bystanders

see you at the gigs!


Leave a comment

Bekasi Jazz Festival 2011

It’s two weeks before Bekasi Jazz Festival will held on 8-9 october 2011. The things that makes the gigs interesting was there will be several performances from well known nu jazz artist like, Mark De Clive Lowe, Sy Smith, Kyoto Jazz Massive.

If you are wondering for detail rundown, here are the final list:
Saturday, 8 October 2011
M.Y.M.P
TEN2FIVE
Barry Likumahuwa Project
Yovie Widianto Fusion
Galaxy Big Band
Ireng Maulana
LOGIC (Aussie) Ft. Y2K Sweet Voices
Indonesian Youth Regeneration
Idang Rasjidi Syndicate
Endah N Rhesa
Indro Hardjodikoro & The Fingers
YJC project Tribute to Legend

Sunday, 9 October 2011
Maliq n D’essentials
Kyoto Jazz Massive LIVE P.A Feat. Tasita D’Mour
RAN
ESQI:EF (Syaharani & The Queenfireworks)
Y2K BigBand
Monita Tahalea
Mark de Clive Lowe (MdCL) & Sy Smith (live)
Nania
Kunto Aji
Benny Likumahuwa
Cendy Luntungan
Tesa Idol
Dira Sugandi
Calvin Jeremy
Gugun Blues Shelter

Advertisements


Leave a comment

Konser ‘Sang Legenda’ Ian Brown dan Kula Shaker di Jakarta

Ian Brown ©satria ramadhan http://satriaramadhan.multiply.com

Akhirnya sang legenda Madchester, Ian Brown, mantan vokalis The Stone Roses datang juga ke Jakarta, Jumat 6 Agustus 2010. Tampil berbagi panggung dengan Ian Brown adalah Kula Shaker, band britpop/psycadelic dari Inggris yang juga sudah dinanti-nantikan oleh banyak penggemar mereka sejak era MTV Alternative Nations dahulu.

Pertunjukkan yang digelar secara outdoor di Lapangan Basket ABC Senayan ini memang agak menyiksa penonton di Jakarta yang terbiasa menyaksikan konser secara indoor. Hujan yang mengguyur sejak sore harinya mengakibatkan sebagian penonton berbasah-basahan sebelum konser mulai.

Open gate sejak pukul delapan malam, tapi Kula Shaker sebagai penampil pertama baru naik panggung sekitar jam setengah sepuluh. Dimulai dengan intro musik dan vokal ala India, keempat personel Kulashaker naik panggung diiringi tepuk tangan penonton. Tanpa banyak berbicara, mereka langsung menggebrak dengan lagu pertama, Sound of Drums. Seluruh penonton serta merta ikut bernyanyi bersama.

Kulashaker ©yanti setia

Under The Hammer, lagu B-side dari single Hush dimainkan sebagai lagu kedua. Lagu Grateful When You’re Dead dan Out on the Highway menyusul dimainkan kemudian. Diselingi dengan sejumlah sapaan seperti “Hello Jakarta” dan “Thank You” sepertinya mereka lebih asik bermusik daripada banyak berkomunikasi dengan penonton. Penampilan mereka di panggung memang dapat dibilang sangat atraktif, dengan sekali dua kali Crispian Mills melakukan aksi lempar gitar dan untungnya berhasil ditangkap kembali.

Dua lagu baru dari album teranyar mereka, Pilgrims Progress juga dimainkan malam itu. Peter Pan RIP (Mills sempat berujar bahwa ”this is not a song about that porn-star” merujuk kepada skandal video Ariel Peter Pan), dan juga lagu Modern Blues. Hanya terlihat sebagian kecil saja penonton yang hafal dan ikut bernyanyi di kedua lagu tersebut.

kulashaker ©irawan prayoga

Temple of Everlasting Light, 303 dan Shower Your Love dibawakan berikutnya. Ketika lagu Mystical Machine Gun dibawakan, terlihat penonton lebih familiar dengan lagu-lagu tersebut dan lebih antusias. Apalagi ketika Hey Dude dimainkan kemudian.

Selanjutnya, Mills terdengar seperti merapal syair dan doa dalam bahasa India ”acintya bheda bheda tattva”. Dilengkapi dengan backscreen yang menampilkan icon-icon dan visualisasi ala Hindustan, penonton langsung bisa menebak lagu selanjutnya: Tattva.

Massa makin ”menggila” ketika Kula Shaker memainkan cover version lagu milik Deep Purple, Hush. Wajah-wajah penonton yang sebagian besar sudah mendekati atau bahkan melewati usia 30an tidak menjadi halangan bagi mereka untuk berjingkrak-jingkrakan.

