali ini Stasiun Gambir yang kena banjir. Namun bukan banjir yang membahayakan, malah banjir yang sangat positif, karena mengajak masyarakat umum untuk mencintai puisi. Pada Sabtu pagi, 17 Maret yang lalu, Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Jakarta bekerja sama dengan komunitas puisi online Bunga Matahari menggelar acara “Banjir Puisi di Stasiun!”.

Secara bergantian anggota dari komunitas puisi yang berawal dari mailing list itu membacakan karya puisi mereka. Masyarakat umum yang datang juga tidak mau kalah untuk ikut membacakan puisi mereka, mulai dari seniman, pengamen, hingga portir. Acara dimeriahkan dengan tampilnya Otak and Chair, kuartet yang memadukan puisi dengan iringan perkusi. //410


interview – otak and chair

April 16, 2007

Setelah setia menonton tiap penampilan Otak and Chair, bystanders merasa ’wajib’ untuk mewawancara kuartet puisi/perkusi itu. Berikut adalah hasil wawancara bystanders dengan Uga, walaupun sayangnya hanya via e-mail, karena sewaktu bertemu dengan keempat personilnya, bystanders malah terlena mendengarkan puisi-puisi mereka, haha..

Kenapa pertama kali idenya memadukan puisi ama perkusi?
Ide awal dari Acha. waktu itu thedyingsirens abis manggung, trus Acha menawarkan gue untuk membuat sebuah musikalisasi puisi. lalu ada usul dengan menggunakan perkusi saja. Tadinya mau berdua saja. tapi kebetulan waktu itu ada Aan dan Ichsan. Jadi ditariklah mereka untuk bermain perkusi juga. dan tidak ada diantara kita yang benar-benar bisa bermain perkusi! yang pasti ya asal pukul aja! Kekekekek

Pernah terpikir untuk memainkan alat perkusi lain selain djembe? atau alat musik lainnya mungkin?
Pernah. cuma mungkin secara bertahap. kita harus solid dulu berempat. Baru nanti bisa masuk instrumen lain. tadinya malah Ichsan main bass juga. Uga main synth juga. bahkan pake bag pipes. tapi itu semua masih wacana. kita lihat nanti saja. semua kemungkinan itu bisa terjadi di kemudian hari. yang baru terwujud kita feat teman baik kita Anya, foundernya bungamatahari. bawain puisi dia dan dia ikutan juga bawain manusia pertama di luar angkasa (subagio sastrowardoyo) di mix sama space oddity (david bowie). harap ditunggu kolaborasi lainnya!

Dapetin ide untuk bikin beat-beat perkusinya gimana?
Sejujurnya susah juga buat bikin beat-beat perkusinya. Apalagi kita cuma bener-bener djembe doang. untung ada 3. kalo cuma 1? Hehehe… sejauh ini saya selalu mengambil dari beat-beat musik yang saya dengarkan atau lihat lalu diterapkan di djembe. Tergantung dari puisinya juga. Mau modelnya gimana? Mau progresif…atau djembe berfungsi sebagai latar saja.

Oiya, yongkru yo’a yombre itu artinya apa ya?
Sebenernya itu gak ada artinya… Cuma supaya menarik aja judulnya hehehe.
Mungkin kalo jaman dahulu itu kata-kata yang ngetop itu “yongkru”, “yo’a”, dan “yombre”. Semuanya artinya tuh “iya”…atau “bener”… ya gitu.. anyway.. apalah artinya nama hehehe… cuma mau ngasih judul yang catchy aja. Sedangkan liriknya sendiri itu berisi ajaran-ajaran tentang kehidupan, bahwa kita harus selalu berusaha untuk menjalani hidup ini dengan benar, patuhi orang tua, kerjakan tugasmu, cari cewek yang bener, dan lain sebagainya.

Kenapa logonya monyet?
Sebenernya ini dari Acha. gue juga kurang tau analoginya. tapi kalo gue boleh sok tau, mungkin karena monyet adalah species yang paling deket sama monyet. Dan monyet itu termasuk binatang yang pintar selain lumba-lumba. Tadinya mau milih lumba-lumba, cuma karena beberapa personil ada yang gak bisa berenang, jadinya monyet aja. Kan monyet binatang darat..hehehe.

