CURE ON SUNDAY

June 14, 2007


Tribute to The Cure, Brains Kafe, Kemang, Jakarta, 20 Mei 2007. Dengan semangat sebagai antisipasi kekecewaan kalau-kalau pada Agustus nanti The Cure yang asli tidak sempat menggelar konser di Singapura (dan tidak juga mampir ke Jakarta) maka tidak ada salahnya menghadiri acara tribute untuk band legendaris tersebut.

Di flyer tertera jumlah band yang mengisi acara ini, tidak tanggung-tanggung, 16 Band. Ternyata banyak juga band yang antusias membawakan lagu-lagu the Cure. Namun ternyata ada beberapa band yang akhirnya tidak bisa mengisi acara malam itu. thedyingsirens yang kabarnya akan membawakan lagu-lagu yang cukup ”langka” tidak jadi bermain karena Uga sakit liver sehingga harus bedrest sekitar sebulan lamanya. Sedangkan Clafty Elegy juga batal tampil karena salah satu personilnya berhalangan.

Hujan yang cukup lebat sore itu ternyata membuat acara terasa sangat sepi karena menghambat para penonton untuk hadir di awal waktu. Bahkan beberapa band pengisi di awal seperti Jude dan Cratty Fatty terpaksa bermain dengan penonton yang minim. Saat Guntingkuku membawakan ”Friday I’m in Love”, hanya seorang penikmat indie yang cukup eksis yang bisa berdansa mengikuti lagu ceria itu. Namun lagu-lagu lainnya terasa datar-datar saja seperti dalam ”Cut Here” ataupun dua lagu mereka sendiri yaitu ”Leisure Time” dan ”Say It Love” (di mana pada kedua lagu terakhir itu Denny pada vokal pindah ke posisi drum, dan drummernya menjadi salah satu pemain gitar bersama gitaris satunya lagi yang menggantikan Denny di vocal. Tapi entah karena tempat yang masih agak kosong atau memang karena permainan mereka yang cenderung biasa saja, Gunting Kuku tidak menampilkan sesuatu yang istimewa petang itu.

dsc_3919.jpg

Selanjutnya adalah Autoband yang hadir minus vokalis wanitanya. “Friday I’m in Love” dan “High” dibawakan dengan sedikit nuansa new-romantics ciri khas Autoband, serta lagu mereka sendiri Lantai Dansa. Rasanya band ini agak kurang pas me-remake lagu-lagu The Cure, jauh lebih berhasil ketika band ini mendaur ulang Human League atau Duran-Duran.

dsc_3982-autoband.jpg

Dear Nancy tampil berikutnya, dengan “berseragam” kaos garis-garis. Gitaris mereka, Alam Wijaya tidak dapat tampil pada hari itu, dan digantikan oleh gitaris C’mon Lennon, Hans. Dear Nancy juga membawa satu orang lagi additional player di bagian piano. “Close to Me”, “Treasure”, dan “Ordinary Friend” mereka bawakan dalam melodi folks-pop gaya Dear Nancy. Lagu “Ordinary Friend” sendiri rencananya akan dirilis dalam debut album Dear Nancy.

dsc_3992.jpg

Ballads of The Cliché tampil berikutnya, meneruskan atmosfer folk-pop yang sebelumnya dibangkitkan oleh Dear Nancy. Lagu yang pertama dibawakan malam itu, ”Heidy”, lebih merupakan promosi salah satu single dari album BOTC yang akan segera dirilis. Masih sebagai promosi album mereka, lagu lainnya “Feel Free to Feel Lost” menyusul dimainkan. Baru pada lagu ketiga, lagu The Cure dibawakan, “Just Like Heaven”, dan kalau anda sempat hadir di acara We Are Pop pastinya pernah melihat BOTC memainkannya. Kali ini dengan permainan yang lebih rapi tentunya. Trust dipermak oleh BOTC menjadi lebih mirip lagu yang ceria. Agak lucu juga ketika lagu yang aslinya galau berubah jadi lagu ceria. Kira-kira apa ya reaksi Robert Smith jika mendengarkan lagu versi BOTC ini? Seorang teman sempat berucap bahwa menurutnya Trust versi BOTC jauh lebih bagus daripada versi Homogenic. Sebagai penutup, BOTC membawakan lagu “Mint Car” yang beat-nya sangat ceria, namun sayang Bobby masih kurang menguasai lagu tersebut sehingga lagu yang menyenangkan itu terasa kurang greget-nya. Tapi secara keseluruhan, penonton cukup terhibur dengan penampilan atraktif mereka malam itu.