Song of Love dan True Love dimainkan di urutan selanjutnya. Hingga pada akhirnya, Kulahsaker memainkan lagu pamungkas milik mereka, Govinda. Terdengar koor dari penonton seiring lagu” Govinda Jaya Jaya Gopala Jaya Jaya Radha-Ramana Hari Govinda Jaya Jaya” dilengkapi dengan visualisasi Dewa Krishna, dan akhirnya menutup penampilan Kula Shaker malam itu.

Jeda sekitar 20 menit menunggu kru membereskan alat dan menset-nya di atas panggung.

Ian Brown tampil beserta anggota lainnya, dengan format full-band. Semua penonton berdiri seakan memberikan ”standing ovation” kepada Sang Legenda Britpop tersebut. Langsung saja, Ian membawakan lagu I Wanna be Adored milik mantan bandnya dahulu The Stone Roses.

I wanna be adored…. you adore me…..” semua penonton bernyanyi bersama Ian Brown.

Tampil dengan ciri khasnya, berjaket sport Adidas, usia tua tidak menghilangkan gaya energik dari Ian Brwon. Aksinya yang tidak pernah diam di atas panggung, seakan mengajak penonton untuk ”berajojing” malam itu.

Time, Crowning, Golden Gaze,Fountain, Dolphins, Save Us, K.W.Y.G, Vanity Kills, Own Brain, Corpses, Longsight M13, Marathon Man. Sister Rose, dan terakhir F.E.A.R, merupakan lagu-lagu yang dibawakan oleh Ian malam itu. Lebih banyak dari koleksi solo karirnya. Setelah encore, Ian dan kawan-kawan kembali naek ke panggung. Membawakan dua lagu lainnya, Stellify dan Just Like You.

Ian Brown ©satria ramadhan http://satriaramadhan.multiply.com

Setelah itu, Ian bertanya kepada penonton “is there any song you want to request?” penonton pun sontak meneriakkan beberapa judul lagu milik The Stone Roses. Dan lagu yang terpilih adalah Fools Gold. Dan sekaligus menutup kemeriahan malam itu.

Penonton tersenyum puas dan beriringan membubarkan diri. Sebagian lagi masih takjub tidak menyangka berkesempatan menonton idola mereka konser di depan mata. (yearry)


Leave a comment

Aksi Cut Copy di Bengkel Night Park

©iloveglam/rottenfresh

Band synth-pop asal Australia, Cut Copy berhasil menghibur penonton Jakarta. Pada konser yang diselenggarakan oleh Ismaya Live di Bengkel Night Park Jakarta pada 10 Juli 2010 ini, seakan membawa crowd untuk menikmati suasana “dance”.

Dibuka oleh dua band synthpop lokal, RNRM dan Agrikulture, pertunjukkan malam itu sebenarnya berjalan agak membosankan di awalnya. Penonton terlihat masih agak sepi ketika penampilan pertama dari RNRM sudah dimulai. Alhasil penampilan apik dari RNRM tidak terlalu antusias disambut oleh massa.

RNRM sendiri masih membawakan sejumlah lagu dari album kedua mereka Outbox. Hopes, dibawakan kedua setelah intro. Diselingi beberapa lagu baru dari materi album yang rencananya akan rilis dua tiga bulan ke depan. Lagu lainnya, Questions, dan di lagu terakhir Nyanya ikut tampil menyanyikan lagu Zsa Zsa Zsu.

©iloveglam/rottenfresh

Selanjutnya hadir Agrikulture. Tampil dengan format live band, Agrikulture sedikit lebih menghibur dan atraktif dari sebelumnya. Diiringi oleh aksi kocak dari Fandy sang vokalis, mereka berhasil menarik perhatian dari penonton.

Mereka membawakan lagu-lagu lama dari album debut mereka. Dimulai dengan Electrify, dilanjut dengan Gosip, Kompor Meledug, dan Underground Trash. Yang unik adalah ketika mereka menyelipkan cuplikan lagu Smells Like Teen Spirit dari Nirvana, Light My Fire-nya The Doors, serta memainkan lagu Unbelieveable dari EMF.

Setelah Agrikulture turun panggung, ada jeda agak lama. Nampaknya check sound dan setting alat-alat milik Cut Copy membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Setelah hampir menungugu setengah jam, akhirnya keempat personel Cut Copy muncul ke depan panggung diiringi histeria penonton.

Cut Copy langsung menggebrak dengan lagu pertama, Lights and Music. Terlihat penonton ikut berjoget ria mengiringi hentakan dance music dari Cut Copy. Suasana makin panas ketika mereka melanjutkan dengan lagu-lagu berikutnya.