Terus kenapa headline myspace-nya “monyet aja bisa”?
Karena kami terinspirasi dengan monyet2x itu, mereka kalau berkumpul bisa membuat suara2x bising tapi bisa terdengar menjadi suatu komposisi. Komposisi monyet! begitulah otak and chair…membuat komposisi seperti kalau monyet lagi berkumpul…cuma masih kurang berisik sih…kalo terlalu berisik nanti orang jadi bingung kita mau menyampaikan apa…. pesannya nanti gak nyampe…. padahal pesan-pesan yang kita mau sampaikan….ya gak ada! Hahahaha

Apa tanggapan orang-orang mengenai otak and chair?
Ada yang bilang gila, ada yang bilang lucu, ada yang bilang kreatif, macem2x sih…ada yang bilang bagus..ada juga yang bilang jelek….yah namanya juga manusia…gak pernah puas…hahaha apaan sih?!

Sampe saat ini udah ada berapa komposisi?
Sampai saat ini dah ada 7 komposisi. Semuanya kita bawakan di acara printemps de poetes ccf-buma di stasiun gambir 17 maret 2007 kemaren. 7 komposisi itu termasuk puisi Anya dan Subagio Sastrowardoyo atau David Bowie.

Berencana untuk bikin EP?
Yup. Sudah dipikirkan. Harap ditunggu. Sedang dalam proses pengumpulan materi. Mudah-mudahan bisa diterima di masyarakat. Karena puisi perkusif seperti otak and chair ini belum banyak yang terdokumentasikan.

Harapan-harapan untuk otak and chair ke depannya apa?
Harapan muluknya bisa menjadi penghasilan sampingan bahkan tetap buat para personilnya! Hehehehe yah…. Semoga otak and chair bisa tetep ada dan bisa mengeluarkan komposisi-komposisi yang bisa dinikmati oleh semua orang.

//interview by 410//


INTRODUCING… OTAK AND CHAIR

April 16, 2007

1558265990_m.jpg

Perpaduan musik elektronik seorang DJ dengan rock yang penuh sabetan gitar? Itu sih biasa… Atau perpaduan metal sama orkestra? Haha… itu sih Metallica di album S&M atau band prog-rock lagi bereksplorasi dengan lagu berdurasi puluhan menit. Tapi kalau yang ini, baru perpaduan yang kreatif dan menarik, bahkan cenderung menggelitik.

Adalah Uga (thedyingsirens) dan Acha yang keduanya bergabung di komunitas puisi bunga matahari yang mendapatkan ide untuk membacakan puisi-puisi mereka dengan cara yang tidak biasa. Dengan mengajak Aan (drummer D’Zeek dan thedyingsirens) serta Ichsan (bassist D’Zeek), mereka membentuk kuartet yang memadukan pembacaan puisi dan permainan perkusi bernama Otak and Chair.

Keempat orang ini pertama kali tampil pada sebuah acara bernama Kebun Kata, acara pembacaan puisi yang digagas oleh Bunga Matahari di West Pacific. Setelah sempat lama tidak tampil di depan umum, Otak and Chair kembali tampil membuka peluncuran album Planet Bumi di Plaza Semanggi awal Maret lalu. Mereka membawakan empat komposisi mereka, termasuk salah satu yang dijagokan yaitu “Teman Baikku Mati Bunuh Diri”.

Otak and Chair kembali mengisi acara Bunga Matahari, yaitu saat “Banjir Puisi di Stasiun!”, kerja sama antara komunitas puisi online tersebut dengan Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Jakarta. Mereka membawakan dua komposisi untuk pembukaan dan dua lagi untuk penutupan acara. Selain membacakan puisi, mereka juga sempat berkolaborasi dengan salah satu pendiri Komunitas Bunga Matahari, Anya. Pada kesempatan itu Anya membacakan puisi karya Subagio Sastrowardoyo berjudul “Manusia Pertama di Luar Angkasa”, diiringi oleh perkusi oleh Acha, Aan, dan Ichsan. Sedangkan Uga, bergantian dengan Anya yang membaca puisi, menyanyikan lagu David Bowie yang berjudul “Space Oddity”.

 

//410