dsc_4104.jpg

Suasana mulai sedikit mendingin saat The Fellow naik ke atas panggung. Penampilan mereka bisa dibilang cukup biasa malam itu, tidak seperti saat Manchester Get Mad dua minggu sebelumnya. Untungnya vokalis mereka, Aryo, dapat menghangatkan atmosfer di sekitar panggung dengan mengajak sejumlah orang yang hadir untuk bernyanyi bersama. Membawakan lagu The Cure seperti “Play For Today” dan “Boys Don’t Cry”, mereka sepertinya sangat menikmati penampilan mereka.

dsc_4127-the-fellow.jpg

Fill n Feel tampil dengan vokalis yang bertata-rias paling mirip Robert Smith malam itu. Lengkap dengan sweater hitam kebesaran dan heavy dark mascara, vokalis mereka berhasil mencuri perhatian penonton yang datang. Fascination Streets yang dibawakan sebagai pembuka, bisa dibilang cukup menakjubkan. Tapi jutru sangat drop ketika membawakan Just Like Heaven dan Trust. Terlalu mengikuti versi lagu aslinya. Apalagi saat membawakan lagu ”Trust”, saat gitarisnya yang gitarnya mirip punya Noel (Gallagher) itu mendapat kehormatan untuk memainkan pianonya, terlihat sekali ia berusaha keras untuk mengingat not-not selanjutnya. Tapi attitude vokalisnya memang sepertinya menghayati sekali, karena ia sempat stage dive di satu kesempatan, dan duduk-duduk saja sambil merokok pada kesempatan lainnya.

dsc_4141.jpg

Planetbumi naik panggung berikutnya. Sedikit kejutan ketika Bagus (Room V) tampil mengisi vokal Planet Bumi, menggantikan Nyoman. ”A Night Like This” dihadirkan sebagai lagu pembuka. Lagu selanjutnya adalah lagu lawas planetbumi sendiri, Awan, dan Suci pun menyusul kemudian. Single The Cure lain yang dimainkan adalah A Forest. Permainan yang cukup rapi. Pada kesempatan tersebut planetbumi juga memperkenalkan drummer baru mereka, yang namanya sama dengan gitarisnya, Helmi. Sempat juga ada ‘solo session’ dari Helmi, yang menggantikan drummer sebelumnya, Yudi.

dsc_4238.jpg

Selanjutnya penonton disuguhkan dengan penampilan yang sangat menghibur dari The Kuctruts. Sebelum mulai Heri Purnomo aka Omokucrut tampil ke depan panggung sambil meledakkan kantung balon ulang tahun, disambut gelak tawa para penonton. Lumayan kocak dan tentunya menghibur, mengingat penampilan band-band sebelumnya cenderung tampil serius. Seluruh personel The Kucruts sendiri tampil dengan visor plus lampu. Lebih keren dari visor Goodnight Electric.