©iloveglam/rottenfresh

©iloveglam/rottenfresh

Far Away, Where I’m Going, That Was Just A Dream, Feel The Love, Alisa, So Haunted, Visions, Nobody Lost, Nobody Found, Blink. Hearts On Fire dimainkan sebagai lagu terakhir sebelum encore.

Setelah encore mereka hanya membawakan dua lagu, Out There On The Ice dan Sands Of Time. Setelah itu mereka turun panggung. Sebagian penonton yang mengharapkan adanya encore kedua harus kecewa, karena kali ini mereka benar-benar turun panggung.

Penampilan dari Cut Copy memang lumayan menghibur dan berhasil membawa seluruh penonton berdansa malam itu, Sayangnya hanya dengan membawakan 13 lagu agak terasa nanggung. Tapi lumayan untuk tiket seharga 300ribu rupiah saja. (yearry)


Leave a comment

interview//ballads of the cliche

 

bystanders-0403.jpg

Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan hingga akhirnya bisa mewawancara ‘keluarga besar’ Ballads of The Cliché. Sempat gagal enam kali, akhirnya pada percobaan ke tujuh Bystanders berhasil mewawancara mereka, walaupun tidak semua. Hanya ada Dimas (bass), Bobby (vokal), Erick (gitar), Fino (keyboard), Feri (drums) dan Zennis (saxophone). Bystanders juga sempat mewawancara manager mereka, Felix Dass dalam kesempatan terpisah.

 Dasar lagu-lagu yang dipilih untuk masuk ke album tuh apa sih? Apa ada kriteria tertentu?

Erick     : Menurut kami tuh ya, dasar yang paling kokoh adalah iman

Bobby    : Ga ada dasar khusus sih sebenernya

Erick     : Cuma insting aja, misalnya, “ah ini kayaknya kurang oke nih”

Bobby    : Ya, pilihan juga sih. Mungkin itu dasarnya juga insting kali ya

 

Kenapa Feel Free to Feel Lost yang dipilih jadi single pertama?

Bobby    : Karena itu yang dianggap paling merepresentasikan musik kita.

              Dan itu juga hasil diskusi internal dua hari dua malam

Dimas     : Jadi ballads ini kan sekarang ada delapan orang, dan kedelapan orang tersebut sama-sama membuat komposisi masuk. Salah satu hasil yang paling dijagoin ya Feel Free itu.

 

Trus rencananya dari album ini akan dirilis berapa single?

Fino      : Belum ada rencana sih, baru dua

Erick     : Setelah si Feel Free ada lagi,

              Kemungkinan besar, setidaknya ada dua lagi ke depan

 

Dan semuanya masing-masing akan dibikin EP juga?

Erick     : Iya, sampe kedua ke depan. Setelah itu nggak. Bangkrut, hahahaha…

 

Trus kan jarak antara rilisan EP pertama yang Hey, Smiley! sama album yang sekarang kan lama banget, itu kenapa?

Erick     :  Itu karena.. memang kita dikasih Tuhan begini

               Karena kita abis Hey Smiley itu rencana kita bikin full album, tapi mungkin karena belum waktunya kali ya, jadi akhirnya kita ngeluarin EP yang kedua. Rencananya abis EP kedua kita   pengen ngeluarin full album… Serius tuh! Tapi itu lagi, wong belum dikasih, ada aja masalahnya…

Fino      :   Kalo yang ketiga itu batalnya di proses waktunya.  Jadi rencananya abis Love Parade tuh bikin album, dirilis akhir 2006. Tapi karena teknis dan lain hal, sebagai pengisi  kekosongan bikin EP dulu

Dimas     :   Kalo dipikir-pikir ke belakang, itu sebenernya malah jadi keunggulan kita. Kalo ga kayak gitu mungkin kita ga bakal bisa kayak sekarang.

Bobby    :  Jadi intinya kita selalu mengambil sisi positif dari segala yang kita lalui

Erick     :   Sebenernya sih kita pengen banget, tapi kita nyadar juga. Ga kebayang klo kita ngeluarin albumnya dulu, pasti berantakan. Yang sekarang lebih mateng lah, mudah-mudahan..

 

Ribet ga sih, kan personil-personilnya ga dalam satu kota dan masing-masing pada sibuk kerja?

Erick     :  Wah klo yang itu nanya felix ama yungke deh

Bobby    : Apalagi Zennis akhir ini bakal sering ke Sanga-Sanga

Erick     :  Lo cari di peta deh tu, kasi petunjuk donk di pulau mana bro..

Zennis   :  Di Pulau Kalimantan, alias Borneo

Erick     : Nah zennis sering memainkan saxophonenya di sana

Zennis   :  Gua emang sengaja, nyari inspirasi

Erick     :  Jadi dia ngerasa masih kurang banget. Dan dia denger di sana ada Suhu Saxophone handal, kebetulan banget dia ditugasin kesana dari kantor. Jadi ya udah..