”Walaupun ini acara Tribute to The Cure, The Kucruts tidak akan membawakan lagu-lagu The Cure kayak yang The Cure maenin. Karena The Kucruts bukan The Cure, karena kami bukan mereka”, ujar omo kucrut sebelum memainkan lagu Bukan Mereka. ”Kami bukan Robert Smith, lalala…” ”A Forest” dibawakan oleh The Kucrut dengan beat disko ala The Upstairs. “Cinta Waria”, lagu andalah The Kucruts menyusul kemudian. Yang agak mengejutkan ketika “Killing An Arab” dimainkan sebagai lagu penutup apalagi ditambah dengan atraksi omokucrut menari-nari seperti tari ular di depan panggung. Penonton pun tertawa-tawa. Yang pasti penonton sangat terhibur oleh The Kucruts, entah oleh lagu-lagu yang mereka mainkan atau lebih karena atraksi panggung yang jenaka. Omo kembali meletuskan satu balon sebelum pamit turun panggung.

dsc_3436-kucruts.jpg

Penampilan band Dikeroyok Wanita yang tampil berikutnya sempat terhambat karena pedal drumnya bermasalah. Akhirnya penonton dibiarkan menunggu sekitar setengah jam hingga akhirnya datang pedal drum pengganti. Untunglah vokalis mereka Inyo, sudah biasa menjadi MC. Sehingga jeda waktu yang ada tidak terlalu kosong, walaupun jokes yang dilontarkan cukup garing hehe. Tapi memang penampilan drummer DW malam itu sangat mengesankan. Energinya seperti orang yang habis minum obat kuat, dalam konotasi yang positif, tentunya. Lagu hits mereka “Yes We Are Boyo” (buaya darat mungkin, maksudnya? –red) dibawakan sebagai lagu pembuka. Kemudian ada juga lagu “Primary” dan “The Hanging Garden” milik The Cure yang dibawakan dengan versi sedikit post-punk. Bahkan pada lagu terakhir terjadi yang Bystanders anggap sebagai ‘penganiayaan terhadap drum’, karena drummer DW membawakan lagu tersebut dengan sangat bersemangat, dengan permainan drum yang tidak biasa. Empat lagu usai mereka bawakan, dan keempat personil DW sepertinya puas dengan penampilan mereka malam itu. Memang, dengan baju hitam-merah, sepertinya memang mereka lebih pas untuk membawakan lagu-lagu Devo. Tinggal tambahkan saja topi piramida itu. Namun penampilan mereka kali itu setidaknya cukup atraktif dan memuaskan.

dsc_3558.jpg

Ekspektasi berlebihan Bystanders ternyata berujung kekecewaan ketika Lipgloss bermain malam itu. Permainan yang tidak sesuai harapan. Nama Lipgloss yang sudah saya dengar lebih lama sebelumya ternyata tidak berimbas kepada kematangan kualitas musik mereka malam itu. “A Letter to Elise” yang mereka bawakan sebagai lagu pembuka, lebih terbantu karena banyak penonton yang suka lagu tersebut dan bukannya karena dimainkan secara apik oleh Lipgloss. Begitu pula ketika mereka memainkan “Why Cant I Be You”, atau lagu sendiri “Atas Namamu”. Sekedar penampilan yang biasa saja sebagai salah satu band yang terbilang cukup lama malang-melintang di scene indie. Namun penampilan mereka cukup kreatif saat vokalis mereka membawakan beberapa lagu dengan menggunakan toa, didukung dengan vocal yang cukup baik dan penampilan yang cukup atraktif tentunya.

dsc_3659.jpg

Salah satu band yang paling ditunggu-tunggu malam itu, Room V, hadir kemudian. Band lawas ini memang dulu terkenal jagonya dalam membawakan lagu-lagu The Cure. Sayangnya Bin tidak menyanyi malam itu dan hanya bermain bass sementara posisi vokalis diisi oleh Bagus yang pada penampilan sebelumnya juga menyanyi untuk Planet Bumi. Kali ini Bagus tampil dengan make-up ala Robert Smith. dengan cardigan hitam, serta mascara dan lipstick berwarna hitam. Lalu ada pula gitaris planetbumi Helmi yang ikut membantu mereka di drum. Room V sukses membawakan empat lagu The Cure yang cukup awam di telinga penonton sore itu seperti Love Song (yang dibawakan secara akustik), Boys Dont Cry, In Between Days, A Letter to Elise, Pleasure, dan Just Like Heaven. Lumayan untuk sekedar nostalgia.

dsc_3703.jpg

Goodnight Electric tampil sebagai penutup. Mayoritas penonton mungkin hadir untuk melihat trio yang satu ini. Sejumlah atribut Good.Friends terlihat di antara penonton, mungkin juga lebih banyak good.friends nya daripada yang benar-benar mau lihat tribute to the cure.

Tanpa banyak berbasa-basi GE memainkan Hello yang kini dijadikan intro resmi untuk promosi album mereka yang terbaru. Sayangnya sound synthetizer Bondi bermasalah dan suaranya agak tidak keluar. Kemudian tigal lagu mereka dibawakan, mulai dari “Solid Gold”, “This is For You”, dan “Versus”. Sejumlah penonton yang hadir untuk acara tribute pun langsung kecewa, karena GE lebih banyak membawakan lagu mereka sendiri daripada lagu The Cure. Baru pada lagu keempat, “The Walk”, GE membawakan lagu The Cure yang sudah diaransemen ulang oleh GE dalam beat disco-techno delapan puluhan. Kemudian Batman memanggil omokucrut ke atas panggung untuk berduet dalam lagu “A Forest”

Tidak tahu kenapa, malam itu banyak sekali band yang membawakan “A Forest”. Mungkin mereka kira lagu ini cukup jarang dibawakan, sehingga mereka memainkan lagu itu. Sayang, ternyata sebagian besar dari mereka berpikiran hal yang sama. Atau mungkin juga karena adanya pohon imitasi berukuran cukup besar di pojok kiri café, tempat para reporter Bystanders dan sejumlah teman lainnya berkumpul, haha.

Sayangnya GE tidak membawakan “Lovesong” yang dulu pernah mereka mainkan di Thusrday Riot. Tapi apa mau dikata, pertunjukkan malam itu tetap harus berakhir. Sayangnya dengan antiklimaks. //review by yearry , 410//photo by 410


cd review//air//pocket symphony

June 14, 2007

airpocketsymphony.jpg

AIR
POCKET SYMPHONY
2007 // Virgin Music/EMI Music France

French Duo, Jean-Benoit Dunckel dan Nicolas Godin atau yang dikenal dengan AIR, kembali hadir dengan album Pocket Symphony. Album ini adalah album studio keempat mereka setelah Moon Safari, 10,000Hz Legend, dan terakhir Talkie Walkie di tahun 2004 yang lalu.

Sesuai dengan judul albumnya, mendengarkan Pocket Symphony ini seakan mendengarkan simfoni dalam sebuah kaset atau CD. Sebuah simfoni yang sederhana sehingga seakan-akan dapat dimasukkan ke dalam saku. That’s why they named the album (as a) ‘pocket symphony’.

Nicolas Godin berkomentar tentang album baru mereka,“We wanted to have this idea of the album literally as a pocket symphony so you imagine you’re going into the opera and the lights go down and then this starts”

AIR menawarkan sesuatu yang berbeda dari album-album sebelumnya yaitu eksplorasi musik yang bernuansa oriental dengan memainkan instrumen musik klasik Jepang, Samisen dan Koto. Tidak percuma Nicolas Godin berguru selama satu tahun kepada Shoko, guru instrumen klasik Jepang di Okinawa. Meskipun demikian suara dari instrumen musik konvensional masih terasa mendominasi dalam musik AIR.

Dalam album ini AIR masih bekerjasama dengan produser Nigel Godrich. AIR juga berkolaborasi dengan mantan vokalis Pulp, Jarvis Cocker yang menulis dan menyanyikan satu lagu berjudul One Hell Of A Party, serta Neil Hannon dari Divine Comedy yang mengisi vokal pada lagu Somewhere Between Waking And Sleeping.

AIR kali ini juga banyak memainkan musik instrumental, semisal pada lagu Space Maker, Mayfair Song, Lost Message dan Night Sight. Pada lagu terakhir ini JB Dunckel memainkan rodhes dan synthesizer secara solo.