Fino      :  Dan dia juga alirannya pop, pop-folk gitu hahahahaha…

[jawaban serius dari Felix]

Felix      :  Ribet sih, tapi kita semua untungnya tersambung dengan kuantitas yang cukup lah.

               Oya, sama pake hati, itu yang paling dalem. Kalo ga pake hati udahan band-nya..

 

Oiya, French Riviera yang di EP Love Parade kan di-remix sama Tosi, trus apakah di EP-EP atau album-album berikutnya BOTC ada rencana untuk meremix lagu sendiri kayak kayak gitu?

Dimas     : Tidak menutup kemungkinan sih

Fino      :  Mungkin aja, tapi belum ada kepastian

Dimas     : Jadi kan memang yang ngeremix lagu-lagu kita itu memang temen-temen sendiri. Jadi pernah ada temen yang bikin remix salah satu lagu kita, iseng-iseng gitu, trus      nyerahin ke gua.    
Trus lagunya kita pake..

 

Buat Dimas ama Bobby nih. Kebanyakan musik dan liriknya kan yang nulis kalian berdua, itu idenya dari mana?

Dimas        : Jadi kalo lagu biasanya gua ga bisa maksain. Bisa aja misalnya gua pengen buat lagu yang kayak gini, misalnya, tapi mungkin ga maksimal. Jadi gua percaya, kalo itu kayak anugerah aja, dari Tuhan. Bisa datang sewaktu-waktu. Kalo misalnya gua lagi di bus gitu trus tiba-tiba kepikiran, ya bisa aja gitu, jadi. 

               Kalo lirik sih inspirasinya bisa banyak banget ya Bob, dari personal life masing-masing personil,

Bobby       : Kebanyakan dari kejadian sekitar yang kita alami sih

                Trus mungkin juga Dimas kan banyak berperan dalam bikin musik, tapi kadang-kadang ga tau liriknya harus seperti apa, jadi kita trus diskusi. Dari mood lagunya itu juga sih. Kira-kira mood lagunya seperti apa ya? Kalo nada-nada riang kan alangkah lebih baik kalo liriknya menceritakan hal-hal yang positif. Kadang juga lirik itu menyesuaikan mood lagunya itu sendiri.

 

Biggest achievement yang pernah dicapai Ballads, menurut kalian sendiri tuh apa?

Bobby    : Mengeluarkan album

Erick     : Setiap rilisan merupakan achievement buat kita

Fino      : Yang gol-nya mungkin album perdana dan mungkin yang kemaren tuh ya

Dimas     : Tur ke luar negeri (Singapore, red)

Erick     : Trus juga album kita didistribusiin sampe ke Jepang

Felix      : Kalo dari gua sih, pada dasarnya bisa survive. Soalnya emang .. tiap-tiap personil Ballads itu kayak ngebawa keajaibannya masing-masing

 

Kalau Ballads punya kesempatan untuk ke luar negeri lagi, itu pengennya ke mana?

(semua, kompak) Jepang kayaknya!

Dimas     : Karena kita baru aja diedarin di situ

Bobby    : Kan album kita didistribusiin sampe sana, yah sedikit bermimpi lah

Erick     : Intinya kita seneng karena ternyata musik kita diapresiasi di Jepang

 

Harapan Ballads sendiri buat album ini apa?

Erick     : Balik modal sih pertamanya, hahaha…

              Harapan seriusnya, selain bisa abadi (Erick sok serius, red) kayak judul albumnya, bisa diterima di khazanah musik Indonesia, huhuehhehehe

Dimas     : Jadi sebenernya, paling nggak albumnya Ballads ada di kehidupan teman-teman, walaupun sedikit. Tapi misalnya kalo orang putus cinta, atau lagi pengen jalan-jalan atau pengen seneng-seneng, album itu bisa menemani masa-masa itu.

 

Pertanyaan terakhir… favourite Evergreen song?

Zennis         : “Coffee Shop”

Dimas           : Gua “Distant Star” deh

Feri             : “Feel Free”

Fino            : Gua sama kayak “Dimas”, Distant Star

Bobby          : Gua.. “Heidi” deh, biar beda

Erick           : Gua bingung nih.. ni ya.. “Friend’s Guide” gua suka, “Distant Star” gua suka

Dimas           : Ya udah Erick “Friends Guide” berarti, biar beda

Fino            : Apa gua ganti ya? Biar ga sama kayak Dimas

Dimas           : Lo “Coffee Shop” lah

Fino            : “Coffee Shop” kan udah

Bobby          : Ya udah ga pa pa … Biar kesannya ga dibuat-buat, ada dobelnya satu… hahahaha..