Once Upon a Time ditawarkan sebagai single pertama dalam album ini. Mendengarkan lagu ini sekilas mengingatkan akan lagu Cherry Blossom Girl atau Playground Love.

Sementara lagu lainnya, Napalm Love, Photograph, Mer Du Japon, Redhead Girl, masih didominasi oleh vokal JB Dunckel, sementara Nicolas Godin hanya mengisi vokal pada lagu Left Bank.

Satu lagu,  Mer Du Japon dinyanyikan dengan lirik berbahasa Perancis hanya dalam satu kalimat “Je perds la raison dans la mer du Japon”. I lost my mind in the sea of Japan. Just one simple line.

Mayoritas lagu dalam Pocket Symphony dibawakan dalam down-tempo, hanya dua tiga lagu yang masuk kategori medium beat . Sekilas sedikit mengingatkan akan album Moon Safari. Nicolas Godin sendiri sempat berujar  “We decided to go back to the soundtrack music-style, with more instrumentals and less songs.”

Walaupun begitu secara keseluruhan musikalitas dalam album ini terasa variatif dan tidak monoton, meskipun ciri khas AIR masih cukup terasa di dalam eksplorasi musik mereka. Sedikit kritikan adalah album ini terasa tidak serumit album-album mereka sebelumnya. Jadi, jika Anda mengharapkan musik yang sophisticated dari AIR maka Anda akan kecewa.

Bagi yang tidak cukup akrab dengan musik AIR mungkin akan agak kesulitan untuk mencerna album Pocket Symphony karena memang musik yang ditawarkan bisa dibilang tidak “ear catchy”. Tapi bagi yang telah mengenal AIR, album ini masuk dalam kategori wajib untuk dikoleksi.

Sebagai info tambahan, album AIR ini hadir dalam format CD dengan teknologi Opendisc. CD Pocket Symphony ini dapat dijadikan akses khusus melalui www.pocket-symphony.com. Dalam situs tersebut terdapat beberapa fitur istimewa dari AIR serta beberapa bonus tracks.//yearry


gig review // goodnight electric album launch

April 13, 2007

dsc_3419_ge.jpg

Trio Electro dari Jakarta, Goodnight Electric meluncurkan album baru mereka yang berjudul “Electroduce Yourself” di Embassy, Jakarta pada Rabu 21 Maret 2007 lalu. Album kedua mereka kini di bawah naungan label Aksara Record.

Diawali dengan press conference yang dipandu oleh David Tarigan personel GE (Batman, Oomleo, dan Bondi) didampingi Hanin Sidharta selaku pihak label Aksara Record menjawab sejumlah pertanyaan dari para wartawan dan penggemar Goodnight Electric sendiri. Dalam Press conference yang dimulai sekitar pukul 5 sore GE menjelaskan tentang album kedua mereka ini dan segala hal yang berkaitan dengan acara launching tersebut. Press conference diakhiri dengan penayangan perdana videoklip Laser Gun Electro, single pertama dari album tersebut yang disutradarai oleh Anggun Priambodo.

Show sendiri dimulai sekitar pukul enam. Polypony hadir sebagai opening act. Dengan formasi duo vokalis wanita (Hedytia dan Anna Karina) dan seorang DJ (MRDR) Polypony coba menampilkan musik disco ringan. Sejumlah lagu yang dibawakan sayangnya lebih mirip pertunjukan karaoke. Bisa dibilang kehadiran Polypony sebagai pertunjukkan pembuka bagi GE terlalu dipaksakan.

Goodnight electric selanjutnya tampil. Sekedar formalitas, Batman mengucapkan kata-kata terima kasih dan seterusnya dan memperkenalkan lagu baru dari album kedua mereka. Hello mengawali pertunjukkan GE. Lagu ini lebih terasa sebagai intro konser mereka malam itu. Sayangnya karena mayoritas penonton belum ada yang mengenal materi lagu maka antusiasme penonton belum terlihat.