//interview by 410//photo by satria ramadhan//

 

SHORT BIO : ballads of the cliché

 Ballads of the Cliché terbentuk di tahun 2004, dengan nama-nama yang sebenarnya tidak asing lagi. Tiga orang teman baik yang sama-sama bermukim di daerah Jakarta Barat — Dimas (bass), Erick (gitar), dan Bobby (vokal)  — dulu dikenal tampil bersama band mereka sebelumnya, Engsel. Lalu mereka mengajak beberapa teman mereka – ada Ferry di drums dan Wawan di gitar. Dan ada tiga personil additional yang akhirnya menjadi personil tetap karena memang sudah lama bersama mereka, yaitu Nina di piano, Zennis di saxophone, dan Fino di keyboard.


Sayang karena kesibukan masing-masing personil dan domisili mereka yang tidak dalam satu kota, membuat band ini jarang tampil secara lengkap. Untungnya personil lainnya saling melengkapi, sehingga permainan mereka tetap berjalan harmonis.

Terinspirasi oleh Belle and Sebastian, Nick Drake, Burt Bacharach and Donovan, Ballads of the Cliché menampilkan sebuah musik folk-pop manis yang sederhana, dan tentu saja dengan sentuhan khas mereka sendiri.

Setelah merilis empat EP, yaitu Hey Smiley, Snapshot of Serenity, Love Parade, dan Feel Free to Feel Lost, Ballads of the Cliché merilis debut album penuh mereka bertajuk “Evergreen” Agustus lalu.

 

http://www.myspace.com/balladsofthecliches


Leave a comment

album review//discography of ballads of the cliche’s EPs

bystanders-040501.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Hey, Smiley! EP]
2004 // ballads of the cliché

Berapa banyakkah dari para pecinta musik pop yang sangat merasakan dampak karya-karya dari musisi-musisi seperti Blueboy, Edson, Belle and Sebastian bahkan dari roots seperti free design, The Beatles dan Simon & Garfunkel? Ballads of the cliché adalah contoh dari membekasnya dampak tersebut. Ya, sekelompok pemuda dan seorang pemudi pecinta musik-musik akustik, gitar pop dan folk ini merilis sebuah debut ep sebagai tribute untuk musisi favorit mereka!

Hey Smiley! EP yang berisikan 5 buah lagu ini adalah bentuk kontribusi mereka di dunia indiepop Indonesia. Dengan berbekal gitar kopong, back vocal yang harmonis, vocal yang khas folk, dentingan piano disana-sini sebagai pemanis, nada-nada dari harmonica, mereka telah berhasil menghadirkan ‘minuman’ yang sangat menyegarkan bagi para penggemar pop yang sudah lama haus akan musik pop yang jujur, simple, easy listening dan penuh cerita. Simak saja kelima lagu dalam ep ini and see what’s it all about.

Untuk penggemar : belle and Sebastian, edson, beatles, Bacharach, simon & garfunkel and all other folksy guitar pop musicians. //arvidson//

bystanders-040502.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Snapshot of Serenity EP]
2005 // ballads of the cliché

Kalau Hey Smiley adalah EP perkenalan dan merefresh kenangan pada pahlawan musik folk mereka, Snapshot of Serenity EP adalah perjalanan BOTC menuju kedewasaan. Dalam rekaman ini jelas terlihat banyak kemajuan baik dari segi teknis rekaman maupun dari segi materi yang semakin matang, sebagai lagu pembuka “To The Left, To The Same Sun That Guide Us Through That Day” BOTC tampak ingin mencoba mengawinkan petikan gitar folk dengan unsur musik klasik dengan string sections yang kental juga piano yang dominan. Tentunya terdapat anthem-anthem folk seperti pada lagu “My Sense” dan “Season of Joy” layaknya mendengarkan field mice ataupun tetua musik folk, Simon & Garfunkel. Pada “Where Are You, monet? I Miss Your Beautiful Sky”? tampaknya mereka merasa kehilangan the beauty of monet sky dari salah satu lagu dari EP mereka yang terdahulu. Dan pada lagu penutup “Chance of A Lifetime” jika kita menyimak sampai akhir, mereka menyelipkan versi remix dari lagu “Under the Beautiful Monet Sky” untuk mengobati kerinduan mereka .//arvidson//

bystanders-040503.jpg
BALLADS OF THE CLICHÉ
[Love Parade EP]
2006 // ballads of the cliché

Di antara EP botc sebelumnya, bisa dibilang EP ini adalah yang paling berwarna. Boleh dibilang lagu “Love Parade” adalah sebuah pembuktian bahwa band ini memang serius menggarap musiknya dan makin mematangkan permainan mereka. Suara saxophone dari Zennis yang mulai dominan juga menunjukkan musik mereka yang makin penuh, sebuah terobosan baru yang berhasil menambah kedewasaan botc.

Sayangnya di lain sisi, EP ini bagaikan EP recycle. Karena selain “Love Parade”, tidak ada lagu baru yang ditawarkan oleh band ini. Memang, hanya di EP ini mereka membawakan “Pop Kinetik”, lagu dari band indie legendaris Jakarta Rumah Sakit, namun tentu saja lagu ini bukanlah sesuatu hal yang baru bagi mereka yang telah mengikuti pergerakan indie sejak dasawarsa 90-an. Untungnya, botc berhasil membawakan lagu ini dengan sangat baik, dengan versi folk-pop mereka tentunya.

Dua lagu berikutnya, merupakan remake dari lagu-lagu mereka sebelumnya. “Simple”, tentu saja sebuah gubahan baru dari “Make It Simple” yang ada di EP Hey Smiley! repackaged, yang sebetulnya versi aslinya terdengar lebih manis. Kemudian ada “French Riviera” yang diremix oleh Tosynth (Arcade Playmate, Earth Colony), yang memang mendalami lagu-lagu 80-an/chiptunes. Jadi tidak heran kalau lagu ini menjadi terdengar seperti suara permainan Nintendo. //410//

bystanders-040504.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Feel Free to Feel Lost EP]
2007 // ballads of the cliché

Banyak misinterpretasi yang timbul saat Ballads of the Cliché merilis EP dan full album mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan walaupun EP ini dijual dengan harga yang cukup ekonomis, namun sebagian besar penggemar musik mereka lebih memilih menunggu sedikit lebih lama untuk membeli albumnya.

Padahal di album ini ada lagu akustik yang sangat manis dan menarik untuk disimak. Judulnya “Miss You at the First Sight”. Lagu yang sederhana, singkat, dan sesuai untuk digunakan sebagai pendamping bersantai.

Namun selain itu, ya sudah. Karena EP ini hanya berisi tiga lagu, dan dua lagu lainnya sebetulnya lagu yang sama, “Feel Free to Feel Lost”. Yang satu dibawakan secara full band, lalu ada versi akustiknya. Dan walaupun lagu ini dipilih menjadi single pertama mereka dan memang lagu ini unik dan cukup berbeda dengan lagu-lagu botc lainnya tapi sepertinya tidak ada yang terlalu istimewa dari lagu ini.

Mungkin bila Anda bukan seorang kolektor rilisan indie lokal ataupun penggemar berat ballads of the cliché, Anda akan berpikir dua kali sebelum membeli EP ini. //410//


1 Comment

album review//ballads of the cliche//evergreen

bystanders-0406.jpg

BALLADS OF THE CLICHÉ
[Evergreen]
2007 // ballads of the cliché

Could’ve been better. Mungkin itu yang bisa diungkapkan untuk menjelaskan full album perdana dari Ballads of the Cliché. Dengan jam terbang yang bisa dibilang cukup berpengalaman, sayang sekali “Evergreen” kurang dikemas dengan baik.

Kurang dikemas di sini, lebih dimaksudkan ke musik yang mereka bawakan. Karena berbeda dengan packaging album mereka yang apik, dilengkapi dengan foto-foto yang profesional, ternyata malah terkesan dibuat dengan terburu-buru.

Padahal, sejumlah lagu yang ada di album ini sudah mereka mainkan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Dan proses rekamannya sendiri cukup lama, dibuat dalam kurun waktu April 2006 sampai Juni 2007. Jadi seharusnya mereka punya banyak waktu untuk merapikan semuanya. Memang tidaklah mudah untuk mengorganisir delapan orang dalam satu band, apalagi yang tinggal dalam dua kota yang berbeda. Jadi target memang harus ditetapkan untuk album yang kabarnya sudah lama direncanakan ini.

Kesan terburu-buru itu bisa didengar di sejumlah lagu. Dalam “French Riviera” misalnya. Pada lagu yang sudah pernah masuk dalam EP mereka “Hey Smiley!” itu Bobby terdengar ragu-ragu dan terkesan gugup dalam membacakan potongan percakapan yang ia bawakan bersama Nina. Dalam “Season of Joy”, lagu ini menjadi terkesan buru-buru dan terlalu cepat, tidak sesuai dengan suasana obrolan santai yang tersirat dalam liriknya.

Sejumlah lagu lawas memang sengaja mereka aransemen ulang, dan masing-masing hanya satu lagu saja dari tiap EP yang dimasukkan ke dalam Evergreen. Jadi bagi yang ingin bernostalgia dengan lagu “Hey Smiley”, “Jennifer Loves Hewitt”, ataupun “Make It Simple”, lebih baik membeli EP terdahulu saja. Karena lagu-lagu tersebut tidak ada dalam album ini.