#1 dipilih sebagai lagu kedua. Lagu ini ditujukan bagi Good Friends (fans club GE) dan orang-orang yang selama ini mensuport GE. “Karena kalian adalah #1”, ujar Batman sebelum mulai menyanyikan lagu tersebut. Penonton masih terbengong karena belum kenal dengan lagu yang dibawakan. Begitu juga ketika lagu ketiga, Interval dimainkan.

dsc_3380_bondi.jpg

Art School Flying Object, lagu ciptaan Bondi Goodboy dimainkan kemudian. Dilanjutkan dengan Rain in My Room, This Is For You, Automatic Heart, dan Super Visor Go. Para penonton masih dalam suasana yang setengah ikut menikmati dan setengahnya lagi mencoba mencerna musik yang dibawakan oleh GE dari album kedua mereka ini. Kecuali dalam beberapa lagu, sound dan aransemen musik yang dimainkan GE dalam album barunya terasa sangat berbeda dengan lagu-lagu yang biasa dimainkan dari album pertama. Sedikit terasa lebih berat bagi telinga para ABG yang hadir sebagai penonton mayoritas malam itu.

 

Hal ini mencapai klimaksnya ketika lagu karya Oomleo, I’m OK dimainkan. Aransemen yang cukup mengejutkan bahwa GE ternyata banyak membawa perbedaan dalam album keduanya ini. Sempat terdengar celetukan diantara penonton, “kok GE sekarang beda banget ya?”. Penonton cukup terhibur ketika di sela-sela lagu personel GE membagi-bagikan kaos serta kaset Electroduce Yourself.

dsc_3421.jpg

“Mungkin kalian sudah ada yang pernah dengar lagu ini, karena sering kita mainkan di beberapa kesempatan. Judulnya Solid Gold,” Batman menjelaskan. Antusiasme penonton baru terlihat di sini karena lagu tersebut terbilang sudah cukup sering dimainkan di live performance GE sehingga mereka cukup familiar dengan lagu ini. Lagu terakhir di sesi pertama, GE kemudian turun panggung. Tidak terdengar suara-suara “we want more” dari penonton. Sepertinya penonton cukup yakin bahwa pertunjukkan belum berakhir dan GE akan naik panggung lagi.

Prediksi penonton cukup tepat, GE naik panggung lagi setelah ganti kostum. Sesi kedua dimulai dengan Love and Turbo Action, penonton secara serempak mengangkat tangan kanan mereka ke atas (bergaya seperti hormat ala Hitler). Penonton makin antusias ketika T.E.C.H.N.O>LOGY dimainkan dan terdengar mereka bernyanyi bersama.

Laser Gun Electro Boy single utama album Electroduce Yourself dimainkan selanjutnya. Lagu tersebut cukup sering disiarkan melalui radio-radio di Jakarta sehingga sudah cukup akrab di telinga para penonton. menyusul kemudian Supermarket I am in dari album pertama dibawakan dalam versi remix.

dsc_3377_batman.jpg

Pertunjukkan mencapai klimaksnya ketika lagu Versus dimainkan. Lagu tersebut juga menjadi lagu penutup pada konser launching album GE malam itu. Riuh tepuk tangan penonton mengakhiri pertunjukkan GE. Secara umum pertunjukkan malam itu bisa dibilang cukup lumayan walaupun terkesan datar-datar saja tanpa unsur kejutan yang berarti.

Penonton membubarkan diri, sebagian lagi menunggu after party bersama DJ Hogi dan sejumlah teman dekat mereka. //pix/410//words/yearry//

dsc_3358.jpg


gig review // Soundshine 2007

April 13, 2007

sondre.jpg

Musik Indonesia kembali diserang bangsa Skandinavia. Setelah sukses menggelar Soundshine 2006 dengan mendatangkan duo fenomenal Kings Of Convenience tahun lalu, Popcycle dan Dunhill kembali menggebrak Jakarta dan Bandung dengan mendatangkan Club 8 dan Sondre Lerche and The Faces Down.