Tapi untungnya mereka digantikan dengan lagu-lagu baru mereka yang bisa menghilangkan rasa kecewa Anda. Ada “Heidi” dan “Friend’s Guide” yang bersemangat dan sudah dapat sering didengarkan di sejumlah performance mereka. Ada juga “Old Friend” dan “Hot Chocolate” yang dibawakan secara akustik, untuk menemani masa-masa bersantai ataupun merencanakan sebuah kejutan manis bagi orang yang Anda kasihi. //review by 410//

.track by track.

01. Snapshot of Serenity // Lagu yang berjudul sama seperti EP kedua mereka, “Snapshot of Serenity”, ini ternyata malah tidak ada di dalam EP tersebut. Lagu ini pas sekali untuk membuka album mereka – santai, damai, sederhana, dan singkat. Pas untuk dinikmati di sore hari, di sebuah taman kafe daerah Dipati Ukur sambil minum teh dan fruitcake.

02. Friend’s Guide // Menyenangkan sekali mendengarkan lagu ini. Rasanya bersemangat. Seperti saat bersantai di sebuah warung rokok bersama teman-teman terdekat lalu gitaran ria. Yang unik dari lagu ini mungkin dengan adanya suara banjo, yang memberikan nuansa country.

03. Feel Free to Feel Lost // Lagu ini memang beragam, tapi sayang finishing-nya kurang baik. Komposisi suara saat bernyanyi bersama tidak harmonis, bahkan terdengar sumbang. Vokal Bobby pun terdengar dipaksakan lebih rendah di bawah jangkauan vokalnya. Dan harusnya lagu ini tidak perlu dibuat versi akustik seperti dalam EPnya.

04. French Riviera // Lagu ini boleh dibilang sangat berbeda dengan lagu lainnya di album ini. Dengan suara akordion untuk memberi suasana yang lebih Perancis, versi lagu yang sempat muncul di EP Hey Smiley dan versi remix-nya di Love Parade, ini terdengar paling manis di album ini. Sayangnya rasa terburu-buru seperti dikejar shift masih terasa di lagu ini. Mungkin dengan tempo sama tapi cara permainan yang lebih santai akan membuat pendengar BOTC bisa lebih menghayati keromantisan lagu ini. Pronounciation Bobby dalam bahasa Perancis juga masih kurang sempurna, malah lebih baik saat di EP Hey Smiley. 05. Back in The Old Days // Lagu nostalgia. Mengingatkan pada masa kecil saat semuanya terlihat sangat sederhana dan menyenangkan.

06. Hot Chocolate // Ini adalah lagu satu-satunya yang vokalnya dibawakan oleh Wawan, gitaris BOTC. Lagu yang sangat manis, pas sekali dibawakan secara akustik. Vokal Wawan juga terdengar baik sekali di lagu ini, sangat lembut. Hanya saja sesekali masih terdengar cadelnya, hehe. Dan ternyata lagu inilah yang dibawakan Wawan dan Ferry sewaktu We Are Pop pertama April lalu, yang kali itu diberi judul “See You Soon”.

07. Love Parade // Kedengarannya tidak ada yang berbeda dari lagu ini dibanding dengan versi sebelumnya pada EP Love Parade. Salah satu lagu BOTC yang paling sempurna, rasanya. Semua mendapatkan porsi main yang adil, menjadikan lagu ini sangat harmonis.

08. Old Friend // Ya, ini dia lagu terbaik BOTC untuk dimainkan secara akustik. Sayangnya lagu ini malah tidak pernah dimasukkan ke dalam EP-EP mereka sebelumnya. Di sini mereka menceritakan rasa kesepian yang senantiasa datang sebagai sahabat lama. Bagi yang mencintai kesepian dan suka berjalan-jalan sendiri di tengah kota, dengarkanlah lagu ini. Sebuah soundtrack yang baik untuk perjalanan menyendiri itu.

09. Lights of Hope // Di lagu ini BOTC mendapat bantuan dari Rissa, vokalis Homogenic. Nuansa lagu ini sepertinya memiliki kekuatan magis untuk membuat bulu kuduk pendengarnya berdiri. Apalagi ditambah vokal Rissa yang memang sesuai dengan lagu-lagu semacam ini. Sayangnya take vocalnya sepertinya (sekali lagi) terburu-buru, jadi nuansa dingin dan sepi yang ingin dibangkitkan lagu ini sedikit terusik.

10. Season of Joy // Sayang, lagu ini harus diaransemen ulang menjadi lagu full band. Padahal lebih menyenangkan untuk mendengarkan versi akustiknya di EP Snapshot of Serenity. Rasanya pas untuk menemani sore dengan teman lama, untuk sekedar nostalgia dan tersenyum bersama.