>> Jakarta // 10 Maret 2007

dsc_1876_rissa-horizontal.jpg

Soundshine 2007 di Jakarta dimulai sekitar pukul 18.00. Tak lama setelah open gate, Homogenic muncul sebagai band pertama. Berbeda dengan set yang biasa dimainkan, kali ini Homogenic membawa serta additional players: pemain bass dan drummer. Alhasil beat drum machine yang biasa terdengar dalam versi “electronica” dalam lagu/live versi mereka kini lebih terasa real. Begitu juga sound bass yang ditampilkan melalui live player.

Selain itu, penampilan Homogenic malam itu terasa lebih ’ceria’, beberapa lagunya sepertinya sengaja diaransemen ulang khusus untuk Soundshine. Dibuka dengan intro, vokalis Rissa Saraswati lalu masuk ke panggung dengan menyanyikan single Utopia. Menyusul kemudian adalah Giutar Song, Semu, Walk in Silence, Taste of Harmony, dan ditutup oleh lagu Untukmu Duniaku. Secara umum tidak ada yang terlalu istimewa dari aksi Homogenic malam itu. Sekedar perbandingan, live mereka di Les Voila final edition plus dancer dan kostum era 50-an agaknya masih lebih baik.

sore1.jpg

Selanjutnya penampilan dari Sore. Agak mengejutkan ketika Sore membawa tiga orang backing vokal serta tiga pemain brass section. Dan benar saja totalitas permainan Sore malam tersebut cukup terlihat. Sejumlah nomor yang dibawakan oleh Sore adalah dari album Centralismo serta soundtrack Berbagi Suami. Satu lagu berjudul Essensimo ‘bocoran’ dari album kedua mereka juga dimainkan. Aksi Sore ditutup dengan lagu No Fruits for Today.

dsc_2110_edit_crop.jpg

Club 8 hadir setelah itu. Disambut antusiasme penonton mereka langsung memainkan The Next Step You’ll Take sebagai lagu pembuka. Sayangnya penampilan Club 8 kali ini tidak didukung dengan sound yang baik. Beberapa penonton bahkan kecewa karena feedback terjadi belasan kali. Terlihat beberapa kali personel club8 meminta agar kru mengecek ulang sound. Bahkan Karolina sempat berbicara kepada penoton bahwa dia tidak bisa mendengar suaranya sendiri saat dia bernyanyi. “But it doesn’t matter if you still can hear my voice when I’m singing”, ujarnya sedikit menghibur.

Berbeda dengan penampilan Kings of Convenience tahun lalu yang tampil akustik dan penampilan Edson pada LA Lights Indiefest yang serba minimalis, Club 8 malam itu hadir dalam format band. Selain Karolina dan suami, club8 juga membawa seorang gitaris, bassis, dan drummer. Mereka cukup interaktif dengan para penonton. Bahkan mereka cukup terkejut ketika beberapa single dari album yang tidak beredar di Indonesia tapi sebagian besar penonton justru hafal liriknya dan menyanyi bersama. “you almost make me cry” kata Karolina. Tiga lagu baru dimainkan malam itu. Menurut mereka lagu-lagu tersebut belum pernah dimainkan dihadapan penonton, dan baru saja selesai ditulis beberapa minggu yang lalu. Rencananya lagu-lagu tersebut akan dimasukkan ke dalam album baru yang sedang mereka garap, dan akan rilis September nanti.

dsc_2349_edit_crop.jpg

Sondre Lerche and The Faces Down yang menjadi penutup rangkaian acara malam itu langsung tampil menghentak. Bahkan baru memasuki lagu kedua, senar gitar Sondre Lerche sudah putus, namun mereka tetap bersemangat meneruskan lagu-lagu mereka. Sejumlah lagu dari album terbaru mereka, ”Phantom Punch” mendominasi pnampilan mereka. Beberapa lagu juga sempat dibawakan secara akustik (solo), seperti ”(I Wanna) Call It Love”, ”Happy Birthday Girl”, dan lagu dari Prefab Sprout berjudul ”L.I.M.O.G.E.S.”

Lagu hits mereka ”Two Way Monologue” dibawakan dengan tempo yang cukup menghentak, dengan sound yang sangat baik. Sound EP yang khas pada lagu itupun digantikan dengan permainan gitar, namun tetap terdengar manis. Lagu dari album berjudul sama itu juga dijadikan penutup penampilan mereka yang sekaligus menutup acara Soundshine 2007 di Jakarta. //pix/410//words/yearry/410//

>> Bandung, 11 March 2007

Band pertama yang didaulat membuka Soundshine 2007 yang digelar di Sabuga adalah Sore. Dengan membawa seorang additional saxophonist, mereka tampil spesial malam itu. Lagu pertama yang dibawakan adalah “Funk The Hole“ dari Janji Joni. Lalu dilanjutkan “Mata berdebu“ yang makin hangat dengan ditambahnya unsur saxophone dan ditutup dengan sebuah lagu yang jarang mereka bawakan yaitu “Lihat“. Tujuh buah lagu mereka mainkan malam itu dan mereka juga membawakan sebuah lagu dari upcoming album mereka.

Setelah Sore tampil memukau, dilanjutkan dengan Homogenic yang tampil dengan format full band dengan additional drum dan bass. Penampilan Homogenic dimulai dengan Intro yang biasa mereka bawakan saat live dan seperti biasa mereka selalu menggunakan outfit yang eye-catching. Malam itu mereka mengenakan semacam jaket tahun 60-an era Twiggy Lawson dengan perpaduan antara putih dan hijau toska.

Lagu-lagu yang mereka bawakan diarrange ulang, diretouch menjadi lebih ‘ceria’. Mungkin untuk menyesuaikan dengan nuansa ceria yang akan ditampilkan dua band utama. Mereka juga menggunakan additional dancers pada lagu “Walk In Silence” dan lagu penutup “Untukmu Duniaku”. Dan seorang mime yang tampil cukup menarik pada lagu “Taste Of Harmony”.

Akhirnya setelah jeda waktu yang hampir sama dengan sebelumnya, band yang ditunggu-tunggu tampil ke atas panggung dengan dipimpin Johan Angergard dan tiga additonal players mereka (Lead Guitars, Bass, dan Drums) lalu disusul Karolina Komstedt yang malam itu tampil sederhana tetapi sangat manis dan girly.

Mereka banyak membawakan lagu-lagu dari album Strangely Beautiful, dan di tiap lagunya selalu memancing audiens untuk ikut bernyanyi bersama mereka.

Pada malam itu mereka juga berkolaborasi dengan Mocca (for the very first time they actually meet in person!) dalam lagu “I Will Never” dan “Love In December”.

Atmosfer hangat mereka hantarkan pada penonton melalui musik smooth dan suara Karolina yang lembut dan khas bahkan terkesan pemalu. Pada Encore mereka akhirnya membawakan request penonton yaitu “Missing You” dengan versi akustik yang sangat slow.

Sekitar pukul 11.00 akhirnya Sondre Lerche dan tim Faces Down-nya yang berjumlah 3 orang menghentak dengan lagu dari album terbarunya “Phantom Punch”. Malam itu mereka banyak membawakan lagu-lagu dari Phantom Punch dan banyak dari penonton yang tidak ‘paham’ dengan lagu-lagu yang mereka bawakan sehingga mereka mendapat sambutan yang kurang menyenangkan dari penonton. Namun, penonton terhibur dengan aksi panggung mereka yang atraktif dengan kemampuan bermusik yang baik.

Sondre Lerche & The Faces Down juga membawakan lagu “Minor Detail” dari album “Duper Session”. Lagu “Two Way Monologue” dimainkan secara akustik tanpa drum pada encore. Sondre juga sempat mengcover lagu dari salah satu band inggris era 90-an Prefab Sprout secara solo. Total 19 lagu mereka bawakan malam itu sekaligus menutup Sounshine 2007 di Bandung. //arvidson