11. Heidi // Lagu ini menjadi lagu BOTC yang paling bersemangat, dan rasanya senang sekali mendengarkan lagu ini. Dengan tempo yang cepat, permainan drum yang apik, dan harmonisasi vokal yang pas.

12. Coffeeshop // Masih teringat saat mendownload lagu ini di myspace, sebuah versi live mereka saat bermain di Singapore awal tahun ini. Saat itu suara Bobby terdengar sedikit gemetar. Di album ini, vokal Bobby tentu saja terdengar lebih tenang. Lagu ini juga mendapat bantuan dari Arina Epiphania (Mocca) pada flute, namun ya sayang, sekali lagi, terasa buru-buru.

13. Distant Star // Tepat sekali lagu ini dijadikan penutup. Seperti menutup hari yang cerah, dan bersiap untuk menyambut mimpi di malam hari. Sebuah kilas balik mengenai kisah cinta yang emosional. Jadi bagi Anda yang punya kisah cinta yang tidak berakhir bahagia, disarankan untuk tidak mendengarkan lagu ini di malam hari saat sendirian. Atau Anda bisa menguras air mata semalam suntuk.


Leave a comment

autumn’s grey solace

 

bystanders-0407.jpg

Autumn’s Grey Solace adalah instrumentalist/composer Scott Ferrell dan vocalist/lyricist Erin Welton. Merupakan band yang gak cuma layak dinikmati, tapi juga layak dipuja. Musik mereka berbicara untuk diri mereka sendiri, benar-benar curahan suara hati mereka. Bakat musik Scott Ferrell dan suara jernih Erin Welton berkombinasi dan menciptakan melodi-melodi shoegazing yang diliputi  suara yang ethereal.

 Dibentuk pada tahun 2000, Autumn’s Grey Solace hingga saat ini telah mengeluarkan 4 album, Within the Depths of  a Darkened Forest (2002), Over the Ocean (2004), Riverine (2005) dan terakhir Shades of Grey (2006). Band asal Florida ini dapat dikategorikan segenre dengan Siddal, Love Spiral Downwards, and Cocteau Twins with breathy airy female voices and minor chord guitars. Musik mereka atmospheric dan hypnotic, serta lembut dan relaxing, dengan menggabungkan unsur elektrik dan akustik. Agak sulit memasukkan band ini ke dalam satu genre khusus.

 Bicara tentang anggota band, Scott sempat tergabung dalam beberapa band, namun begitu bertemu dengan Erin dia yakin bahwa tujuan musik mereka sama, dan ia menemukan kebebasan dalam bereksperimen. Dalam Autumn’s Grey Solace Scott memainkan semua alat musik, dari gitar, bass, drums, mandolin dan alat-alat musik lainnya. Scott yang semasa kecilnya tertutup mulai belajar memainkan gitar di usia 14 tahun, dan berlanjut ke alat-alat musik lainnya hanya dalam beberapa tahun.

 Sekarang giliran Erin. Erin memiliki suara yang lembut, feminin, kuat dan berkarakter. Padahal ia tidak pernah mengambil sekolah khusus untuk melatih suaranya tersebut. Selain menulis semua lirik dan merangkainya menjadi melodi-melodi yang sesuai dengan musik, ia juga mengisi semua vokal dan backing-vokal serta memainkan keyboard. Gaya bernyanyinya mengingatkan kita pada beberapa musisi New Age.

 Beberapa lagu mereka memiliki arti metafor, beberapa lainnya tidak namun tetap beautifully poetic. Salah lagu rekomendasi Bystanders adalah Sorrow of Ashes dari album pertama. Mendengarkannya serasa melayang dengan gerak lambat, gak mengada-ada, ini bener, karena temponya yang pelan dan vokal yang membius. Nuansa dark, sad, empty dan pasrah ada di lagu ini. Dengar juga The Unshakeable Demon. Dalam lagu yang agak keras ini (compared to other songs) tersiratkan kemarahan. Vokal Erin dapat menciptakan nuansa yang berbeda-beda pada tiap lagu. Seperti pada Cloudburst, her voice is just so naïve and soft, different from the one in the previous song I mentioned.

 Band yang dikontrak oleh Projekt Records sejak album kedua ini mampu membawa pendengarnya ke dunia lain. Terdengar agak berlebihan? gak kok.

 Untuk penikmat: Cocteau Twins, Dead can Dance, Love Spiral Downwards, Siddal, The Sundays, Innocence Mission.

 Bystanders mengontak band ini beberapa bulan sebelum edisi ini terbit dan mengajukan beberapa pertanyaan, yang kemudian kami kemas dalam format interview. Enjoy! //review by foe//photo by autumn’s grey solace//